
...__________________...
...Jangan pernah datang jika kehadiran mu hanya ingin menabur garam diatas luka ku......
...__________________...
...×××...
Jam istirahat pertama telah bergema di seantaro Galaksi. Anak-anak XI Mipa 1 menghela nafas lega setelah kurang lebih tiga jam berhadapan dengan soal-soal kimia yang diberikan guru berkepala plontos tersebut. Pak Ucok-guru berdarah batak yang sangat ditakuti oleh seluruh siswa-siswi Galaksi. Nada suaranya yang tegas, gaya bicaranya yang kasar, hukuman nya yang tidak bisa lagi diragukan membuat anak-anak Galaksi ketar ketir ketika berhadapan dengannya.
"Dasar batos. Ngasih ulangan mendadak, mana soalnya lima puluh lagi", gerutu Diva setelah keluar dari kelas dan berjalan berdampingan dengan Alsya menuju kantin.
Sebenarnya makhluk-makhluk astral Mipa 1, tidak lah terlalu bodoh dalam hal akademik mau pun non akademik. Tetapi satu hal yang merusak citra XI Mipa 1 yaitu kegaduhan dan keabsurd-an yang dimiliki oleh penghuni-penghuni nya. Kecuali Alsya tentunya. Ia masih terlalu waras untuk mengikuti tingkah laku makhluk-makhluk astral tersebut.
"Batos?", tanya Alsya bingung sembari mengernyit tipis.
Diva menolehkan kepalanya kearah Alsya, "Iya, batos. Bapak plontos", ujar Diva membuat Alsya menggelengkan kepalanya.
"Tapi lo jawab semua kan tadi?", tanya Alsya sekadar basa-basi. Jika tidak diladeni, cewek bersuara terompet sangkakala itu akan menangis dan berguling-guling dilantai koridor.
"Iya, tapikan fisik dan batin gue belum siap", Diva menjawab dengan nada yang dibuat sedemikian rupa membuat Alsya jengah dan memutar bola matanya.
Lalu Alsya tidak lagi menghiraukan ucapan un-faedah Diva yang masih mengoceh disampingnya. Cewek itu menyapu pandangan nya keseluruh penjuru kantin untuk mencari tempat duduknya dengan si cerewet Diva. Teman satu-satunya yang Alsya miliki. Sudah satu, cerewetnya minta ampun lagi. Dosa apa yang telah diperbuatnya di kelahiran sebelumnya, sampai-sampai kehidupannya MIRIS sekali.
"Sya gue pesen makanan, lo yang nyari tempat ya", ujar Diva yang dibalas anggukan singkat Alsya.
Sementara Diva berjalan kearah stand siomay Mbok Sri. Alsya berjalan menuju meja kosong yang ada dipojok kiri kantin. Sambil menunggu Diva datang, lantas Alsya membuka ponsel nya dan melihat pesannya yang belum dibalas sama sekali oleh Aruna dari pagi tadi sampai sekarang.
Namun di detik berikutnya bola mata berwarna hitam legam itu berbinar ketika melihat notifiskasi pesan dari Mama nya. Kemudian Alsya segera membukanya dengan hati yang sedikit senang. Setidaknya Aruna masih mengingat nya, bukan.
...My mom...
^^^Mama dimana? Kenapa nggak pulang?^^^
^^^06:35√^^^
Mama keluar kota, selama empat hari
09:46√
Alsya membelalakkan matanya kaget. Mengapa mendadak sekali.
^^^Keluar kota? empat hari?^^^
^^^09:47√^^^
Alsya menghela napas dan mematikan ponsel nya setelah melihat bahwa Mama nya itu tidak lagi online. Lalu Alsya menjatuhkan kepalanya ke lipatan tangannya diatas meja.
Apa di jidat gue ada tulisan hotelnya kali ya. Seneng banget dijadiin tempat singgah, batin Alsya.
"Eh Sya, lo kenapa?. Sakit?", tanya Diva sambil meletakkan dua porsi siomay, satu gelas es teh dan satu gelas coklat panas diatas mejanya dan Alsya.
Alsya yang mendengar itu pun langsung mengangkat kepalanya dan menatap Diva dengan datar.
