
...___________________...
...Kamu itu kekuatan, maka nya aku lemah saat kamu memutuskan untuk menyerah.......
...__________________...
...×××...
"Kamu itu murid teladan. Seharusnya kamu bisa memberi contoh kepada anak-anak lainnya."
Alsya menghela nafasnya. Dari pertama ia masuk sampai saat ini, telinganya selalu mendengar kalimat itu berulang-ulang. Jika telinganya bisa berbicara, mungkin mereka akan berkata 'aku lelah'.
Inilah alasan mengapa Alsya tidak suka mencari masalah. Ia terlalu sibuk untuk masuk ke ruangan seperti ini. Benar dugaannya, jika perkelahiannya dengan monyet betinanya Arkan itu telah sampai kepenjuru sekolah.
Menggemparkan guru-guru yang tak menyangka dengan perilakunya. Alsya mengaku jika ia bersalah, tapi bukan dirinya yang memulai kan?. Catat, ia hanya menyelesaikan apa yang dimulai oleh Astrid terlebih dulu. Seharusnya Alsya berada berdua disini dengan Astrid sekarang. Tapi sayang, gadis yang duduk di kelas dua belas itu telah pindah sekolah sejak kemarin. Dan berakhir dengan dirinya yang duduk diam sendirian di dalam ruang BK sambil mendengarkan ceramah berulang-ulang yang dibawakan oleh Bu Ernita selaku guru kesiswaan.
"Ibuk menyayangkan ini terjadi sama kamu", ujar guru tersebut dengan lesu, membuat Alsya terenyuh dan mengangkat kepalanya yang sedari tertunduk.
"Maafkan saya buk", sahut Alsya datar tapi sarat dengan penyesalan.
Bu Ernita tersenyum. Ia yakin jika siswinya itu tidak mungkin berbuat hal yang dapat memalukan sekolah. Perihal perkelahian yang kemarin ia juga yakin jika bukan Alsya yang memulainya. Mengingat siapa lawan Alsya.
Astrid Latira Kusuma.
Seorang gadis yang cukup amburadul sehingga membuatnya terkenal dikalangan guru-guru karena perilakunya. Sedangkan Alsya yang tak pernah sama sekali masuk kedalam ruang BK ditambah dengan sifat dingin dan tertutupnya, membuatnya mustahil untuk menciptakan suatu masalah. Berbicara saja gadis itu enggan apa lagi membuat suatu keributan.
"Ibuk yakin, kalau kamu gak salah."
"Tapi saya bersalah buk", timpal Alsya cepat, "Saya udah menjambak rambut Astrid dan mempermalukan nya di depan umum. Kesalahan saya fatal", tambahnya.
"Memang fatal", Alsya memandang kearah Bu Ernita sambil menganggukkan kepalanya. Mengiyakan apa yang diucapkan gurunya tersebut.
"Setiap manusia itu pernah melakukan suatu kesalahan. Tapi tidak menutupi jika mereka juga bisa memiliki kebaikan. Satu kesalahan itu tidak mungkin bisa menutupi seribu kebaikan. Bukankah preman bisa menjadi seorang ustadz, jika ia benar-benar ingin bertobat. Begitu juga dengan kamu. Kamu mau mengakui kesalahan aja itu udah cukup bagi Ibuk", ujar Bu Ernita panjang lebar.
Alsya menganggukan kepalanya, "Tapi saya tetap bersalah buk. Bukankah ada pribahasa yang mengatakan, karena nila setitik rusak susu sebelanga. Tidak berarti saya tidak bisa berubah karena perkelahian kemarin. Sebagai manusia kita tidak bisa berada di fase yang sama. Benarkan buk?", ujar Alsya membuat guru paruh baya tersebut tersenyum lebar.
"Benar, kamu benar. Tapi ibuk gak berharap jika kamu berubah menjadi yang lebih buruk karena kejadian kemarin", sahut Bu Ernita.
Alsya tersenyum tipis menanggapi ucapan gurunya, "Saya boleh pamit buk?", tanyanya sopan.
"Oh, boleh-boleh. Silahkan, tapi ibu harap ini yang menjadi terakhir kalinya kamu masuk keruangan Ibuk, bisa janji?", Bu Ernita menunjukkan jari kelingkingnya yang dibalas oleh Alsya dengan anggukan ragu.
