
...___________________...
...Jangan lagi mencari kehangatan pada mentari, sebab sudah ada tangan yang terbuka lebar untuk memberi sebuah rangkulan......
...___________________...
...×××...
Jam pelajaran guru seni budaya tersebut telah usai. Membuat anak-anak Mipa 1 menghela nafas lega nya. Percayalah, walau pelajarannya terkesan santai tapi pelaksanaanya seperti dirantai. Tidak adakah satu pun guru yang memiliki batas normal di Galaksi?, dirasa tidak. Pantas saja Galaksi digadang-gadang sebagai salah satu sekolah yang bertaraf internasional, bisa dilihat dari bagaimana cara guru-gurunya mengajar. Senggol bacok mode on.
Tidak sampai lima menit mereka menghirup udara bebas, guru satu lagi sudah masuk, membuat mereka harus menahan nafas untuk beberapa jam kedepan.
Diva mendenguskan nafasnya gusar melihat Bu Linda selaku guru bidang studi bahasa Indonesia memasuki kelas dengan suara pantofel yang berderap. Menginterupsi mereka yang berada di dalam sehingga membuat suasana terasa mencekam seketika.
Guru paruh baya tersebut meletakkan tas serta bukunya diatas meja guru, lalu duduk dikursinya dengan tatapan tajam menyapu seluruh penduduk kelas yang memasang wajah bodoh.
"Ini enggak kuburan kan?", suara bu Linda menyentak mereka yang sedari tadi terus fokus menatap wajah guru killer tersebut.
Tidak ada yang berani menjawab pertanyaan retoris yang dilontarkan Bu Linda. Sebagai murid yang menjadi suri teladan, mereka melipat tangan diatas meja lalu menundukkan kepala. Dalam hati mereka terus merapalkan doa, semoga guru tersebut tidak memanggil salah satu nama dari mereka.
Alaska yang notabenenya merupakan anak baru, jadi tidak tau apa-apa. Cowok bertampang datar itu menaikkan sebelah alisnya bingung menatap teman sekelasnya yang diam tak berkutik. Dari banyak siswa didalam kelas Mipa 1 hanya Alaska yang tidak menundukkan kepalanya kini.
"Kamu!", seru Bu Linda membuat mereka yang menundukkan kepalanya memejamkan mata takut. Mereka tak berani mendongak dan melihat jari telunjuk yang sudah terarah kepada salah satu dari mereka. Karena itu merupakan sebuah musibah.
"Saya buk?", tanya salah satu dari mereka memastikan, membuat semuanya mendongak dan melihat kearah asal suara.
"Iya kamu", Bu Linda berjalan menghampiri Alaska yang memandangnya datar. Sepertinya ia baru melihat siswa laki-laki tampan tersebut.
"Kenapa?", tanya Alaska balik. Mereka yang mendengar pertanyaan menantang yang dilontarkan Alaska, mengumpat dan berdoa agar anak baru itu tidak terkena musibah.
Bu Linda tersenyum tipis, "Kamu anak baru?."
Alaska mengangguk. Suara guru tersebut terdengar lebih lembut membuat anak-anak Mipa 1 melongo tak percaya, selama sejarah mereka belajar dengan guru berdarah killer tersebut, baru kali ini mereka mendengar suara lembut itu keluar dari mulut yang biasanya mengoceh dan menyumpah serapahkan murid-murid bandel.
"Bu Linda genit ih", bisik Diva kepada Arkan yang memandang tak percaya dengan keajaiban yang terjadi di depan matanya.
Arkan menoleh, "Iya. Padahal gue sama tuh cowok, gue yang lebih ganteng", ujarnya membanggakan diri membuat Diva mendengus tak suka.
"Alaska lah yang paling ganteng", sanggah Diva.
"Gue lah", protes Arkan tak terima.
"Alaska dong, mata lo katarak?, enggak bisa bedain mana yang ganteng sama yang hancur."
Arkan membelalak, "Mata lo tuh yang katarak!", serunya dengan sedikit keras membuat mereka berdua mendapatkan tatapan maut dari sang malaikat pencabut nyawa.
"Mampus!", cicit mereka berdua serempak.
"Kalian berdua!, bicarain saya?", tanya Bu Linda tajam.
"Bener sekali", sahut mereka berdua pelan.
Merasa ada yang aneh, Diva menoleh kearah Arkan, "Ngapain lo ngikutin gue?", ketusnya.
"Idih, siapa yang ngikutin. Gue dari tadi duduk disini kok."
"Gobl*k. Payah emang, kalau bicara sama orang yang otaknya dibawah normal", gerutu Diva yang dibalas pelototan tajam dari Arkan.
"Hei!, kalian berdua!", sentak Bu Linda membuat Diva dan Arkan menoleh takut-takut.
