
...______________________...
...Aku mengira jika dirimu tak pernah ada di dalam hati, namun siapa sangka jika yang menduduki tahta tertinggi di dalam sana adalah dirimu......
...______________________...
...×××...
"Gue enggak mau", penolakan dari Alsya yang membuat semua orang disana berdiri dan menatap tak percaya gadis bermata hitam tersebut.
"Maksud kamu apa sayang?, bukannya kalian berdua dari kecil-"
"Kami mungkin dekat, tapi cuma sebagai teman", sela Alsya sambil menatap Alaska yang berdiri menatap datar ke arahnya. Tatapan cowok itu entah mengapa terlihat sangat menyeramkan.
"Kamu mungkin anggap kedekatan kita cuma sebatas teman, tapi aku enggak", sahut Alaska.
Alsya tersenyum miring, "Gue enggak mungkin nikah sama orang yang dulu pergi disaat gue lagi butuh-butuhnya. Gue enggak mau ditinggal tanpa kejelasan lagi."
"Alsya kamu kenapa sih?, kalian berantem?, iya?", Aruna memandang secara bergantian ke arah putrinya dan seorang cowok yang berdiri tegap dihadapannya.
Kedua remaja berbeda jenis kelamin itu tak bergeming. Mereka fokus menatap satu sama lain dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Bukannya malam ini lo tunangan?", tanya Alsya memecahkan keheningan yang ada. Itulah pertanyaan yang sedari tadi menghantuinya. Bukankah Alaska malam ini akan bertunangan dengan seorang perempuan. Lantas mengapa cowok itu datang ke rumahnya dan melamarnya secara mendadak.
Apakah pertunangan Alaska dibatalkan atau ada kendala yang lainnya.
"Batal", jawab Alaska singkat.
Alsya terkekeh pelan, "Terus gue jadi pengantin pengganti gitu ceritanya?", ujarnya dan memandang remeh Alaska.
Sementara Alaska, cowok itu hanya berdiri diam dengan memandang datar Alsya. Mengapa Syasya nya berubah sangat cepat sekali. Baru beberapa waktu yang lalu, gadis itu tertidur di dalam pelukannya. Tapi sekarang, Alsya memandang dengan penuh musuh padanya.
"Bukan gitu sayang, Alaska justru membatalkan pertunangannya itu demi kamu", Alina mencoba untuk berbicara menggantikan putranya yang hanya bisa terdiam. Alina yakin kalau Alaska sekarang pasti sangat kecewa. Makanya cowok itu hanya berdiri diam.
Bagaimana tidak kecewa, harapan tinggi untuk dapat meminang gadis pujaan hatinya malah pupus saat mendengarkan kata penolakan yang menghantam hati tersebut.
"Maaf Tante, saya enggak bisa hidup dengan laki-laki yang memandang rendah perempuan", ujar Alsya dengan memandang penuh hormat ke arah Alina.
"Setelah menaruh harapan besar pada perempuan lain di luaran sana lalu meninggalkannya dengan sejuta sakit yang ada. Lo kira perempuan itu apa?", lalu Alsya menatap Alaska yang tak bergeming. Sebenarnya ia kesal terhadap cowok itu yang hanya berdiri diam menatapnya.
Alsya menghela nafas panjangnya sebelum berujar, "Intinya saya menolak lamaran ini. Gue doain lo bisa dapat yang lebih baik kedepannya, Ska", netra hitam itu menatap tepat di manik cowok yang tak pernah hilang dari hatinya itu.
Lalu Alsya pergi meninggalkan ruangan tamu tersebut dengan Aruna yang terus memanggilnya untuk berhenti.
Namun Alsya tak menghiraukannya. Cewek itu melangkahkan kakinya menuju halaman belakang rumahnya. Berlari cepat dan tak menggubris Bik Imah yang juga turut memangilnya.
Alsya mendudukkan tubuhnya di sebuah kursi yang menghadap langsung ke arah kolam berenang rumahnya.
Menatap air yang tampak tenang itu dengan hati yang gundah gelisah.
Alsya baru menyadari jika rasa sukanya terhadap Arkan dulu hanyalah sebatas rasa tertarik sesama lawan jenis. Dan itu bermula karena rasa nyamannya terhadap cowok yang rupanya adalah Abang kandungnya.
Dan perasaannya untuk Alaska itu berbeda, perasaannya itu tak pernah pudar dari dulu. Ia tak ingin munafik, Alsya merasa sangat senang saat Alina mengatakan jika pertunangan Alaska dibatalkan hanya demi dirinya.
Seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya. Rasa senang nya lain, tidak seperti saat Alsya mengetahui kalau Mama nya akan berubah dan mulai selalu ada untuknya.
"Maafin Syasya, Ska", gumam Alsya dan tanpa sadar air mata itu turun begitu saja.
"Sya."
Alsya menghapus air matanya saat merasakan sebuah tepukan di pundaknya serta mendengar suara yang sangat familiar itu.
Alsya menoleh dan mendapati Diva yang berdiri disampingnya. Lalu cewek tersebut kembali menatap ke arah kolam berenang.
"Hei, lo kenapa?", Diva mengambil tempat duduk disamping sahabatnya itu. Ia sedikit paham dengan apa yang barusan terjadi, karena Diva melihat Alaska beserta keluarganya di ruang tamu rumah Alsya. Dan ia mendengar sedikit perbincangan mereka tadi.
Tapi satu yang Diva tak mengerti, mengapa Alaska melakukan hal seperti itu. Bertunangan lalu membatalkannya, terus malah melamar Alsya. Mengapa cowok itu plin-plan sekali.
