
...___________________...
...Aku tak takut kamu hilang, tapi yang aku takutkan kamu lupa. Lupa akan semua hal yang telah kita lewati......
...___________________...
...×××...
Mendengar suara nyaring yang bergema di seantero sekolah. Membuat seluruh anak MIPA 1 berlonjak kegirangan. Mereka segera bergegas memasukkan kembali alat-alat tulis mereka kedalam tas tanpa menghiraukan Bu Wati yang memberi salam penutup di depan kelas. Merasa tidak akan ada yang menjawab salamnya, guru yang terkenal killer tersebut langsung pergi keluar kelas dengan mulut yang terus berkomat-kamit.
Hampir seluruh siswa-siswi keluar kelas menuju kantin. Tapi ada juga yang masih berada di dalam kelas, karena ada yang membawa bekal atau ada juga yang tidak membawa uang jajan, dan lebih parahnya ada yang menebeng bekal kawannya dengan alasan menabung beli novel.
Sedangkan Alaska, cowok yang berstatus anak baru itu lebih memilih menghabiskan waktu istirahatnya di dalam kelas. Bukan karena ia tak memiliki uang jajan, atau karna ia membawa bekal. Tetapi karena ia malas mengantri dengan seribu aroma yang berasal dari berbagai macam orang, hanya untuk mendapatkan seporsi siomay.
Lebih baik Alaska duduk diam di dalam kelas daripada berada di kantin dengan hidung yang tersumbat.
Merasa suntuk, Alaska pun memasang earphone berwarna putih ketelinganya. Memejamkan mata, menikmati alunan musik yang didengarnya.
Ketika merasakan kursi yang berada disampingnya itu bergerak, Alaska lantas membuka matanya. Menoleh kesamping dimana seorang gadis sedang menjatuhkan kepalanya bosan diatas meja.
Detik berikutnya, cowok bermanik abu-abu itu menghela nafasnya. Alaska lupa jika masih ada Alsya disampingnya.
Kemudian cowok itu dengan iseng mencolek sedikit lengan Alsya yang tertidur membelakanginya.
Sementara Alsya yang baru saja ingin memejamkan matanya, ter-urungkan ketika merasakan colekan kecil dilengannya. Lantas cewek itu menegakkan kembali badannya dan menoleh kearah samping. Gadis dengan rambut yang tergerai indah itu memutar bola matanya malas. Alsya bosan melihat tampang datar cowok yang berada dihadapannya itu. Apa tidak ada ekspresi lain?.
"Kenapa enggak keluar?", tanya Alaska datar. Percayalah, cowok itu sudah sangat mengusahakan tampang dan sifatnya untuk lebih bersahabat ketika berbicara dengan gadis dingin di depannya itu. Karena jika dingin lawan dingin. Maka tidak akan bisa bersatu, akan selalu ada tembok es diantara mereka. Tentu saja Alaska tidak ingin itu terjadi, karna yang ia inginkan adalah sebuah komitmen bukan tembok es.
"Enggak ada", jawab Alsya ketus. Ia sangat malas jika berbicara dengan Alaska. Jika Alsya sedang hamil sekarang, mungkin anaknya lahir akan mirip dengan Alaska, karena kebencian yang begitu mendalam dengan cowok blasteran tersebut.
Alaska menaikkan sebelah alisnya ketika merasa suara Alsya yang begitu kecil, "Apa?", tanyanya.
"Apanya?", balas Alsya tak mengerti.
"Coba ulang ucapan lo tadi."
Alsya mengerutkan keningnya, "Enggak ada", ucapnya mengulang kembali apa yang diucapkannya tadi.
"Apa?, enggak denger", Alsya menghela nafasnya seraya merotasikan matanya ketika melihat benda putih yang tersumpal dikedua telinga cowok jangkung tersebut.
"Gobl*k!", umpat Alsya pelan sambil melepas kasar earphone putih yang ada ditelinga Alaska.
Alaska baru sadar jika telinganya masih tersumpal dengan benda putih tersebut. Lantas ia tersenyum tipis kearah Alsya merasa malu akan kebodohannya, "Jadi apa yang lo bilang tadi?", ujar Alaska mencoba mengalihkan rasa malunya.