"Enggak", jawab Alsya singkat membuat Diva memutar bola matanya.
"Terus lo kenapa?, habis putus cinta?", tanya Diva sekali lagi.
"Enggak ada apa-apa", sahut Alsya seraya mengambil sepiring siomay dan coklat panas kesukaannya.
"Sya, kalau lo mau cerita apa pun itu. Gue siap jadi pendengar yang baik. Kita ini teman, ya walau pun lo enggak anggep gue temen sih. Tapi gue anggep lo tu udah kayak sahabat gue. Jadi jangan sungkan untuk berbagi beban lo ke gue", ujar Diva serius sambil menggenggam tangan Alsya dengan lembut dan senyuman manis yang terpatri diwajahnya.
Alsya tertegun mendengar kalimat demi kalimat yang dilontarkan oleh Diva. Sepertinya cuma Diva yang peduli dengannya. Tetapi, bisakah ia berbagi cerita dengan Diva?, bisakah Diva menjaga setiap rahasianya?, bisakah ia mempercayai Diva?.
Begitu banyak pertanyaan didalam benaknya kini. Tapi tidak bisa dipungkiri hati Alsya sedikit menghangat melihat ketulusan Diva. Walau dirinya tidak pernah menganggap Diva dengan serius sebagai teman.
Bukannya Alsya tidak ingin menganggap pertemanannya dengan Diva. Hanya saja Alsya terlalu takut untuk bergaul. Mengingat sekarang banyak sekali yang namanya Fake friend. Alsya hanya tidak ingin menambah beban hidupnya. Itu saja.
"Hmm", gumam Alsya menyahuti ucapan Diva barusan.
"Yeeee ni anak. Lo enggak punya kalimat yang sedikit panjang apa?", ujar Diva dan melepaskan genggamannya.
"Sya lo tau enggak?, ta-"
"Enggak."
"Ish, dengerin dulu. Suka banget motong ucapan orang. Hobi lo ya!"
"Hmm."
"Ck, ngeselin. Lo mau tau enggak hot news tadi pagi?."
"Hmm."
Diva menghela napas lelah. Tidak adakah respon selain hm?.
Tetapi Diva memaklumi itu. Iya mengerti kalau itulah watak Alsya, dingin dan tak tersentuh. berbeda dengan dirinya, yang sedikit heboh.
"Lo tau tadi pagi Galaksi dihebohkan oleh Arkan", ujar Diva dengan antusias memulai ceritanya.
"Arkan?."
"Iya, Arkan. Arkan anak kelas kita."
"Kenapa?."
"Tadi pagi Arkan nembak Astrid Latira Kusuma", Diva tersenyum sendiri mengingat adegan tadi pagi yang dilihatnya.
"IPS 3?", celetuk Alsya menanyakan tentang Astrid.
"Iya si nenek lampir. Tapi mereka itu cocok kok. play ketemu play. Dan lo tau, si Arkan nembaknya so sweet banget. Sampai-sampai guru pun nonton. Seluruh dari warga Galaksi mungkin berkumpul semua di lapangan belakang sekolah", tambahnya melebih-lebihkan.
Pantas sepi. Ternyata nonton si playboy cap kadal nyatakan perasaannya terhadap playgirl cap capung.
Arkan Drilly P. Siswa Galaksi yang terkenal dengan ketampanan dan kepintaran nya. Membuatnya banyak digilai kaum hawa. Dan satu lagi fakta tentang dirinya. PLAYBOY.
Entah berapa banyak cewek yang sudah masuk kedalam pesona seorang Arkan. Sungguh kasihan menjadi Astrid. Entah menjadi urutan keberapa dirinya di dalam list playboy cap kadal tersebut. Benar yang diucapkan Diva. Playboy ketemu Playgirl jadinya Playstore.
"Tapi lo tadi kok bisa datang telat?, biasanya kan lo yang paling cepat. Mungkin ayam tetangga gue aja belum berkokok tapi lo udah ada aja disekolah", tanya Diva sambil mengunyah makanan nya.
"Kesiangan", jawab Alsya singkat dan membuka ponselnya setelah menghabiskan siomay nya disaat Diva bercerita mengenai kehebohan yang dibuat oleh Arkan.
