Alsya

Alsya
:Rahasia besar



...___________________...


...Lo mau ngangkat gue setinggi-tingginya, sebelum jatuhin gue sedalam-dalamnya.......


...___________________...


...×××...


"Tungguin ya."


Alsya mengangguk singkat membuat Arkan tersenyum dan mengacak gemas rambut gadis tersebut.


Lalu playboy yang katanya insaf itu segera berjalan memasuki rumahnya. Meninggalkan Alsya sendirian di atas motor sport milik Arkan.


Setelah tiga hari lebih sakit, akhirnya Alsya masuk sekolah kembali. Baru saja ia menginjakkan kaki di lantai kelas. Arkan sudah langsung mengomelinya dengan cepat. Sampai Alsya tak paham apa yang dibilang oleh cowok itu.


Arkan mengatakan kalau ia ingin pergi menjenguk Alsya, tapi setelah melihat ada Alaska. Arkan langsung mundur secara teratur. Alsya sendiri pun tidak tau jika Alaska menjenguknya. Sebab Aruna tidak ada mengatakan apapun kepadanya.


Dan sebagai kompensasi, Arkan memintanya untuk menemani cowok itu jalan-jalan. Emm, semacam nge-date, mungkin. Lalu dengan pertimbangan yang cukup lama, Alsya akhirnya memutuskan untuk pergi bersama Arkan.


Hitung-hitung berbuat baik.


Alsya melirik kearah jam yang ada di tangannya. Mengapa Arkan lama sekali. Apakah cowok itu tidur dulu dan meninggalkannya sendirian dengan nyamuk yang sudah siap menghisap darahnya. Benar-benar bad.


Setelah menimbang-nimbang, Alsya pun turun dari motor Arkan dan berjalan memasuki pekarangan rumah bercat putih tersebut. Dengan gerakan pelan cewek itu mengetuk pintu jati tersebut berulang kali. Namun tidak ada satu pun sautan dari dalam.


Tak sabar, Alsya pun lantas membuka pintu dengan pelan. Menyembulkan kepalanya sedikit, menyapu pandangannya ke penjuru rumah yang terlihat sunyi. Seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan.


Kemudian Alsya membuka pintu lebar-lebar. Jaga-jaga jika Arkan melakukan suatu hal yang gila kepadanya. Maka Alsya akan berteriak sekencang-kencangnya.


Dengan langkah yang pelan, Alsya memasuki rumah Arkan seraya menoleh kanan-kiri. Takut jika ada makhluk yang tiba-tiba muncul entah dari mana.


Langkahnya terhenti saat melewati satu buah pigura besar yang ada di dinding. Besar dan lebih menonjol dari yang lain. Isi nya pun membuat setiap orang yang melihatnya terasa tertarik.


Dengan mata yang melebar dan tangan yang gemetaran, Alsya menyentuh kaca pigura. Mengelus tak percaya wajah seseorang yang ada di dalam sana.


Sedangkan Arkan yang baru saja turun dari kamarnya langsung mengumpat, "Sial!", ketika melihat Alsya berdiri di depan foto pernikahan orang tuanya.


Mengapa cewek itu tidak menurut untuk menunggunya di luar.


"Papa."


"Arkan!."


Lirihan Alsya serentak dengan teriakan seorang wanita yang berdiri di ambang pintu menuju halaman belakang. Tubuhnya terasa mati rasa seketika ketika melihat perempuan yang ada di pigura sedang berdiri dihadapannya. Tidak banyak berubah dari wanita itu.


Cantik, sangat cantik dalam balutan hijabnya.


"Arkan, dia siapa?", wanita itu berjalan kearah putranya yang berdiri di anak tangga terakhir seraya menunjuk Alsya yang mematung.


"Bun, masuk dulu gih", Arkan berbisik memohon pada Bunda nya, berharap wanita itu paham dan menurut.


"Bu-bunda?, dia ibu kamu?", ujar Alsya setelah sadar dari lamunannya. Lalu ia berjalan ke arah dua orang tersebut yang memandangnya dengan berbagai tatapan.


"Dia siapa Ar-"


"Saya Alsya. Alsya Davinka Pranata", sela Alsya dengan nada datar nya.