"Enggak ada!", ketus Alsya lalu memandang mejanya sambil menulis-nulis abstrak.
"Ada", sahut Alaska membuat Alsya memandang kearah cowok tersebut dengan sengit.
"Enggak ada!"
"Ada, tadi lo ada ngomong sesuatu kok."
Alsya menghela nafasnya, "Yang gue bilang enggak ada. Ngerti gak sih lo, ah", ujar Alsya menggebu-gebu.
Alaska yang baru paham akan maksud ucapan Alsya, lantas meringis malu. Sudah dua kali ia melakukan kebodohan dan sayangnya itu dengan orang yang sama, dan parahnya lagi orang itu adalah gadis impiannya.
Kenapa gue tulalit banget!.
"Oh, gue kira apaan. Emangnya kenapa?, malas ke kantin?", tanya Alaska lagi-lagi mengalihkan rasa malunya.
Alsya menunduk dan kembali seperti posisi semulanya, "Enggak" jawabnya singkat.
"Terus?."
"Apanya?", sahut Alsya tanpa menoleh.
"Enggak lapar?", tanya Alaska lagi.
"Enggak!."
"Serius?."
"Iya!."
"Masa?."
"Iya loh, astaga!."
Alaska terkekeh kecil, "Masa sih?", usilnya.
"Iya Alaska ya ampun", greget Alsya dan menoleh kearah cowok yang sudah tertawa terbahak-bahak itu, membuat siswi yang masih berada di dalam kelas mematung seketika.
"Ciee, udah manggil Alaska. Ya udah gue jawab, apa sayang?", ujar Alaska tiba-tiba membuat Alsya melototkan matanya, Alaska yang melihatnya pun tertawa gemas akan perilaku gadis dingin tersebut.
"Apa sih enggak jelas!", ketus Alsya dan berdiri dari duduknya. Ia ingin keluar dari situ sekarang juga. Melihat tatapan tak bersahabat yang dilayangkan kawan perempuan sekelasnya, membuat Alsya lebih memilih untuk pergi ke kantin. Padahal ia tidak ingin ke kantin hari ini, tapi tak apa asal tidak kembali masuk keruang BK.
"Awas", usir Alsya yang berhasil membuat kerutan dikening Alaska.
"Apa yang awas?", tanyanya.
"Lo yang awas!, gue mau keluar!", lagi-lagi Alsya berujar ketus kepada cowok tersebut. Jika begini terus ia bisa stroke mendadak.
"Galak", celetuk Alaska seraya memberi jalan buat gadis yang sedang melotot itu untuk keluar.
Sebelum berjalan Alsya mendenguskan nafasnya tepat dihadapan Alaska, "Bau!", komen Alaska sambil menutupi hidungnya.
Alsya yang mendengarnya sontak melototkan matanya lebih lebar lagi, membuat Alaska tertawa, "Nanti matanya sakit cantik", ujar Alaska lembut dengan tangan yang mengelus puncak kepala gadis yang mematung itu.
Alsya merasakan getaran aneh ketika Alaska menyentuhnya. Ini tidak sekali tapi sudah dua kali, dan itu tetap orang yang sama. Kemudian Alsya mengerjapkan matanya lalu menepis kasar tangan Alaska.
"Haram!", ketusnya dan beranjak dari hadapan Alaska yang sedang menatapnya sambil tersenyum tipis.
"Kamu benar-benar berubah. Buktinya kamu lupa", monolog Alaska pelan sambil terus menatap punggung gadis bersurai hitam itu.
Bruk
Aslya meringis sambil mengelus pantatnya. Baru saja ia ingin keluar dari kelas tapi sesuatu yang keras menabraknya diambang pintu kelas. Ia mendongak ketika melihat ada dua uluran tangan kearahnya. Lalu Alsya memandang dua cowok tersebut dengan datar. Yang satu membuatnya gelisah, yang satu membuatnya jengkel. Gadis bermanik hitam pekat itu berdiri tanpa menghiraukan kedua uluran tangan dari kedua orang tersebut.
"Sakit?", tanya Alaska terkesan dingin tapi sarat dengan kecemasan. Bagaimana tidak, gadis yang selalu Alaska jaga dari jauh tak mungkin ia biarkan terjatuh padahal dekat. Ibaratnya gini, dari jauh saja ia jaga apalagi dari dekat pasti ia rawat.
