
...________________...
...Jika air mata ku bisa menjadi tawa untukmu, maka aku rela untuk mengeluarkannya. Ketahuilah, disaat aku mencintaimu tanpa satu pun alasan, maka tidak akan ada alasan ku untuk melukaimu......
...________________...
...×××...
Laki-laki yang sedang duduk di balkon kamarnya yang langsung berhadapan dengan pemandangan ibu kota yang begitu sibuk.
Padahal langit sudah mengeluarkan bulannya. Tetapi tetap saja mereka bekerja tanpa mengenal lelah. Persaingan kerja sangat sengit di negara yang maju.
Laki-laki tersebut memandang langit malam kota yang sangat indah. Perpaduan antara kerlap kerlip lampu kota dengan bintang, sangat lah kontras. Ia mengembangkan senyum lebar ketika dirinya mengingat betapa senangnya seseorang terhadap bulan purnama. Namun detik berikut nya senyum yang lebar itu surut perlahan-lahan.
Ia mengingat. Sangat mengingat. Betapa orang yang ia rindukan saat ini tengah menjadi bahan rebutan kaum laki-laki. Ia tidak suka melihat gadisnya dimiliki orang lain. Tidak suka ketika alasan dibalik tersenyum gadisnya adalah karena orang lain. Ia sangat tidak suka.
Andaikan dirinya sekarang berada disisi gadis tersebut. Sudah dipastikan ia akan mengunci gadis tersebut di dalam rumah tanpa boleh keluar. Mengikatnya disampingnya. Tidak ada yang boleh menyukai gadisnya. Tidak seorang pun kecuali dirinya.
Lamunan nya tentang gadis tersebut langsung buyar ketika ia merasakan sebuah elusan lembut dikepala nya. Laki-laki tersebut mendongakkan kepalanya dan melihat bidadari cantik yang sudah duduk disampingnya saat ini.
"Mikirin apa hm?, tan putri kamu itu?",tanya Alina, Ibu dari laki-laki tersebut.
"Hm", gumamnya malas.
"Kamu jadi go back to Indonesian?."
Laki-laki tersebut mengusap wajahnya dengan kasar, " I still doubt mom."
"Why?, bukan nya kamu udah yakin. Bahkan kamu udah nunggu waktu ini loh", Alina mengernyitkan dahinya heran.
"I don't know. Aku rasa 'dia' udah bahagia", cowok itu memandang Ibu nya sejenak , "Tanpa aku", lanjutnya dengan nada yang lirih.
"Strong boy, apa pun keputusan kamu, i will always support for you", Alina menepuk pundak anak nya mencoba untuk memberikan kekuatan yang dimilki oleh seorang Ibu.
Laki-laki tersebut langsung memeluk wanita yang telah melahirkannya itu, "Thanks mom. I love you", gumamnya dalam dekapan sang ibu.
"Love you too my boy", Alina melepaskan pelukan tersebut dan mengusap kepala anak laki-lakinya.
"Lakukan apa yang hatimu katakan", Alina menunjuk dada kanan sang anak dengan jari telunjuknya, "Tanpa mendengar apa yang ego kamu ucapkan", lanjutnya dengan menunjuk dada kiri putranya secara bergantian.
"Mommy masuk dulu ya. Kalau tidur jendelanya ditutup. Angin malam enggak baik buat kamu", Alina memperingati putranya, yang dibalas dengan sebuah anggukan. Lalu wanita itu segera berjalan keluar dari kamar yang dominan berwarna hitam tersebut.
Cowok itu merenungkan apa yang Ibu nya bilang barusan. Mengikuti apa yang hatinya ucapkan tanpa mendengar suara egonya. Itu tidak lah mudah untuk seorang pria. Pria dan ego nya tidak akan pernah terpisahkan.
Mengusap wajahnya dengan frustasi sambil mendongakkan kepalanya. "Im happy for you my girl", lirihnya dengan mata yang memandang langit malam.
Drrt drrt
Ia mengerjapkan matanya ketika mendengar suara deringan ponsel. Menoleh kesamping tepat diatas meja. Mengambil ponselnya dan menghela nafas ketika mengetahui siapa yang menghubunginya.'Sepupu laknat'. Lalu ia mengangkat nya dengan malas.
