
Saat tengah malam, Reza pulang ke rumah. Reza melihat Adhia sudah tidur dengan nyenyak dan nyaman, melihat adiknya sudah tidur ia segera mandi dan tidur.
Saat pagi hari, Reza bangun terlebih dahulu. Reza sudah memasak untuk mereka sarapan dan juga mandi. Dia heran dengan adiknya yang biasanya sudah bangun tapi belum bangun juga. Ia membangunkan Adhia, saat Adhia membalikkan badannya, Reza kaget melihat wajah adiknya merah dan terlihat ada benjolan di kepalanya.
Reza membangunkan Adhia dan menyentuh dahi Adhia. Adhia yang dibangunkan hanya menggeliat dan menarik selimutnya. Reza segera mengambil air dan handuk untuk mengompres dahi adiknya. Reza juga membawakan sedikit nasi yang dilembutkan dan diberi kuah.
Reza : “Adhia, makan ini dulu. Nanti kakak akan pergi ke sekolahmu untuk minta ijin.”
Reza mengangkat badan adiknya dan mendudukkannya. Adhia makan hanya beberapa suap saja. Ia kembali tidur. Reza memakai baju dan segera mengayuh sepedanya ke sekolah Adhia dan juga sekolahnya untuk izin.
Saat di tengah jalan, Reza bertemu dengan bi Surti. Bi Surti yang melihat Reza tergesa-gesa segera meminta Reza berhenti.
Bi Surti : “Ada apa, nak? Kau mengayuh sepedamu dengan kencang.”
Reza : “Mau pergi ke sekolah, bi. Minta izin, Adhia sakit.”
Bi Surti : “Tapi kenapa kau tak memakai seragam dan pergi langsung pergi sekolah?”
Reza : “Saya juga nggak masuk, bi. Saya mau ngurus Adhia.”
Bi Surti : “Dari pada begitu lebih baik kamu pergi ke sekolah, nanti bibi yang jaga Adhia. Nanti bibi nggak buka warung kok, bibi capek.”
Reza : “Beneran, bi? Kalau gitu saya pulang gantu baju dulu.”
Bi Surti : “Iya, cepetan sana.”
Reza segera kembali pulang ke rumah dan begitu pula dengan bi Surti. Reza mengganti bajunya dan segera berangkat ke sekolah.
# # #
Agra datang hampir terlambat, ia segera duduk di bangkunya. Saat bel masuk berbunyi, Agra merasa aneh, karena Adhia belum masuk kelas. Ia ingin bertanya pada teman depan bangkunya tapi ia bingung cara bertanyanya. Jadi ia pilih diam saja.
Guru jam pertama masuk kelas, beliau langsung mengabsen murid-muridnya. Saat nama Adhia dipanggil, tidak ada yang menjawab satu pun alasan Adhia tidak masuk. Namun, saat bersamaan juga, ada seorang guru piket yang menyampaikan bahwa Adhia sakit dan tadi sudah izin.
Mendengar hal itu, Agra berpikir sejenak. ‘Bagaimana Adhia bisa sakit, padahalkan kemarin ia baik-baik saja dan tidak terlihat sakit sedikit pun.’ Agra berniat ingin pergi ke tempat bi Surti setelah pulang sekolah.
# # #
Bi Surti sampai di rumah Adhia setengah jam setelah Reza berangkat sekolah. Adhia yang mendengar suara pintu diketuk, ia langsung membukakan pintu dengan keadaan yang kurang baik. Setelah melihat keadaan Adhia seperti itu, bi Surti langsung membopong Adhia untuk tidur. Bi Surti segera mengompres dahi Adhia dan memasak untuk Adhia.
Setelah memasak dan mengobati Adhia, bi Surti membersihkan rumah Adhia dan juga mencuci pakaian serta piring kotor. Bi Surti benar-benar merawat Adhia dan juga membersihkan rumah Adhia. Bi Surti di rumah Adhia hingga Reza pulang.
