Alsya

Alsya
:Bertemu



...________________...


...Dilepaskan tak mudah, dipertahankan pun apa masih mungkin?......


...________________...


...×××...


Aruna berjalan dengan pelan. Melewati seraya mengamati satu persatu rak yang ada di hadapannya. Mengambil barang-barang yang dibutuhkan. Hingga mata nya tak sengaja menangkap dua siluet tubuh yang membelakanginya. Aruna merasa sangat familiar dengan dua sosok orang tersebut.


Sampai, salah satunya menoleh kebelakang. Membuat Aruna dapat melihat wajah yang telah lama tak dilihatnya itu.


"Alina?", gumam Aruna pelan. Lalu wanita itu mendorong troli belanja nya kearah dua orang tersebut. Ingin memastikan bahwa mereka adalah orang yang sama.


"Alina", Aruna memanggil dengan hati-hati. Takut jika ia salah mengenali orang. Lantas orang yang dipanggilnya refleks menoleh dan membulatkan matanya.


"Aruna!", serunya tak percaya.


Aruna tersenyum lebar, "Kamu beneran Alina?, Ya Tuhan udah berapa lama", ujarnya dan memeluk Alina dengan erat. Menyalurkan rasa rindu mereka yang telah membuncah.


"Delapan tahun, udah delapan tahun", sahut Alina dengan setetes air mata. Tak menyangka jika bisa bertemu kembali dengan sahabat kecilnya itu.


"Udah berapa lama kamu disini?, dan kenapa gak temui aku?", Aruna melepaskan pelukannya dan menatap jengkel Alina yang terkekeh pelan.


"Rumah kamu aja aku gak tau."


Aruna meringis malu. Semenjak Davin meninggal, ia dan Alsya memang memilih untuk pindah rumah. Sebab Aruna tak sanggup apabila hidup dibawah kenangan-kenangan suaminya.


"Hari ini kamu harus ikut dengan aku", Aruna memaksa Alina untuk hadir kerumahnya hari ini.


"Enggak bisa", tolak Alina membuat Aruna mengernyitkan keningnya.


"Kenapa?."


"Sebentar lagi Alaska tunangan, dan banyak yang mau dikerjakan. Next time ya", jawab Alina sambil menyentuh lengan putranya yang berdiri kaku tanpa ekspresi.


Aruna sontak melarikan pandangannya pada sosok cowok yang berdiri di samping Alina. Ia tidak melihatnya karena terlalu fokus dengan sahabatnya itu.


"I-ini Alaska?", tanyanya terbata-bata. Tak percaya jika cowok tampan dan gagah itu adalah bocah gembul yang ingusan dulunya.


"Assalamualaikum, Tan", Alaska mengambil telapak tangan Aruna. Dan mencium sopan punggung tangannya. Sepertinya Aruna tidak mengingatnya pada saat wanita itu mabuk.


"Waallaikumussalam."


"Udah besar aja kamu, pangling Tante", ujarnya membuat Alina tertawa pelan dan Alaska yang tersenyum tipis.


"Kalau gak salah umur kamu cuma beda setahun kan ya sama Alsya, kok cepat banget mau tunangan nya?", Aruna bertanya dengan melihat ibu dan anak itu secara bergantian. Apa menikah muda memang menjadi trend saat ini. Ia yang menikah di umur 24 saja dibilang masih terlalu muda.


Mendengar itu Alaska lantas tersenyum masam. Ya sebentar lagi ia memang akan bertunangan. Bukan dengan gadis pujaannya, melainkan dengan orang yang dipilihkan orang tuanya. Sebab Alina yang kasihan melihat Alaska yang selalu murung seminggu lebih ini.


Alaska memang memilih untuk menjauhi Alsya setelah hari itu. Seminggu ini ia habiskan waktu untuk mencoba melupakan gadis tersebut. Bahkan cowok itu tidak pergi ke sekolah selama seminggu. Seminggu yang penuh luka ini Alaska seperti hidup di gurun yang tandus. Tak tau harus melangkah dan berjalan kemana.


Hingga Mommy nya menawarkan sebuah perjodohan. Awalnya Alaska menolak dengan sangat keras, karena baginya perjodohan bukanlah suatu hal yang tepat untuk melupakan Alsya. Masih banyak hal lain yang bisa dilakukan. Tapi perkataan Alina yang membuatnya goyah.


