
..._________________...
...Mengikuti alunan takdir, membiarkan diri terbawa melodi luka....
...Terjebak di dalam arus kegelapan, dan merelakan Tuhan berkata......
..._________________...
...×××...
Disaat lima huruf, dua kosa kata dan satu kalimat tersebut telah merasuki diri maka sungguh tidak akan ada yang bisa melakukan apapun jika dia telah berkuasa. CINTA. Melakukan apa pun yang menurut hati benar. Tidak lagi mempedulikan segala hal mengenai dirinya. Mencintai tanpa pernah memberitahu, tanpah pernah mengungkapkan. Klise memang, tapi sungguh itu yang sedang dialami oleh laki-laki tersebut.
Seorang laki-laki yang berprawakan tinggi, memiliki bola mata abu-abu terang yang indah, alis tebal seperti semut yang berbaris rapi. Dan bibirnya yang merah mengalahkan delima.
Kini laki-laki yang memiliki hidung bangir tersebut sedang menghadapakan tubuh besarnya di depan jendela kaca besar. Menatap sang hujan yang semakin deras membasahi bumi. Menikmati suasana malam yang telah disediakan oleh hujan.
Hujan. Ah, berbicara mengenai hujan dirinya jadi teringat seseorang.
Seseorang yang sangat menyukai setiap tetesan air yang jatuh dari langit tersebut. Menari dibawah rintik-rintik hujan tanpa peduli setelah itu dia kesakitan. Dia jadi mengingat setiap perkataan seseorang tersebut ketika disuruh menghindar dari hujan.
..."Heii... cepet masuk nanti kamu sakit", teriak seorang laki-laki kecil diambang pintu belakang rumah....
..."Enggak mau. Aku mau menemani hujan", jawab seorang gadis kecil yang tengah berputar-putar dengan kepala yang menengadah keatas dan tangan yang direntangkan selebar-lebarnya....
..."Hujan enggak perlu ditemani."...
..."Enggak, hujan juga butuh teman, apa kau tau mengapa hujan turun?."...
..."Hujan turun karena ya sudah waktunya turun", jawab anak laki-laki itu dengan santai....
..."Enggak. Hujan turun karena dia sedang sakit, maka dari itu dia turun membasahi bumi demi mengisyaratkan bahwa dia sedang sakit. Aku mau menemani hujan dan aku mau merasakan sakit yang hujan rasakan", ujar gadis polos tersebut. Tanpa berhenti melakukan aksinya yang menemani sang hujan....
Laki-laki tersebut terkekeh ketika mengingat kembali setiap alasan yang diberikan oleh seorang gadis mungil yang sangat dirindukannya kini. Sungguh ia sangat merindukan gadis yang sekarang berada beribu-ribu kilometer darinya.
Lalu ia menuliskan nama seseorang dijendela kaca yang telah dipenuhi embun.
"Aku rindu kamu", ujarnya. Namun lamunan nya tentang gadis tersebut langsung buyar ketika ponsel yang ada disaku celana nya berbunyi. Ia merogoh ponselnya dan melihat panggilan yang masuk. Lalu segera mendekatkan ponsel itu ketelinga sambil memandang jalanan kota.
"Iya. Info?."
"........ "
" Hmm"
"........"
"Hmm"
"........."
"Ck, to the point."
".........."
Laki-laki tersebut sempat terkejut dengan apa yang baru diberitahu oleh orang yang ada diseberang telepon. Namun, detik berikutnya air muka nya kembali datar seperti biasanya.
"Pantau dia terus", ujarnya datar dan mematikan sepihak panggilan tersebut.
Lalu orang itu menghela napas panjang. Ia kembali memasukkan ponselnya ke kantong celananya dan menyusupkan kedua tangannya kedalam saku celana.
"Tunggu aku beberapa hari lagi my sweet girl", monolognya. Lalu ia kembali melihat kearah langit malam yang masih setia ditemani oleh hujan. Andaikan saja dirinya bisa menembus langit malam dan menjatuhkan hujan nya untuk mengisyaratkan bahwa ia sedang sakit hati. Hatinya tengah sangat merindukan seseorang. Apakah orang yang sedang berada dibelahan bumi lain tersebut mengetahuinya?. Imposibble.
Lagi-lagi lamunannya terbuyar ketika mendengar suara ketukan di pintu kamarnya.
Tok tok tok
"Masuk", perintahnya dengan nada datar andalannya.
"Tuan, Nyonya menyuruh saya memanggil tuan untuk makan malam", ucap seorang pelayan yang berdiri menunduk diambang pintu kamar laki-laki tersebut dengan menggunakan bahasa Inggris.
"Sebentar lagi saya turun", jawabnya.
"Baik Tuan. Kalau begitu saya permisi."
"Hmm."
Pintu cokelat itu kembali tertutup setelah pelayan tersebut meninggalkan kamarnya. Ia masih setia pada posisisnya yang sedang memandangi langit malam.