"Halooo..., mas bro!", terdengar suara nyaring diseberang telepon.
"Hm."
"Cielah. Emang enggak pernah berubah lo ya. Always dingin. Si Aunty pasti sering ngidam es batu pas bunting lo", cerocos sepupunya.
Laki-laki itu dengan malas memutar bola matanya.
"Ck, lagi PMS masnya?."
"Enggak", jawabnya datar. Kemudian ia tersenyum tipis ketika mendengar helaan nafas dari seberang telepon.
"Nyesel gue nelepon lo, mana mahal lagi tarif pulsanya. Gue cuma mau nanya, lo jadi pulang enggak?, bunda disini nanya-in lo mulu. Heran gue, sebenarnya yang anak bunda tu siapa sih?."
"Gue ragu mau pulang."
"Ragu?, gila lo ya. Udah hampir empat tahun gue kayak detektif dan lo bilang ragu?, enggak ada otak lo", ia menghela nafasnya ketika mendengar gerutuan sepupunya tersebut. Tapi bagaimana lagi. Jika gadisnya saja sudah memiliki sebuah dermaga baru. Lalu untuk apa lagi dirinya pulang.
"Untuk apa gue pulang. Sementara alasan gue untuk pulang udah diambil orang."
Orang diseberang telepon itu menghela nafas lelah, "Udah berapa kali gue bilang. Dia masih sendiri. Belum punya cowok."
"Mungkin dia terlibat love in silent?."
"Lo laki bukan sih?, gampang banget nyerahnya. Au ah, bosen gue ngomong sama lo."
Laki-laki tersebut menghela nafas ketika panggilan diputus sepihak oleh sepupunya.
Bimbang. Ia takut kehadirannya hanya menambah beban untuk gadisnya. Sudah cukup gadisnya itu menangis karena dunia yang begitu kejam padanya. Jika bisa ia meminta kepada Tuhan, maka ia akan meminta kebahagiaan yang penuh untuk gadisnya.
"Jika dengan aku terluka bisa membuat mu tertawa. Aku ikhlas my girl. My happiness is simple. You smile i want smile", gumamnya seraya memejamkan mata. Menikmati angin malam yang seolah-olah membelai wajah tampan nya dengan lembut.
...×××...
"Sya lo pulang sama gue ya!"
Alsya tidak menjawab ucapan orang tersebut. Ia mempercepat jalannya menuju parkiran sekolah.
Bel pulang sudah berbunyi sepuluh menit yang lalu, dan selama itu pula Alsya dihantui dengan perintah makhluk astral yang menyuruh Alsya untuk pulang bersamanya.
"Syaaa..., tungguin gue", orang tersebut mencekal tangan Alsya, "Lo pulang sama gue ya?", mohonnya dengan muka memelas yang terlihat menjijikan dimata Alsya.
Alsya melepas cekalan tersebut, "Arkan lo punya cewek. Gue nggak mau ya dibilang pelakor."
"Okey, kalau lo enggak mau dibilang pelakor. Gue akan putusin Astrid sekarang juga demi lo", Alsya menggelengkan kepalanya mendengar apa yang Arkan ucapkan. Mudah sekali mulutnya mengeluarkan kata putus. Kalau Alsya tidak salah, usia hubungan mereka baru dua hari dan dia sudah mau memutuskan Astrid?. Sungguh bajing*n yang sangat nyata.
"Arkan, mending sekarang lo antar pacar lo pulang. Gue bisa pulang sendiri, oke", Alsya mencoba memberi pengertian kepada makhluk astral yang otaknya sangat dangkal itu.
"Tapi Sya gu-"
"Alsya pulang sama gue", suara bariton seseorang mengalihkan perhatian mereka.
"Lo siapa nya Alsya?", tanya Arkan menyelidik.
"Gue?, perkenalkan gue Bintang, calon nya Alsya", Bintang mengulurkan tangan nya.
Arkan menjabat tangan Bintang dengan kernyitan didahinya, "Calon?, maksudnya?."
"She is my future wife", jawab Bintang seraya tersenyum manis.