"Karena kalian berdua udah nge-gibahin saya. Kalian berdua saya hukum membuat puisi minimal tiga bait. Semuanya tak terkecuali!", tegasnya seraya menyapu pandangan keseluruhan kelas.
Anak-anak MIPA 1 membelalakkan matanya kaget mendengar itu. Ada yang mengelus dada, mengumpat, ada pula yang langsung mengucap.
Clarissa yang baru saja ingin mengajukan protes langsung ciut ketika melihat tatapan maut yang dilayangkan guru perempuan tersebut.
"Jangan membantah!", ujar Bu Linda dengan tatapan nyalang nya.
Kemudian guru bahasa Indonesia itu melihat sebentar kearah Alaska dan tersenyum yang tidak direspon sama sekali oleh cowok dingin tersebut
"Tema nya bebas!", tambah Bu Linda setelah itu kembali berjalan kearah meja guru dan duduk dengan ponsel ditangan. Update status cyinn, hari ini di sekolah ada murid baru ganteng banget. Blasteran surga.
Alsya yang sedari tadi diam lantas berucap ketus, "Tebar pesona", ucapnya dengan memandang kearah jendela yang menampilkan lapangan dengan matahari yang menyengat. Alsya meringis ngeri melihat mereka yang sedang berolahraga. Jika dirinya yang berada disana, bisa dipastikan besoknya Alsya sudah berada di ruangan serba putih dengan bau yang ciri khas.
Alaska menoleh kearah Alsya dengan sebelah alis terangkat. Ia mendengar sangat mendengar apa yang barusan diucapkan oleh gadis tersebut. Tapi ia tidak mengerti kepada siapa kalimat itu ditujukan. "Maksudnya?."
Alsya refleks menoleh dan menaikkan sebelah alisnya, "Apa?", tanyanya balik.
"Maksud ucapan lo", ulang Alaska memperjelas ucapannya.
"Enggak ngomong apa-apa", sahut Alsya lalu membuka bukunya, bersiap mengerjakan tugas yang diberikan oleh Bu Linda.
Alaska mengernyitkan dahinya lalu mengangkat bahunya acuh. Ia juga memulai memikirkan puisi apa yang akan dibuatnya. Sebenarnya Alaska itu bukan tipe cowok yang picisan. Jadi untuk puisi, rayuan, gombalan, dan semarganya. Alaska tidak pernah memikirkannya sama sekali.
Semua anak Mipa 1 mengerjakan tugasnya dengan khidmat. Entah apa yang mereka tulis, semoga saja telinga Bu Linda tidak akan sakit saat mendengar puisi yang mereka buat.
Tidak lebih dari lima belas menit, guru killer tersebut sudah kembali bersuara, membuat mereka semua protes meminta tambahan waktu. Tapi apa pun itu Bu Linda tidak akan mendengarkannya.
"Tidak ada protes!", bantah Bu Linda tegas.
"Tapi buk saya belum siap. Gimana nih, hati saya sakit", celetuk Arkan dengan mendramatisir.
Anak-anak Mipa 1 dibuat terperangah takjub dengan tingkah ajaib Arkan.
Benar-benar bad boy.
"Arkan kamu maju, dan bacakan puisi yang kamu buat", titah Bu Linda membuat Arkan menganga lebar.
"Kok saya buk?, kan saya bilang belum siap, Ibuk kok budeg", protes Arkan yang dibalas pelototan tajam Bu Linda.
"Maju!, jangan banyak omong."
"Istri kekurangan jatah ya gini modelannya!", gerutu Arkan seraya berjalan maju ke depan kelas dengan membawa bukunya.
"Arkan!."
"Iya iya ini mau maju. Enggak sabaran banget, nanti malam kan bisa", ujar Arkan ambigu.
"Cepat atau tambah lima bait la-"
"Pesawat.....", ujar Arkan memulai membacakan puisinya. Tanpa mempedulikan Bu Linda yang marah karna Arkan telah memotong ucapannya. Dan teman-teman nya yang melihat itu kontan menggelengkan kepala takjub.
"Kau dikagumi di seluruh penjuru dunia. Tidak ada satu pun kekuranganmu..., bagai cinta yang sudah menumpuk...., kau sudah seperti dia yang ku harapkan", setelah satu bait selesai dibaca, Arkan mengangkat pandangnya. Menaikkan turunkan kedua alisnya menatap teman-teman sekelasnya yang sudah menahan tawa.
"Keren?", tanya Arkan kepada seluruhnya tanpa bersuara. Mereka tang ditanya pun lantas mengacungkan jempol tanpa diketahui oleh harimau betina didepan tentunya.
"Lanjut!", sentak Bu Linda membuat Arkan menoleh malas.
"Ar-"
"Pesawat..., kau selalu menemani ku saat sedih", Arkan melirik Bu Linda yang wajahnya telah memerah menahan amarah. Cowok itu tersenyum puas dan kembali membacakan puisinya dengan suara yang lebih semangat.
