
Sopir pribadi mama Freya melajukan mobil menuju suatu tempat yang ingin dituju mama Freya. Mobil terus melaju melewati jalanan yang padat dengan kendaraan karena saat itu masih jam berangkat kerja. Mobil yang ditumpangi mama Freya melaju dengan kecepatan sedang, padahal biasanya melaju dengan kecepatan tinggi.
Mobil mama Freya tiba di tempat tujuan. Mobilnya langsung memasuki gerbang dan terparkir di tempat parkir. Sopir pribadi mama Freya turun dari mobil, membukakan pintu untuk mama Freya. Mama Freya turun dari mobil.
Mama Freya : “Pak, tunggu di mobil saja. Saya nggak akan lama.”
Sopir : “Baik, nyonya.”
Sopir pribadi mama Freya kembali masuk ke dalam mobil dan menunggu mama Freya di dalam mobil. Mama Freya berjalan menuju bangunan itu. Ada seseorang yang mengenal mama Freya, sehingga ia menyapa mama Freya dan bertanya tujuannya. Mama Freya langsung mengatakan tujuannya datang, orang tersebut mengantarkan mama Freya.
Mama Freya dan orang tersebut berjalan melewati lorong-lorong dan berjumpa beberapa orang dengan buku ditangan mereka. Sampai tiba di ruangan yang dituju mama Freya, tertulis ruang kepala sekolah. Mama Freya langsung masuk saat pintu dibukakan oleh orang yang mengantarnya. Dan di belakang meja dalam ruangan, ada seseorang yang duduk sambil menulis sesuatu di atas buku di mejanya.
Mama Freya : “Selamat pagi, pak.”
Kepsek : “Oh, selamat pagi Nyonya Roberto.”
Kepsek seketika menghentikan menulisnya dan berjalan mendekati mama Freya. Kepsek mengulurkan tangannya dan mempersilahkan mama Freya untuk duduk.
Kepsek : “Ada keperluan apa nyonya kemari?”
Mama Freya : “Saya ingin menyelesaikan sebuah masalah.”
Kepsek : “Hem...apakah nak Agra ada masalah dengan pelajaran? Tapi saya pantau sepertinya tidak ada masalah, nyonya.”
Mama Freya : “Bukan putraku yang memiliki masalah, tapi putriku.”
Kepsek : “Putri? Bukankah putri nyonya sudah dewasa?”
Mama Freya : “Bukan putri sulungku, dia itu putri angkatku, temannya Agra.”
Kepsek : “Nyonya punya putri angkat?”
Mama Freya : “Sudahlah, mari kita ke intinya saja, saya masih ada perlu.”
Kepsek : “Baiklah. Ada masalah apa yang membuat Nyonya Roberto kemari?”
Mama Freya : “Jadi terjadi pembulian pada putriku.”
Kepsek : “Pembulian? Tapi saya tidak pernah dengar masalah hal itu di sekolah.”
Mama Freya : “Memang kejadiannya tidak ada di sekolah, namun kejadian ini menyangkut pada siswi sekolah di sini.”
Kepsek : “Jadi putri nyonya mengalami pembulian dan orang yang telah membuli putri nyonya adalah siswi kami?”
Mama Freya : “Benar.”
Kepsek : “Siapa yang membuli putri nyonya? Namun sebenarnya siapa putri angkat nyonya?”
Mama Freya : “Adhia. Dia teman sekelas putraku sekaligus sebangku.”
Kepsek : “Oh, Adhia Zakia? Anak yatim piatu yang tinggal dengan kakaknya itu?”
Mama Freya : “Benar.”
Mama Freya : “Jika sudah ada kabar dia dikucilkan kenapa pak kepsek tidak bertindak?”
Kepsek : “Saya sudah bertindak, namun saat saya bertanya dengannya tentang kebenaran kabar itu, dia menyangkalnya. Jadi saya rasa kabar itu tidak benar.”
Mama Freya : “Jadi jika saya berkata dia dibulli dan dia menyangkalnya Anda akan diam juga?”
Kepsek : “Jika ada bukti kuat atau saksi mungkin dapat saya tindak lanjuti. Serta pengakuan dari Adhia atau pelaku yang membulinya.”
Mama Freya : “Baiklah jika begitu, tapi ingat dan Anda harus menepati perkataan bapak.”
Kepsek : “Tentu saya akan selalu mengingatnya dan akan menepatinya.”
Mama Freya : “Saya memiliki saksi, apa bisa saya minta dia kemari?”
Kepsek : “Tentu saja. Siapa saksi nyonya?”
Mama Freya : “Agra, putraku. Minta dia kemari, dialah yang melihat langsung jika Adhia dibulli.”
Kepsek : “Sebentar saya panggilkan, nak Agra.”
Kepsek mengambil ponselnya, beliau terlihat menelepon seseorang. Beliau mengatakan untuk memanggil Agra ke ruang kepsek. Tak lama kemudian Agra dengan wajah sedikit lesu datang ke ruang kepsek.
Agra : “Selamat pagi, Pak.”
Kepsek : “Selamat pagi, nak.”
Setelah menyapa kepsek, Agra menoleh dan ia sedikit terkejut melihat mamanya duduk di sana.
Agra : “Mama?”
Kepsek : “Duduklah, nak.”
Agra : “Ha? Oh, baik, Pak.”
Agra langsung duduk di samping mamanya.
Agra : “Pak, ada keperluan apa saya dipanggil kemari?”
Kepsek : “Jadi begini, apa benar kemarin kamu melihat secara langsung jika Adhia dibulli?”
Agra : “Iya, benar, Pak.”
Kepsek : “Siapa yang telah membullinya?”
Agra : “Saya tak tahu nama mereka, Pak. Tapi saya tahu wajah mereka.”
Kepsek : “Kalau begitu ayo kita cari mereka.”