
..._____________________...
...Aku semakin dekat dengan mu, semakin nyaman, lalu tanpa sadar aku semakin berharap lebih......
...____________________...
...×××...
Alsya pulang ke rumah ketika matahari telah jauh terbenam kedalam sisian laut. Burung berterbangan kembali ke sarang masing-masing. Langit biru yang cerah telah berubah warna menjadi jingga kemerahan. Serta bulan bintang kembali hadir menemani langit malam.
Alsya membuka pintu rumahnya. rumah bergaya mediteran tersebut sangat terasa sepi dan hening. Mungkin penghuninya sedang berada di dalam rumah. Mengingat hari telah menginjak malam.
Alsya melihat Bik Imah yang sedang masak di dapur dan mang Joko beserta Bagas yang sedang bercengkrama dimeja makan. Sungguh suatu potret yang sangat menyejukkan. Alsya yakin jika kedua asisten rumah tangganya tersebut menikah, maka mereka akan hidup dengan sangat-sangat bahagia.
Lalu Alsya berjalan mendekat kearah meja makan,"Assalamuallaikum", ujarnya dan mengambil tempat duduk tepat disamping Bagas.
"Waallaikumussallam", jawab mereka serempak.
"Dari mana non?", tanya Bi Imah yang baru saja keluar dari dapur dengan semangkuk sayur ditangannya.
"Dari taman Bik."
"Di antar siapa pulangnya?."
"Eum, Arkan" jawab Alsya ragu. karena selama ini dirinya diketahui jarang sekali berkomunikasi dengan orang banyak. Jadi ia sedikit takut ketika menyebut nama orang lain, terlebih itu adalah seorang laki-laki. Alsya hanya tidak mau jika Bi Imah menduga hal yang tidak-tidak tentang dirinya.
"Arkan?, pacar non Alsya?", tanya mang Joko kemudian.
Alsya meringis. Baru saja dirinya takut kalau pertanyaan itu terlontarkan dari mulut Bi Imah, ternyata bukan Bi Jmah yang menanyakan, justru supir pribadinya. Jika sudah begini, terus bagaimana?. Alsya yakin jika Diva ada disini, ia pasti sudah menjadi bahan bully-an cewek itu.
"Bukan mang!, bukan pacar Alsya. Cuma teman sekelas", jelas Alsya cepat lalu ia mengambil segelas air diatas meja dan meneguknya.
Mang Joko hanya menganggukan kepalanya sambil ber'oh' ria sebagai respon atas pernyataan nona mudanya itu.
Alsya menatap kearah Bagas yang tampak gelagapan ketika dirinya mengetahui jika cowok tersebut sedang memperhatikannya. Lantas Alsya menarik senyum tipisnya, "Kak!" panggilnya membuat Bagas kembali menoleh kearahnya,"Sorry ya, tadi Alsya pulang duluan", Bagas tersenyum tipis dan menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
Alsya bangkit dari duduknya, "Alsya keatas dulu ya. Kalau mau makan, duluan aja, enggak usah nungguin Alsya. Selamat malam", ujarnya sebelum beranjak dari ruang makan.
"Selamat malam", jawab mereka serempak.
Alsya yang seakan teringat dengan sesuatu langsung menghentikan langkahnya di anak tangga pertama. Membalikkan badannya kearah meja makan yang telah diisi oleh tiga orang tersebut. "Bik", tanpa merubah posisinya Alsya memanggil wanita paruh baya yang langsung menatapnya, "Iya non?", sahut Bi Imah.
"Mama udah pulang?", tanyanya.
"Belum non", jawab Bi Imah lesu.
"Ada kabar?."
Bi Imah menundukkan kepalanya. Ia tak ingin melihat nona mudanya itu menangis lagi malam ini. Karena jika gadis tersebut menangis, bisa dipastikan paginya ia langsung dibawa kerumah sakit. Sebab tubuhnya yang sangat rentan itu seolah sudah tak sanggup lagi menampung beban-beban yang didapatnya.