Lantas Bu Ernita menurunkan jarinya canggung, karena Alsya hanya merespon dengan sebuah anggukan, "Kamu memang tak tersentuh", gumamnya takjub.
Alsya tersenyum canggung. Bukannya ia tak ingin membalas tautan jari gurunya itu, tapi ia hanya merasa sungkan untuk melakukannya, "Maaf buk, kalau gitu Alsya pamit", cewek itu meraih tangan Bu Ernita dan menciumnya sebelum berjalan mendekat kearah pintu.
Baru saja Alsya ingin membuka knop pintu, seseorang dari luar lebih dulu membukanya. Sehingga kening mulus Alsya menyatu dengan pintu membuatnya meringis sambil memegangi keningnya yang sakit. Dalam hati tak ada habis-habisnya ia mengumpati orang yang berada dibalik pintu tersebut. Jika saja tidak ada Bu Ernita di dalam ruangan itu, bisa di pastikan jika orang tersebut sudah mendapatkan amukan darinya.
Melihat pintu yang ingin terbuka. Alsya sedikit menggeser posisinya kesamping. Ingin melihat siapa orang gila itu. Dan Alsya akan langsung memberikannya pelototan tajam andalannya.
Setelah pintu terbuka, bukan hanya matanya yang melebar tapi mulutnya juga ikut serta. Ia terkejut dengan sosok tersebut.
Didetik berikutnya, Alsya sadar dari keterkejutannya lalu ia memandang cowok itu dengan berapi-api, "Elo?", tunjuknya dengan jari telunjuk yang tepat mengarah kedepan wajah cowok tersebut.
"Kenapa?", balas cowok tersebut dengan dingin.
Ketika Alsya ingin menyahuti kembali ucapan cowok itu. Bu Ernita lebih dulu menyelanya, "Eh, kamu yang anak baru itu ya?", tanya wanita paruh baya itu yang dibalas anggukan singkat dari cowok bertampang datar tersebut.
"Mari-mari masuk", tambahnya dan membawa anak baru itu untuk duduk disofa yang tadi Alsya duduki.
Sementara Alsya yang sedang menatap punggung cowok tersebut langsung tersentak ketika Bu Ernita menatapnya, "Alsya kamu masuk kelas, jam pelajaran udah mau dimulai", Alsya sontak menganggukan kepalanya dan memandang sengit kearah laki-laki yang tersenyum kearahnya. Entah tersenyum, atau mengejek dirinya. Alsya tidak peduli.
Kemudian Alsya keluar dari ruangan BK dengan terus mengumpati cowok tersebut dalam hati.
Cowok itu, cowok yang tadi malam mengantar ibunya kerumah dan cowok itu juga, cowok yang wajahnya mirip dengan....., Ah sudahlah. Mengungkit masa lalu hanya akan membuat hatinya sakit.
Sekarang Alsya hanya perlu berdoa jika cowok tadi tidak masuk kedalam kelasnya. Semoga saja Tuhan mengabulkan doanya. Berdekatan dengannya saja membuat darah Alsya mendidih, apalagi jika mereka berdua sekelas. Alsya tak bisa membayangkan jika ia bisa mendadak stroke karna keberadaan cowok tersebut.
Lalu Alsya masuk kedalam kelasnya dan melihat siswi-siswi kelasnya yang sedang menggosip ria dibangku paling depan.
"Eh Lo tau enggak kalau ada anak baru?."
"Tau-tau"
"Siapa sih emangnya?."
"Yee lo kudet. Nih ya anak barunya itu cogan. Mana muka nya kayak bule lagi njir. Gue doain semoga dia masuk kedalam kelas kita dan duduknya sama gue."
"Sama gue lah, kan gue yang paling cantik."
Alsya memutar bola matanya malas ketika telinganya mendengar perbincangan murid perempuan kelasnya yang sangat tidak bermutu.
Pagi-pagi sudah bergosip, memang benar-benar calon ibu-ibu rempong yang bergosip ria didepan tukang sayur. Tapi tunggu dulu. Apa katanya tadi, anak baru?. Berarti cowok nyebelin itu. Ganteng katanya?, dari segi mana nya coba. Lebih gantengan Arkan lah kemana-mana, eh.
