
Setibanya di rumah Agra, Agra dan Adhia langsung turun dari mobil. Dan Agra mengajak Adhia untuk segera masuk ke rumah. Karena Adhia masih terkagum-kagum dengan kemegahan rumah Agra. Padahal ia sudah pernah ke rumah itu.
Agra : “Cepatlah masuk!”
Adhia : “Ya? Oh baiklah.”
Agra memasuki rumahnya terlebih dahulu dan disusul oleh Adhia. Dan Agra meminta Adhia untuk duduk di sofa ruang tamu.
Agra : “Duduklah di situ.”
Saat Adhia mengagumi keindahan dalam rumah Agra dan mengedarkan pandangannya di sekelilingnya. Tiba-tiba ada seseorang yang menyambutnya.
Rita : “Selamat datang kembali, Nona Adhia.”
Adhia sedikit terjengkat karena terkejut. Ia merasa tidak mendengar ada orang yang mendekat namun tiba-tiba ada orang yang menyambutnya.
Adhia : “Oh ya. Hai Mbak Rita. Hehehe..”
Rita : “Anda tidak perlu memanggil saya dengan sebutan 'mbak', panggil saya saja Rita.”
Adhia : “Haha.. gak enaklah mbak didengarnya. Saya lebih muda dari mbak, tapi saya manggilnya langsung namanya mbak.”
Rita : “Apakah ada minuman yang Anda inginkan?”
Adhia : “Mbak gak usah formal sangat, gak enak didengarnya.”
Rita : “Itu sudah menjadi tugas dan kewajiban saya. Mohon dimaklumi. Saya akan ambilkan minuman sebentar.”
Adhia : “Eh nggak usah repot-repot, mbak.”
Rita tidak menjawab dan langsung pergi ke dapur untuk mengambil minuman. Dan beberapa menit kemudian Rita kembali dengan dua gelas air sirup dan dua piring camilan. Ia meletakkan di atas meja.
Rita : “Silahkan untuk di minum dan di makan camilannya, nona.”
Adhia : “Oh ya. Terima kasih, mbak.”
Rita langsung meninggalkan Adhia dan kembali ke dapur. Adhia hanya duduk dan melihat-lihat sekelilingnya. Ia menunggu Agra yang dari tadi naik ke atas.
Agra : “Makanlah!”
Adhia : “Ya..ampun! Hah..hah.. kau mengejutkanku. Apa kau tidak bisa berjalan dengan sedikit saja bersuara?”
Agra : “Di rumahku memang seperti ini. Kenapa kau mempermasalahkannya? Nih.. bukumu.”
Agra menyerahkan sebuah buku kepada Adhia dan duduk berhadapan dengan Adhia.
Adhia : “Kenapa buku ini ada pada kau?”
Agra : “Kau meninggalkannya di gazebo saat kerja kelompok.”
Adhia : “Kau kan bisa mengembalikannya saat di sekolah.”
Agra : “Kau selalu menghilang lebih dulu sebelum aku berikan bukumu. Daaan...kadang aku juga lupa membawanya atau lupa kuberikan padamu. Lagi pula kau juga nggak tanya atau mencarinya.”
Adhia : “Aku pikir buku ini hilang atau jatuh entah di mana. Ya sudah aku tidak terlalu mencarinya. Lagi pula bukunya juga tidak terlalu penting.”
Agra meminum minuman yang ada di depannya dan mengambil beberapa makanan yang ada. Adhia membuka bukunya. Dan melihat masih ada uangnya di dalamnya.
Agra : “Kau pikir aku akan mengambil uangmu? Aku saja memiliki kartu debit untuk apa aku ambil uangmu.”
Adhia : “Ya..ya..tuan muda. Dan ya kenapa kau tidak kembalikan ke rumahku?”
Agra : “Apa kau pikir aku tahu rumahmu?”
Adhia : “Kenapa kau tidak mencari tahu?”
Agra : “Aku tanya siapa? Kau pikir aku punya teman?”
Adhia : “Oh iya kau hanya tidur saja pekerjaanmu. Oh...tungu-tunggu, kau merasa kau tidak punya teman? Lalu kau anggap aku ini apa?”
Agra : “Entah.”
Agra mengangkat kedua bahunya sambil menghabiskan minumannya. Dan Adhia hanya kebingungan sendiri.
Adhia : “Agra, kau mengajakku kemari hanya untuk memberiku bukuku?”
Agra : “Hm.”
Adhia : “Apa kau sudah tidak waras? Kau menggajakku kemari hanya karena mengembalikan buku. Seharusnya kau membawanya saat ke warung bibi. Dan untuk apa kau mengajakku kemari. Kau pikir bibi tidak kerepotan apa? Dan kau pikir aku di sana menganggur apa? Kenapa kau melakukan ini hanya karena hal yang sangat kecil? Lagi pula juga buku ini tidak terlalu penting dan aku sudah merelakan uang yang ada. Hah...hah...hah...”
Adhia menarik napasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan.
Agra : “Sudah ngomongnya?”
Adhia : “Belum!”
Agra : “Lanjutkanlah. Tapi kau minum dulu minumanmu itu. Dan tunggu sebentar. Mbaak.... Mbak Ritaaa....”
Agra berteriak memanggil ARTnya. Dan Adhia meminum minuman yang ada di depannya dari tadi dan dengan cepat air sirup habis. Tidak lama kemudian Rita datang.
Rita : “Apakah ada yang bisa saya bantu, tuan muda?”
Agra : “Nih, airku habis. Ambilkan lagi untukku. Eh jangan, ambilkan saja ceret sirupnya kemari saja.”
Rita langsung kembali ke dapur dan segera kembali dengan seceret penuh sirup yang sama dengan yang ada digelas tadi. Agra langsung menuang airnya ke gelasnya dan gelas Adhia. Rita kembali ke dapur.
Agra : “Selesaikan bicaramu.”
Adhia : “Sudah ah...aku mau kembali ke warung bibi.”
Agra : “Kau kembali dengan jalan kaki?”
Adhia : “Tentu saja. Apa kau akan mengantarku?”
Agra : “Ogah. Tapi aku akan minta sopirku untuk mengantarmu.”
Tiba-tiba ada seseorang masuk ke dalam rumah dan berteriak memanggil Agra.
Seseorang : “Agraa... sayang!!”
Orang tersebut langsung memeluk Agra dan terkejut saat melihat Adhia.
Seseorang : “Anda siapa ya?”