Adhia

Adhia
Mamanya Agra



Adhia terkejut saat ditanya oleh orang yang masih memeluk Agra. Agra hanya diam saja dan merasa risih dengan pelukan orang tersebut.


Agra : “Ma...mama. Tangan mama nih.”


Agra langsung menyingkir tangan dari orang yang ia sebut dengan panggilan mama itu. Dan Adhia hanya kebingungan sendiri.


Seseorang : “Anda siapa ya? Apakah Anda temannya Agra?”


Orang tersebut terlihat senang dan antusias saat melihat Adhia.


Adhia : “Em..ya, tante. Saya teman Agra.”


Seseorang : “Oh..ya. Saya mamanya Agra dan panggil saya saja mama. Dan nama saya Freya, Freya Clarissa Roberto.”


Adhia : “Oh.. iya, tante. Eh maaf maksud saya mama.”


Mama Freya : “Ha... bagus-bagus. Biasakan panggil mama saja ya. Dan karena kamu teman perdana Agra, mama akan masakkan kamu makanan spesial khas untukmu. Oh aku lupa namamu nak. Siapa namamu?”


Adhia : “Adhia, tan.. eh mama. Hehehe...”


Mama Freya : “Bagus-bagus Adhia. Baiklah kau tunggu dulu di sini. Jangan pulang dulu. Dan Agra temani Adhia jika perlu kau ajak keliling rumah ini boleh-boleh saja. Mama akan masak dulu oke.”


Cup..suara kecupan di pipi Agra dari mamanya. Agra langsung mengusap bekas kecupan mamanya karena ia paling risih dengan hal seperti itu. Tapi Mama Freya sangat suka dan senang menciumi putranya itu. Mama Freya langsung pergi ke dapur untuk memasak.


Adhia : “Itu benar-benar mamamu?”


Agra : “Hm. Kenapa kau seperti itu?”


Adhia : “Ha? Nggak kenapa-napa sih. Tapi mamamu masih sangat muda ya.”


Agra : “Kau bilang muda? Mamaku sudah 40 tahun. Dan mamaku sudah punya dua anak, aku sama kakak perempuanku.”


Adhia : “Yang benar? Kau memang punya kakak? Tapi aku tidak pernah tahu.”


Agra : “Ya memang kakakku tidak ada di sini. Kakakku ada di luar negeri sama papa. Beberapa hari yang lalu mereka pulang tapi mereka udah balik ke luar negeri aja.”


Adhia : “Oh gitu ya. Emm... Agra, kata mamamu tadi...”


Agra : “Kau ingin berkeliling di rumahku? Atau kau ingin tahu seperti apa rumahku?”


Adhia : "Yaa..aku ingin berkeliling rumahmu.”


Agra : “Kau pikir rumahku ini apa? Kebun binatang? Taman? Atau museum?”


Adhia : “Ya nggak gitu. Aku cuma ingin tahu seluas apa rumahmu dan seperti apa penataannya, karena di sini tuh adem terus rapi banget.”


Agra : “Di sini ada AC. Dan yang menata dekorasi semua ini adalah mamaku dan mamaku suka dekorasi interior atau eksterior. Yah... jadinya kayak gini deh.”


Adhia : “Mamamu suka dekorasi ya? Artinya mamamu rajin dan teliti sekali ya.”


Agra : “Yaa.. seperti itulah. Kau mau berkeliling? Ayo.”


Adhia : “Boleh? Tapi gak usah ke lantai atas ya. Di sini-sini aja.”


Agra : “Hm.. aku ingin di luar aja. Soalnya lebih nyaman. Ayo."


Mereka berdua berkeliling rumah Agra, namun hanya di luar rumah saja. Mereka berkeliling dari depan rumah hingga belakang rumah. Mulai dari taman depan dengan air mancur kecil, garasi mobil, taman belakang, gazebo, dan kolam renang. Rumah Agra dikelilingi dengan pagar tinggi berwarna putih.


Setelah mereka berkeliling luar rumah, mereka merasa lelah. Agra duduk di gazebo dan Adhia mengikutinya. Mereka mengobrol tentang hal-hal di sekolah. Hingga Rita datang ke gazebo.


Rita : “Tuan muda, Nona Adhia, makanan sudah siap. Silahkan menuju ke ruang makan.”


