
...___________________...
...Kehidupan itu seperti layaknya pelajaran matematika. Kau tidak akan menemukan jawaban nya, jika kau mengeluh dengan keadaan nya......
...___________________...
...×××...
"Aloha Alsya", sapa orang itu kembali dengan tangan yang mengibas-ngibas di depan wajah Alsya. Membuat cewek itu berhenti merutuki dirinya sendiri.
"Hm", respon Alsya cuek.
Kemudian orang tersebut mendudukkan dirinya di kursi yang berhadapan langsung dengan Alsya sambil bertanya, "Lo ngapain disini?, enggak pulang?."
"Menurut lo?", balas Alsya dengan ketus.
Lantas cowok tersebut menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bingung bagaimana caranya berhadapan dengan cewek dingin plus jutek seperti Alsya ini. Tipikal cewek-cewek yang susah buat dideketin. Sementara dirinya sudah terbiasa dengan cewek yang sekali kedip langsung jadian.
"Wish, santai dong mbaknya. Gue enggak ngapa-ngapain lo kok. Lo kenal gue kan ya?", ujarnya sambil menyugar rambut kebelakang dengan narsisnya. Alsya yang melihat itu pun serasa ingin muntah seketika.
"Hm. Mana mungkin gue enggak kenal dengan playboy nya Galaksi", sarkas Alsya sinis. Arkan itu bodoh atau apa. Walaupun Alsya cuek dengan sekitarnya, tapi tidak mungkin dia tak mengenal teman sekelasnya sendiri.
"Siapa bilang gue playboy?, enggak kok. Gue enggak playboy, cuma terlalu laku aja", sahut Arkan tak terima dengan ucapan Alsya.
Lalu Alsya tidak lagi menghiraukan setiap ucapan yang dilontarkan makhluk astral di depannya itu.
Alsya mencoba mengambil ponsel nya didalam tas. Namun di detik berikutnya, Alsya langsung menepuk dahinya. Alsya lupa jika tas nya ia tinggalkan di dalam mobil.
Tanpa pikir panjang Alsya langsung mengeluarkan selembar uang seratus ribu dari saku rok nya dan meletakkannya diatas meja.
Alsya bangkit dari duduknya dan berdiri sebentar, "Gue bukan cewek bodoh kayak pacar lo yang mau aja dikadalin sama playboy macam elo. Enggak playboy?, that bullshit", ujar Alsya dengan senyum miring tercetak di wajah cantiknya.
Lalu Alsya segera bergegas keluar dari kafe tersebut tanpa memperdulikan lagi hujan yang masih enggan untuk berhenti walau sejenak. Ia sudah memutuskan untuk menerobos hujan dengan berbekal hoodie abu-abu yang membalut seragam batik sekolahnya. Alsya tak lagi memusingkan dengan resiko yang ia dapat setelah ini.
Gue enggak peduli, mau sakit kek, lenyap sekali pun enggak apa-apa, batin Alsya.
Sementara itu, Arkan yang ditinggal Alsya setelah memberikan siraman rohani hanya memasang wajah cengonya dengan pandangan tak luput dari cewek tersebut. Di detik berikutnya wajah yang tadinya diliputi kebingungan kini menampilkan senyuman yang penuh arti. Hanya Arkan dan Tuhan yang tahu.
Alsya memasuki mobil abu-abu kesayangan nya dengan tubuh yang hampir basah kuyup karena air hujan.
Kemudian Alsya mendudukkan dirinya dibelakang kemudi. Meraih tas nya yang terletak di jok belakang dan mengeluarkan handuk kecil berwarna hitam dari sana.
Alsya mengeringkan wajahnya dengan handuk tersebut dan membuka hoodie yang masih terbalut ditubuhnya. Lagi-lagi Alsya merutuki dirinya yang tidak membawa pakaian ganti satu pun. Biasa nya Alsya selalu membawa baju ganti di dalam tas nya. Tapi kali ini tidak, sebab dirinya yang bangun kesiangan tadi pagi dan mengakibatkan ia lupa membawa baju ganti.
Semoga aja dirinya sanggup sampai rumah.
Seseorang yang masih setia dengan posisinya memandangi mobil Alsya yang telah melesat pergi meninggalkan pekarangan kafe tersebut , menyeringai dengan tangan yang bersidekap di dada sambil menyandarkan tubuhnya disandaran kursi, "Mari kita mulai adik kecil", gumam nya pelan.