"Gue enggak kenapa-napa", Alsya menundukkan kepalanya saat merasa air matanya akan kembali turun. Sebab ia tak ingin Diva melihat dirinya yang rapuh dan menyedihkan.
"Cerita sama gue, Sya", Diva memegang pundak Alsya. Membuat cewek itu mendongak dan menatap sahabatnya tersebut dengan air mata yang meleleh turun.
Melihat sisi lain yang tak pernah ditunjukkan Alsya. Diva lantas langsung mendekap sahabatnya itu. Ia tak sanggup melihat Alsya yang begitu rapuh.
"Lo enggak lemah, Alsya yang gue kenal itu lebih kuat dari siapapun", suara Diva terdengar bergetar dengan tangan yang mengelus lembut punggung Alsya.
"Gue enggak sanggup lihat dia yang kayak gitu. Gue udah nge-cewain dia, Div. Gue udah buat hatinya patah, sepatah-patahnya. Gue itu egois, gue enggak senang lihat di tunangan, tapi gue malah nolak dia dengan begitu kejamnya. Gue benci dengan diri gue sendiri", ujar Alsya dengan air mata yang turun sangat deras.
"Ssst, mungkin dia emang belum jodoh lo", Diva sendiri pun tak kuasa untuk menahan tangisannya.
"Jika benar, maka itu adalah satu fakta yang sangat menyakitkan", gumam Alsya.
"Jadi apa yang lo mau sekarang?."
Alsya terdiam sejenak. Sebenarnya apa yang diinginkan oleh hatinya?.
"Gue mau dia Div, tapi Tuhan enggak mengizinkan", cicitnya pelan dengan nada yang sangat memperihatinkan.
Diva memejamkan matanya dan memeluk sangat erat tubuh rapuh Alsya. Saat masih berpacaran dulu, Diva mengetahui dari Rafael kalau Alaska dan Alsya itu adalah teman sedari kecil. Bahkan tak dapat dipisahkan.
Dan hanya Tuhan lah yang tau, betapa dalamnya perasaan diantara mereka berdua.
"Tuhan enggak mungkin rela nolak permintaan lo, Sya."
"Tapi nyatanya Tuhan enggak pernah jawab semua doa-doa gue."
"Semuanya butuh waktu."
Alsya melepas pelukannya dan menatap kembali air kolam berenang yang tampak beriak karena daun kering yang jatuh diatasnya.
"Dan gue enggak punya banyak waktu", sahut Alsya seraya menoleh ke arah Diva.
"Astaga, Sya", Diva kaget saat melihat darah yang keluar dari hidung Alsya.
Sementara Alsya, cewek itu menyentuh bibirnya yang terkena darah. Dan tertawa pelan melihat cairan berwarna merah tersebut.
"Waktu gue enggak banyak, Div. Dan gue enggak mau ninggalin Alaska disaat kami sedang berada dalam pusaran cinta. Gue enggak mau dia merasakan apa yang namanya sakit yang tak dapat diutarakan. Gue enggak mau buat orang lain nangis disaat gue pergi nanti", Alsya menatap darah yang ada ditangannya yang sudah bercampur dengan air matanya.
Itulah salah satu alasan Alsya menolak Alaska. Ia tak ingin cowok itu merasakan sakit dan kecewa yang lebih besar daripada penolakannya malam ini.
Sebab Alaska itu berbeda. Alsya mengira jika selama ini Alaska hanya menempati salah satu sudut di hatinya. Namun rupanya Alaska telah bertahta penuh di dalam hatinya.
Menguasai seluruh hatinya yang dulu seperti tanah yang tandus. Menghidupkan kembali jiwanya yang mati. Membangkitkan semangatnya untuk terus melihat dunia. Walau hanya sebentar.
Dan Alsya benar-benar tulus mendoakan jika Alaska mendapatkan pendamping hidup nantinya. Dan mungkin dirinya sudah tak lagi berpijak di bumi ini.
Melihat itu Diva lantas kembali memeluk Alsya, "Lo punya banyak waktu, Sya. Lo harus hidup untuk lihat gue nikah nantinya. Lo harus tetap ada untuk main dengan anak-anak gue", ujar Diva dengan air mata yang terus turun. Seperti bendungan yang pecah. Tak dapat ditahan.
Alsya tersenyum. Biarlah ia menjadi orang lain malam ini. Tidak menjadi Alsya yang kaku dan cuek. Ia ingin seperti remaja normal lainnya, ia ingin dipeluk seperti ini seraya mendengarkan keluh kesahnya tentang dunia.
"Sayangnya itu cuma angan-angan lo, Div. Sebab lo dan gue bukan Tuhan yang bisa mengatur hidup matinya seseorang."
"Biarin gue tidur sebentar, Div. Jangan panggil yang lain, gue enggak mau ada kehebohan. Paham?", Alsya merebahkan kepalanya di pundak sahabatnya itu.
Diva menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan suara. Sebab ia tak ingin Alsya bertambah sedih karena tangisannya.
"Kepala gue sakit, Div."
"Ki-kita ke rumah sakit?."
"Enggak, gue cuma mau tidur sebentar."
Diva menggigit bibir bagian dalamnya dengan air mata yang terus turun, "Ti-tidur lah, Sya."
Dengan memejamkan matanya, Alsya mencoba untuk melupakan sejenak masalah yang ada. Mencoba melupakan kalau ia sudah membuat hati cowok yang amat disayanginya itu terluka. Dan mencoba untuk melupakan jika dirinya sudah mengecewakan semua orang.
...~Rilansun🖤....
..."Tuhan, mengapa menghadirkan dirinya jika tidak dapat untuk ku miliki. Membuat hati ini mati rasa karena sakit yang ada."...