Mama Freya : “Agra..sayaang. Adhia, ayo kemari makan sama mama dan Agra.”


Adhia : “I..iya, ma.”


Mereka duduk, Agra mengambil nasi dan beberapa makanan yang ia inginkan. Sedangkan Adhia hanya bengong dan melihat Agra makan.


Mama Freya : “Adhia, sayang. Ayo ambillah. Jangan sungkan-sungkan.”


Adhia : “Iya, ma.”


Mama Freya : “Jangan iya-iya saja. Ini makan yang banyak. Kamu kelihatan kurus sekali. Apa kamu tidak makan dengan benar? Atau mamamu tidak membuatkan sarapan untukmu?”


Adhia : “Mama Freya, Mama Adhia sudah... sudah... meninggal.”


Klang... suara sendok jatuh dari tangan Mama Freya. Mama Freya membelalakkan matanya dan terkejut sekali. Agra juga menghentikan makannya.


Mama Freya : “Oh..ya ampun sayang. Maafkan Mama, Mama nggak tahu. Mama minta maaf ya. Mama sangat-sangat minta maaf. Maafkan Mama ya.”


Mama Freya mengelus-elus kepala Adhia dan sedikit menitikkan air matanya. Ia terlihat sangat menyesal sekali karena menyinggung Ibu Adhia.


Adhia : “Nggak apa-apa, ma. Mama Freya nggak perlu minta maaf. Adhia sudah terbiasa kok.”


Mama Freya : “Ya ampun..bagaimana Mama bisa tidak memikirkan sampai dari situ. Adhia, nanti Mama antar pulang ya.”


Adhia : “Nggak perlu, Ma. Adhia nanti nggak langsung pulang ke rumah. Adhia masih perlu ke warung Bi Surti.”


Mama Freya : “Bi Surti? Kamu kerja di warungnya Bi Surti, ya?”


Adhia : “Nggak kerja, ma. Cuma bantu-bantu aja, tapi nanti di kasih uang jajan.”


Mama Freya : “Udah sekarang kamu nggak usah kerja atau bantu Bi Surti. Nanti masalah uang sekolah atau saku kamu nanti Mama akan beri.”


Adhia : “Nggak perlu, Ma. Nggak perlu. Uang sekolah Adhia gratis kok, soalnya ada beasiswa. Sebenarnya Adhia bantu Bi Surti itu karena kemauan Adhia, nggak ada yang maksa. Adhia cuma kasian sama Bi Surti nggak ada yang bantu.”


Mama Freya : “Ya ampun...sayang. Kamu baik sekali. Nanti uang jajan Mama tambahin dan nggak ada bantahan sama sekali. Udah ayo habiskan makanannya.”


Adhia dan Agra : “Iya, Ma.”


Mereka menghabiskan makanan mereka. Setelah selesai makan, Adhia membawa piring ke dapur untuk di cuci. Namun, Rita melarang Adhia untuk mencuci piring. Ia meminta Adhia untuk kembali duduk di ruang tamu. Adhia pun menurut karena Mama Freya memanggilnya. Adhia pun duduk berhadapan dengan Agra dan Mama Freya.


Mama Freya : “Adhia, kamu tinggal sendirian, ya?”


Adhia : “Nggak kok, Ma. Adhia tinggal sama kakak Adhia.”


Tiba-tiba ada suara ponsel Mama Freya berbunyi. Mama Freya langsung mengangkat telefonnya dan pergi meninggalkan Adhia dan Agra.


Adhia : “Agra, aku pulang ya. Takutnya dicari bibi nanti.”


Agra : “Ok, kau mau ke warung bibi atau pulang ke rumah?”


Adhia : “Aku ke warung dululah.”


Agra : “Ma...mama...Adhia mau pulang.”


Mama Freya : “Ya ampun, Adhia. Kenapa buru-buru pulang?”


Adhia : “ Adhia takut nanti kakak cari Adhia ke warung. Saya pamit pulang dulu saja, ma.”


Adhia langsung menyalami Mama Freya yang masih telefon dengan seseorang. Mama Freya mengangguk saja dan meminta seorang sopir untuk mengantar Adhia. Setelah berpamitan, Adhia langsung masuk ke mobil dan segera pulang.