
..._______________________...
...Tolong peluk aku dengan segala kerapuhan ku......
..._______________________...
...×××...
Gadis bersurai panjang itu mencoba untuk membelah kerumunan yang ada. Desak-desakan dari orang membuat tubuh mungilnya tenggelam di tengah keramaian.
Sebenarnya perutnya sudah sangat mual ketika menghirup berbagai macam aroma yang ada. Tapi ini sangat penting. Demi nilainya, Alsya dapat melakukan apapun.
"Permisi", Alsya mencoba mengetuk pelan punggung besar yang menghalangi pandangannya. Semoga saja orang ini adalah orang yang baik dan membiarkan Alsya untuk melihat mading walau sebentar.
Alsya menghela nafas pendek. Kayaknya disaat-saat seperti ini tidak ada orang yang baik. Semuanya sibuk untuk melihat nilai hasil ujian masing-masing.
Padahal ini baru rapor bayangan. Tapi antusias mereka sudah begitu besarnya.
"Sila_ Alsya?."
Alsya mengedipkan matanya beberapa kali. Hingga netra nya menatap sempurna seorang cowok yang berdiri tegak dihadapannya.
"Kak Bagas?", Alsya sudah jarang melihat cowok itu setelah Bagas kembali dari kampung halamannya. Seperti sedang menjauhinya. Alsya tidak tau apa penyebabnya. Apakah dirinya terlalu dingin?, apakah ada sikap atau katanya yang kurang pantas?. Sampai membuat Bagas tak nyaman bila berada di dekatnya.
"Mau lihat nilai ya?", tanya Bagas yang masih terlihat agak canggung.
Alsya mengangguk singkat, "Iya."
"Nilai Kak Ba_ aduh", Alsya terdorong ke depan saat orang dibelakangnya tak sabaran ingin maju. Menyuruhnya untuk segera pergi dengan kata-kata yang tak enak untuk didengar. Untung saja, Bagas dengan sigap menangkapnya. Jika tidak, mungkin Alsya sudah mati terinjak.
"Lihat cepat, sebelum mereka semakin ganas", Bagas dengan cepat menarik Alsya untuk segera maju ke depan. Berdiri dibelakang cewek itu dan melindunginya dari murid-murid yang mendadak seperti zombie.
Alsya mendongak menatap Bagas yang jauh lebih tinggi darinya, "Makasih", ujarnya tulus disertai senyuman tipis yang berhasil membuat Bagas tertegun.
"Sama-sama", gumamnya pelan di atas kepala Alsya yang sudah sibuk melihat daftar nama dan nilai.
Anak majikannya itu selalu berhasil membuatnya tersipu. Jujur, dari awal berjumpa, Bagas sudah menaruh hati kepada seorang Alsya. Tapi ia tak berani mengungkapkan apalagi mendekati bila mengingat sebuah dinding besar yang membatasi mereka berdua.
Terlebih lagi setelah mendengar kalau teman masa kecil cewek itu sudah datang dan ingin menikahinya. Membuat Bagas mundur secara teratur dengan segala perasaan yang berusaha akan dikubur.
"Udah?", tanya Bagas ketika melihat Alsya yang sudah berbalik dan menatap ke arahnya.
Alsya mengangguk, "Udah."
Lalu Bagas dengan badan besarnya berusaha melindungi Alsya sampai mereka berdua berhasil melepaskan diri dari kerumunan.
"Sekali lagi makasih Kak Bagas."
Bagas menggaruk pelipisnya yang tak gatal, "Sama-sama."
"Duluan, mau ketemu guru soalnya", ujar Alsya sopan.
"Ah iya, hati-hati", sahut Bagas dengan senyuman tipis namun dihiasi dengan dua lesung pipi yang manis.
Setelah membalas senyumannya dengan canggung, Alsya mengundurkan diri dan berbalik pergi ke arah ruang guru.
Bagas masih berdiri disana. Menatap punggung mungil yang perlahan hilang ditelan tikungan.
