
...__________________...
...Aku tak ahli dalam mengungkapkan perasaan ku kini. Sebab aku bukan seorang pelukis yang dengan menggoreskan cat diatas kanvas mampu menceritakan apa yang ia rasakan......
...___________________...
...×××...
Sudah seminggu sejak pengakuan cinta yang terjadi di depan pintu toilet waktu itu. Entah perasaan Alsya saja atau tidak, sejak pengakuan yang terjadi seminggu lalu, Alsya merasakan Arkan yang begitu posesif terhadap dirinya. Ditambah dengan Alaska yang tiba-tiba semakin mendekati nya. Alsya tidak mengerti apalagi peduli. Selama itu tidak menggangu ketenangannya, maka ia persilahkan. Tapi jika itu sudah mengganggu ketenangannya maka siap-siap ia hancurkan.
Pagi ini Alsya berangkat sekolah berdua dengan Bagas. Berhubung laki-laki tersebut sudah pulang dari kampung dua hari yang lalu.
Seperti biasa, tidak ada yang berinisiatif membuka obrolan terlebih dahulu, sehingga membuat suasana didalam jazz abu-abu tersebut menjadi sepi dan hening.
Bagas melirik sebentar kearah Alsya yang fokus menyetir. Entah keberanian dari mana ia mencoba membuka sebuah obrolan dengan gadis yang dikepang satu tersebut, "Tadi malam Nyonya nitip pesan untuk kamu. Nyonya bilang kalau malam ini dia enggak bisa pulang", ujar Bagas hati-hati setelah melihat raut wajah Alsya yang berubah setelah mendengar tentang Ibu nya.
Alsya menoleh kearah cowok yang sedang menatap keluar kearah jendela mobil, "Mama bilang kemana?", tanyanya dan kembali fokus menyetir.
"Nyonya bilang malam ini, dia mau jenguk temannya yang lagi sakit."
"Sekalian nginap?."
"Enggak tau. Nyonya enggak ada bilang", sahut Bagas tanpa menoleh.
Alsya menghembuskan nafasnya. Mengapa hidup suka sekali menjatuhkannya lalu melambungkannya tinggi keatas langit. Padahal ia sudah sangat senang perihal Aruna yang sudah mulai membaik. Mama nya yang sudah mulai perhatian dan peduli kepadanya, Mama nya yang sudah betah di rumah dan keluar jika hanya ada pekerjaan penting. Tidak ada lagi Mama nya yang pergi pagi lalu pulang larut malam dalam keadaan yang mabuk dengan pria yang berbeda setiap malamnya. Percayalah ia sangat bahagia dengan perubahan itu. Namun seperti yang dikatakannya, kalau kehidupannya itu seperti roller coaster. Jika semalam itu waktunya Alsya diatas, maka saat ini mungkin waktunya ia dibawah.
Alsya yakin jika Aruna tidak sedang menjenguk sahabatnya yang tengah sakit. Itu hanyalah alibi wanita tersebut. Oh, ayolah. Sudah enam belas tahun lebih ia hidup dengan Mama nya itu. Alsya sangat paham dengan tabiat wanita yang sudah melahirkannya itu. Bukannya ingin berburuk sangka, hanya saja ia sudah yakin dan mengerti.
Alsya yakin jika malam ini Aruna ingin menghabiskan waktu dengan pria yang entah keberapa. Alsya benar-benar sudah tidak lagi mengenali Mama nya. Wanita itu sudah terlalu jauh berubah.
Mobil memasuki pekarangan sekolah. Suasana sekolah masih sepi, mengingat sekarang masih pukul 06:30.
Alsya jera, ia takut terulang kembali kejadian dimana ia harus berlari lima kali keliling lapangan. Alsya tak tega kembali membangunkan Bik Imah ditengah malam karna badannya yang melemah, dan karna kejadian itu pula ia harus menginap dirumah sakit sampai subuh. Alsya benci itu!.
Lalu cewek itu kaget saat melihat darah yang keluar dari hidungnya. Ini sudah hampir dua hari tidak menghampirinya. Mengapa sekarang tiba-tiba datang dan disaat yang tidak tepat pula. Alsya melirik kearah Bagas yang sedang membuka sealt belt , "Kak Bagas duluan aja, Alsya mau sarapan sebentar", bohongnya sambil menutupi hidung dengan tangan dan menunjukkan kotak bekal yang ada di atas dashboard. Alsya terpaksa membawa itu karena Bik Imah yang bersikeras menyuruhnya membawa bekal. Percayalah, dari Alsya duduk di bangku SD, ia tidak pernah sama sekali membawa yang namanya bekal. Baginya itu merepotkan.