"Oh pesawat..., kau separuh hatiku. Kau seperti cintaku sendiri. Oh pesawat..., kau selalu ada didalam mimpiku."
"Kau bagaikan burung terbang. Oh pesawat..., kau belahan jiwaku. Pesawat...., kau tidak akan mengotori udara dengan kotoran mu."
Setelah Arkan selesai membaca puisinya, ia mengantarkan bukunya kemeja guru lalu segera menghampiri Alsya.
Playboy itu menyilangkan ibu jari dan telunjuknya sehingga membentuk sebuah gambaran hati. Kemudian Arkan mengarahkannya ke Alsya sambil mengedipkan sebelah mata, "Pesawat", ujarnya membuat Alsya mendengus kasar. Dirinya disamakan dengan pesawat?. Emang Gobl*k.
Setelah itu Arkan kembali ketempat duduknya di iringi dengan gelengan kepala beribu makna dari teman sekelasnya. Tak terkecuali Bu Linda yang juga menggelengkan kepalanya setelah mendengar dan melihat puisi yang dibuat Arkan. Predikatnya playboy, tetapi membuat puisi saja tidak bisa.
"Alsya Davinka Pranata, maju kedepan."
Mendengar itu Alsya menghela nafasnya dan segera bangkit dari kursinya.
"Semangat pesawat ku", ujar Arkan membuat semuanya terkekeh geli.
"Beg*", Diva menggeplak kepala Arkan dan memberikan pelototan ketika melihat cowok itu yang hendak protes.
"Semangat kembaran ku", Diva memberi semangat kepada Alsya yang sudah berdiri di depan kelas dengan buku ditangan.
Alsya kembali menghela nafasnya, bukannya memberi semangat tapi ia malah dibuat down.
Karena jujur, soal unjuk diri Alsya paling kaku. Ia tidak bisa melakukannya.
Kemudian Alsya menyapu atensi nya ke seluruh kelas, dan tanpa sengaja pandangannya tertubruk dengan mata abu-abu yang tengah menatapnya. Dengan bibir cowok itu sedikit....terangkat?.
Walau pun Alsya sudah sering melihat senyuman tipis tersebut. Namun entah mengapa senyuman kali ini terasa berbeda.
"Mulai", suara Bu Linda membuat Alsya memutuskan pandangannya. Menganggukkan kepalanya tanpa menoleh kearah guru tersebut.
"Ekhem!", Alsya berdeham menetralkan kegugupannya. Lalu menatap bukunya dan mulai membaca puisi dengan suara yang lirih.
"Malam...", Alsya melirik sekitar, lalu menghela nafas saat merasakan keheningan yang tiba-tiba menyelimuti.
"Aku suka menatap langit malam. Seolah ingin menyatu dengan sang kegelapan. Mengizinkan kedinginan menusuk hingga ke tulang."
"Menatap bulan yang bersinar merangkul malam. Merasakan kehangatan yang diberikan sang rembulan. Memeluk raga ini dengan erat. Meredam jerit hati. Meneteskan air mata yang akan menjadi tetesan hujan", Alsya menghela nafasnya dan melihat kearah Diva yang tersenyum memberi semangat.
Lalu Alsya pun kembali membaca puisinya, "Hingga ragaku lelah. Melemah. Terjatuh dan tersungkur ditengah gemuruh angin yang berlirih sendu. Berbalut dekapan hangat sang bintang yang mengantar ku kedalam keteduhan. Hingga esok, diriku telah menjelma jadi embun pagi yang menetes indah. Seolah tak ada lagi duri yang menghiasi cerita hidupku..."
Alsya menghembuskan nafas lega ketika puisinya telah selesai dibaca. Kini dadanya yang tadi sempit terasa plong seketika. Lalu Alsya berjalan kearah meja guru dan meletakkan bukunya untuk dinilai. Kemudian kembali ketempat duduknya, dengan acungan jempol yang didapatnya dari Arkan dan Diva.
"Sok", cibir Alaska kepada Alsya yang baru saja menduduki kursinya.
Alsya menoleh kearah cowok itu, "Maksud lo?", tanyanya seraya mengangkat sebelah alisnya bingung.
Alaska menoleh dan mengangkat bahunya acuh.
Alsya menatap datar Alaska yang bertampang datar pula. Ia tak kembali menghiraukan ucapan Alaska yang tidak jelas. Kemudian cewek itu mengarahkan pandangannya ke jendela kaca yang berada tepat disampingnya.
"Selanjutnya, Alaska Delvin Altezza!"
Alaska bangkit dari duduknya lalu berjalan kedepan dengan teriakan-teriakan para siswi sebagai backsound. Percayalah, cowok tersebut terlihat sangat gagah saat berjalan. Membuat kaki kaum perempuan lumpuh seketika.
