Alsya

Alsya
:Pacaran?



...__________________...


...Bolehkah aku berharap, jika hanya aku yang bisa menghabiskan senja bersama mu?. Hanya aku, kamu, dan senja. Tak ada yang lain......


...___________________...


...×××...


Bulu mata yang lentik itu perlahan terangkat ke atas, menampilkan bola mata hitam legam yang lembut sekaligus tajam. Membuat orang-orang tak akan berani memandangnya, tetapi juga penasaran akan keindahannya.


"Syukurlah Sya, gue kira lo dead karna dengar pengakuan cinta dari Romeo. Bisa jadi duda sebelum naik pelaminan gue kalau itu terjadi. Tapi enggak lah ya, amit-amit", oceh Arkan sambil mengetuk kepalanya dan nakas disampingnya tiga kali secara bergantian.


"Eum, ngapain sih kalian?", ujar Alsya dengan suara pelan sambil berusaha duduk dibantu oleh Arkan yang berada disamping kanan nya.


"Ee, sarap nih anak. Lo tanya ngapain?, ya nemenin lo disini lah. Kalau enggak, si cecunguk satu ini bakal ambil kesempatan dalam kesempitan", Diva menuding Arkan dengan jari telunjuknya.


"Sembarangan, ya enggaklah. Tapi kalau ada kesempatan gue mau juga sih", balas Arkan dengan suara yang pelan diakhir kalimat, membuat Diva berdecak dan memutar malas kedua bola matanya.


"Udah ah sana lo, nanti monyet lo yang enggak waras itu nyariin lagi", usir Diva. Tapi tetap tak dipedulikan Arkan. Playboy yang insaf katanya itu lebih memilih memusatkan perhatiannya kepada gadis cantik yang sedang berada diatas brankar UKS.


"Sya, maafin gue ya kalau lo pingsan itu karena gue. Tapi gue serius Sya dengan apa yang gue bilang dilapangan barusan. Gue suka sama lo, gue mau lo jadi pacar gue", Arkan menggenggam tangan Alsya dengan pandangan yang serius. Sedangkan Alsya dibuat terperangah dengan tindakan Arkan. Karena seumur-umur baru kali ini tangannya digenggam oleh cowok lain selain Papa dan dia yang......ah, sudahlah.


Diva yang melihat itu membelalakkan matanya tak percaya. Lalu ia beralih menatap ke Alaska yang sedari tadi diam bersandar di pintu. Cowok itu tidak menunjukkan reaksi apa pun, hanya menolehkan kepalanya keluar. Tapi Diva tau apa arti semuanya itu.


Diva lantas menghela nafasnya dan mulai bernyanyi dengan kerasnya, "ALSYA, kata siti Fatimah kau harus jaga..., menjaga pandangan dari yang bukan mahramnya. Tak suka bercanda, tak suka bersapa dengan lelaki ajnabi", Diva mengambil beberapa penggal bait lagu yang sedang ramai diperbincangkan beberapa bulan lalu.


Alsya mengerjapkan matanya mendengar suara Diva yang merusak gendang telinganya itu. Dengan refleks ia menarik tangannya dari genggaman Arkan.


"Dasar perusak!, udah sana pergi lo. Gangguin orang aja, gue tau lo iri. Tapi enggak gini juga kali, ngenes amat", sembur Arkan yang merasa terganggu dengan lagu yang dibawakan oleh Diva. Udah salah nada salah lirik pula lagi.


"Yeee, lo yang keluar. Gue kan neme-",


"Udah Div, lo keluar dulu aja. Gue mau ngomong sama Arkan. Bentar aja kok", potong Alsya yang menatap Diva sebagai kode untuk si terompet rusak itu segera pergi.


Diva tak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya. Karena setahunya Alsya itu anti banget sama yang namanya cowok. Apalagi kalau cowoknya modelan si Arkan. Bisa alergi tujuh turunan. Tapi, apa yang barusan didengarnya berbanding terbalik dengan itu semua. Apa cinta memang bisa merubah kepribadian seseorang?. Sedahsyat itu kah kekuatan cinta.


"Tapi Sya-"


"Diva", Alsya menekan ucapannya sebagi tanda jika ia baik-baik saja, dan tak ingin dibantah.


Belum sempat Diva protes, suara pintu yang dibanting mengagetkan mereka semua yang ada di dalam. Bahkan yang diluar pun terkejut. Untung saja pintu UKS tersebut tahan banting. Produk Indonesia bukan kaleng-kaleng.


Diva menatap pintu tersebut dengan nanar. Ia tentu saja tahu siapa pelakunya, dan ia pun tahu mengapa pelakunya tersebut melakukan hal itu.


Alsya yang tak menyadari siapapun yang berada disana sontak mengernyitkan dahinya bingung, "Disana tadi ada orang?", tanyanya sambil menunjuk pintu yang sudah tertutup rapat.


"Udah jangan pikirin si pebinor itu", sahut Arkan dengan kesal memikirkan Alaska yang tadi berdiri disitu dengan gaya sok cool nya.


Kernyitan di dahi Alsya bertambah setelah mendengar ucapan Arkan. Pebinor?, siapa?, Apa mungkin....


"Alaska?", tanya Alsya kepada Diva.