Alsya yang sedari tadi menundukkan kepalanya terkejut ketika sesuatu yang berwarna merah menjatuhi layar ponsel nya. Lalu Alsya melirik kearah Diva yang sedang sibuk dengan makanan nya. Dengan gerakan cepat Alsya langsung menyambar tissue yang ada diatas meja. Kemudian cewek itu berdiri dari duduknya dengan hidung yang ditutupi tissue.
"Nih duitnya", Alsya menyodorkan uang lima puluh ribu rupiah kearah Diva dan segera melangkah menuju toilet.
Diva memandang punggung rapuh sahabatnya tersebut. Merasa teringat sesuatu, Diva lantas segera merogoh ponsel yang ada disaku seragamnya dan menghubungi seseorang.
"Dia ketoilet, kayaknya kambuh", ujarnya kepada seseorang yang ada diseberang.
"............ "
"Hmm, iya."
Klik. Sambungan terputus. Kemudian Diva beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah stand siomay Mbok Sri untuk membayar makanan nya dan Alsya. Setelah membayar, Diva segera pergi meninggalkan kantin dan berjalan kearah kelasnya. Tentunya dengan wajah yang ceria dan nyanyian yang memekakkan telinga sepanjang jalan. Begitu percaya dirinya cewek itu.
...×××...
Alsya masuk kedalam toilet yang berada diujung koridor kelasnya. Ia bersyukur karena saat ini toilet dalam keadaan sepi. Sehingga Alsya bisa leluasa melakukan apa pun.
Lalu Alsya membuka tissue yang sedari tadi menutupi hidung mancungnya itu. Alsya membersihkan noda yang berwarna merah tersebut dengan air dan mengeringkannya berkali-kali dengan menggunakan tissue yang berasal dari sakunya. Ia selalu membawanya untuk suasana genting seperti ini.
"Untung enggak ada yang lihat tadi."
Alsya menghela nafasnya, "Alsya capek pa", gumamnya sambil memandang pantulan dirinya di cermin yang ada di depannya.
Alsya segera menepis segala pikiran-pikiran yang ada didalam otaknya saat ini. Cewek itu kembali membasuh wajahnya untuk menghilangkan kabut yang menutupi mata. Lalu memoleskan sedikit bedak diwajah pucat nya.
Setelah merasa puas dengan penampilannya. Lantas Alsya segera keluar dari toilet. Mengingat sebentar lagi bel masuk akan berbunyi.
Alsya berjalan ke kelasnya dengan pandangan yang lurus, wajah yang datar dan tatapan tajam yang dimilikinya. Biarlah orang menganggap nya sombong, ia tidak perduli. Karena mereka hanya bisa melihat apa yang ditampak oleh mata tanpa tau hati yang tergores disana.
...Sombong banget mbaknya...
...Sok angkuh njirr...
...Mukanya serem banget...
...Itu pisau apa mata. Tajam amat buk...
...Kak Alsya cantik ya...
...Iya, kayak bidadari....
Alsya mendengar sayup-sayup omongan-omongan mengenai dirinya. Tapi sekali lagi ALSYA TIDAK PEDULI.
Alsya sebenarnya tidak suka menjadi bahan gunjingan orang-orang, tapi mau bagaimana lagi mulut orang tidak bisa kita tutup seperti kita menutup dengan mudah mulut botol. Cukup diam dan dengarkan.
Kemudian Alsya memasuki kelasnya dengan kepala yang tertunduk. Bukan karena Alsya takut, hanya saja ia tidak ingin melihat wajah-wajah makhluk-makhluk astral tersebut.
Setelah merasa sampai ditempat duduknya, lantas Alsya segera duduk di kursinya. Ia tidak melihat Diva. Dimana anak itu, batinnya. Tapi sudahlah, mungkin dia ada keperluan yang lain.
Alsya ingin mengambil buku novel yang ada dibawah laci mejanya. Namun kegiatan nya itu terhenti ketika tangan nya mengambil sebatang cokelat dari bawah laci meja. Tunggu dulu. cokelat? punya siapa?, tapi mengapa cokelat ini selalu ada disaat ia mimisan.