Risma, Bunda nya Arkan sontak membelalakkan matanya saat mendengar nama gadis tersebut.


"P-pranata?", tanya Risma dengan gagap. Ia sangat akrab dengan nama belakang itu, sangat.


Alsya mengangguk tegas.


"Ka-kamu putri nya Davin?", Risma menunjuk Alsya seraya melangkah mundur. Hingga badannya membentur tubuh Arkan yang hanya terdiam sedari tadi.


Alsya tersenyum tipis. Sudah di duga, Papa nya tidak mungkin kembar. Dan sosok yang ada di dalam foto itu adalah Papa nya. Tapi mengapa memakai baju pernikahan dan berfoto dengan Bunda nya Arkan.


Sudah banyak spekulasi-spekulasi tentang semua itu. Tapi Alsya tak ingin berburuk sangka kepada Papa nya terlebih dulu. Pahlawan nya tidak mungkin melakukan hal yang tidak-tidak.


"Di-dia adik kamu Ar."


Deg


"Adik, kalau ibu nya sama", ketus Arkan seraya memalingkan wajahnya. Gagal sudah rencananya.


"G-gue adik lo?", tanya Alsya tak percaya. Bagaimana bisa cowok yang ia suka adalah kakaknya. Bahkan kandung.


Jadi ini alasan mengapa Arkan hanya menyingkat namanya menjadi Arkan Drilly P. Oh Tuhan, mengapa Alsya tidak pernah sadar selama ini. Padahal nama itu sama persis dengan miliknya. Mereka satu darah, nama dan satu Ayah.


Arkan tersenyum miring, "Gue gak punya adik, bahkan gue gak punya bokap", balasnya dengan kebencian yang penuh di matanya.


Ya, Arkan sudah kehilangan Ayah nya sejak saat mengetahui jika pria itu memiliki istri dan anak yang lain. Hari itu Arkan benar-benar merasa tak berguna ketika melihat Bunda nya yang tersenyum dengan air mata yang mengucur.


"Bangs*t!", Alsya meninju dada bidang Arkan dengan terus mengumpati cowok tersebut.


"Lo tau kalau gue adik lo selama ini, dan lo masih tetap nekat buat dekatin gue. Buat gue jatuh dalam perasaan yang terlarang. Terus ninggalin gue sendirian. Bajing*n lo Arkan!", teriak Alsya murka di hadapan wajah Arkan. Untung saja perasaan itu belum terlanjur. Jika tidak betapa berdosanya Alsya menyukai kakak kandungnya sendiri.


"Gue ragu kalau lo Abang gue, karena Papa gak mungkin punya anak kayak lo. Bajing*n!. Papa adalah pria yang paling sempurna yang ada di dunia. Sementara lo bajing*n, bejat!. You are jerk!."


"Sempurna?", Arkan terkekeh mengejek, "Asal lo tau, Papa yang kata lo sempurna itu bahkan lebih rendah daripada bajing*n", sarkasnya kasar.


"Elo-"


"Dia udah selingkuh dari nyokap gue asal lo tau, ninggalin gue dan Bunda sendirian disaat gue butuh sosok seorang Ayah. Dimana dia pas gue sakit?, dimana dia pas gue di bully sama teman-teman, dimana dia pas gue nangis dan mau ketemu?. Enggak ada, dia enggak ada. Dia gak pernah datang, karena dia sibuk dengan istri dan anak baru nya. Lo dan nyokap lo bit*h!. Kalian udah ngambil kebahagiaan gue dan Bunda!", ujar Arkan menggebu-gebu. Jelas sekali luka yang di simpan oleh cowok itu sangat dalam. Terlihat dari telaga beningnya yang memerah dan berkaca-kaca.


Alsya menggelengkan kepalanya. Itu semua pasti bohong. Mama nya gak mungkin perebut suami orang. Karena Alsya pernah melihat foto Mama dan Papa nya waktu masih SMA. Dan difoto itu mereka terlihat sangat mesra dan saling mencintai. Lalu Arkan dan Bunda nya..., Argh, mengapa semuanya sangat rumit.


"Lo itu anak haram Alsya."


