Adhia

Adhia
Pulang yang Berat



Adhia berjalan menuju warung dan tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya. Ia menoleh ke arah orang yang memanggilnya. Tapi tidak ada orang di sekitarnya.


Saat Adhia akan melanjutkan perjalanannya, ada seseorang yang memanggilnya lagi. Dan Adhia mencari sumber suara tersebut. Sumber suara berasal dari sebuah gang kecil di antara rumah, gang itu tembus hingga jalan seberang.


Adhia masuk ke dalam gang tersebut, terlihat seseorang berjalan ke arah Adhia. Bukan, bukan hanya satu orang dua orang. Tapi di belakang mereka ada dua orang lagi. Mereka semakin dekat. Cahaya yang kurang dan di dalam gang sempit, membuat Adhia tidak dapat melihat wajah mereka dari kejauhan. Tapi saat mereka saling berhadapan Adhia tahu bahwa mereka adalah empat siswi yang sedang duduk di bangku kantin sebelah ia dan Agra.


Mereka berempat adalah siswi dari kelas sebelah Adhia. Dua di antara mereka, Adhia mengenalnya karena teman satu SD. Di SMP mereka berempat dikenal sebagai cewek-cewek manca yaitu manja dan cantik.


Adhia : “Zura? Eli?”


Zura : “Panggil-panggil, emang sini kenal sama situ?”


Eli : “Heh...kita ini datangin lo itu cuma mau kasih tahu lo. Bukannya mau reuni sama lo.”


Eli atau Elizabeth dianggap seperti pemimpin dalam geng tersebut. Ia adalah orang yang mengajak Malca (nama salah satu dari geng itu /siswi 1) untuk ngobrol dengan Agra. Sementara Zura dan Raina yang menunggu di bangku. Mereka berempat selalu bersama dan pulang selalu dijemput dengan mobil masing-masing.


Raina : “Kau tahu kan siapa kita?”


Adhia : “Kalian murid kelas sebelah, kan?”


Eli : “Heh..apa perlu dijelasin ya? Malca, jelasin pada dia.”


Malca : “Dengerin baik-baik ya. Kita itu ke sini terus susah-susah cegat kau itu ada alasannya. Dan alasannya itu kamu harus jauhin temen tampan kamu itu. Jika kau nggak mau jahuin dia, siap-siap aja, paham?”


Eli : “Gue tuh dah baik banget ya. Nyuruh Malca yang jelasin. Jadi gue tuh ingin lo jauhin temen lo yang tampan itu.”


Eli mengatakan seperti itu sambil menarik-narik baju Adhia. Dan sementara Zura melepas tas dan mengeluarkan isinya yang Adhia bawa serta mengeluarkan baju Adhia.


Zura : “Dengerin ya. Kau tahu kan kalo bahasa Malca itu sangat-sangat bahkan sangaat halus, jadi seharusnya lo itu paham. Dan ya, kasih tahu juga pada kita siapa dia.”


Adhia : “Maaf, tapi aku harus segera pergi karena ada yang harus aku kerjakan.”


Adhia mengambil tasnya dan memunguti isi tasnya. Salah satu buku Adhia diinjak-injak dengan Raina, tapi Adhia tetap sabar dan segera memasukkan bukunya itu. Saat Adhia berdiri dan akan pergi, kaki Zura menjegalnya dan membuat Adhia terjatuh tersungkur. Hal itu membuat benjol di kepala Adhia.


Zura : “Heh..kita tuh tanya sama lo. Malah lo mau pergi seenaknya.”


Raina : “Siapa yang suruh lo pergi ha? Dan ya kau masih ada utang sama kita. Dan lo mau pergi gitu aja.”


Adhia : “Apa salahku pada kalian?”


Eli : “Malca, beritahu dia sekali lagi.”


Malca : “Heh.. Adhia. Dengerin ya, lebih baik kau nurut aja dan jawab pertanyaan kita. Kau nanti pasti bisa pergi dengan selamat.”


Zura : “Hei Malca, jangan terlalu halus sama orang kayak dia itu, nanti nglunjak. Harusnya tuh seperti ini.”