Memejamkan matanya dengan kepala yang mendongak keatas sambil berucap lirih, "Aku rindu dirinya Tuhan."
Ia membuka matanya dan melirik kearah jam yang melekat di dinding kamarnya. Jam delapan malam. Sudah saatnya untuk makan malam bersama dua malaikat nya.
Kemudian ia segera turun kelantai bawah rumahnya. Rumah yang akan ia tinggalkan dalam beberapa hari lagi. Sungguh ia pasti akan sangat merindukan rumah yang telah ia tempati selama beberapa tahun belakangan ini.
...×××...
"Sya, lo pulang naik apa?", tanya Diva. Mereka berdua kini berjalan kearah parkiran sekolah. Setelah bel pulang berbunyi kepenjuru sekolah sekitar sepuluh menit yang lalu.
"Gue bawa mobil", jawab Alsya.
"Toko buku", jawab Alsya dengan singkat.
Nah kan benar gue, batin Diva.
"Mau ikut?", tawar Alsya.
"Hah? eh, enggak. Gue dijemput, next time deh ya", tolak Diva. Ia terkejut Alsya menawarinya? tumben. Jin mana yang merasuki tubuh Alsya?.
Aslya hanya bergumam sebagai jawaban.
"Gue duluan", pamit Alsya dan segera memasuki mobilnya setelah Diva menyahuti ucapan nya.
Alsya menghidupkan klakson ketika mobilnya melewati Diva dan langsung dibalas lambaian tangan oleh cewek itu.
Diva masih setia memandangi mobil berwarna abu-abu tua tersebut yang sudah melaju meninggalkan pekarangan SMA GALAKSI. Sampai sebuah hembusan nafas dikedua kelopak matanya membuatnya langsung tersadar dari lamunan nya.
"Mikirin apa sih?, aku ya?", tanya seorang cowok yang telah berdiri tegap dihadapan Diva.
"Ishhh, pede sekali masnya", ucap Diva menyahuti membuat cowok tersebut terkekeh pelan.
"Ya udah kalau enggak mau ngaku. Nanti hidungnya tambah kedalam lho", ujar cowok tersebut dengan tangan yang bersedekap di dada.
Diva refleks menyentuh hidungnya dan memandang tajam ke arah cowok yang sudah tertawa ngakak.
"RAFAEL...", teriak Diva sambil mengejar cowok yang dipanggil Rafael itu yang kini telah berlari kearah mobilnya.
"Iya sayangkuuu", balas Rafael dengan berteriak tanpa memperdulikan orang-orang yang kini sedang menatap mereka.
"Ck, Rafael setan. Ya allah mengapa engaku turunkan laki-laki yang astagfirullah tersebut untuk hamba mu yang terlalu subhannallah ini. Tunggu lo Rafael, gue cincang-cincang lo, lihat aja lo dasar pacarnya Lucinta luna", gerutu Diva dengan terus melangkahkan kakinya kearah mobil Rafael.
...×××...
Alsya mengendarai mobilnya dengan pelan. Ia tidak ingin sampai dirumah dengan cepat. Alsya selalu berfikir untuk apa dirinya pulang jika rumah untuknya berkeluh kesah saja telah pergi. Tetapi Alsya selalu menepis itu, bagaimana pun masih ada rumah yang mungkin membutuhkan nya, mamanya. Maybe.
Alsya segera memasukkan mobilnya keparkiran toko buku. Ia ingin membeli beberapa novel yang akan membuat hatinya sedikit tenang. Dengan begitu ia tidak akan memikirkan terus menerus perihal Aruna yang kini berada dilain kota.
Alsya memasuki toko buku Harmoni dengan seragam sekolah yang terbalut hoodie abu-abu yang ia kenakan sebelum keluar dari mobil.
Tanpa Alsya sadari diseberang toko buku tersebut terdapat dua pasang mata yang mengamati setiap gerak gerik Alsya dari keluar mobil sampai memasuki toko buku itu.
"Aku kasihan sama dia. Nasibnya enggak secantik wajahnya", ucap seorang gadis yang berada disamping seorang laki-laki yang tengah duduk dibalik kemudi mobil.
"Iya. Tapi aku salut sama dia, walaupun dia tau, beban yang dia hadapi sekarang bukanlah ringan, tapi dia enggak pernah sekali pun pergi meninggalakan dunia ini. Dia tetap berdiri tegak diatas lukanya. Benar-benar wanita yang hebat", tambah cowok tersebut.
"She is my inspiration. Aku mau bantuin dia untuk bahagia, meskipun aku enggak pernah bisa untuk merasakan apa yang dia rasakan. Tapi setidaknya aku bisa mengurangi apa yang dia rasakan", gadis tersebut merasa sangat kagum dengan sosok Alsya. Baginya, Alsya memang gadis yang sangat hebat.