Alsya menggelengkan kepalanya. Lalu ia memandang kearah cowok yang wajahnya sudah tertekuk rapi. Membuat Alsya lantas menaikkan sebelah alisnya, "Kenapa?", tanyanya.
"Enggak ada!", ketus Arkan.
"Dari mana?", tanya Alsya lagi.
"Kepo!."
Alaska yang merasa dirinya tak lagi dipentingkan, memilih kembali ke tempat duduk. Ia akan memantau gadisnya tersebut dari kursinya. Jika saja cowok tengil tersebut mengganggu gadisnya, Alaska akan siap pasang badan untuk melindungi Alsya.
"Terlambat?", tanya Alsya lagi pada Arkan.
"Iya", jawab cowok itu dengan jutek.
"Kenapa?."
"Banyak tanya lo."
Alsya memandang datar kearah Arkan. Ia paling anti dibentak, apalagi itu didepan orang ramai. Sekali lagi Alsya tegaskan, ia tak suka dibentak apalagi diatur.
"Maaf kalau gue terlalu jauh ikut campur!", tandas Alsya sebelum melangkah keluar kelas.
"Emang sulit ngejar hati cewek dingin", keluh Arkan yang berdiri diambang pintu kelas sambil menatap punggung gadis yang sudah hilang dimakan tembok.
...×××...
Alsya memakan siomay nya dengan hening. Ia kira jika kantin hari ini akan sangat ramai, tapi ternyata dugaannya salah, kantin saat ini lebih di dominasi dengan siswa laki-laki. Alsya sendiri pun bingung, entah kemana perginya para betina Galaksi. Bisa dibilang jika mungkin saat ini ia sendiri perempuan yang duduk diantara banyaknya siswa laki-laki.
Alsya sedikit mendengar perbincangan empat orang siswa laki-laki yang terpaut dua meja darinya. Entah emang ciri khas laki-laki kalau berbicara suaranya besar, atau emang telinganya saja yang sangat nyaring.
"Yah, enggak ada deh yang mau digombalin", keluh laki-laki yang rambutnya diikat satu kebelakang dan hanya menyisakan sedikit rambutnya dibawah.
Sepertinya mereka itu sekumpulan siswa-siswa bandel nya Galaksi. Terlihat bagaimana penampilan mereka. Emang sih tidak boleh melihat orang itu dari cover nya. Tapi terkadang sampul itu bisa mencerminkan isi buku, bukan?.
"Emangnya pada kemana sih, kok kantin isinya semua pada pisang", sahut cowok dengan rambut yang tidak ada, alias botak.
"Jadi gue pisang gitu, dasar katarak!", umpat Alsya pelan sambil memakan siomay nya dengan telinga yang masih setia mendengar percakapan geng amburadul tersebut. Bukan bermaksud untung nguping. Mereka saja yang berbicara seperti orang lagi demo.
"Emang lo enggak tau apa?", ujar cowok yang dari tadi diam. Tapi Alsya tau dia diam bukan karena kalem, tapi karena ingin mencomot bakso kawannya yang sedang mengobrol ria.
"Apa?, apa?", seru mereka bertiga serempak.
"Nih ya, cewek-cewek Galaksi itu sekarang pada ke MIPA 1. Sampai Yana yang terkenal culun dan sering ke perpustakaan itu juga ikut ke kelasnya anak-anak elit itu."
"Kelas gue dong?", tanya Alsya pada dirinya sendiri.
"Emangnya kelas MIPA 1 lagi bagi-bagiin sembako?", tanya cowok yang lumayan ganteng itu.
"Bukan goblok!, lo enggak tau apa ada anak baru di MIPA 1?."
"Enggak. Emang anak barunya siapa?, penasaran gue kok sampe dikejar-kejar sama semua cewek."
"Anak barunya itu cowok."
"Cowok?, emang ganteng banget?. Sampai ngalahin ketenarannya Arkan."
"Beuh, nih ya, gue denger dari cabe-cabenya Galaksi. Anak baru tuh ganteng banget. jangankan Arkan, manu Rios aja lewat."
"Masa iya sih?."