...×××...
Alsya membelah jalanan ibu kota yang licin dengan kecepatan diatas rata-rata. Ia tidak takut jika ia mengalami sesuatu karena jalanan yang licin. Justru Alsya berharap sesuatu itu terjadi.
Alsya memukul setirnya ketika ia sampai di rumah dengan selamat. Kenapa tidak terjadi sesuatu yang ia harapkan tadi. Jadi Alsya tidak perlu lagi repot-repot merasakan sakit yang telah menjalar keseluruh tubuhnya saat ini.
Alsya memasuki rumah dengan jalan yang sempoyongan. Hal yang pertama dilihatnya ketika ia memasuki rumah adalah wanita paruh baya yang membaca ayat suci al-qur'an di atas sofa ruang tamu.
Alsya mendekati sosok tersebut yang ia yakini membaca ayat qur'an demi keselematan nya untuk sampai di rumah.
Bi Imah memang sudah terbiasa melakukan itu, kalau Alsya tidak ada dirumah dan tidak diketahui keberadaanya. Menurut Alsya sendiri itu terlalu berlebihan, tapi tidak bisa dipungkiri ia juga bersyukur karena memiliki Bi Imah yang senantiasa mengkhawatirkan nya dan peduli kepadanya seperti anaknya sendiri.
"Kenapa enggak sekalian di-yasinin aja Bik", gumam Alsya pelan dengan lemah.
Lalu Alsya berjalan mendekat dan menepuk bahu Bik Imah yang langsung membuat wanita tersebut menoleh kebelakang.
Bik Imah berdiri di depan Alsya dengan mukenah dan qur'an yang sudah terlepas dari dirinya, "Ya Allah gusti. Non bibirnya kenapa biru gitu?, hujan-hujanan ya?. Ya ampun, ayo masuk ke dalam kamar. Bibi buatin bubur dulu", ujar Bi Imah dengan raut panik yang kentara di wajahnya yang telah menua.
Alsya membalas ucapan Bik Imah dengan sebuah anggukan. Karena sungguh sekarang bibirnya terasa berat sekali untuk dibuka. Jangankan bibir, tubuh nya saja sekarang sudah seperti mati rasa.
Bik Imah melangkahkan kakinya dengan terburu-buru kearah dapur demi membuatkan semangkuk bubur untuk anak majikan nya tersebut. Sementara itu Alsya berjalan menaiki undakan anak tangga untuk ke kamarnya dengan berpegangan pada pembatas besi yang ada di pinggiran tangga.
Setelah sampai, Alsya segera menghempaskan tubuh rapuhnya diatas tempat tidur miliknya sesudah mengganti piyama yang lebih hangat dari pada baju seragam yang basah kuyub tentunya.
Alsya memandangi langit-langit kamarnya dengan mata yang sayu. Seperti ada perekat yang terletak dimatanya sehingga membuat dirinya sulit sekali untuk membuka mata.
"Gue benci disaat gue seperti ini. Gue benci tubuh gue yang rapuh hanya karena hujan. Gue benci dengan suasana yang sepi disaat rasa sakit ini menggerogoti tubuh gue. I hate my world", ujar Alsya dengan lirih dan mata yang perlahan-lahan terpejam.
Lima belas menit berlalu, Bik Imah yang baru saja siap membuat bubur. Langsung bergegas menaiki tangga untuk kelantai dua, dimana kamar nona mudanya berada. Setelah pintu kamar Alsya terbuka. Bik Imah terkejut dan refleks menjatuhkan semangkuk bubur tersebut dari pegangan nya. Menghampiri tubuh Alsya yang telah terkulai lemas diatas ranjang dengan hidung yang mengeluarkan darah dan bibir yang sudah membiru.
Bik Imah menepuk-nepuk pelan pipi Alsya, "Non Alsya, bangun non. Jangan buat Bibi takut ah", lirih Bi Imah dengan air mata yang menggunung di pelupuk mata. Wanita paruh baya itu mengambil tissue yang berada diatas nakas dan membersihkan hidung Alsya dengan lembut.
"MANG JOKO!", teriak bi Imah memanggil supir pribadi majikannya.
Mang Joko yang baru saja hendak memasukkan mobil Alsya ke garasi, langsung tersentak ketika mendengar teriakan yang berasal dari dalam rumah. Pria itu segera berlari masuk ke dalam dan bergegas naik kelantai dua.