# # #
Sepulang sekolah, Agra langsung pergi ke warung bi Surti. Namun, setibanya di warung, Agra hanya mendapati warung yang tutup. Ia mencari seseorang untuk bertanya rumah Adhia. Ada seorang ibu-ibu mengatakan jika Adhia tinggal di ujung jalan malam bintang.
Agra meminta sopir untuk mengantarnya ke rumah Adhia. Agra cukup kesulitan untuk menemukan rumah Adhia. Namun, saat ia melihat sebuah sepeda yang ia kenal, terparkir di depan rumah kecil nan sederhana. Ia segera mengetuk pintu rumah tersebut.
Setelah Agra mengetuk pintu, keluarlah sosok wanita paruh baya. Saat pintu terbuka lebar, ia mengenali wanita itu, wanita itu adalah bi Surti. Bi Surti melihat Agra yang di depan pintu pun merasa terkejut.
Bi Surti : “Aden? Aden ada apa kemari?”
Agra : “Bi, ini benar rumah Adhia?”
Bi Surti : “Iya. Bagaimana aden bisa tahu?”
Bi Surti : “Ayo, den masuk sini, duduklah. Meski tempat ini terkesan sederhana untuk aden.
Agra : “Oh baiklah.”
Agra masuk ke rumah Adhia, kemudian ia duduk. Ia melihat Adhia yang tertidur dengan pulas dan menggunakan kompres didahinya.
Agra : “Dia panas ya, bi.”
Bi Surti : “Iya, dia sudah panas sejak pagi tadi.”
Agra : “Nggak ke dokter, bi?”
Bi Surti : “Nggak, den.”
Agra : “Kenapa, bi?”
Bi Surti : “Yaahh... gimana lagi, den. Bibi maunya juga antar Adhia ke dokter, tapi...”
Agra : “Tapi kenapa, bi?”
Bi Surti : “Nggak apa-apa, den. Aden mau makan? Bibi tadi masak sedikit untuk kakaknya Adhia.”
Agra : “Nggak, bi.”
Saat matahari terbenam, bi Surti masih sibuk dengan beberapa pekerjaan rumah. Agra masih menatap Adhia yang tertidur masih dengan kompres. Kadang Agra mengganti kompresnya. Sampai saat itu pun suhu Adhia masih tetap tinggi. Agra sudah meminta bibi dan membujuk bibi untuk membawa Adhia ke dokter atau ke rumah sakit. Namun, bibi tetap saja tidak mau.
Bi Surti : “Aden, mari makan. Nanti kakaknya Adhia saya masakkan lagi.”
Agra : “Baiklah, bi.”
Bi Surti menyiapkan makan untuk Agra. Dan mereka segera makan malam bersama dan sedikit berbincang-bincang. Saat mereka hampir menghabiskan makanan mereka, ada orang yang membuka pintu. Reza muncul dari balik pintu. Reza sedikit terkejut melihat Agra.
Reza : “Kau siapa?”
Agra : “Saya Agra, teman Adhia.”
Reza : “Oh... terima kasih sudah menjenguk Adhia.”
Reza segera meletakkan tasnya dan mengambil baju serta handuk. Ia pergi ke kamar mandi. Bi Surti dan Agra melanjutkan makan mereka.
Reza sudah selesai mandi. Bi Surti memberikan piring berisi makanan pada Reza. Reza segera memakan makanannya sambil diselingi dengan percakapan tentang keadaan Adhia. Setelah selesai makan, bibi langsung membersihkan piring-piring dan meminta Reza untuk istirahat saja.
Agra : “Saya mau pamit pulang dulu. Terima kasih atas makanannya, bi.”
Reza : “Terima kasih juga telah menjenguk adikku.”
Bi Surti : “Aden mau pulang? Pulang sendirian?”
Agra : “Nggak, bi. Tadi sopir Agra ada di depan.”
Bi Surti : “Mari saya antar saja, den.”
Bi Surti mengantar Agra sampai mobil Agra. Dengan cepat mobil melaju setelah Agra masuk ke mobil. Bi Surti kembali ke rumah Adhia.