Arkan membelalakkan matanya, "Apa?!" kagetnya, "Wah gila lo ya. Alsya itu masih sekolah Om. Mending Om cari yang seumuran deh. Jaman sekarang yang tua sukanya yang mudaan. Kalau gitu kasihan kami yang pemuda-pemuda yang seger ini om, jatahnya udah diambil aki-aki", cerocos Arkan panjang lebar.
"Hello. Enak aja, gue lah yang paling ganteng. Kalau enggak percaya tanya nih sama Alsya. Ya kan Sy-, eh Alsya mana?", Arkan celingak-celinguk mencari keberadaan Alsya yang tadi ada disampingnya.
Bintang menolehkan kepalanya kearah mobilnya yang sudah terparkir di depan gerbang. Ia melihat Alsya yang sudah ada didalam mobilnya, entah kapan gadis itu masuk.
Lalu Bintang melangkah kearah audi hitam miliknya. Meninggalkan Arkan yang masih bingung mencari keberadaan Alsya. Cowok kok banyak ngomong, pikir Bintang. Menurutnya Arkan terlalu banyak berbual.
Bintang masuk dan duduk di depan kemudi,
"Kapan masuk?", tanya Bintang sambil melirik Alsya yang tampak memejamkan matanya.
"Tadi", sahut Alsya tanpa membuka mata.
Alsya memutuskan masuk kedalam mobil Bintang disaat dua pria yang berbeda usia tersebut terlibat perdebatan. Ia malas mendengar perdebatan yang diselenggarakan oleh dua makhluk astral rempong tersebut. Terlalu membuang waktu, menurut Alsya.
"Kenapa jemput?", tanya Alsya setelah membuka mata.
Bintang menoleh kearah Alsya, "Tadi pagi kan udah gue bilang kalau gue yang akan antar jemput lo mulai sekarang", ucap Bintang sambil menjalankan mobilnya meninggalkan pekarangan sekolah.
Alsya terkejut, namun detik berikutnya air muka nya kembali seperti semula. Datar. "Enggak usah. Gue bisa naik mobil sendiri", tolak Alsya seraya memainkan ponselnya.
"Enggak, pokoknya gue enggak terima penolakan. Titik!", Alsya menghela nafas lelah. Ia letih jika harus berdebat dengan Bintang saat ini.
Lalu Alsya membuka galeri ponselnya. Cewek itu menghela nafas panjang setelah melihat foto yang sangat membuat dirinya lemah. Seseorang difoto itu berhasil membuat hatinya merasakan rindu sekaligus benci. Alsya rindu dengan orang itu, tapi dia juga benci dengan orang itu.
Kemudian Alsya mengusap wajah orang yang ada difoto tersebut. Ia rindu segalanya dari orang tersebut. Tawanya, senyumnya, suaranya dan pelukan nya yang hangat. Sungguh, Alsya sangat merindukan sosok tersebut.
Alsya mematikan ponselnya. Lalu memalingkan wajahnya kearah jendela mobil. Alsya lagi-lagi menghela nafas panjang,"I miss you my boy", dengan satu tarikan nafas Alsya mengucapkannya dengan pelan sangat pelan. Mengingat masih ada Bintang disisinya. Alsya tak ingin Bintang menanyakan banyak hal kepadanya. Hari ini Alsya sangat lelah. Ia hanya ingin pulang dan segera menghempaskan tubuh lemahnya diatas kasur kesayangan nya.
"Kita langsung pulang atau mau kemana dulu nih?", tanya Bintang tanpa menoleh kearah Alsya.
Alsya membuka matanya dan melirik Bintang yang sedang fokus menyetir, "Pulang. Gue capek", balas Alsya cuek.
Bintang menoleh, "Capek?, kambuh?", tanyanya dengan khawatir.
"Enggak."
"Terus?."
"Kata lo sekolah itu enggak capek apa?", sahut Alsya ketus.
"Enggak usah sekolah kalau gitu", ujar Bintang santai.
"Terus gue mau jadi apa?, gelandangan?."
"Ya enggak lah. Lo jadi istri gue lah", kata Bintang terlewat santai.
"Ya Allah kembalikan lah makhluk astral yang ada disamping hamba mu ini ke alamnya, Aamiin" Alsya mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
Bintang terkekeh melihat Alsya yang berdoa, sangat menggemaskan menurutnya, "Enggak akan dikabulkan kalau doa nya yang enggak bener gitu", ujar Bintang.