"Sampai kapan kamu mau meratapi dia. Udah cukup kamu menjaga dia selama delapan tahun ini. Dan apa, enggak ada hasil dari waktu selama itu. Mommy tau, kalau ini terlalu cepat. Tapi kalau kesedihan itu udah masuk ke dalam hati yang terdalam. Mommy gak yakin hati kamu bisa diselamatkan. Kamu bakal jadi orang yang dingin dan tak pandang bulu. Tak lagi percaya dengan cinta dan sebuah hubungan. Dan Mommy gak mau kamu jadi orang yang kayak gitu. Dengerin Mommy Al, kamu coba dulu. Kalau enggak bisa dilanjutkan, maka berhentilah."


Ucapan Alina selalu terngiang di otaknya sampai Alaska memutuskan untuk menyetujui ide Mommy nya. Semoga saja itu berhasil untuk menyingkirkan Alsya yang sudah mendiami hatinya selama delapan tahun lebih ini.


"Baru tunangan, nikahnya masih lama kok", Alina menjawab setelah melihat Alaska yang hanya terdiam tak bergeming.


"Kamu sendirian aja?", tanya Alina kemudian.


"Iya, Alsya lagi sakit, pengen makan sup katanya", jawab Aruna.


Deg


"Alsya sakit Tan?, sakit apa?, parah?, di rumah sakit ma-"


Aruna terkekeh pelan dan menyela ucapan Alaska, "Demam biasa aja kok."


Cowok itu menghela nafas lega.


Alina yang melihat itu hanya bisa tersenyum tipis. Perasaan Alaska terlalu besar untuk Alsya. Dan Alina tak yakin jika perjodohan ini bisa berhasil.


"Kamu gak mau jenguk Alsya, Al?", celetuk Alina membuat Alaska menoleh. Apakah ia harus pergi melihat gadis itu.


"Nah, iya. Alsya pasti kaget lihat kamu", tambah Aruna.


"Tapi, Mommy-"


"Mommy nyetir sendiri aja", ujar Alina merasa paham dengan ke khawatiran putranya.


"Tapi Mom."


"Udah-udah, emangnya kamu gak rindu sama Alsya?", Alina tersenyum jahil membuat Alaska mendengus pelan. Semoga saja mereka bisa berdamai sebelum perjodohan itu benar-benar terjadi. Alina hanya lah seorang ibu, dan ibu mana yang ingin melihat anaknya menderita.


"Iya, udah delapan tahun kalian gak ketemu. Alsya pasti rindu kamu", sahut Aruna sambil tersenyum, "Ayo, Tante juga udah siap belanja", lanjutnya seraya mengajak Alaska untuk pulang bersamanya.


Alaska menatap Alina sejenak dan mencium punggung tangan Mommy nya sambil berpamitan singkat.


"Kamu juga harus datang kerumah aku pokoknya", ujar Aruna.


Alina tersenyum dan mengangguk, "Pasti."


"Ya udah kami pergi dulu", setelah mengatakan itu Aruna dan Alaska segera berlenggang pergi menuju meja kasir. Meninggalkan Alina yang melanjutkan belanjaannya.


"Berkahi mereka ya Allah", gumam Alina pelan.


...×××...


Alaska berjalan menaiki anak tangga satu persatu setelah Aruna menyuruhnya untuk menemui Alsya terlebih dahulu. Sementara wanita itu membuatkan sup untuk putrinya.


Senyum kecil terbit di bibir merah alami itu saat membaca tulisan yang terdapat didepan pintu kamar Alsya. Gadis itu benar-benar tak tersentuh.


Lalu dengan gerakan pelan, Alaska memutar kenop pintu dan membukanya secara perlahan. Takut mengganggu bidadari yang tengah tidur diatas ranjang sana.


Setelah itu Alaska berjalan mengendap-endap menghampiri Alsya. Mendudukkan tubuhnya di samping gadis tersebut.


Mengambil pelan tangan Alsya yang berada diatas perut. Menggenggamnya dengan pelan namun pasti. Menciumi punggung tangan gadisnya itu dengan mata yang terpejam. Menghayati kerinduan yang akhirnya tersampaikan.


Hanya Tuhan lah yang tau seberapa lama Alaska menunggu momen ini.


Lalu Alaska menoleh kearah Alsya yang masih setia terpejam. Menundukkan sedikit badannya untuk mencium kening Alsya, "Cepat sembuh, my sweet heart", bisiknya di telinga cewek itu.


"Sya, aku bingung, perasaan ini benar-benar membunuh dan gila. Dilepaskan tak mudah, dipertahankan pun apa masih mungkin?."


...~Rilansun🖤....