Alsya mengernyitkan dahinya ketika bangku disebelahnya masih kosong?. Kemana kawan sangkakalanya itu?. Bel sudah hampir berbunyi dan tidak mungkin jika Diva belum datang.
Lalu Alsya mengalihkan atensinya kedepan kelas ketika melihat Bu Umi selaku guru agamanya masuk kedalam kelas sambil mengucapkan salam.
"Assalamuallaikum."
"Waalaikumussallam", jawab anak kelas MIPA 1 dengan serempak.
Bu Umi berdiri ditengah-tengah kelas, "Sebelum kita masuk kedalam materi. Ibuk mau memberi kalian satu cerita yang mungkin bisa menginsipirasi kalian yang mendengarkannya", ujarnya yang seolah menyindir anak didiknya yang sudah mengantuk sebelum ia bercerita.
Alsya yang melihat teman-teman kelasnya yang seakan malas dengan keberadaan guru agama itu, hanya bisa mendengus kasar. Coba saja jika Pak Kevin yang masuk, pasti mata teman-teman perempuannya itu membelalak seketika. Tapi lihatlah sekarang, seperti ayam yang ingin dipotong besok. Begitu juga dengan yang laki-laki.
"Cerita ini, lebih khususnya untuk kaum hawa. Jadi yang merasa dirinya kaum hawa tolong di dengarkan dengan baik-baik", sindir guru tersebut dengan halus.
"Jadi buk yang kaum Adam boleh tidur dong?", terdengar celetuk seseorang yang berasal dari belakang, sontak membuat semua pasang mata menoleh kearah Farel yang sudah mengacungkan jarinya.
"Boleh, kalau kamu rela nama kamu saya masukkan kesini", Bu Umi mengangkat buku catatan bersampul merah yang dimana isinya semua daftar nama anak-anak bandel Galaksi, "Maka saya izinkan kamu tidur", lanjutnya, membuat mata-mata yang tadinya lima watt kini terbuka lebar, selebar-lebarnya.
Anak-anak MIPA 1 memang terkenal dengan kegaduhan yang sering mereka buat. Tapi untuk masalah masuk keruang BK mereka paling anti. Biarlah diam untuk sesaat asal tidak masuk kedalam ruangan keramat yang ada di Galaksi itu.
Dan sepertinya pemecah rekor yang pernah masuk kedalam ruang BK, baru dipegang oleh Alsya. Karena selama sejarah mereka mengenyam bangku SMA di Galaksi. Nama-nama anak MIPA 1 bersih dari yang namanya buku catatan merah tersebut. Arkan sekalipun.
Bu umi menggelengkan kepalanya melihat murid-muridnya yang memaksakan matanya untuk terbuka. Lihatlah, ada yang memakai jari telunjuknya untuk tetap menyanggah matanya yang hampir tertutup. Ada pula yang menunduk tetapi kepalanya mengangguk-angguk, seperti mengerti cerita yang ingin disampaikan. Sedangkan Alsya, gadis itu lebih memilih mencoret-coret halaman bagian belakang bukunya dengan asal.
"Baiklah dengarkan cerita yang ingin ibuk sampaikan ini dengan baik-baik. Cerita ini bercerita tentang seorang wanita yang sama sekali tak ingin dilihat dan disentuh oleh laki-laki mana pun. Bahkan anak kecil sekalipun, selagi itu masih berjenis kelamin laki-laki ia sama sekali tak ingin menemuinya, ba-"
"Berarti dia lesbi ya buk?", tanya Nadia tiba-tiba. Salah satu siswi berkacamata yang duduk dibarisan paling depan.
"Bukan lesbi. Tapi dia hanya menjaga apa yang seharusnya dia jaga", jawab guru agama tersebut sambil tersenyum. Entah kebetulan atau tidak, mengapa semua guru agama itu rata-rata memiliki wajah yang mendamaikan bila dipandang.
Belum sempat Bu Umi melanjutkan ceritanya, ketukan di pintu menginterupsi. Membuat semua pasang mata sontak langsung menoleh kearah pintu yang sudah terbuka, kecuali Alsya tentunya.