Mang Joko berdiri diambang pintu dengan raut bingungnya, "Ada apa bik?", tanya nya dengan kernyitan di dahi ketika melihat semangkuk bubur yang sudah terletak naas didepan pintu.
"Ini Mang, cepet bawa non Alsya kerumah sakit", ujar Bi Imah dengan tangis yang masih menggema.
"Hah?, N-non Alsya sakit apa?", tanya Mang Joko dengan masih berdiri diambang pintu kamar Alsya.
"Nanti aja, yang penting sekarang bawa non Alsya kerumah sakit", ucap Bik Imah sambil membereskan barang bawaan Alsya.
"E-eh iya Bi", Mang Joko langsung membopong tubuh lemah Alsya untuk turun dan membawanya masuk kedalam mobil yang hendak dimasukkan nya kegarasi tadi.
Sementara itu Bik Imah mengikuti langkah Mang Joko dari belakang dengan membawa satu tas yang berisi keperluan nona mudanya.
Mobil berwarna abu-abu tersebut telah pergi meninggalkan pekarangan rumah dengan rintik-rintik hujan yang masih turun dari langit.
...×××...
Alsya mengerjapkan matanya ketika indra penciumannya menghirup aroma yang tak asing lagi baginya.
"Eungh", lenguh Alsya sambil mencoba untuk duduk. Membuat wanita paruh baya yang berada disampingnya langsung bangun dari tidur ketika merasakan pergerakan diatas kasur.
Bik Imah mendongakkan kepalanya dan terkejut melihat Alsya yang sudah duduk, "Eh Non Alsya udah bangun. Bibi panggilin dokter dulu ya", Bik Imah bangkit dari duduknya. Belum sempat ia melangkah, sebuah tangan sudah dulu mencekal pergelangan tangannya.
"H-haus", lirih Alsya.
"Non Alsya haus?, tunggu bibik ambilin", Bik Imah menuangkan air dari teko kedalam gelas dan memberikannya kepada Alsya.
Alsya meminumnya dengan perlahan-lahan. Jujur, tubuhnya masih remuk. Air yang mengaliri tenggorokkannya saja sudah seperti bara api yang siap menghancurkan setiap tulangnya.
Ceklek
Pintu ruangan Alsya terbuka dan menampilkan sosok pria berprawakan tinggi dengan wajah yang tak kalah tampan dari Arkan tentunya. Pria yang memakai snelli putih tersebut berjalan kearah Alsya dengan senyum manis andalannya.
"Hey little girl, how are you?", tanya nya dengan mengusap puncak kepala Alsya.
Alsya memutar bola matanya. Risih ketika ada orang yang menyentuh kepalanya. Baginya kepala itu memiliki derajat yang tinggi. Maka nya Tuhan meletakkan nya diposisi yang paling atas dari tubuh manusia. Tetapi Alsya tidak bisa menampik tangan tersebut, sebab tangan tersebutlah yang selalu mengobatinya.
"Hm, fine", jawab Alsya singkat.
Pria tersebut menganggukan kepalanya dan menduduk kan dirinya di kursi samping ranjang rawat Alsya, "Lain kali kalau pulang sekolah, enggak usah pulang dulu. Ngemis dulu baru pulang, biar bisa bayar rumah sakit. Ya nggak Bik?", sindir pria tersebut seraya mengedipkan matanya kearah Bik Imah yang dibalas anggukkan kepala dari wanita paruh baya tersebut seraya tersenyum.
"Non, Bibik mau sholat dulu ya. Non enggak apa-apa kan kalau Bibik tinggal dengan dokter Bintang?", tanya Bi Imah.
"Bintang aja Bik enggak usah pakai dokter", protes Bintang tak suka.
"Lo kan emang dokter, handsome", sahut Alsya malas. Lalu cewek itu kmelihat Bik Imah yang ingin menjawab ucapan Bintang. Karena jika sudah terjadi proses tawar menawar panggilan tersebut sudah dipastikan memakan waktu yang lama. Setelah itu Bik Imah membatalkan rencana nya untuk sholat.
Alsya memberikan isyarat kepada Bik Imah untuk segera melaksanakan sholat lalu dibalas anggukan setuju oleh wanita paruh baya tersebut.
"Iya gue ganteng kok, gue tau itu", Bintang menyisir rambutnya kebelakang dengan jari sembari menampilkan senyuman angkuh yang sangat memuakkan bagi Alsya.
