
...__________________...
...Jika dengan sendiri kau bisa bahagia, lalu kenapa harus membutuhkan orang lain hanya untuk membantu tersenyum. Percayalah dirimu sebelum kau mempercayai orang lain......
...__________________...
...×××...
Alsya berjalan menghampiri Mama nya dan mengambil alih tangan Aruna dari seorang pria yang berdiri disamping wanita tersebut. Tetapi apa yang Alsya dapat. Justru Aruna menghempaskan tangan Alsya dengan kasar. Hampir saja membuat Alsya terjatuh jika ia tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.
Alsya tersentak akan tindakan yang didapatnya. Tetapi detik berikutnya Alsya memahami kondisi sang Mama yang sedang dalam pengaruh minuman haram.
"Maa...", lirihnya dan mencoba kembali meraih lengan Aruna. Akan tetapi lagi-lagi ditepis oleh wanita tersebut dengan kasar.
"Sudahlah. Ibumu ingin bersenang-senang dengan saya malam ini. Sebaiknya kamu tidur dan jangan mengganggu kami", celetuk pria yang berada disamping ibunya yang mengenakan tuxedo hitam. Alsya mengetahui pria tersebut adalah salah satu CEO terkenal di Indonesia. Pria yang sangat terkenal dengan ambisinya terhadap wanita-wanita. Dan salah satu relasi bisnis Papa nya dulu.
Lalu Alsya melirik kearah pria tersebut dengan tatapan tajam, "Apa hak anda melarang saya?. Seharusnya anda yang keluar dari rumah saya, ORANG ASING", ucapnya dengan penuh penekanan diakhir kalimat.
"JAGA BICARA KAMU ALSYA!. DIA LEBIH TUA DARI KAMU", bentak Aruna dengan nada yang tinggi.
Alsya yang mendapat bentakan tersebut lantas terkejut, karena baru kali ini ia mendapat amukan Mama nya hanya untuk membela pria asing yang menatap sinis dan tersenyum remeh kepadanya. Ingin sekali rasanya Alsya menendang pria tersebut ke perbatasan Israel dan Palestina. Biar dimusnahkan dengan bom israel sekalian. Sungguh populasi pria seperti beliau harus segera dimusnahkan agar wanita dapat hidup damai dan tentram.
Kenapa pria seperti dia dibiarkan hidup. Sementara Papa nya yang merupakan pria baik diambil oleh Tuhan dengan sangat cepat.
"Mama ngebentak Alsya cuma karena orang asing ini", ucap Alsya tak percaya sambil menunjuk pria hidung belang tersebut.
"Kamu memang salah. Kamu pantas mendapatkan nya. Bukan ini yang Mama ajarkan kepada kamu ketika berbicara kepada yang lebih tua", balas Aruna dengan suara yang lantang.
"Ya Mama mengajarkan Alsya adab berbicara kepada yang lebih tua. Tapi Mama tidak mengajarkan Alsya bagaimana harus bersikap kepada PRIA HIDUNG BELANG ini. Katakan Ma, Alsya harus bagaimana?. Apa Alsya harus mengusirnya?, atau membiarkan dia menghabiskan malam dengan Mama dirumah Papa. KATAKAN MA!" bentak Alsya. Ia sungguh meminta maaf kepada Tuhan karena telah membentak wanita yang telah melahirkannya itu. Sungguh ini diluar kendali.
Maaf Ma..., lirihnya dalam hati.
Plak
"JAGA NADA BICARA KAMU ALSYA. AKU INI IBU KAMU. LAGI PULA APA TAU KAMU, LEBIH BAIK KAMU BELAJAR DAN JANGAN MENCAMPURI URUSAN MAMA", bentak Aruna dengan suara yang meninggi dan menampar pipi putrinya dengan keras.
Alsya mematung sambil memegang pipinya yang terasa panas karena tamparan Mama nya. Bahkan kini bukan hanya pipinya yang sakit, tapi hatinya juga ikut sakit. Alsya sama sekali tidak menyangka jika wanita yang selalu disayanginya dan dibangga-banggakan nya. Sekarang telah menamparnya dan menghancurkan hatinya, sehancur-hancurnya.
"Udahlah Alsya. Sekarang pergi kekamar kamu dan jangan mencampuri urusan Mama!."
"Tapi Ma-"
"PERGI SEKARANG ALSYA!", tegas Mama Alsya tidak ingin dibantah.