Alsya mengedarkan pandangannya kepenjuru kelas. Tidak ada yang aneh. Lalu dari siapa. penggemarnya?, Alsya rasa cokelat dari penggemar nya pasti sudah diamankan oleh Diva tadi pagi. Alsya memang termasuk salah satu jajaran Most wanted girl di sekolahnya. Jadi tidak perlu heran jika banyak yang mengaguminya.
Tidak ingin memusingkan hal itu. Lantas Alsya segera menyimpan sebatang cokelat tersebut dibawah laci meja Diva. Biar Diva saja yang menghabisinya. Seperti biasa.
Tanpa Alsya sadari ada seseorang yang tersenyum didepan pintu kelasnya sambil menatap lekat dirinya, "Lo baik, emang pantes kalau lo dapet yang terbaik Sya."
Alsya mengambil kembali novelnya dan mulai membacanya. Selang beberapa menit Alsya dikejutkan dengan suara terompet sangkakala seperti yang sudah-sudah. Alsya menghela napas lelah. Memilih menghiraukan suara Diva yang merusak gendang telinganya. Alsya kembali fokus membaca novelnya.
"Alsyaaaa..... lo kok udah ada disini. Gue nyariin lo tadi ke toilet", lagi-lagi Alsya tidak menghiraukan Diva yang sedang berkacak pinggang dihadapan nya.
"Ishh... Alsya budeg. Lo deng-"
"Berisik", ketus Alsya sambil menyimpan kembali novelnya dibawah laci meja.
Diva mencibirkan bibirnya sambil memandang Alsya kesal, "Lo tau, gue capek nyariin lo ke toi-"
"Enggak ada yang nyuruh lo nyusul gue", potong Alsya santai.
"Ck, iya. Gue tau, ta-"
"Udah tau kan, jadi diam."
"Nyebelin", gerutu Diva dan duduk di kursinya, disamping Alsya.
Diva merogoh laci dalam mejanya. Ia mengernyitkan dahinya ketika tangannya memegang sesuatu. Lalu cewek itu mengambilnya dan meletakkannya diatas meja.
"Punya lo?", tanya Diva kepada Alsya.
"Untuk lo", jawab Alsya.
Dengan mata yang berbinar Diva membuka pembungkus cokelat tersebut, "Lo emang baik ya Sya. Tau aja kalau gue suka cokelat.
Sampai dibe-"
"Gue dapat", ujar Alsya memotong ucapan Diva.
"Haaa..., lo dapet?. Berarti ini untuk lo. Enggak baik nolak pemberian orang", tolak Diva sambil memberikan cokelat itu kearah Alsya membuatnya mengernyitkan dahinya.
"Tumben, biasanya lo yang ngabisin semua cokelat gue", balas Alsya sambil kembali menyodorkan cokelat tersebut kearah Diva.
"Ck, iya. Tapi kali ini gue mau lo yang makan" melihat Alsya yang ingin melayangkan protes-an membuat Diva langsung menyumpal mulut Alsya dengan cokelat yang sudah dipotongnya menjadi bagian yang lebih kecil.
"Dimakan ya Alsya. Nih gue kasih semuanya ke lo. Dihabisin, awas enggak lo habisin. Gue gorok baru tau", sarkas Diva dengan sebelah tangan yang melintang ke leher.
Alsya yang melihat itu bukannya takut, justru ia mengernyitkan dahinya bingung melihat tingkah aneh Diva hari ini.
Cewek itu lebih sedikit pemaksa.
Tetapi detik berikutnya Alsya hanya bisa menghela nafas.
Lalu Alsya segera memasukkan cokelat tersebut kedalam tas nya dan kembali duduk dengan baik setelah melihat Buk Ika selaku guru Biologinya Galaksi memasuki kelas.
...×××...
..."Bumi bisakah aku mempercayai dirinya untuk membagi bebanku?, bisakah dia menjaga rapat bebanku?, dapatkah dia untuk aku percayai?. Sungguh aku takut bumi, aku takut luka ku bertambah lebar, beban ku bertambah berat dan hidupku bertambah rumit.This is enough to me. Aku tak ingin menambah dan ditambah. Sungguh ini sudah lebih dari cukup"....
...~Rilansun🖤....
Diva Putri Raikan