Bagas lantas mengangguk dan keluar dari dalam mobil. Entah mengapa belakangan ini Alsya merasa Bagas lebih banyak diam. Bukannya percaya diri, Alsya juga sering melihat Bagas yang selalu memandanginya diam-diam. Kalau Alsya bertanya, maka cowok berdarah jawa tersebut hanya merespon dengan menggelengkan kepalanya.
Gadis bersurai hitam itu mengelap dengan cepat cairan berwarna merah yang keluar dari hidungnya dengan terus mengumpat. Bukannya mengumpati takdir, tapi mengumpati stress yang menggerogoti kepalanya. Jika Alsya sudah terlalu stress, maka cairan sialan itu pasti datang.
"Sialan!", umpatnya sambil melempar asal tissue keluar mobil.
"Auhh", Alsya menolehkan kepalanya ketika mendengar ringisan seseorang dari luar.
"Arkan!", kaget Alsya. Bukan karena cowok tengil itu ia kaget, tapi karena tissue yang berada digenggaman Arkan yang berdiri didepan pintu mobilnya.
"Sakit mata gue tau", keluh Arkan. Lalu memandang kertas tipis yang berada digenggamannya.
"Darah?", Arkan menunjuk tissue itu kedepan wajah Alsya.
Alsya yang gelagapan langsung keluar dari dalam mobil, "Bukan darah, lipstik. Iya, ini lipstik", alibinya dengan merebut kembali tissue yang berada digenggaman Arkan lalu membuangnya asal kedalam mobil.
Arkan mengernyitkan dahinya, "Lipstik?, emang lo pake lipstik?, kok enggak keliatan?", tanya Arkan sambil mencoba mengelus bibir Alsya, namun langsung ditepis kasar cewek tersebut.
"Enggak usah modus!", ketus Alsya lalu mengambil tasnya didalam mobil dan berjalan masuk kedalam sekolah, tapi sebelum itu terjadi sebuah lengan lebih dulu mencekalnya.
"Eitss, mau kemana?", Arkan melepaskan cekalan tangannya dan membalikkan badan Alsya.
"Mau sekolah lah", jutek Alsya.
"Yang bilang lo mau ngemis siapa?", tanya Arkan asal membuat gadis bermanik hitam itu melotot.
Arkan terkekeh, "Lo mau masuk kedalam kelas dengan rambut yang dikepang satu kayak gitu?", playboy cap kadal itu memegang kepangan Alsya lalu menyampirkannya dibahu gadis tersebut.
"Ya terus?, enggak mungkinkan gue pakai wig kayak Inul Daratista?", ketus Alsya lagi-lagi membuat kekehan keluar dari mulut Arkan.
"Iya sih", gumamnya pelan.
"Udah?, kalau udah gue mau masuk."
"Eh, tunggu!. Gue enggak akan biarin mata cowok di Galaksi kenyang gara-gara ngelihatin beginian dipagi hari", ujar Arkan seraya melepas kepangan rambut Alsya lalu menggeraikan nya.
Membuat Alsya membelalakkan matanya, "Kok dibuka?", tanya Alsya sambil melihat rambutnya yang sudah tergerai indah.
"Gini lebih cantik", Arkan menyelipkan anak rambut kebelakang telinga Alsya. Lalu memegang kedua pundak cewek yang sedang mengernyit bingung itu, "Gue gak mau leher mulus lo itu itu jadi santapan lapar singa-singa Galaksi", tambahnya seraya melirik sekitar.
Ini tuh yang Alsya enggak suka sekaligus suka. Kardna jika posesif cowok tengil itu sudah keluar, maka jantungnya akan mendadak menggila. Kalau begitu terus bisa-bisa Alsya mati muda. Tapi yang Alsya suka jika Arkan sudah posesif terhadap dirinya adalah cowok tersebut akan terus memantaunya dan menjaganya ketat. Seperti sebuah berlian mahal yang harus dijaga dengan penjagaan yang ketat. Alsya suka, karna ia merasa diperhatikan.
Alsya mengerjapkan matanya, "Tapi kan jadi jelek gini", gerutunya seraya memegang rambutnya yang sudah keriting. Lalu Alsya memandang horor kearah Arkan, "Ikatin balik!", seru Alsya dan mengulurkan ikat rambutnya kepada cowok tersebut.