Alsya menghela nafas panjang. Ia audah tau jawabannya jika wanita paruh baya tersebut sudah tidak lagi berani menatap matanya. Artinya, Aruna tidak ada kabar dua hari belakangan ini. Bagaimana keadaan Mama nya?, apa Mama nya itu sehat-sehat aja?, apa malaikatnya itu baik-baik saja?.
Sudah banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang bersemayam didalam otaknya dan ditambah lagi pikiran-pikiran negatif yang selalu menghantuinya tentang mamanya itu.
Ma, Alsya rindu.
Kemudian Alsya menganggukkan kepalanya sekali. Tanda jika ia mengerti dengan maksud yang diberi asisten rumah tangganya itu. Lantas Alsya kembali melanjutkan langkahnya tanpa sepatah katapun. Baru saja beberapa jam yang lalu ia merasakan sedikit yang namanya kebahagiaan dan lagi-lagi kesedihan lah yang mendominasi. Benar bukan, jika hidupnya itu memang seperti menaiki roller coaster.
Alsya membuka pintu kayu jati yang berwarna hitam itu dengan sebuah papan yang bertuliskan Jangan masuk kalau gak mau di santet, yang terdapat dibagian tengah pintu.
Alsya memang termasuk salah satu orang yang sangat menjunjung tinggi privasi nya. Karena menurut Alsya privasi itu bukanlah satu hal yang dapat kita bagi dengan siapa pun. Dan kamar adalah salah satu privasi dari seorang Alsya Davinka Pranata, maka siapa pun tidak akan ada yang boleh masuk kedalam kamarnya. Tidak terkecuali.
Orang tuanya saja tidak pernah menginjakkan kakinya dikamar Alsya, ketika ia sudah beranjak remaja. Dan Bi Imah, itu pun jika ada perlu yang sangat mendesak. Kalau tidak, Alsya pun tidak akan membiarkan asisten rumah tangganya tersebut memasuki wilayahnya. Karena hanya dikamarnya lah Alsya menjadi seorang ratu.
Alsya menghempaskan tubuhnya keatas queen size miliknya. Menatap langit-langit kamarnya yang dihiasi bintang yang berkelap-kelip karena keadaan kamarnya yang sedang gelap sekarang. Ia pulang telah larut sore, dan kunci kamarnya selalu Alsya bawa kemana pun. Sehingga berakhir dengan lampu kamarnya tidak ada yang menghidupkan.
Lalu Alsya beranjak dari kasurnya dan berjalan kearah sudut kamarnya. Menyalakan lampu, kemudian mengambil piyama tidurnya dari dalam lemari dan selanjutnya ia berjalan masuk kedalam kamar mandi.
Alsya harap dengan mandi tubuh dan hatinya dapat lebih rileks. Berharap air dapat meluruhkan semua bebannya dan ikut bersama dengan air yang mengalir.
Setalah menghabiskan waktu sepuluh menit untuk membersihkan diri. Alsya lantas keluar dari kamar mandi dengan piyama hitam polos miliknya. Mengambil tas sekolahnya yang Alsya buang asal diatas kasur dan meletakkan kembali ketempat asalnya.
Bersamaan dengan tarikan nafas panjang, gadis bernetra hitam tersebut menghempaskan tubuhnya diatas ranjang. Kembali menatap langit-langit kamarnya yang sudah menjadi hobinya sejak ia merasa hidupnya sendirian dan kesepian.
Kegiatannya tersebut terhenti ketika ponselnya yang terletak diatas nakas berbunyi. Alsya mengambilnya dan melihat notifikasi yang berasal dari aplikasi berwarna hijau dominan itu. Lalu Alsya membukanya dengan sedikit penasaran. Sebab jarang sekali orang-orang yang mengenalnya mau memulai obrolan chat dengan dirinya.
Karena kata mereka, mengobrol dengan Alsya itu tidak ada bedanya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sama-sama datar.
...Ketua makhluk halus...
Selamat malam cantik
^^^?^^^
Cuek bener, jawab dong salam gue. Misalnya gini, "Selamat malam juga Arkan ganteng."
Dapat pahala loh Sya kalau nyenengin hati orang.