Dengan air mata yang berlinang dan pipi yang masih terasa panas. Alsya berlalu meninggalkan Mama nya dengan pria hidung belang tersebut. Alsya membuka pintu kamarnya dan bergegas berjalan masuk kedalam. Gadis bermata hitam gelap tersebut menghempaskan tubuhnya keranjang dengan posisi tengkurap. Lalu Ia membenamkan wajahnya ke bantal untuk meredam suara tangisannya. Biarlah dirinya, Tuhan, dan kesepian yang mendengar tangisan pilu tersebut.
Kemudian Alsya beranjak dari posisi sebelumnya dan duduk ditepi kasur disamping nakas tempat tidur. Alsya mengambil sebuah pigura yang terdapat diatas nakas tersebut. Ia mengusap foto pria yang terdapat di dalamnya.
Alsya merindukan sosok Papa nya yang selalu memanjakan nya dan selalu ada dikala ia sedih dan disaat dirinya membutuhkan sandaran yang kokoh.
"Pa, Alsya rindu Papa. Alsya mau nyusul Papa aja. Alsya udah enggak kuat, Pa. Hidup terlalu kejam, Pa. Alsya nyerah", sungguh Alsya tidak lagi sanggup menahan semua beban yang ia rasakan. Jika saja bunuh diri itu tidak berdosa mungkin sudah lama Alsya menyusul Papa nya.
"Enggak ada yang sayang sama Alsya. Mama pun udah enggak sayang Alsya. Sekarang Alsya benar-benar sendiri Pa. Percuma Alsya hidup kalau enggak ada orang yang sayang sama Alsya. Alsya sendiri dalam gelap Pa, menangis dalam kesunyian. Alsya sebatang kara Pa, apakah bisa Alsya hidup sendiri tanpa ada pundak untuk berasandar, tanpa ada tangan untuk berpegang dan tanpa ada seseorang untuk berkeluh kesah. Alsya gak yakin, Pa. Oh god, when i can happy?, really, i'm very tired for all", dengan air mata yang terus berlinang Alsya berbicara kepada Papa nya walau harus melewati sebuah pigura.
Tetapi setidaknya itu dapat mengurangi beban dan rasa rindu yang dialaminya. Biarlah malam ini Alsya menghabiskan malamnya dengan pigura pria nya tersebut. Jika itu dapat meredamkan amarahnya, maka akan Alsya lakukan jika harus sampai pagi sekalipun.
"Semesta begitu kejam ya Pa, membiarkan Alsya menanggung semuanya. Mungkin kalau Papa ada disini Papa akan bilang kalau Alsya gadis yang lemah. Tapi itu benar pa, Alsya cuma seorang gadis lemah. Sangat-sangat lemah. Maka nya Alsya butuh Papa sebagai sandaran dan pegangan Alsya. Pa, Alsya sungguh-sungguh merindukan Papa. Papa rindu Alsya?", Ia menghapus air mata yang masih beranak sungai mengalir cantik diwajahnya tersebut.
"Papa doain Alsya ya. Semoga Alsya bisa hidup bahagia. Posisi Papa takkan tergantikan di dalam hidup dan hati kami. We always love you Dad. You are the best. Tunggu Alsya dan Mama di pintu surga. Alsya selalu sayang Papa."
Itulah Alsya. Semakin keras keinginannya untuk mengakhiri hidupnya, maka semakin tinggi pula kadar rasa sayangnya terhadap sang Ayah. Maka dari itu jika Alsya selalu merasa sedih dan sedang kalut, ia selalu berbicara dengan Papa nya walau pun melalui perantara sebuah pigura, seolah pria nya itu selalu ada disaat ia sedih dan selalu bisa menenangkan hatinya.
Setelah berkeluh kesah. Alsya lantas membaringkan tubuhnya yang sudah letih ke atas ranjang tidur. Alsya mulai memejamkan matanya yang sudah bengkak dan merah. Karena sudah terlalu banyak mengeluarkan berlian nya.
Alsya tertidur dengan posisi yang sedang memeluk pigura Davi. Alsya ingin tidur bersama Papa nya malam ini. Sungguh Ia sangat-sangat lelah dengan kehidupan yang tidak pernah berpihak kepadanya.
...×××...
..."Semesta tolong sampaikan pada pria ku yang ada di sisimu bahwa ada gadis kecil disini yang sangat merindukan dirinya, yang sangat membutuhkan sandaran kokohnya dan yang sangat memerlukan uluran tangannya. Pa... Alsya rindu Papa. Never forget me my Dad. Wait me at the door of heaven. I really love you"...
... ~Rilansun🖤....