Arkan lalu mengambil ikat rambut abu-abu polos itu dan membuangnya dengan santai kearah tong sampah yang berada tak jauh darinya.
"ARKAN!", teriak Alsya dengan memandang nanar kearah ikat rambutnya yang sudah terletak naas didalam tong sampah.
"Enggak usah diiket. Biarin kayak gini, awas aja lo ikat, gue cium lo didepan umum nanti", Alsya menoleh dan memandang tajam kearah Arkan.
Arkan tersenyum lalu mengelus puncak kepala Alsya, "Jangan gangguin gadis gue!", ujarnya tegas kepada semua orang yang menonton mereka sedari tadi.
Arkan menoleh sekilas kearah Alsya lalu berjalan meninggalkan cewek yang tengah menahan amarahnya itu.
Alsya meraup wajahnya kasar, lalu kembali masuk kedalam mobilnya. Tak mungkin jika ia masuk ke sekolah dengan rambut yang kusut begini. Bisa dibilang orang gila ia nantinya.
"Arkan kampret, sialan, tai kuda, autis. Arghh, pokoknya bad", umpatnya seraya menyisir rambut.
...×××...
Alsya merotasikan bola matanya melihat tatapan aneh teman-teman kelasnya. Ini semua gara-gara cowok yang sedang memainkan ponselnya diujung kelas yang tengah meracau tak jelas itu.
Alaska yang duduk disamping Alsya, juga merasa ada yang aneh dengan gadis dingin tersebut. Lantas ia meneliti penampilan Alsya. Alaska baru sadar jika tatanan rambut Alsya yang sedikit berbeda dari hari sebelumnya. Ia pernah melihat penampilan gadis dingin itu seperti ini disaat ia berusia....,ah sudah lupakan.
"Kenapa kayak gini?", tanya Alaska datar dengan memegang sedikit rambut Alsya.
Alsya menoleh dan melepaskan rambutnya dari genggaman Alaska, "Haram!", ketusnya.
Alaska terkekeh, "Itu terus. Kode mau dihalalin?", godanya yang disambut pelototan tajam andalan Alsya.
Alaska terkekeh lalu meraup wajah gadis itu dengan lembut, "Entar matanya sakit. Bandel banget sih dikasih tau."
"Jangan sentuh gadis gue", suara bariton seseorang terdengar dari belakang. Sontak membuat dua orang berbeda jenis kelamin itu menoleh kebelakang.
Alaska mengernyit bingung, "Siapa gadis lo?", tanyanya datar.
Alsya yang merasakan atmosfer yang sudah sedikit berubah, kontan menghela nafasnya. Tanpa aba-aba ia menarik lengan Alaska dan menatapnya dingin, "Jangan cari ribut", peringatnya dan melirik kearah Arkan yang menatapnya malas.
"Mata lo!, kalau enggak mau gue colok", ketus Alsya.
Arkan menghela nafasnya dan kembali sibuk dengan ponselnya.
Alsya lalu melepaskan tangannya dari lengan Alaska. Dan kembali menghadap jendela yang menampilkan lapangan Galaksi.
"Nanti malam lo mau kencan sama pacar lo itu?", tanya Alsya dengan tiba-tiba tanpa menoleh kearah Alaska yang memandangnya bingung.
"Pacar?."
Alsya menatap Alaska dengan satu sudut bibir yang terangkat, "Iya pacar lo, pasti kalian mau have fun nanti malam, iya kan?."
"Gue enggak punya pacar", sahut Alaska datar.
"Nyokap lo?", Alaska tambah mengernyitkan keningnya bingung. Tak paham akan semua maksud Arinta.
"Lo enggak ngakuin nyokap gue gitu?, dasar berengsek. Cowok itu apa semuanya gitu, udah dipakai lalu dibuang. Basta*d!."
"Maksud lo apa?."
Alsya berdecak malas seraya memutar bola matanya. Entah mengapa disaat membahas tentang cowok dingin disampingnya dan Mama nya, membuat perasaan aneh hinggap di dalam dadanya. Ia sendiri pun tak mengerti apa itu. Ada sedikit rasa tidak suka bila mengingat suatu fakta jika Aruna adalah pacar Alaska.
Ada apa dengan dirinya?.