^^^Emang lo orang?^^^
Ck, debat sama lo gak ada ujungnya
Alsya yang membaca chat dari Arkan tersebut, tanpa sadar menarik sudut bibirnya sedikit.
^^^Itu tau.^^^
Sya, lo cantik
^^^Udah tau.^^^
Payah emang kalau gombalin tembok cina.
Sya?
Oi, masih disana kagak?
Calon pacar, jangan di read doang elah
^^^Apa?^^^
Soal yang di sekolah tadi gue minta maaf, sebenarnya gue gak bohong. Si Astrid tuh yang bohong.
Gue sama dia emang udah putus pagi kemarin.
Hehe, iya. Dia sih yang gak mau gue putusin. Emangnya siapa sih yang bisa nolak pesona gue.
^^^Mual gue.^^^
Belum diapa-apain masa udah mual aja.
^^^Playboy mesum!^^^
Dilain tempat, Arkan yang membaca balasan chat dari Alsya tersenyum miring. Tak menyangka jika bisa secepat ini. Lalu Arkan pun kembali mengirimkan chat lagi kepada Alsya. Menganggu gadis tersebut ternyata juga menyerukan. Kapan lagi coba, ia bisa ngerayu Alsya kayak gini. Sebab Alsya itu susah sekali dibawa berkomunikasi. Apalagi jika dibawa bercanda, bisa-bisa hanya dianggap sebatas angin lalu.
Santai sayang, gak usah ngegas.
Lagi-lagi tanpa sadar Alsya kembali menarik sudut bibirnya. Merasa dirinya terlalu banyak sekali tersenyum hari ini. Dan sialnya mengapa alasannya tersenyum itu harus Arkan, si playboy cap kadal sekaligus mesum. Baru saja jarinya ingin mengetikkan sebuah balasan untuk Arkan. Namun suara lembut seseorang terdengar dari luar pintu kamarnya. Mengurungkan niatnya untuk membalas chat Arkan.
"Non, makan dulu Ayo", seru Bi Imah sambil mengetuk pintu kamar Alsya.
Lantas Alsya menatap pintu tersebut tanpa membukanya, "Iya Bi duluan, nanti Alsya nyusul."
"Jangan lama-lama ya Non", peringat Bi Imah. kemudian terdengar suara langkah kaki yang menjauh dari pintu kamarnya.
Alsya melihat kembali room chat nya dengan Arkan. Ia menatapnya sejenak sambil tersenyum tipis. Kemudian Alsya mematikan ponselnya dan meletakkannya diatas nakas disamping tempat tidur.
Setelah itu Alsya turun dari ranjangnya dan berjalan menuju meja rias. Menyisir sedikit rambutnya dan merapikan pakaiannya sebelum keluar dari kamar.
Entah mengapa saat ini Alsya merasa sangat gembira. Sampai-sampai membuatnya bersenandung ria sambil menuruni undakan anak tangga. Ia hanya berharap jika habis ini tidak ada kesedihan lagi yang datang tiba-tiba. Karena seperti yang sudah-sudah, jika ia tersenyum sebentar saja, pasti senyuman itu tidak akan bertahan lama, dalam sekejap pasti akan luntur semuanya.
Sepertinya alam semesta tidak mendukungnya untuk berbahagia. Atau karna Alsya terlalu banyak berharap, makanya Tuhan marah dan tidak membiarkannya bahagia?. Entah lah, tapi intinya sekarang hatinya sangat gembira.
Sebenarnya Alsya malu mengakui jika ia sudah mulai menyukai Arkan. Sebab dulu dirinya lah yang sangat menentang perasaan semacam itu asuk kedalam hatinya. Tapi entah mengapa sekarang ia tidak mencegah perasaan itu masuk kedalam hatinya dan mungkin kehidupannya.
Bukannya Alsya tak mencegah tapi ia hanya ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi diprioritaskan.
