
Agra yang melihat Adhia menggigil segera mengambilkan selimut tambahan di lemari. Ia menyelimutkan pada tubuh Adhia. Rita datang membawa semangkuk bubur, segelas air, dan kompres es, serta obat.
Rita : “Tuan muda, ini buburnya.”
Agra : “Adhia. Adhia. Bangunlah lebih dulu, makan dulu.”
Adhia hanya menggeliat saja, ia terlihat seperti tidak ingin diganggu. Agra menggoyangkan badan Adhia dengan lembut.
Rita : “Nona, bangunlah.”
Adhia : “Hmm....”
Adhia mengerjapkan matanya, mencoba membuka matanya dengan lebar. Ia bangun dibantu dengan Agra yang berada di sampingnya. Ia duduk dan bersandar, Rita menyerahkan bubur pada Adhia. Namun, Agra mengambil bubur itu dan langsung saja menyuapkan bubur pada Adhia. Adhia membuka mulutnya, langsung melahapnya.
Setelah beberapa sendok bubur, Adhia sudah tidak memakannya lagi. Padahal bubur itu tersisa setengah, namun Adhia tidak ingin memakannya lagi. Adhia langsung berbaring kembali.
Agra : “Adhia. Makanlah sedikit lagi, setelah itu minum obatnya.”
Adhia memunggungi Agra. Ia kembali menutup matanya.
Agra : “Ayolah Adhia. Satu sendok lagi ajalah. Satu sendok aja.”
Adhia : “Ng...nggak mau.”
Agra : “Kalo gitu minum obat ini dulu. Setelah itu tidurlah.”
Adhia membalikkan badannya, ia dibantu Rita untuk duduk. Adhia segera meminum obatnya dan kembali berbaring.
Agra dan Rita keluar dari kamar tempat istirahat Adhia. Agra naik ke kamarnya, sedangkan Rita pergi ke dapur.
# # #
Bi Surti yang khawatir karena biasanya sepulang sekolah Adhia selalu mampir ke warung. Akhirnya, Bi Surti menelepon nomor Adhia. Namun, saat menelepon Adhia, tidak ada jawaban dan hanya terdengar nada telepon saja. Bi Surti mencoba menelepon nomor Adhia sampai berulang kali, namun hasilnya tetap sama. Akhirnya, Bi Surti menelepon Agra. Bi Surti ingin meminta tolong pada Agra untuk mencari Adhia.
# # #
Agra yang sedang bermain game, sedikit terkejut mendengar suara ponselnya sendiri. Ia segera menghentikan gamenya, ia melihat ponselnya. Tertulis nama bibi, ia langsung mengangkatnya.
Bi Surti : “Aden.”
Agra : “Ada apa, bi?”
Bi Surti : “Gini, den. Eemm....gimana ya ngomongnya.”
Agra : “Ngomong aja, bi. Nggak apa-apa.”
Bi Surti : “Gini... Adhia biasanya sepulang sekolah kemari, tapi hari ini kok belum sampai di warung bibi. Bibi khawatir aja den, tadi bibi coba telepon Adhia, nggak diangkat...”
Agra : “Bibi nggak usah khawatir. Adhia ada di rumah Agra.”
Bi Surti : “Oh benarkah? Hhaah...syukurlah. Tapi gimana Adhia bisa ada di rumah aden?”
Agra : “Eemmm.... tadi dia kehujanan, bi. Terus dia kelihatan kayak sakit gitu, jadi aku bawa pulang dia, gitu bi.”
Bi Surti : “Oohh... Adhia sakit lagi?”
Agra : “Emm.. iya, hanya demam kok, bi. Nggak usah terlalu khawatir. Nanti beritahu kakaknya Adhia juga ya.”
Bi Surti : “Iya, den. Apa perlu saya ke sana untuk jemput Adhia?”
Agra : “Nggak perlu, bi. Biar Adhia di sini dulu, biar bisa sembuh total.”
Bi Surti : “Oh iya-iya, den. Tapu nggak ngerepotin aden kan?”
Agra : “Nggak kok, bi. Nggak apa-apa.”
Bi Surti : “Ya udah kalo gitu. Makasih ya, den udah mau bantu ngrawat Adhia.”
Agra : “Sama-sama, bi.”
Bi Surti : “Bibi tutup dulu ya, den.”
Bi Surti memutuskan telepon karena ada pelanggan yang memesan. Sementara Agra turun ke bawah untuk menengok keadaan Adhia. Saat sampai di kamar tempat Adhia istirahat, Agra melihat pintunya sedikit terbuka. Ia membuka pintu lebar-lebar dan masuk ke kamar. Saat memasuki kamar, ia melihat ada seseorang yang duduk di samping Adhia.