"Kenapa sih mereka?", gumam Alsya heran.


"Udah jangan dipikirin. Jomblo-jomblo ngenes itu cuma gak terima kalau kita pacaran. Dasar kuyang, kekurangan kasih sayang."


Lalu Arkan yang melihat jika keadaan sudah kondusif pun mengambil kesempatan. Cowok itu langsung kembali menggenggam tangan Alsya, tanpa harus diganggu lagi.


"Sya, gue serius", Arkan memandang Alsya dengan penuh harapan, sambil mengelus tangan Alsya yang berada dalam genggamannya.


Tuhan..., apa yang harus Alsya lakukan. Jika sudah begini hati cewek mana yang tidak akan luluh.


"Eum, Ar", Alsya berusaha menarik tangannya. Arkan yang paham pun lantas melepaskan genggaman tangan mereka. Ia mengerti jika Alsya bukan tipe cewek yang mudah didekati.


"Gue hargai perasaan lo. Tapi...., maaf Ar, gue enggak bisa", Alsya menundukkan kepalanya. Merasa bersalah terhadap Arkan. Tapi entah dorongan dari mana, Alsya merasa ia tak bisa menjadi pacar Arkan. Padahal Alsya yakin jika dirinya memang sudah mulai menyukai playboy-nya Galaksi tersebut. Entahlah, takdir Tuhan itu rumit, dan akan bertambah rumit jika kita berusaha mengetahuinya.


Arkan menghela nafasnya, "Kenapa, Sya?. Lo belum percaya sama gue?, tapi gue jujur, gue serius suka sama lo, Sya", Arkan memasang wajah memelasnya. Jika Diva masih berada disitu, Arkan pasti sudah menjadi bahan bullyan. Dasar, playboy itu memang memiliki seribu muka ya?.


Alsya mendongakkan kepalanya perlahan, "Bukan gitu Ar, tapi gue emang gak punya perasaan apa-apa sama lo", bohong. Perasaan itu sudah ada, tapi Alsya tak tau kapan pastinya perasaan itu mendiami salah satu sudut hatinya.


Arkan menghela nafasnya, "Ya udah, perasaan emang enggak bisa dipaksa. Gue yakin kita jodoh, jadi ya santai aja", ujarnya sambil menyugar rambut disertai dengan cengiran bodoh andalannya.


Alsya tersenyum tipis, sepertinya predikat playboy yang melekat pada cowok itu memang pantas disandangnya. Terbukti dari bualannya yang santai tapi mampu memikat hati lawan bicaranya.


"Kalau gitu gue boleh meluk lo enggak?, sebagai kompensasi karna lo udah nolak gue yang tampannya tiada tara ini", tambah Arkan kemudian.


Belum sempat Alsya menolak, Arkan sudah lebih dulu merengkuh tubuh mungil Alsya kedalam pelukannya.


Tanpa sadar Alsya menitikkan air mata, ini pelukan pertama kali dari pria lain selain papa nya, dan Alsya sungguh merindukan pelukan hangat itu.


"Makasih Ar", lirih Alsya di dalam dekapan Arkan.


Cowok itu mengangguk meski ia tidak tau terima kasih untuk apa. Lalu Arkan mengelus lembut punggung Alsya dan menghirup rakus aroma rambut gadis yang berada didalam dekapannya itu.


Mereka melupakan kehadiran seseorang yang tengah menatap kemesraan mereka dari luar jendela.


Alaska, cowok itu sebenarnya tidak benar-benar pergi dari sana, ia berada diluar menunggu Alsya. Kini Alaska mengutuk dirinya sendiri yang menolak ajakan Diva untuk kembali ke kelas bersama tadi. Tapi jika Alaska ikut, mungkin ia tidak akan tau jika semuanya telah berakhir.... diantara mereka.


"My hug is empty", gumam Alaska sambil menatap sendu tangannya. Memejamkan matanya sejenak, sebelum berlalu pergi dari sana. Alaska juga makhluk Tuhan yang memiliki perasaan, bukan hanya cewek yang bisa mengeluarkan air mata. Cowok juga bisa, dan hari ini Alaska mengeluarkan sebulir air matanya. Namun langsung disekanya dengan cepat.


Air mata laki-laki itu adalah sebagai bukti kekecewaannya. Entah untuk dirinya sendiri atau untuk kehilangan yang tengah ia rasakan kini.


Alaska tak ingin memaksa, karena ia tau jika sesuatu yang dipaksa itu tidak akan menghasilkan suatu hal yang bagus. Jika seseorang itu memilih untuk melupakan, lalu apa alasan Alaska untuk mengingatnya terus. Biarlah semuanya terkubur bersama kata menyerah.


Segala perjuangannya selama ini sudah berakhir sampai disini. Gadis nya sudah memiliki tempat bersandar sendiri. Kini ia tak diperlukan lagi.


...×××...


..."Tuhan, biarkan aku merasakan hangatnya pelukan ini untuk sebentar. Jangan terlalu cepat untuk mengambilnya. Jangan membuat tubuhku jatuh, karena Engkau mengambil sandarannya. Sebentar saja, setidaknya sampai aku bisa menghafal bau nya. I'm really miss this hug."...


...~Rilansun🖤....