"Oh, jadi kamu!", Bu Linda pun dibuat terperangah kagum melihat siswa barunya itu. Benar-benar mahakarya Tuhan.
Alaska mengangguk, "Bisa saya mulai?."
Bu Linda mengangguk seraya tersenyum manis.
"Jangan ada suara!", peringat Bu Linda membuat mereka yang masih berteriak histeris langsung ciut seketika.
"Loh kamu nggak pakai buku?", tanya Bu Linda lembut kepada Alaska.
Alaska menggelengkan kepalanya, "Enggak boleh buk?."
"Boleh-boleh, silahkan dimulai."
Alsya menatap kearah Alaska yang tengah menatapnya juga. Ini sudah dua kali mata mereka berserubuk tak sengaja. Alaska tersenyum sekilas lalu mulai membacakan puisinya yang sudah tertulis dibenaknya.
"Sudah ada aku....", Alaska membacakan judul puisinya sambil terus menatap mata hitam legam tersebut.
"Jangan lagi berteriak pada angin. Sebab sudah ada aku yang bersedia memelukmu", terdengar teriakan histeris yang kembali menggema, "Jangan lagi menatap rembulan. Sebab sudah ada aku yang menjadi lentera untukmu. Jangan lagi berkeluh kesah pada semesta. Sebab sudah ada aku yang bersedia mendengar mu", Alsya mengerjapkan matanya pelan. Apakah..., ini balasan puisinya?, untuk dirinya?, apakah benar?, tolong katakan.
"Jangan lagi risau, sebab sudah ada aku yang pantang membiarkan garis senyum mu menghilang."
"Kumohon, jangan lagi mengagumi langit malam. Sebab aku disini berdiri... cemburu."
Alaska menyelesaikan puisinya dengan pandangan yang terus terarah kepada pemilik mata hitam legam tersebut. Tanpa memperdulikan teriakan-teriakan histeris yang semakin membahana. Seperti yang terlihat, Bu Linda pun juga ikut tersenyum selama Alaska membacakan puisinya.
Alsya yang baru sadar jika telah lama mereka memandang satu sama lain, lantas langsung memutuskan menoleh kearah jendela. Gemuruh di dadanya tiba-tiba muncul. Dan untuk pertama kalinya Alsya tertegun begitu lama.
"Udah siap buk?", tanya Alaska menginterupsi Bu Linda dari keterpurukannya.
"Ah, bagus, puisi kamu bagus sekali", Bu Linda berujar lembut dengan senyuman seperti anak ABG yang baru digoda pacarnya.
"Terima kasih", balas Alaska datar.
"Boleh saya duduk?."
"Tentu, jadi nilai kamu ibuk masukin langsung ke buku nilai aja ya", Alaska menganggukkan kepalanya dan kembali berjalan ketempat duduknya.
"Kebanyakan jangan, kayak emak gue, cerewet", cibir Arkan yang tak dihiraukan sama sekali oleh Alaska.
Cowok dingin tersebut memandang lekat kearah gadis bersurai hitam legam yang sedang memandang matahari yang membara dilangit biru.
"Jangan lagi mencari kehangatan pada mentari. Sebab sudah ada tangan yang terbuka lebar untuk memberi sebuah rangkulan", ujar Alaska membuat Alsya menoleh kearahnya dengan kernyitan di dahi.
Alaska tersenyum tipis, "Jangan coba untuk menyerah. Awas aja kalau sampai ada berita salah satu siswi Galaksi gantung bunuh diri karena lelah dengan ujian kehidupan. Gue yang bakal ngantar lo pertama kali ke neraka", tambah Alaska yang membuat Alsya meringis ngeri. Ia tidak terlalu bodoh untuk mengambil jalan sesat tersebut, sebab Alsya masih ingin masuk surga suatu saat nanti dan berkumpul bersama Papa nya.
Papa. Ah, Alsya sangat merindukan lelakinya itu.
"Apa sih, enggak jelas!", ketus Alsya lalu memandang kedepan kelas dimana Diva sedang membacakan puisi nya.
"Ada saatnya sesuatu itu akan jelas pada waktu yang sudah ditentukan", setelah mengatakan itu Alaska kembali menoleh kearah depan kelas, tanpa menghiraukan Alsya yang memandangnya bingung.
...×××...
..."Malam. Aku memang bodoh dalam mengungkapkan perasaan ku kini. Aku tak seperti mu yang gelap namun memiliki sejuta pesona. Aku memang payah dalam menyayangi suatu hal, karna aku selalu dikecewakan. Aku bukan bintang yang jauh tapi tetap dicintai. Aku juga bukan bulan yang buruk tapi tetap dikagumi. Aku hanyalah salah satu penggemarmu tanpa bisa menjadi seperti dirimu."...
...~Rilansun🖤....