Entah mengapa, dari pertama kali Bagas melihat Alsya. Cewek itu seperti tidak memiliki semangat hidup. Dia bernafas tetapi tidak merasa bebas. Ada beban seperti apa yang sudah bergelayut manja di pundaknya. Membuat Alsya menyendiri dari dunia luar. Menutup rapat dirinya, hingga mungkin serangga pun tak diizinkan untuk masuk.
...×××...
"Kok bisa salah ya", gumam Alsya pelan setelah keluar dari ruangan guru. Menatap seksama soal ujian fisika beserta jawabannya. Diatas kertas lembar jawabannya ditulis angka 80 besar dengan pena merah. Yang menandakan kalau dirinya remedial.
Alsya menghela nafas dan menyimpan kertas soal beserta lembar jawaban itu ke dalam sebuah tote bag berwarna hitam yang dibawanya.
Mungkin saja kali ini bukan keberuntungannya. Dan Alsya menyadari kalau selama ujian ini dirinya memang kurang fokus. Entah semangat belajarnya yang hilang entah beban pikirannya yang menggunung.
Alsya mengayunkan kakinya tak tentu arah. Tiba-tiba Alaska merasuki pikirannya begitu saja. Setelah lamaran yang ditolaknya sebulan yang lalu. Cowok itu sudah jarang menunjukkan batang hidungnya dihadapan Alsya.
Bahkan Alaska sering absen. Ditambah dengan ruangan ujian mereka yang hanya dibatasi lima belas orang setiap kelasnya. Dan Alsya tidak sekelas pula dengan Alaska.
Membuatnya tak pernah lagi tau kabar Alaska. Cowok yang sudah ia lukai hatinya.
Alsya ingin menolak Alaska secara baik-baik. Tapi dirinya tak ingin kalau Alaska tau penyakit yang sudah menggerogoti tubuhnya.
"Sial banget sih", Alsya menggerutu saat merasakan cairan merah itu lagi-lagi keluar dari hidungnya. Belakangan ini Alsya memang tak pernah lagi pergi kontrol, dan bahkan obat pun sudah jarang diminum. Membuat Bintang berulang kali menelponnya.
Bagi Alsya itu tak ada gunanya. Sudah tiga tahun belakangan ini dia meminum itu semua. Tapi apa, hasilnya tetap saja sama. Penyakit itu masih bersarang di dalam tubuhnya.
Alsya buru-buru berjalan ke arah toilet. Masuk ke dalam salah satu bilik dengan tangan yang terus menutupi hidung. Apes banget, toilet lagi penuh-penuh nya pula.
Setelah lebih dari lima menit ia di dalam. Alsya keluar dan melangkah ke arah wastafel. Mencuci tangannya seraya sedikit membasahi pipinya.
"Jadi lo pelakor yang udah ngerebut tunangan gue?!."
Alisnya yang tertata rapi itu lantas mengerut saat mendengar ucapan seorang cewek yang berdiri angkuh dihadapannya itu. Siapa cewek tersebut?. Alsya tidak pernah mengenalinya.
"Maaf, lo siapa?, gue gak kenal", ujar Alsya datar. Orang-orang yang ada disana lantas mengerumuni mereka dengan berbagai macam tatapan yang aneh.
"Enggak kenal lo bilang?", cewek yang ber-name tag Windi itu pun menatap rendah ke arah Alsya, "Kenalin, gue tunangannya Alaska."
Deg
Alsya sontak membulatkan matanya. Menelan saliva nya susah payah. Tu-tunangan Alaska?. Apakah cowok itu benar-benar sudah bertunangan. Lantas mengapa malam itu malah melamarnya.
"Gue enggak kenal Alaska", dengan berubah ekspresinya kembali normal seperti sedia kala. Matanya yang dingin bila berhadapan dengan orang. Sikapnya yang acuh tak acuh dalam menanggapi. Membuat lawan bicaranya terkadang kesal sendiri. Termasuk Diva.
"Halah bacot lo", Windi mengibaskan tangannya, "Asal lo tau, karena lo, Alaska rela batalin pertunangannya dengan gue. Cowok itu emang bener-bener bajing*n. Seminggu dia datang ke rumah gue terus tiba-tiba ngabarin kalau dia udah gak niat buat tunangan dengan gue. Tuh cowok pikir dia siapa?."
