Alsya

Alsya
:Bersama makhluk astral



...__________________...


...*S**emoga di perjalanan yang rumit ini tidak ada orang yang datang lalu pamit dan pergi meninggalkan sakit*.........


...___________________...


...×××...


Alsya meletakkan tas nya di pinggir lapangan dan mulai berlari menyusul Arkan yang entah sudah lari berapa putaran.


Selesai putaran yang kedua Alsya berhenti sejenak. Sedikit menundukkan badannya dan memegang kedua lututnya sembari mengatur nafas. Alsya tak habis-habisnya merutuki harinya yang sangat tidak beruntung. Bangun terlambat, tidak sempat sarapan, terkena hukuman, dan yang lebih sialnya lagi mengapa harus dihukum dengan mahkluk astral yang sangat-sangat ingin Alsya hindari. Sungguh suatu kesialan yang sangat completed bukan?.


Menyebalkan.


Gadis bernetra hitam itu kembali melanjutkan lari nya. Tidak mau jika hukumannya nanti ditambah. Cukup Arkan saja lah yang ditambah sampai 25 kali putaran. Dirinya jangan.


Alsya sesekali melirik kearah Arkan yang sepertinya sudah selesai menjalani hukumannya. Mengapa cepat sekali cowok itu berlari. Apa benar 25 putaran?. Ah, biarlah Arkan juga yang akan menanggung jika dia berbohong.


Arkan duduk ditepi lapangan dan mengambil air botol minum Alsya dari tas cewek itu. Lalu menegaknya hingga tak bersisa. Kegiatan Arkan tersebut tentu saja tidak luput dari pandangan Alsya.


Lantas Arkan menyengir lebar sambil mengangkat botol air minum berwarna hitam itu ditangan kanannya, "Hehe sorry habis", ucapnya dan kembali menurunkan tangannya ketika melihat mata Alsya yang melotot menatapnya. Lalu Arkan buru-buru memasukkan kembali botol yang sudah tak berisi itu kedalam tas abu-abu polos milik Alsya.


Alsya tak memperdulikannya, ia kembali melanjutkan larinya yang tinggal 2 putaran lagi.


Tapi di putaran yang keempat mendadak kepala Alsya pusing, matanya berkunang-kunang dan tubuhnya lemas. Alsya masih sempat melirik kearah Arkan yang sedang duduk selonjoran ditepi lapangan. Namun di detik berikutnya pandangan nya kabur dan ia merasa tubuhnya terhuyung kebelakang lalu semuanya berubah menjadi gelap gulita.


Bruk


Arkan yang baru saja hendak melangkahkan kakinya keluar dari lapangan terhenti ketika mendengar suara yang cukup keras. Refleks Arkan menolehkan kepalanya ke lapangan dan melihat tubuh Alsya yang sudah ambruk di tengah lapangan dengan matahari yang semakin menyengat diatas sana.


"Alsya!", teriaknya seraya berlari ke arah Alsya. Arkan langsung mengangkat tubuh lemas cewek itu ke dalam gendongannya. Lalu segera beranjak dari lapangan dan menuju ke UKS.


Koridor sangat sepi, mengingat sekarang masih jam pelajaran. Jadi sangat memudahkan untuk Arkan membawa Alsya ke UKS tanpa ada yang melihat, mungkin?.


...×××...


Alsya mengerjapkan matanya beberapa kali, Sampai netra hitam pekat itu terbuka dengan sempurna. Lalu Alsya melirik kesamping, melihat sosok makhluk astral yang berlari bersamanya tadi di lapangan. Dan jangan lupakan jika makhluk astral tersebut juga menghabiskan satu botol air mineralnya.


Dasar laki-laki rakus.


Alsya bangkit dari tidurnya tanpa menghiraukan laki-laki yang masih sibuk dengan ponselnya di sofa sudut ruangan. Apa yang dilihatnya sampai seriusnya mengalahkan profesor yang melakukan sebuah penelitian.


Alsya tidak peduli dengan siapa yang membawanya kesini. Jika Arkan yang membawanya maka Alsya tak perlu susah payah untuk berterima kasih. Karena mereka impas bukan?. Cowok itu yang membuatnya harus berlari di pagi hari, ia juga yang menghabiskan airnya sampai tak bersisa. Jadi kesalahan yang dilakukan cowok itu juga sangat fatal. Seharusnya Arkan yang meminta maaf kepadanya, bukan dirinya yang berterima kasih kepada makhluk astral tersebut.