"Oke anak-anak!, harap tenang", suara Bu umi terdengar menginterupsi murid-murid yang berteriak.
"Silahkan perkenalkan diri kamu", ujar Bu Umi membuat Alsya menambah kerutan di dahinya. Perkenalan?, perasaan ini bukan tahun ajaran baru.
"Perkenalkan nama saya Alaska Delvin Altezza, saya pindahan dari Aussie", terdengar suara bariton yang terkesan datar dan dingin, tapi mengapa malah membuat pekikan-pekikan yang tadinya sudah mereda malah kembali berkobar.
Merasa penasaran dan mengenali suara itu Alsya mendongakkan kepalanya. Matanya terbelalak setelah melihat siapa sosok jangkung yang berdiri disamping guru agama tersebut.
Mengapa Tuhan tidak mengabulkan doanya. Mengapa laki-laki tersebut harus masuk kedalam kelasnya. Ia rasa di Galaksi masih cukup banyak gudang yang kosong. Mengapa laki-laki yang tersenyum kearahnya itu tidak dimasukkan saja kedalam gudang, biar belajar bersama geng nya Miss K.
Pekikan-pekikan histeris menyadarkan Alsya dari lamunannya. Cewek itu lalu kembali menundukkan kepalanya sambil mencoret-coret halaman bagian belakang bukunya.
Semoga aja duduknya gak dekat gue, males banget.
"Apa ada yang ingin ditanyakan?", tanya Bu Umi kepada murid-muridnya.
"Saya Buk!", sahut salah satu murid, yang dipastikan itu adalah perempuan, karna dari pertama Alaska masuk ke dalam kelas, semua siswa laki-laki langsung molor seketika.
"Ya Clarissa", Alsya merotasikan bola matanya ketika mendengar nama itu disebut. Jika gadis centil itu yang bertanya sudah dipastikan pertanyaannya akan melenceng dari yang seharusnya.
"Eum, Alaska udah punya pacar belum?", Alsya pastikan jika gadis itu bertanya sambil memainkan ujung rambutnya.
"Belum", jawab Alaska singkat.
"Belum?. Wow, berarti bisa-",
"Alaska kamu bisa duduk disamping Alsya", sela Bu Umi ketika merasakan pertanyaan tersebut akan merambat menjadi pernyataan bila tidak dihentikan.
Alsya yang mendengar namanya disebut, langsung mendongakkan kepalanya, "Clarissa ada buk", ujar Alsya membuat Bu umi mengerutkan keningnya.
"Clarissa memang ada, terus kamu mau apa?", tanya Bu Umi tak paham akan maksud ucapan singkat Alsya.
Alsya menghela nafasnya, "Maksud saya dia duduk di samping Clarissa aja", jelasnya.
"Enggak, gue gak mau pindah", protes Alwi. Teman sebangku Clarissa, yang diketahui sudah menyukai Clarissa sejak lama.
"Alwi sudah lebih dulu duduk dengan Clarissa. Lagipula Diva kan gak datang, jadi Alaska duduk sama kamu saja", ultimatum Bu Umi.
"Terus Diva?", tanya Alsya lagi. Bagaimana pun laki-laki tersebut tidak boleh duduk dengan dirinya, apa pun itu akan ia lakukan.
"Diva bisa duduk sama Arkan", Alsya menoleh kearah bangku belakang yang ditunjuk oleh Bu umi. Mengapa ia baru sadar jika Arkan juga tidak datang. Apakah cowok itu terlambat lagi?, kali ini apa alasannya.
"Tapi Buk-"
"Sudah. Alaska kamu bisa duduk sekarang dengan Alsya", titah Bu Umi yang dibalas anggukan.
Alsya bisa melihat Clarissa yang memarahi Alwi karena tidak mau pindah tempat duduk. Kasihan jadi Alwi. Padahal bagi Alsya Alwi itu cukup tampan untuk laki-laki seukurannya. Tapi mungkin karena Alwi yang terlalu pasif, Clarissa tidak menyukainya. Dasar gadis agresif.
Alsya terus mengumpat dalam hati untuk cowok yang sedang berjalan kearahnya itu.