"Enggak tau juga sih, tapi katanya bule bro."
"Terus lo mau apa kalau dia bule?, jangan bilang lo juga naksir sama dia."
"Ya enggak lah goblok!, gue masih doyan lobang kali."
Alsya merotasikan bola matanya jengah. ternyata anak baru itu yang membuat kantin Galaksi sepi.
"Ganteng dari mana nya?, muka kayak triplek aja di lihatin. Silau mata mereka", gumam Alsya lagi.
"Siapa yang matanya silau?."
Alsya mendongakkan kepalanya kaget ketika mendengar suara bariton seseorang.
Arkan mengambil duduk tepat di depan Alsya. Ia langsung meminum teh es gadis tersebut tanpa meminta izin terlebih dahulu.
Arkan terkekeh melihat Alsya yang mendengkus malas, "Gue haus", ujarnya sambil nyengir.
"Gue enggak nanya", ketus Alsya.
"Yee galak bener", Arkan kembali meletakkan gelas kosong tersebut ditempat semula dengan tatapan horor dari Alsya "Emangnya siapa tadi yang matanya silau?, mata lo silau?, sini gue obatin", tambahnya sambil mendekatkan wajahnya ke Alsya yang langsung di dorong oleh cewek itu.
"Modus!."
Arkan terkekeh, "Sya", panggilnya membuat Alsya mendongak dengan sebelah alis yang terangkat.
"Gue mau minta maaf", ujarnya dengan tampang yang lebih sedikit serius dari sebelum-sebelumnya.
"Untuk?", tanya Alsya tak paham.
"Gue udah ngebentak lo tadi, gue minta maaf untuk itu."
Alsya mengangguk, "Kan lo bukan siapa-siapa. Kenapa harus merasa bersalah?", sahur Alaya terkesan dingin.
"Gue tau lo orangnya paling anti dibentak. Maka nya gue minta maaf."
Alsya kembali mengangguk sebagai respon atas permintaan maaf Arkan.
"Lagi pula gue marah juga karena lo", sungut Arkan.
"Gue?, kenapa?", tanya Alsya bingung.
"Ya gara-gara lo dekat sama tuh anak baru. Gue enggak suka!", gerutu Arkan kesal.
"Kenapa enggak suka?", tanya Alsya santai sambil menyenderkan punggungnya disandaran kursi.
"Ya enggak suka aja. Mana tuh cowok centil banget lagi", kesalnya ketika mengingat kembali Alaska yang tadinya ingin menolong Alsya yang terjatuh.
"Hak lo?", to the point Alsya.
"Hak gue?, ya sebagai teman kelas yang baik gue itu harus ngelarang lo untuk dekat-dekat sama buaya darat", balas Arkan dengan jurusan seribu alasan.
Alsya merotasikan bola matanya, lalu ia bangkit dari duduknya, "Bullshit", umpatnya sebelum pergi meninggalkan Arkan yang tersenyum jahil.
Entah mengapa hatinya tidak menerima dengan apa yang diucapkan Arkan barusan. Ia ingin mendengarkan kalimat lain yang keluar dari mulut Arkan, bukan kalimat tadi yang ia mau, eh.
"Sya!, tungguin gue!", panggil Arkan sambil berlari menyusul Alsya yang sudah keluar dari kantin.
"Kenapa marah sih?", tanya Arkan saat berhasil menyamai langkah Alsya.
"Siapa yang marah?", sahut Alsya tanpa menoleh.
"Lo yang marah!", ujar Arkan dengan seringaian tipis.
"Enggak marah."
"Marah!."
"Enggak."
"Iya!"
"Enggak!" balas Alsya dan menghentikan langkahnya, "Diem lo!, bawel!", ketus Alsya sambil menunjuk wajah tampan Arkan ketika melihat cowok tersebut ingin protes akan ucapannya. Tolonglah, Alsya itu tidak suka keramaian. Ia tidak suka suasana yang berisik.
Alsya melanjutkan kembali langkahnya sambil mengumpat pelan, "Enggak playboy, nggak triplek sama aja. Bawel", gerutunya pelan.
"PMS ya sya?", tanya Arkan dan kembali berjalan disamping Alsya. Kedekatan mereka berdua tentu saja menimbulkan bisik-bisik tetangga dari anak-anak Galaksi yang melihatnya.
