Adhia

Adhia
Rencana



Agra yang baru saja menunduk dan meminta maaf akhirnya kembali duduk. Hening seketika sesaat setelah Agra duduk, tidak ada percakapan apa pun di ruangan itu.


Kepsek : “Baiklah, kalau begitu Eli dan Malca, kalian dapat kembali ke kelas.”


Eli & Malca : “Baik, pak.”


Malca : “Permisi, pak.”


Eli dan Malca keluar dari ruangan kepsek. Agra masih diam di tempatnya.


Mama Freya : “Agra, jelasin maksud kamu bohongin mama.”


Agra : “Agra nggak bohong, ma.”


Mama Freya : “Ha? Tadi kamu bilang bohong, sekarang kamu bilang nggak bohong. Apa maksudmu?”


Agra : “Nanti akan Agra jelasin kepada mama dan bapak, tapi untuk sekarang Agra kembali dulu. Permisi.”


Agra langsung meninggalkan mereka begitu saja tanpa sepatah kata pun lagi. Mama Freya dan kepsek hanya diam dan saling pandang, mereka tidak paham maksud Agra.


Agra keluar dari ruangan kepsek, saat membuka pintu, ia melihat Eli dan Malca berdiri di samping pintu ruang kepsek. Agra yang melihat mereka sedikit terkejut namun keterkejutannya tak tergambar di wajahnya. Ia hanya bermuka datar seperti biasanya.


Agra : “Ngapain kalian masih di sini?”


Eli : “Aku kan nungguin kamu.”


Sambil tersenyum cerah pada Agra.


Agra yang melihat mereka langsung berjalan kembali ke kelas. Eli dan Malca mengikuti Agra, Eli menjajari Agra.


Agra : “Bukan urusanmu.”


Eli : “Tapi kan kamu ngajak kita, pastinya ada sesuatu yang berhubungan dengan kita. Dan tadi ada seorang wanita yang duduk di ruang kepsek, em...itu...mamamu, ya?”


Agra : “Bukan urusanmu.”


Eli : “Aku kan bertanya, kok kamu jawabnya gitu sih.”


Sambil cemberut menghadap pada Agra.


Agra berjalan dengan cepat, ia langsung masuk ke kelasnya dan duduk dibangkunya. Eli ikut masuk ke kelas Agra, ia juga duduk di samping Agra, bangku Adhia. Agra yang malas menanggapi Eli, ia hanya membelakangi Eli dan tidur. Eli yang dicuekin Agra akhirnya pergi dari sana.


Agra membalik badannya dan membuka sedikit matanya, ia melihat tidak ada siapa-siapa di sampingnya. Ia segera bangkit dan berjalan mencari Eli. Dan saat ia tiba di kantin, Eli dan geng manca berada di salah satu bangku sambil mengobrol bersama. Agra mencari tempat duduk terdekat dengan mereka agar ia dapat mendengarkan apa yang mereka bicarakan.


Agra duduk sambil memakan makanan yang baru saja ia ambil. Ia duduk memunggungi geng manca. Suara mereka cukup keras sehingga Agra dapat mendengarnya dengan baik. Namun, dugaannya salah, ia berpikir jika Eli akan membicarakan tentang hal yang terjadi kemarin atau tadi di ruang kepsek. Malahan mereka membicarakan tempat nongkrong dan berkumpul.


Agra yang mendengarkan dengan baik dan bahkan ia sudah memasang alat perekam di hpnya terasa sia-sia saja. Karena ia tidak menduga jika geng manca akan membicarakan hal yang lain, bukannya hal yang ingin Agra dengar.


Setelah geng manca pergi, Agra baru beranjak dari duduknya. Ia berjalan dengan lesu dan lemah bahkan seakan-akan ia malas berjalan. Padahal jam pelajaran sudah dimulai kembali 20 menit yang lalu. Agra yang sudah malas, bukannya kembali ke kelas malah pergi ke toilet. Ia duduk di sana cukup lama, sambil memutar rekaman dari geng manca.


Ia mendengarkan rekaman dengan malas, bahkan terlihat jika rekaman itu hanya penemannya selama merenung di dalam toilet. Saat rekaman hampir habis, ia mendengar ada satu petunjuk yang bisa membuatnya bertemu dengan mereka lagi. Ia memutar kembali rekaman bagian itu hingga senyum kebahagiaan berkembang di wajah tampannya.


Setelah keluar dari toilet, ia berjalan menuju kelas dengan senyum yang masih mengembang di wajahnya. Hingga ada beberapa siswi ataupun guru yang melewatinya terkagum-kagum dengan ketampanan dan juga senyum dari wajah Agra. Ia seperti membagikan kebahagiaannya pada semua orang.


Setibanya di kelas ia masuk dan menyapa gurunya. Untung saja gurunya saat itu tidak killer, jika killer mungkin ia akan berakhir berdiri di depan kelas selama pelajaran berlangsung. Ia langsung duduk dibangkunya, masih dengan senyum mengembang di wajahnya. Hal itu membuat semua teman cewek sekelasnya dan gurunya merasakan kebahagiaan dari Agra.