Jatuh, semoga jatuh habis itu koma, terus mati, harap Arinta dalam hati.
Sudah dua kali doanya tidak terkabul dan ini yang ketiga kalinya. Sepertinya Tuhan sedang tidak berpihak kepadanya saat ini, lihatlah bagaimana laki-laki tersebut duduk di bangku sampingnya dengan tangan yang terulur kearahnya.
Alsya tak menghiraukannya. Ia malah memandang sengit kearah cowok itu sebelum kembali menunduk.
Alaska yang melihat uluran tangannya tak terbalas, lantas menurunkan tangannya, "Kenalin nama gue Alaska", ujarnya sambil terus menatap wajah gadis yang masih setia menunduk sambil mencoret abstrak bukunya.
"Udah tau", sahut Alsya singkat.
"Emm, lo kayaknya keberatan gue duduk disini."
"Itu tau", sarkas Alsya membuat Alaska tersenyum samar.
"Nama lo-",
"Berisik!", ketus Alsya sambil mendongakkan kepalanya dan membanting pena nya keatas meja. Sehingga menimbulkan suara yang sedikit nyaring.
"Kenapa Alsya?", tanya Bu Umi yang harus berhenti bercerita ketika mendengar keributan dari arah belakang.
"Buk!, perempuan sama laki-laki yang bukan muhrimnya itu haram untuk berbicarakan,Buk?', tanya Alsya tiba-tiba yang membuat satu kelas tercengang. Karena baru kali ini mereka mendengar Alsya mengucapkan kalimat sepanjang itu.
"Enggak haram, tapi harus tau batasan", jawab Bu Umi.
Lalu Alsya memandang kearah Alaska yang menaikkan sebelah alisnya, "Tuh denger!, tau batasan", ujar Alsya pelan. Agar guru agama yang sedang berbicara di depan itu kelas tidak terganggu akan pembicaraannya dengan calon makhluk astral tersebut.
"Ya udah hapus aja batasannya", balas Alaska enteng, dengan satu sudut bibir yang terangkat.
"Haram!", ketus Alsya dan kembali menunduk.
"Yaudah dihalalin kalau gitu."
"Haram!", sahut Alsya tanpa mendongak
"Kalau nikah halal", balas Alaska membuat Alsya mendongak dan melotot kearah cowok yang sedang tersenyum kepadanya.
"Haram hukumnya kalau gue sampai nikah sama lo", sarkas Alsya dengan mata yang masih melotot.
"Yang sipit itu udah terima aja. Enggak usah pakai acara dibesar-besarin, nanti matanya sakit", mendengar ucapan Alaska yang menghina matanya. Alsya kontan menajamkan pelototannya dengan hidung kembang kempis.
Alaska terkekeh pelan melihat ekspresi menggemaskan Alsya. Tanpa sadar tangannya sudah mengacak puncak kepala gadis bermanik hitam tersebut, "Gemasin!" ujarnya.
Alsya yang mendapat perlakuan seperti itu mematung sebentar, lalu ia segera menepis tangan Alaska yang masih setia bertengger di atas kepalanya.
"Haram!", peringat Alsya.
"Itu terus. Kode minta dihalalin?", Alaska mengedipkan sebelah matanya membuat Alsya bergidik ngeri. Alaska pun tak mengerti dengan dirinya sendiri. Cinta itu memang buta.
Alsya tak menghiraukannya, ia kembali menunduk. Sudah ia bilang bukan jika laki-laki tersebut dapat membuatnya darah tinggi seketika. Lebih parahnya Alsya bisa stroke kalau lama-lama berdekatan dengan calon makhluk astral itu.
Kamu benar-benar telah melupakannya. Jangan pernah menyerah Sya, nanti aku lemah.
Alaska tersenyum tipis menatap gadis yang wajahnya sudah memerah itu. Bukan tersipu malu, melainkan sedang menahan amarah.
...×××...
..."Kenapa harus dia yang datang disaat hati ingin menjerit. Kenapa dia harus pergi disaat lara ingin mengadu. Mengapa wajahnya mirip?, jangan membuatku kembali berharap akan kehadirannya."...
...~Rilansun🖤....
Alaska Delvin Altezza