Deg


Alsya sontak memandang Arkan. Perkataan itu entah mengapa sangat menusuk relung hatinya. Tidak mungkin ia anak haram. Mama dan Papa nya adalah dua orang yang menikah karena cinta. Dan dia hadir karena cinta itu. Tidak mungkin dia anak yang seperti itu.


"Arkan!"


Risma membentak putranya setelah mendengar penuturan Arkan. Cowok itu memang belum bisa berdamai dengan masa lalu.


"Jadi ini alasan lo deketin gue. Lo mau ngangkat gue setinggi-tingginya, sebelum jatuhin gue sedalam-dalamnya. Terus ninggalin gue sendirian dengan luka dan darah?, cowok macam apa lo Ar?", lirih Alsya dengan terkekeh pelan diakhir kalimatnya. Sekali lagi, ia dilukai oleh cinta.


"Ka-kalian pacaran?", tanya Risma terbata-bata.


Alsya menoleh dan tersenyum sinis, "Hampir, untung aja Tuhan itu gak tidur dan ngirim saya kesini supaya melihat kenyataan yang sebenarnya."


"Astagfirullah Arkan", Risma menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Tak habis pikir dengan tindakan Arkan.


"Sebenarnya bukan Mama Alsya yang perebut. Tapi Bunda lah yang menjadi orang ketiga", ujar Risma kemudian seraya menyentuh lengan putranya.


"Bun?", Arkan menatap bingung Bunda nya yang menunduk.


"Sebenarnya Bunda sama Papa kamu itu dijodohin. Dan pada waktu itu Papa kamu udah punya pacar. Papa kamu coba nolak perjodohan kami. Tapi Kakek gak kasih izin. Karena itulah Papa kamu nekat buat nikah siri dengan Mama nya Alsya. Setelah dua minggu, pernikahan itu akhirnya diketahui oleh keluarga besar. Dan mereka maksa Papa kamu buat cepat-cepat nikah sama Bunda. Disaat Bunda hamil kamu tiga bulan, Mama Alsya rupanya juga udah ngandung selama dua bulan. Dan Bunda yang minta Papa kamu buat ceraikan Bunda. Karena Bunda gak tega lihat dia yang gak bahagia dengan kita. Bunda udah berusaha selama lima tahun, tapi tetap aja cinta Papa kamu gak bisa dibagi buat Bunda walaupun sedikit. Dan Papa kamu sayang banget sama kamu Ar. Kamu anak cowok satu-satunya. Dan bukan seperti ini cowok sejati bertindak sayang", ujar Risma panjang lebar.


Arkan tertegun setelah mendengar ucapan Bunda nya. Kebenciannya selama ini tidaklah berdasar.


Sedangkan Alsya tersenyum miring menatap Arkan, "See. Usaha lo selama ini sia-sia, karena bukan nyokap gue yang ngerebut kebahagiaan lo.


Tapi justru nyokap lo yang halangin kebahagiaan gue dan Mama", ketusnya.


Lalu cewek itu berjalan mendekat kearah Arkan yang masih terdiam, "Tapi usaha lo buat gue sakit hati berhasil. Gue sakit Ar, dan gue benci lo sedalam-dalamnya", desisnya tajam. Setelah itu ia segera berlalu pergi dari kediaman keluarga tersebut.


Sungguh kenyataan yang tak pernah Alsya duga sebelumnya. Jika hidupnya dijadikan sebuah sinetron, mungkin akan beribu-ribu episode. Sangking terlalu banyak nya drama dalam kehidupannya.


Sebenarnya Tuhan cukup adil dengan mengambil Papa nya. Seolah ingin membuat Alsya merasakan seperti Arkan. Hidup tanpa sosok Ayah yang menemani.


Dengan hujan yang turun, Alsya berjalan sendirian di jalanan yang sepi. Tak mempedulikan kondisinya esok hari. Yang penting ia hidup untuk hari ini.


Entah kapan dirinya akan merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.


...×××...


..."Air mata, mengapa kau tidak berbentuk seperti batu kerikil saja. Jadi setiap kau turun akan membuat mata ku sakit. Dan mencegah aku untuk menangisi dunia yang begitu kejam ini."...


...~Rilansun🖤....