"Lupakan!", tandas Alsya menyudahi percakapan mereka. Alaska yang mendengarnya pun mengangkat bahu acuh. Mungkin gadis itu sedang mengigau atau mungkin hajat paginya tidak tuntas, pikirnya.
"Lo dengan Arkan ada apa?", kini giliran Alaska yang membuka obrolan.
"Enggak ada apa-apa", balas Alsya santai.
"Oh, tapi kok deket banget?", tanya Alaska lagi dengan datar plus dingin. Alsya yang mendengar nada bicara cowok tersebut berubah langsung menoleh kearahnya.
"Emang kenapa?."
Alaska mengangkat sebelah alisnya, "Apanya?."
"Lo enggak suka gue deket sama Arkan?."
Alaska menghela nafasnya, "Enggak!", tegasnya lalu membuang pandangannya dari wajah gadis yang dulu selalu dirindukannya.
Alsya terperangah sebelum mengerjapkan matanya, "Kenapa?."
"Enggak ada alasan", tukas Alaska tanpa menoleh kearah cewek disampingnya itu.
"Aneh!", gumam Alsya pelan lalu kembali menghadap jendela. Menatap langit biru lebih indah dari pada menatap kelasnya.
Setelah itu mereka berdua terdiam sambil menunggu bel masuk berbunyi.
Suasana kelas saat ini seperti pasar malam. Heboh dan sangat berisik. Entah apa saja yang dilakukan oleh makhluk-makhluk astral yang mendiami kelasnya.
Alsya yakin jika Arkan juga ikut bergabung dengan mereka bisa dipastikan kelasnya sudah seperti kapal pecah, alias tak berbentuk. Tapi sayang, ketua makhluk halus itu lebih memilih meracau tak jelas di depan ponselnya.
Alsya bersyukur akan hal itu, karna jika cowok tengil itu turut serta, maka siap-siap telinga cantiknya yang menjadi sasaran. Tapi sebentar, mengapa Alsya merasa hanya suara bass yang mendominasi kelasnya pagi ini. Kemana memangnya pergi suara-suara sopran yang hampir menyerupai terompetnya malaikat Israfil.
Lantas Alsya menolehkan kepalanya ke sekitar kelas. Bukannya ingin melihat kegaduhan yang dibuat makhluk-makhluk astral tersebut, tapi ia hanya merasa penasaran kemana perginya para kaum hawa kelasnya.
"Pantesan pada diem. Orang lagi ngelihatin tembok Cina", gumam Alsya pelan. Kemudian ia merotasikan bola matanya malas. Melihat tatapan-tatapan lapar yang dilayangkan seluruh siswi kelasnya kepada laki-laki yang tengah duduk diam disampingnya.
Alsya bisa melihat jika Alaska tidak terlalu memperdulikan sekitarnya. Buktinya cowok itu memasang earphone ditelinganya sambil memejamkan mata. Kalau melihat Alaska yang begitu, Alsya merasa sedang bercermin.
Lalu Alsya kembali menatap langit biru yang begitu cerah dengan sinar mentari yang menemaninya pagi ini. Sampai sebuah suara nyaring mengganggu aktifitasnya tersebut.
"ALSYA!", teriak seorang perempuan yang sangat familiar. Alsya kontan menoleh dan menatap malas kearah Diva yang cengengesan.
"Kayak orang autis", sarkas Alsya membuat Diva langsung mencebikkan bibirnya.
"Cantik gini dibilang autis. Budeg mata lo!", Diva memilin ujung rambutnya seraya mengoceh dengan suara pelan.
Alsya hanya bisa menghela nafasnya, malas meladeni kebodohan alami cewek itu.
Diva menolehkan kepalanya kearah samping Alsya, tepat dimana tempat duduknya berada. Lalu ia melebarkan mata serta mulutnya. Detik berikutnya, Diva langsung menggebrak meja sampai menghasilkan bunyi yang mampu menarik perhatian seluruh kelas. Tak terkecuali cowok dingin yang langsung melepas earphone nya.
Alsya lantas memejamkan matanya. Menetralkan deru napasnya yang kaget melihat sikap bar-bar Diva. Tak menyangka jika dirinya bisa memiliki sahabat seperti itu.
Dosa apa gue.
"OEMJI. Alsya lo kok enggak ngomong-ngomong sih punya pacar bule kayak gini", takjub Diva sambil menunjuk wajah tampan Alaska yang mengernyit bingung.