Alsya menghela nafasnya. Ia lebih memilih mendiamkan ketua makhluk halus tersebut. Jika terus diladeni maka sampai kipas beranak pun tidak akan selesai.
"Lo tadi nanya hak gue apa kan?", tanya Arkan tiba-tiba seraya melirik sekilas kearah Alsya yang memasang tampang seperti biasanya. Datar. Tapi itu semua tidak dapat menutupi kecantikan yang gadis itu miliki.
"Mungkin gue enggak punya hak apa-apa akan diri lo. Tapi satu hal yang harus perlu lo tau. Gue punya hak marah, cemburu, perhatian dan peduli sama cewek yang gue suka", ujar Arkan membuat langkah mereka berdua berhenti.
Alsya memandang kearah Arkan dengan terkejut. Ia tidak salah dengarkan?.
Arkan tersenyum tipis, "Iya. Gue suka sama lo, jauh sebelum lo kenal sama gue", ujarnya membuat Alsya mengerutkan keningnya.
"Gue suka sama lo dari pertama MOS. Tapi gue enggak berani ngungkapinnya. Sebab gue takut lo tolak. Selama gue perhatiin lo, gue gak pernah lihat lo berinteraksi sama orang lain. Maka nya dari situ ketakutan gue muncul", tambah Arkan panjang lebar.
"G-gue, gue-"
"Enggak apa-apa. Gue paham kok. Lagi pula gue nyatainnya nggak elit banget. Masa didepan toilet", tunjuknya kearah pintu toilet yang tepat berada dibelakang Alsya.
"Bukan karena itu. Gue-"
Arkan tersenyum tipis, "Gue paham dan gue ngerti. Lo pasti belum siap. Gue akan nunggu sampai lo siap", ujarnya mantap seraya mengelus puncak kepala Alsya.
Cewek itu tersenyum canggung, "Sorry", gumam Alsya yang membuat Arkan kaget. Karena setahu Arkan, Alsya itu anti banget untuk sekedar bilang 'makasih' apalagi 'maaf'. Bukannya berarti sombong, tapi Arkan paham jika gadis itu sangat sulit untuk berinteraksi.
"Lo bilang apa tadi?", Arkan mengerjapkan matanya meminta Alsya untuk mengulang kembali apa yang barusan didengarnya.
Alsya mendengus dan memilih melanjutkan langkahnya, "Enggak ada pengulangan!", ketusnya sebelum melangkah.
Arkan terkekeh geli, "Dasar gede gengsi."
"Gue dengar", sahut Alsya dengan memutar sedikit badannya kebelakang.
"Gue kira lo budeg", Arkan terkekeh melihat Alsya yang melotot tajam kearahnya.
"Arkan playboy mesum!", teriak Alsya membuat semua pasang mata menoleh kearahnya.
"Sstt, Alsya jangan buka ceki", Arkan berjalan menghampiri Alsya lalu membekap mulut gadis tersebut dan membawanya kembali ke kelas.
Alsya melepaskan tangan Arkan dari mulutnya dan memandang sengit kearah cowok tengil tersebut, "Bau!", ketusnya dan berjalan cepat meninggalkan Arkan.
Arkan yang masih berdiri ditempatnya menyeringai puas,"Gue berhasil", gumamnya pelan lalu mengeluarkan sebuah liontin dari saku seragamnya dan memandang liontin berbandul hati tersebut dengan seksama, "Demi Bunda", ujarnya dan kembali memasukkan liontin tersebut kedalam sakunya.
...×××...
..."Hati. Bukannya aku tak mempercayainya. Hanya saja aku terlalu takut untuk mengekspresikan perasaan yang bergema di dalam. Aku tak ingin kembali berharap. Sebab, dulu aku pernah percaya tapi buktinya lagi-lagi kecewa yang aku dapat. Tapi apakah kali ini aku harus mempercayainya?, apa ada jaminan untuk kecewa tak lagi singgah?. Ketahuilah, aku hanya takut tersakiti. Sebab aku lemah jika yang menyakitiku adalah seseorang yang berarti dalam hidupku."...
...~Rilansun🖤....