"Dikabulkan kok."
"Sok tau", cibir Bintang.
"Ye lo yang sok tau. Orang tadi malaikat Jibril yang langsung ngomong sama gue kok."
Bintang melirik Alsya dengan terkekeh geli,
"Oh ya?"
"Iya"
"Emang apa yang dibilang malaikat Jibril sama lo?",.tanya Bintang pura-pura penasaran.
"Lo mau tau?" tanya Alsya yang dibalas anggukan oleh Bintang.
"Lo pergi pulang terus ambil tali gantungin diplafon rumah lo. Habis itu masukin kepala lo kesitu. Terus kalau mata lo udah terpejam erat. Pergi cari malaikat Malik dan tanyain sama dia dimana malaikat Jibril. Habis itu lo bisa nanyain ke malaikat Jibril, apa yang dia bilang ke gue. Bereskan", jelas Alsya panjang lebar sambil menaikkan sudut bibir nya sebelah.
Bintang mencerna ucapan Alsya sambil menghentikan mobilnya tepat didepan rumah bergaya Eropa tersebut.
Alsya membuka pintu mobil disebelahnya dan keluar tanpa menghiraukan Bintang yang masih bingung dengan ucapannya.
Alsya menutup pintu mobil dan berdiri menghadap Bintang dari luar kaca mobil yang sudah terbuka, "Lakuin apa yang gue bilang, entar pagi gue kerumah lo bawa Yasin deh. Jangan lupa titipin salam gue sama malaikat Jibril ya", ujar Alsya dengan menahan senyumnya.
"Dadah dokter tampan", Alsya melambaikan tangan nya kearah Bintang sebelum masuk kedalam rumah.
Bintang masih mencerna setiap ucapan Alsya barusan. Mengapa terdengar sangat ambigu.
Lalu detik berikutnya akhirnya Bintang paham dengan semua ucapan Alsya. Ia merutuki otaknya yang sangat lemot hari ini. Sampai ia tak sempat membalas ucapan Alsya karena gadis tersebut telah masuk kedalam rumahnya. Tapi tak urung, senyum Bintang tetap terbit ketika mengingat tingkah Alsya yang sangat menggemaskan hari ini.
"Gue enggak akan secepat itu untuk pergi. My grey girl", gumam Bintang sambil menyalakan mobilnya dan segera meninggalkan pekarangan rumah yang dominan berwarna putih tersebut.
Seseorang yang dari tadi mengikuti mereka lantas mengerutkan keningnya. Ketika melihat Alsya terlalu akrab dengan pria yang ada di dalam mobil tersebut. Setahunya Alsya adalah gadis yang dingin dan tertutup. Tapi itu berbanding terbalik dengan apa yang barusan dilihat oleh kedua matanya.
"Apa iya mereka pacaran?", tanya nya dengan seseorang yang ada disampingnya.
"Menurut aku sih iya. Soalnya Alsya itu aneh banget enggak sih hari ini", jawab orang tersebut.
"Sia-sia kalau gitu."
"Yang penting 'dia' bahagia walau harus 'dia' yang terluka."
"Tapi kasihan 'dia'."
"Ya aku tau. Tapi mau bagaimana lagi. Jika jalan takdir sudah belok sekalipun. Mau kita luruskan bagaimana pun, jalan itu akan tetap belok. Sekarang kita berdoa aja semoga 'mereka' dapat yang terbaik."
"Ihh, kamu kok bijak sih hari ini?"
"jadi maksud kamu sebelumnya aku enggak bijak gitu."
"Y-ya bijak. Tapi hari ini lebih bijak."
"Up to you dude."
...×××...
..."Purnama sampaikan rindu ku pada seseorang yang berada jauh di sana. Katakan pada dirinya aku sangat merindukan tawanya, senyum nya dan pelukan nya. Melalui sinaran emasmu, ku mohon sampaikan padanya bahwa gadis kecilnya ini sangat merindukan nya. Da sampaikan bahwa gadis nya ini juga mempertaruhkan egonya demi merindukan dirinya. I very miss you my boy."...
...~Rilansun🖤....