Sebelum keluar dari uks, Alsya terlebih dahulu mengambil segelas air yang berada diatas nakas disamping brankar. Jujur, sekarang dirinya sangat haus. Bagaimana tidak jika dari pagi tadi sampai sekarang dia belum sempat menyentuh apapun makanan, dan ditambah air mineralnya yang habis diteguk oleh laki-laki yang sedang meracau tak jelas dihadapan ponselnya itu.


Baru saja hendak melangkah keluar uks. Sebuah suara sudah menginterupsinya terlebih dahulu. Mau tak mau Alsya harus mengurungkan niatnya untuk pergi dari uks.


"Gue tau kalau gengsi lo itu gede banget. Tapi setidaknya hargai orang yang udah nolongin lo. Apa susahnya sih tinggal bilang makasih doang?."


Alsya yang mendengar ocehan makhluk astral itu hanya merotasikan bola matanya malas. Lalu Alsya membalikkan badannya, terkejut melihat Arkan yang sudah berdiri dihadapannya.


"Karena dalam kamus gue enggak ada kata 'terima kasih' buat cowok kayak lo", sarkas Alsya ketus membuat Arkan menghela nafasnya.


Arkan mengalah. Memang benar jika berdebat dengan ratu es ditambah lagi dengan sahabat monyetnya itu, maka tidak akan ada yang bisa menang. Dua cewek tersebut memang pandai dalam berkata-kata dan ahli dalam membungkam mulut seseorang.


Arkan memegang kedua bahu Alsya dan membawanya duduk kembali diatas brankar uks. Alsya berontak tapi apalah daya jika kekuatannya tak mampu mengalahkan Arkan yang notabenenya seorang cowok.


"Duduk!. Lo kenapa bisa pingsan?, pasti karena belum sarapan kan."


Alsya mendengus kasar, jika cowok itu sudah tau jawabannya kenapa juga dia harus bertanya lagi. Pemborosan suara.


"Gue gak apa-apa. Udah sana, enggak usah sok perhatian", Alsya mendorong Arkan dan hendak turun dari brankar. Tapi lagi-lagi ditahan oleh cowok tengil yang merangkap menjadi orang baik.


"Duduk!, dengerin orang apa susahnya sih Sya!", titah Arkan tegas. Namun sama sekali tak membuat seorang Alsya takut apalagi gemetar.


"Susah!. Karena gak ada juga yang pernah mau dengerin gue", lirih Alsya pelan dan tentu saja Arkan bisa mendengarnya karena hanya ada mereka berdua disini dan ditambah suasana uks yang sepi.


Arkan memegang kedua pundak Alsya dan membuat gadis bersurai hitam legam tersebut mendongak menatapnya.


"Gue mau jadi pendengar yang baik buat lo", sahut Arkan sendu dengan sebuah senyum tulus yang membingkai. Alsya terperangah dengan sosok di hadapannya ini, kenapa cowok tengil seperti Arkan bisa mengerti dirinya bahkan Arkan ingin menjadi pendengar yang baik untuknya, untuk dirinya kan?, Alsya tak salah dengarkan?.


Alsya juga dibuat terpesona oleh senyuman tulus yang diberikan cowok itu. Haruskah Alsya percaya?, haruskah ia percaya dengan cowok playboy seperti Arkan?. Alsya bukannya tak percaya, tapi ia hanya ingin mengantisipasi hatinya agar tak berharap lebih dan berujung dengan sebuah luka. Alsya tidak ingin hatinya terluka. Walau harus hatinya tak mengenal lagi apa itu cinta.


Lalu Alsya mengerjapkan matanya ketika Arkan dengan tiba-tiba mendekap kepalanya erat sambil berbisik lirih ditelinga,"Biarkan aku jadi sesuatu yang berarti untukmu tapi tidak sesaat. Biarkan aku jadi tempat untuk bersandar disaat kau terpuruk rapuh. Jangan sampai kau lemah. Ku yakin kau pasti bisa bangkit. Jangan anggap kau sendiri hadapi. Ada aku disini", bisiknya lirih dengan mengambil lirik dari lagu ada aku disini milik penyanyi tanah air itu.


Anggaplah Arkan tidak romatis, karena memang dirinya bukan sosok cowok yang picisan. Arkan juga tidak pandai merangkai kata-kata untuk menggombal cewek. Jika sekarang ia banyak memiliki pacar, itu bukan karena gombalan mautnya. Tapi karena paras tampannya yang seperti dewa yunani, membuat cewek klepek-klepek bila melihatnya.


"May i believe?", tanya Alsya tiba-tiba setelah lama mematung. Entah mengapa Alsya merasa tak mengenali dirinya sekarang. Mengapa ia tak mengelak jika dipeluk oleh Arkan. Mengapa tubuhnya tak memberontak. Mengapa malah sebuah kenyamanan yang Alsya rasakan. Kenyamanan yang sudah lama tak dirasakannya.