Biarlah orang lain mengatainya menjilat ludah sendiri. Biar saja jika ia dianggap sebagai wanita tidak berpendirian. Karena disini Alsya yang merasakan bagaimana hatinya yang menghangat ketika mendapatkan perhatian dari Arkan walaupun sedikit. Hanya dirinya yang mengerti apa yang dibutuhkan oleh hatinya. Hanya Alsya sendiri, bukan orang lain.
Bukankah setiap orang itu memiliki kesempatan. Maka ini kesempatan yang terakhir diberikannya untuk perasaan yang manis itu.
Lalu Alsya berhenti bersenandung ketika ia sudah sampai diundakan anak tangga yang terakhir. Menatap tak percaya kearah pintu besar rumah nya dengan tangan yang memegang erat besi pembatas.
Kemudian Alsya melihat Bi Imah yang berlari tergopoh-gopoh menghampiri dua orang yang berada diambang pintu tersebut. Alsya melirik ke sekitar rumahnya. Hanya ada Bi Imah, dirinya dan dua orang tersebut. Kemana mang Joko dan Bagas?. Mungkin mereka sedang pergi atau berjaga diluar. Tapi jika berjaga diluar, dua manusia itu tidak akan mungkin bisa masuk.
Alsya menatap laki-laki yang sedang menggandeng tangan Mama nya yang telah mabuk sepertinya. Karena racauan yang keluar dari mulut wanita itu sudah sangat memperjelas semuanya.
Tidak ada kabar sama sekali dua hari dan pulang-pulang dengan keadaan yang sangat memuakkan. Jadi ini maksud dari kerja diluar kota itu. Entah apa saja yang sudah diperbuat Aruna selama empat hari dikota orang.
Tapi tunggu sebentar, Alsya merasa tidak asing dengan wajah laki-laki itu. Wajah itu seperti....tidak. Alsya menggelengkan kepalanya tidak percaya. Mungkin saja mereka mirip. Bukankah kita memiliki tujuh kembaran di dunia ini. Tapi untuk mata itu, mata itu sama persis. Abu-abu.
Alsya tersentak dari lamunannya ketika mendengar suara bariton yang memanggilnya, "Tolongin gue!, jangan ngelamun", ujar laki-laki tersebut sambil berjalan memapah tubuh Aruna masuk kedalam rumah dengan dibantu Bi Imah.
Alsya menaikkan alisnya, "Pacar lo kan?, lo yang bawa. Bukannya karena lo juga dia kayak gini", ketusnya. Alsya yakin jika mama nya sadar saat ini, ia pastikan pipinya sudah merah dengan cap jari Aruna yang membekas.
Laki-laki yang tidak diketahui namanya itu melotot kearah Alsya, "Enak aja, gue bukan pacarnya. Lo anaknya kan?, lo gih yang bawa", balas nya seraya memberikan tubuh wanita yang seusia dengan ibunya itu kepada gadis dihadapannya.
Alsya menghindar, "Lo pacar nya, lo harus tanggung jawab sama nyokap gue", ujarnya dingin sebelum beranjak kelantai dua meninggalkan ketiga orang tersebut.
Laki-laki tersebut dibuat terperangah takjub. Ia mengerjapkan matanya perlahan lalu kembali memanggil Alsya, "Woi, nih nyokap lo gimana?, Gue buang aja ya", celetuknya asal, tapi tidak dihiraukan sama sekali oleh gadis bersurai hitam legam yang sudah memasuki kamarnya sambil menutup pintu kayu jati berwarna hitam tersebut dengan keras.
My little sweet heart, sudah banyak berubah.
Laki-laki itu tersadar ketika merasakan sebuah tepukan di pundak kirinya, "Den, ayok biar Bibi aja yang bantu", ujar Bi Imah yang dibalas anggukan. Lantas mereka berdua langsung memapah tubuh wanita paruh baya yang memakai pakaian sangat minim tersebut kedalam kamar yang berada dibawah anak tangga.
Laki-laki itu menyelimuti tubuh wanita tersebut. Lalu ketika ia ingin beranjak pergi, netra nya tak sengaja menatap pembantu rumah tangga tadi yang membantunya. Wanita itu menghampirinya dengan sebuah nampan kecil
"Den mari", ujar Bi Imah menyuruh laki-laki tersebut mendekat kearahnya yang sudah duduk disofa yang ada didalam kamar Nyonya besarnya.