Zura menarik rambut Adhia dan mengambil tasnya lagi, ia serahkan pada Raina. Dan Raina menumpahkan isi tas Adhia lagi serta menginjak-injak buku-buku Adhia.


Zura : “Dengerin baek-baek! Siapa orang yang ngajak lo ke kantin tadi?”


Zura : “Lo itu budek apa kagak paham sih. Gue itu tanya lo siapa cowok tampan sama lo tadi malah tanya-tanya hal laen.”


Raina : “Heh...udah dibilangin nurut aja dan jawab pertanyaan kita, malah ganti nanya.”


Adhia : “Kalian kan bisa tanya sendiri, kenapa harus siksa aku sih.”


Zura : “Gue itu kagak peduli mau lo ngapa-ngapain tapi lo itu harusnya nurut dan jawab pertanyaan kita.”


Adhia : “Dia Agra, teman sebangkuku. Puas?”


Eli : “Hoho...ternyata temen sebangku lo. Gue perhatiin dia kagak pernah keluar kelas. Ngapain aja di kelas?”


Adhia : “Tidur.”


Raina : “Hei jawab dengan bener dong. Masak gitu doang.”


Adhia : “Emang kenyataannya gitu, apa salahku lagi?”


Malca : “Heh, yang bener dong. Masak dia kerjaannya Cuma tidur.”


Adhia : “Iya, aku udah jawab semua pertanyaan kalian aku mau pergi.”


Adhia memasukkan buku-buku dan isi tasnya ke dalam tas. Lalu ia berdiri tertatih-tatih karena tadi Raina sempat menginjak pergelangan kakinya, sehingga ia sedikit keseleo. Tapi Zura mendorong Adhia dan kepala Adhia hampir terbentur dengan tembok.


Zura : “Kita tuh belom ijinin lo tuk pergi, ngapain lo berani pergi-pergi seenaknya.”


Eli : “Dah biarin aja dia pergi. Aku ada jam privat. Ayo kita pergi.”


Mereka berempat pergi meninggalkan Adhia. Adhia berjalan dengan tertatih-tatih menuju warung bibi. Meski kakinya sakit, ia mencoba untuk berjalan. Hingga ia sampai ke warung bibi.


Bibi melihat kedatangan Adhia yang terlihat sangat buruk. Dahi Adhia benjol, seragamnya kotor, rambutnya berantakan, bajunya keluar-keluar, dan kakinya sedikit membiru pada pergelangan kakinya, serta tasnya kotor. Melihat Adhia seperti itu bibi langsung mengajak Adhia ke belakang dan segera membersihkan Adhia.


Bibi membawakan baju Adhia yang sempat tertinggal saat liburan beberapa hari yang lalu. Adhia mengganti pakaiannya dengan pakaian bersih dan dirinya sekarang lebih bersih daripada tadi. Bibi menutup sementara warung, bibi ingin mengobati Adhia lebih dulu.


Bibi mengambil beberapa es batu dan minyak urut. Bibi meminta Adhia meletakkan es batu ke kepalanya setelah mengoleskan minyak gosok ke kepala Adhia. Bibi mengurut pergelangan kaki Adhia yang keseleo. Dan Adhia merasa kesakitan.


Bi Surti : “Bagaimana bisa kayak gini nak?”


Adhia : “Nggak apa-apa, bi.”


Bi Surti : “Nggak apa-apa, gimana? Hari ini bibi akan antar kamu pulang. Dan kamu nggak usah bantu bibi. Bibi kasih libur tiga hari, tapi jika kamu nanti bantu bibi, bibi nggak akan mau dibantu kamu lagi, paham?”


Adhia : “Iya, bi. Makasih ya.”


Adhia tersenyum pada bi Surti. Setelah bi Surti mengurut pergelangan kaki Adhia, ia kembali membuka warung. Adhia hanya melihat kegiatan bibi, ia tidak dapat membantu bibi. Setelah menutup warung, bi Surti mengantarkan Adhia pulang dengan dibonceng sepeda.


Sesampainya di rumah Adhia, bi Surti mengurut lagi kaki Adhia dan mengoleskan minyak gosok pada benjolan di kepala Adhia. Bi Surti langsung pulang setelah mengurut Adhia dan memastikan Adhia sudah makan.