Arkan tersenyum, "Lo boleh percaya atau enggak itu terserah lo, itu hak lo", jawabnya sambil melepaskan dekapannya.


"Sekarang lo tunggu disini, gue mau ke kantin dulu. Jangan kemana-mana, kali ini gue mohon tolong dengerin gue. Paham!", Alsya menganggukkan kepalanya seperti robot. Mengapa ia tiba-tiba patuh dengan sosok playboy tersebut. Sepertinya susuk Arkan kali ini berhasil terhadapnya.


Arkan tersenyum sambil mengelus puncak kepala Alsya. Setelah itu cowok bernetra coklat madu tersebut berlalu dari uks.


Alsya tersenyum ketika mengingat perlakuan manis yang di dapatnya tadi, "Apakah dia peduli?, sama gue?. Peduli..., Argh astaga!", teriak Alsya dalam hati dengan bibir yang masih terus mengembangkan senyum. Jujur ia rindu diperhatikan, disayang, dan dimanja. Bolehkah Alsya baper?, bolehkah ia berharap lebih atas sikap Arkan barusan?. Bolehkah....?


Alsya menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Astaga apa yang gue pikirin tadi, sadar Sya, sadar", ujarnya seraya menepuk pelan pipinya berkali-kali.


Tidak butuh waktu yang lama Arkan sudah kembali dengan dua roti dan satu air mineral ditangannya.


"Nih ambil", Arkan menyodorkan satu roti rasa coklat kepada Alsya.


Alsya mengambilnya dengan canggung. Membuka bungkus roti tersebut dan memakannya dengan pelan.


Arkan meletakkan satu roti lagi dan sebotol air mineral diatas nakas disamping brankar Alsya, "Dihabisin", ujarnya yang dibalas anggukan kepala oleh Alsya.


"Nanti", jawab Arkan sambil memainkan ponselnya.


"Kenapa?."


"Nunggu lo lah."


"Nu-nunggu gue?."


"Iya. Bawel lo ah, udah cepet habisin kalau enggak mau dapat serangan biawak", ujar Arkan membuat Alsya tertawa dalam hati.


Biawak?, dasar murid lacnat.


Biawak itu panggilan untuk buk Linda selaku guru bidang studi bahasa indonesia. Padahal guru tersebut mengambil bidang studi yang seharusnya ia mengajar dengan santai dan sabar. Karena tidak ada cos, sin, tan, newton atau rumus apalah itu. Tapi tidak, justru guru tersebut tak kalah killer nya dengan buk Wati atau pun pak Ucok.


Sehingga anak GALAKSI memanggilnya biawak, dan pencetusnya tentu saja cowok tengil tersebut.


"Emm, Arkan?", panggil Alsya gugup.


"Apa?", jawab Arkan tanpa menoleh.


"Lo gak apa-apa gitu temenin gue disini?", tanya Alsya sambil menunduk.


Arkan mendongak, "Enggak apa-apa."


"Enggak ada yang marah gitu?", tanya Alsya lagi dengan hati-hati.


Seperti tau arah pembicaraan Alsya. Arkan kembali memainkan ponselnya, "Gue udah putus", sahut Arkan santai.


Alsya membulatkan matanya. Memang ya orang ganteng itu bebas mau ngelakuin apa aja.


"Emangnya baru berapa hari kalian jadian?."


"Empat", jawab Arkan singkat.


"Dan lo mutusin dia?", Alsya sangat mengapresiasi sifat berengsek yang dimiliki Arkan.


Arkan mengernyit, "Iya. kenapa?"


Alsya mendengus kasar, kenapa katanya?. Apa dia enggak mikirin gimana hati cewek yang dia putusin, "Lo emang playboy yang gak punya hati", ujar Alsya ketus.


Arkan menghela nafasnya, "Dia enggak bisa bikin gue nyaman. Kenapa harus di pertahanin", balasnya dengan santai.


"Tapi see-", ucapan Alsya dipotong dengan teriakan yang memanggil namanya dari luar.


"ALSYA!, where are you! ?", Alsya yang mendengar suara nyaring tersebut refleks menutupi kedua telinganya. Alsya masih menyayangi kedua telinganya, sungguh.


Kemudian Diva masuk dengan mimik wajah yang sangat menjijikan dimata Alsya, "OH MY GOD, Alsya yang tercinta. Oh ya Tuhan, lo sakit?. Ayo kita bawa ke istana merdeka, kita harus kasih tau bapak Jokowi yang terhormat kalau sahabat gue yang dinginnya enggak ketulungan ini sedang sakit", cerocos Diva panjang lebar dengan nada yang dilebih-lebihkan. Dasar pencari sensasi!.