Laki-laki tersebut mengangguk dan ikut duduk disamping Bi Imah.
"Diminum, Den", Bi Imah menyodorkan segelas teh yang langsung diterima laki-laki tersebut.
"Bibi mau bilang makasih karena udah mau bantuin Nyonya", ujar bik Imah tulua. Ia baru mengetahui jika laki-laki tersebut bukan laki-laki seperti biasanya yang dibawa Aruna pulang ketika mabuk. Laki-laki itu malah yang membantu majikannya yang duduk sendirian di trotoar jalanan yang sepi.
Lantas cowok tersebut menganggukan kepalanya sebagai respon. Menyesap teh hangat tersebut dengan perlahan.
"Aden sepertinya seumuran dengan non Alsya ya?, kelihatan masih muda dan ganteng banget", ujar Bi Imah mencoba membuka sebuah obrolan.
"Tujuh belas tahun", beritahunya kepada wanita paruh baya tersebut.
Bi Imah menganggukkan kepalanya, "Bibi juga mau minta maaf atas sikap non Alsya tadi. Sebenarnya non Alsya itu anak yang baik, tapi dia berubah karena waktu yang memaksanya", Bi Imah menatap tubuh nyonya besarnya itu dengan tatapan iba. Keuarga ini telah hancur, sangat hancur.
Cowok itu menaikkan sebelah alisnya, "Maksudnya?", tanyanya tak paham.
Bik Imah menatap laki-laki tersebut. Belum sempat ia menjawab pertanyaan anak muda itu. Teriakan dari luar kamar sudah lebih dulu menyelanya, "Bik...., bibik....", teriak Alsya yang berada diambang pintu kamar Aruna.
"Lo?, belum juga balik?", tanya Alsya ketus dan berjalan menghampiri Bi Imah dengan laki-laki yang masih setia berada dirumahnya.
Sebenarnya apa maunya?.
"Oh ya gue lupa. Lo pasti mau ngelanjutin kegiatan yang tertunda di hotelkan?", tambah Alsya dan berdiri angkuh menatap laki-laki yang juga menatapnya dingin.
"Maksud lo?", tanya laki-laki tersebut dengan nada yang datar plus dingin.
Alsya tak kalah menatap laki-laki itu dengan datar pula, "Enggak usah sok lugu. Gue tau lo gak bodoh", sarkas Alsya lalu mengambil tangan Bi Imah dan membawanya keluar dari kamar.
"Non gak boleh gitu sama tamu. Enggak sopan", Bi Imah melepaskan tangan Alsya yang ada ditangannya.
"Tapi bik Alsya laper", ujarnya dengan lirih.
"Non Alsya duluan aja nanti Bibi nyusul. Bibi mau nganter Aden tadi kedepan", ujar Bi Imah dan berjalan menghampiri laki-laki yang sudah berada diambang pintu utama.
"Pakai nganter segala, udah gede juga", gerutu Alsya dan berjalan memasuki ruang makan rumahnya.
Bi Imah tersenyum malu kepada laki-laki yang menatapnya dengan datar, "Maafin ya den", ujarnya.
Cowok itu mengangguk, "Saya pulang dulu", pamitnya yang dibalas anggukan dari Bi Imah.
Syasya memang benar-benar udah berubah
...×××...
"Bintang. Jangan mengahikimi ku karna aku jatuh cinta. Juga jangan mencaciku karna aku tidak berpendirian. Ini juga bukan mau ku. Hati ku lah yang terlalu bersikeras. Jujur, jika aku dilahirkan kembali, maka aku akan meminta untuk tidak mengenal cinta. Karena cinta itu hanya akan membuat pemainnya merasakan sakit dan kecewa. Tapi kali ini aku berharap. Aku sangat berharap jika cintaku yang ini akan berjalan dengan baik dan lancar. Ku berikan engkau kesempatan yang terakhir untuk merasakannya kembali, hati."
...~Rilansun🖤....