"Bukan pacar, tapi anak baru", koreksi Alsya.
"Calon pacar, semoga", celetuk Alaska membuat seluruh penghuni kelas yang sedari tadi memperhatikan mereka langsung terperangah tak percaya. Tidak terkecuali Alsya.
"Apaan sih lo!", bantah Alsya dan menatap cowok yang juga menatapnya itu dengan tajam.
"Apaan. Alsya calon pacar gue. Jangan jadi pebinor dong!", sahut Arkan dan berdiri tegak disamping meja Alaska.
"Baru calon kan?", balas Alaska santai dengan tangan yang bersikap didada.
"Lo mau ngajak berantem?!", Arkan menggulungkan lengan bajunya tapi diurungkan ketika Diva menarik tangan cowok playboy tersebut.
"Jangan cari ribut, masih pagi", peringat Diva seraya menatap tajam Arkan.
"Ya udah nanti siang aja!", balas Arkan santai dan memandang sengit kearah Alaska yang menatap datar dirinya.
"Jangan macem-macem", timpal Alsya dengan pelototan tajam pada Arkan.
"Satu macem aja", jawab Arkan enteng.
"Arkan!", Diva melototkan matanya menyuruh playboy mesum tersebut untuk diam.
"Kenapa mata lo?, kurang sajen?", ujar Arkan dan membuat cewek bersuara nyaring itu geram.
"Jangan banyak bacot."
Diva menarik tangan Arkan dan menyuruhnya untuk duduk kembali. Tapi sebelum itu ia berhenti disamping Alaska dan berbisik lirih ditelinganya, "Selamat datang bro. Semoga lo bisa kembali raih dia", cewek itu menepuk pelan bahu Alaska, dan kembali tegak.
"Jangan pikirin apa yang dibilang Arkan. Dia itu galau karena ditinggalin monyet nya", tambah Diva lalu ikut duduk disamping Arkan.
Alsya yang sedari tadi melihat apa yang terjadi di hadapannya pun langsung tersentak ketika menatap Diva yang duduk dibelakangnya, "Kok disitu?."
"Terus dimana?", tanya Diva balik.
"Ya disinilah", Alsya menunjuk kearah Alaska yang sedang memainkan ponselnya.
"Terus Alaska?."
"Gue enggak mau pindah", sahut Alaska membuat Alsya menoleh kearah cowok yang masih setia memainkan ponselnya itu.
"Lo enggak boleh egois dong", protes Alsya.
"Udah. Gue duduk disini aja. Sekalian mau ruqyah tuh pawang monyet, mana tau ada siluman dalam dirinya", ucap Diva ketika melihat kondisi yang sudah tidak mulai sinkron.
Arkan yang merasa dirinya dibawa-bawa pun menatap kearah Diva tajam, "Lo kira gue monyet."
"Iya. Lo itu bapak dari segala monyet", balas Diva santai sambil melihat ujung kukunya.
"Lo itu induk dari segala—", ucapan Arkan terhenti ketika melihat Bu Sri selaku guru bidang studi seni budaya masuk kedalam kelas. Mendadak kelas hening seketika. Sudah dikatakan bukan, jika rata-rata guru Galaski itu killer semua.
"Lo enggak suka banget kayaknya sama keberadaan gue. Harus gue pergi?, biar Lo bahagia", Alaska menatap sendu kearah Alsya yang memandang bingung kearahnya.
"Apa gue harus mundur?", tanya Alaska tiba-tiba lalu didetik berikutnya menatap kearah depan. Dimana Bu Sri sudah memulai materi pelajarannya.
Alsya memandang bingung kearah Alaska. Mengapa Alsya merasakan aura dari cowok dingin itu berubah. Pancaran aura dingin yang tadi dominan entah hilang kemana, digantikan dengan aura sedih dan muram. Dan tatapan datar yang selalu terbit tadi hilang berganti dengan tatapan sendu. Dan apa tadi maksud ucapan dari cowok blasteran indo-australia tersebut. Mundur?, kenapa harus mundur?.
...×××...
..."Mentari. Mengapa hati ini berbeda bila menatapnya. Mengapa raga ini terus menginginkan dirinya. Aku tak ingin bercabang. Sebab aku tak pandai memberi harapan. Kemana harus ku labuhkan lara yang memberontak di dalam dada. Siapa yang akan dipilih hati untuk menjadi sandarannya. Mentari, aku bingung"...
...~Rilansun🖤....