Apa?. Alsya tak pernah membayangkan kalau Alaska bisa bersikap seperti cowok berengsek begitu.
"Seneng lo di atas penderitaan gue?. Lo enggak tau gimana gue disiksa ortu karena gak mampu buat cowok kayak Alaska bertahan dengan gue. Lo enggak tau gimana sulitnya gue hidup di rumah gue sendiri. Makian dan pukulan, selalu gue dapatin. Dan itu semua karena lo, ******!."
******
Mendengar itu sontak saja Alsya memundurkan langkahnya. ******. Kata itu pertama kali ia dengar dari Arkan untuk Mama nya. Dan tetangga mereka yang dulu melihat kelakuan Mama nya juga sering menyebutkan itu saat mereka lewat.
Apakah sekarang Alsya mengikuti jejak Mama nya?. Menjadi seorang ja-******.
"Apa yang lo dapatin dari ngerebut tunangan orang. Apa yang..."
Lo dan nyokap lo bit*h.
Tiba-tiba saja Alsya mendengar suara Arkan waktu itu. Memenuhi gendang telinganya. Hingga membuatnya terasa seakan tuli.
Dirinya tidak lagi mendengarkan apa yang dibilang oleh Windi yang masih terus saja mengomel tak jelas di depannya.
Lo itu anak haram Alsya.
Anak haram.
Lo dan nyokap Lo bit*h.
Kalian udah ngambil kebahagiaan gue dan Bunda.
Lo itu anak haram Alsya
Lo dan nyokap
"Diam", Alsya berteriak panjang seraya menutupi kedua telinganya. Meluruhkan tubuhnya ke lantai ubin yang dingin.
"Diam, gue mohon diam", tanpa sadar air mata itu meluruh begitu saja. Membuat semua orang yang ada disana termasuk Windi langsung terkesiap.
Alsya menunduk seraya terisak. Menutup kedua telinganya erat-erat. Berusaha menghentikan suara Arkan yang terus mengatainya anak haram.
Apakah ia benar-benar anak haram?.
"Ja-jangan sebut itu, jangan", racau Alsya tak jelas. Tidak ada satupun orang yang berani mendekat.
Hingga suara pintu yang dipukul kuat terdengar keras. Mengalihkan semua tatapan ke arahnya.
"Syasya!", teriak Alaska seraya berlari ke arah Alsya yang duduk tak berdaya di lantai. Menarik gadisnya itu kedalam pelukannya yang hangat.
"Aska, d-dia bilang gue anak haram", Alsya mendongak. Memegang erat seragam Alaska seraya menatapnya takut.
"D-dia bilang-"
"Ssst, jangan dilanjutin", potong Alaska seraya mencium puncak kepala Alsya. Yang malah membuat Alsya semakin membenamkan wajahnya di dada bidang Alaska.
Lalu Alaska menyelipkan tangannya kebawah lipatan kaki serta belakang leher Alsya. Mendekap erat gadisnya itu tanpa menghiraukan orang-orang yang menatap ke arah mereka.
Alaska berjalan keluar membopong Alsya. Mencium berkali-kali puncak kepala yang bersandar nyaman di dadanya itu. Sudah lama kali Alaska tidak melihat Alsya. Dan itu membuatnya rindu bukan main.
"Nangis aja, kalau kamu mau nangis. Jangan ditahan, nanti nafasnya sesak", ujar Alaska pelan saat melihat Alsya yang berusaha menahan isakan tangisnya. Persis seperti dulu ketika cewek itu menangis karena tak dituruti kehendaknya.
"Aska, peluk gue tolong", Alsya mengeratkan pelukannya pada leher Alaska. Lalu cewek itu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher panjang dan putih tersebut.
Mendengar itu lantas dengan sigap Alaska memperkuat gendongannya. Supaya Alsya tak jatuh dan terluka untuk kesekian kalinya.
...~Rilansun🖤....
Maafkan daku yg mageran up ini🤧