"Lo pergi deh, sholat sana, dasar kafir. Kasihan gue ama istri lo", ujar Alsya.
Bintang mengernyitkan dahinya, "Kenapa kasihan?, lagi pula gue enggak punya istri."
"Iya, kasihan aja gue. Tuhan aja lo tinggalin, gimana sama istri lo entar. Pasti lo gadein", ledek Alsya dengan memasang wajah prihatin. Hanya ketika dengan Bintang lah, Alsya sedikit bisa mengekspresikan dirinya.
"Ya kali gue gadein. Lagi pula gue kan enggak punya istri", balas bintang dengan memasang raut wajah yang sama dengan Alsya.
"Lo enggak mau punya istri?, homo lo ya", tuduh Alsya dengan mata yang memicing.
Bintang yang dituduh penyuka sesama jenis pun lantas tak terima. Ia langsung menyentil dahi Alsya, "Dasar bocah. Gue bilang enggak punya bukan enggak mau. Atau lo mau daftar jadi istri gue?", goda Bintang sambil mengedipkan matanya dan mendekatkan kepalanya kearah Alsya.
"Apa sih lo. Dasar dokter pedofil", Alsya mendorong kepala Bintang dengan kedua tangan nya.
"Yee gue masih muda kali."
Alsya mengangkat kedua bahunya acuh, dan keduanya mendadak diam. Sebelum Bintang memecahkan keheningan yang ada.
"Sya, gue mau serius", ucap Bintang tiba-tiba dengan mata yang menatap serius kearah Alsya. Sedangkan Alsya yang ditatap begitu intens oleh Bintang pun merasa gugup.
"G-gue masih mau sekolah", sahut Alsya gugup.
Lagi-lagi Alsya mendapat sentilan di dahinya dari Bintang.
"Ihh cantik-cantik pikirannya ngeres", balas Bintang gemas saat tahu apa yang ditakutkan oleh pasien nya tersebut.
Alsya tak menghiraukan sindiran yang diberikan oleh Bintang. Ia sibuk mengusap dahinya yang sudah dua kali kena sentil. Mengingat tubuhnya yang rentan akan memar. Alsya mencemaskan ada tanda biru keunguan di dahinya.
"Memar awas lo ya", ancam Alsya dengan tangan yang masih berada di dahinya.
"Maka nya gue mohon sama lo. Jangan
hujan-hujanan lagi. Please, tubuh lo terlalu rapuh untuk itu. Gue enggak sanggup ngeliat tubuh lo terbaring lemah diatas kasur kayak gini. Gue benci itu, gue mohon, nurut sama gue dan Bi Imah ya. Ini semua kita lakukan demi lo. Jangan pernah berfikir untuk menyerah. Please, gue mohon sama lo, nurut", ucap Bintang panjang lebar sambil mengusap dahi Alsya yang telah disentilnya tadi.
"I-iya gue usahin ", jawab Alsya gugup. Jujur, Alsya tertegun melihat ketulusan yang ada dimata Bintang. Mama nya saja tidak peduli sama dirinya yang notabene adalah anak kandungnya sendiri. Tetapi Bintang, dan Bik Imah yang tidak memiliki sangkut paut darah dengan nya saja sangat menyayangi dirinya. Sungguh, Alsya bersyukur akan hal itu.
Bintang tersenyum dengan jawaban Alsya. Dan mengusap kepala gadis yang menjadi pasiennya itu dengan lembut.
Alsya mematung mendapatkan perlakuan lembut yang didapatnya dari pria yang mengelus kepalanya tersebut. Entah karena apa, Alsya juga merasa dirinya berbeda bila berdekatan dengan dokter muda itu. Dirinya yang tak banyak bicara, tiba-tiba lebih humble jika berbicara dengan Bintang. Apa mungkin karena pria tersebut yang telah merawatnya?. Atau, apalah itu. Intinya ia merasa nyaman jika berdekatan dengan Bintang.
...×××...
..."Awan. Andaikan diriku memiliki sayap. Maka aku langsung akan terbang ke langit dan duduk bersama mu menikmati hangatnya mentari. Aku rindu, awan. Aku rindu. Aku rindu kehangatan, senyuman dan sebuah pelukan. Bawalah aku awan agar aku bisa merasakan kehangatan. The clouds i verry miss a warmth"...
...~Rilansun🖤....