Alsya yang mendengarnya pun meringis malu. Sebab di dalam uks saat ini bukan hanya ada Diva dan dirinya, masih ada Arkan. Walau pun Arkan sudah sering mendengar dan melihat tingkah absurd seorang Diva. Mengingat mereka bertiga sekelas.


Namun tetap saja Alsya malu karena ulah Diva si terompet sangkakala itu. Kalah sudah begitu Alsya jadi enggan mengakui kalau Diva adalah sahabatnya. Sahabatnya?, entahlah ia masih belum percaya dengan sebuah hubungan. Tapi bukan berarti Alsya tidak bisa mencobanya.


Arkan menggelengkan kepalanya takjub mendengar ucapan konyol Diva. Istana merdeka?, Pak Jokowi?, memangnya siapa Alsya?, "Dasar cewek gila!", cibir Arkan.


Diva tersentak kaget ketika mendengar suara berat, entah dari mana asalnya,"Sstt..., Sya gue rasa ada nenek gandrong yang sedang meet and greet dengan hantu mantan yang ditinggal nikah", ujar Diva pelan dengan satu jari telunjuk di mulut sambil mengedarkan pandangannya kesamping kiri dan kanan, membuat Alsya menggeleng takjub.


Arkan yang berada dibelakang Diva pun mendengus kesal dan menatap punggung gadis tersebut dengan malas, "Oi, gue dibelakang lo monyet", ketusnya membuat kedua cewek itu menoleh kearahnya, "Ganteng gini lo bilang setan, katarak mata lo?", dengan pede nya Arkan menyugar rambutnya kebelakang sambil tersenyum.


Jika cewek-cewek di luaran sana yang diberikan senyum tersebut mungkin terpesona. Tetapi tidak dengan Alsya dan Diva, mereka langsung ingin mual seketika.


Diva menyipitkan matanya, "Heh pawang monyet. Ngapain lo disini?", ketusnya.


Arkan merotasikan matanya malas, "Pertanyaan yang bodoh."


"Apa?, lo bilang gue bodoh?", ujar Diva tak terima.


"Iya. kenapa?", tantang Arkan.


"Lo yang bodoh ya", balas Diva sewot, "Daripada disini lebih baik lo ngurusin noh monyet lo yang kegatelan sama cowok orang", lanjutnya sambil menunjuk-nunjuk wajah Arkan.


"Lo tuh yang pergi. Pergi sana ke kantin, cari pisang, gangguin orang pdkt aja. Dasar jomblo!"


"Gue enggak jomblo ya!"


"Lo gak jomblo tapi jones", balas Arkan.


"Sama aja gobl*k!"


"Beda."


"Sama."


Alsya yang melihat perdebatan alot antara pawang monyet dan monyetnya itu hanya bisa menghela nafas seraya merotasikan bola matanya malas. Mengapa jika bertemu, mereka berdua selalu berkelahi. Ditambah lagi yang tak peduli dengan suasana sekitar kalau sudah berdebat.


Alsya lantas beranjak dari brankar nya. Memutar knop pintu dengan sangat pelan lalu keluar dengan hati-hati. Sebelum menutup kembali pintu berwarna putih tersebut, ia melirik kearah dua mahkluk astral yang masih setia berdebat tak jelas, "Gue doain jodoh!", ujar Alsya lalu menutup pintu uks dengan keras. Menghela nafasnya ketika mendengar suara keributan yang saling menyalahkan satu sama lain dari dalam. Bukannya pergi dari sana mereka malah melanjutkan kembali perdebatan yang sangat-sangat tidak bermutu itu.


Memang pasangan yang serasi. Sangking serasinya Alsya yakin jika mereka menjalin hubungan pasti usia hubungannya tidak akan lebih dari lima jam.


...×××...


..."KITA. Bisakah ada kata kita diantara aku dan kamu. Bisakah ada tali pengikat diantara kita. Bolehkah?, bolehkah jika aku berharap lebih?. Bolehkah jika aku percaya dengan semua ini?, bolehkah aku meminta disaat kamu mungkin masih memiliki?. Kenapa?, kenapa perasaan ini sangat rumit. Kenapa kamu hadir dan membawa tambahan beban untuk ku. Tapi aku berharap semoga beban ini bukan hanya untuk aku pikul sendiri, melainkan kita pikul berdua dengan menyatukan dua bahu."...


...~Rilansun🖤....