"Iya, kita bantuin dia sama-sama ya", ucap cowok tersebut mengakhiri percakapan mereka tentang sosok Alsya dan menghidupkan mobilnya lalu segera pergi meninggalkan tempat itu.
"Mau bahagiakan dia?, gue duluan yang bakal ngancurin dia kalau gitu. Sehancur-hancurnya Alsya Davinka Pranata", ucap seseorang dengan seringaian diwajahnya. Orang itu tidak sengaja mendengarkan ucapan yang ia rasa adalah sepasang kekasih. Salah sendiri mengapa tidak menutup kaca jendela mobil. Zaman sekarang jangan kan manusia, bahkan udara pun bisa mengkhianati.
...×××...
Kini Alsya sedang berada dirumah. Bukan rumah megah miliknya tetapi rumah kopi yang ingin dikunjunginya. Setelah mendapatkan beberapa novel yang menurutnya cocok untuk menemani hari-harinya. Cewek itu langsung mengunjungi kafe yang berada diseberang toko buku.
Sudah sekitar dua puluh lima menit ia duduk diam dengan memandangi orang-orang dan kendaraan yang berlalu lalang untuk pulang kerumahnya.
"Rumah?, apa gue masih punya rumah? gue rasa enggak", gumamnya seraya tersenyum miris.
Larut nya Alsya dalam suasana senja yang dihidangkan semesta sampai dia lupa bahwa hujan telah turun menemani langit senja. Hujan. Alsya menyukai hujan tapi dia juga membencinya. Entah apa alasannya. Hanya Alsya dan Tuhan lah yang mengetahuinya.
Lalu Alsya melirik jam abu-abu bergradasi hitam yang ada dipergelangan tangannya, "Udah mau malam. Bik Imah pasti khawatir, tapi gimana hujannya belum reda", Alsya menggigit bibir bawahnya, ia tidak sanggup membayangkan betapa cemasnya wanita paruh baya itu sekarang.
Alsya mengedarkan pandangannya kepenjuru kafe. Hanya tersisa dirinya dan beberapa pengunjung lainnya. Sebelum hujan tadi memang banyak pengunjung yang lebih memilih untuk pulang terlebih dahulu sebelum hujan yang mendahului.
Alsya menggerutui dirinya sendiri yang terlalu fokus kepada langit senja yang dihiasi kicauan burung tersebut. Sampai-sampai membuatnya lupa bahwa sang hujan ingin turun ke bumi. Lalu jika sudah begini bagaimana dia pulang.
"Duh mana gue enggak bawa payung lagi. gimana ni pulangnya?. Dasar Alsya bego, kenapa lo harus ngelamun sih tadi", gerutunya dengan mengigit ujung jari telunjuknya.
Kegiatannya tersebut tidak luput dari pandangan seseorang yang sedang duduk dipojok kafe dengan menggunakan pakaian serba hitam. Seseorang tersebut memanggil pelayan kafe yang sedang melintasi mejanya. Membisikkan sesuatu kepada pelayan kafe yang bergender laki-laki tersebut. Setelah merasa puas, ia segera menyuruh pelayan tersebut pergi. Beberapa detik setelah pelayan tersebut hilang dari jangkauan nya. Ia pun segera hengkang dari kafe tersebut.
Sementara Alsya masih menunggu hujan yang semakin deras membasahi bumi. Seolah semakin gencar membuat Alsya gelisah.
"Duh hujan gue mohon pending dulu bentar, gue mau pu-", ucapan Alsya terpotong dengan sebuah tepukan dipundaknya. Alsya segera menolehkan kepalanya kebelakang.
"Alsya?", tanya seseorang tersebut.
Alsya lagi-lagi merutuki dirinya. Mengapa sore ini ia sangat tidak beruntung. Sudah terkurung dengan hujan dan ditambah dengan seseorang yang tidak pernah sekalipun Alsya ingin temui.
Duh apes banget hari gue. Mana hujannya nggak berhenti-henti ditambah tuhan mengirimi gue makhluk astral macam dia lagi. Ya allah suruhlah malaikat izrail untuk menjemputnya sekarang juga, batin Alsya berbicara.
...×××...
...“Hujan. Takdir mana yang telah kau turunkan untukku?. Menyedihkan kah atau menyenangkan?. Hujan bolehkah aku meminta sesuatu?, bolehkah aku meminta agar kau menurunkan dirinya untukku?, dia yang telah merubah cara pandangku terhadap dirimu hujan. Dia yang telah pergi meninggalkanku. TAKDIR. Ya hanya takdir yang bisa berbicara bukan. Jika begitu, aku akan menunggu takdir ku berbicara. Dan menunggu kau mengabulkan permintaanku hujan. Yes, i'll always wait for it. Dimana aku bisa tersenyum kembali karena hujan.”...
...~Rilansun🖤....