Adhia

Adhia
Agra ke Warung



Keesokan paginya, Adhia bangun dan langsung membantu kakaknya. Ia keluar rumah bersama dengan kakaknya. Namun ia diturunkan di depan warung makan bi Surti.


Hari ini, Adhia membantu bi Surti di warung makan. Meskipun hanya sekedar membereskan piring-piring pelanggan dan mencuci piring. Bi Surti sudah cukup merasa terbantu dengan adanya Adhia. Dan Adhia juga merasa tidak terlalu sia-sia liburan semesternya.


Saat tengah hari, pada waktu jam makan siang. Ada pelanggan tak terduga dan membuat Adhia terkejut. Pelanggan itu adalah Agra. Memang Agra ke warung baru satu kali setahu Adhia. Namun sebelum Adhia membantu bi Surti, Agra sudah cukup sering ke warung.


Agra langsung masuk ke dalam warung dan duduk disalah satu tempat yang kosong. Tempat itu belum dibersihkan dan piring-piringnya masih di atas meja. Karena saat tengah hari sampai sore hari warung sangat ramai.


Melihat Agra yang duduk di meja yang belum di bersihkan. Adhia langsung menghampiri tempat duduk itu dan segera membereskan piringnya.


Adhia : “Kau ingin makan apa?”


Agra : “Apa kau akan bertanya seperti itu kepada semua pelanggan yang ada di sini?”


Adhia : “Tidak.”


Agra : “Kalau begitu tanya dengan sopan, meski aku adalah temanmu tapi aku ke sini sebagai pelanggan warung ini. Jadi kau harus perlakukan aku seperti kau memperlakukan pelanggan warung lainnya.”


Adhia : “Apa yang ingin Anda makan, Pak?”


Agra langsung menatap tajam Adhia. Ia tak menyangka kalau Adhia akan memanggilnya dengan sebutan 'pak'.


Agra : “Kau itu bisa memprediksi umur atau tidak sih. Masa aku seperti ini kau panggil pak.”


Adhia : “Cdpatlah! Katakan padaku apa yang ingin kau makan. Aku harus segera mencuci ini dan membesihkan itu.”


Sambil menunjuk salah satu bangku yang penuh dengan piring dan gelas kotor.


Agra : “Ya...ya... baiklah. Aku ingin nasi putih dengan telur ceplok mata sapi. Segera ya. Ditunggu di sini!”


Adhia : "Baiklah. Mohon ditunggu sebentar.”


Adhia langsung pergi sambil membawa piring-piring dari meja tersebut. Dan ia segera mengatakan pada bi Surti.


Adhia : “Bi, nasi putih dan telur ceplok mata sapi.”


Bi Surti : “Siapa yang memesan hanya seperti itu?”


Adhia : “Tuan muda cerewet.”


Bi Surti : “Tuan muda cerewet? Den Agra?”


Adhia : "Hm.”


Bi Surti langsung menggorengkan telur sesuai permintaan Agra. Dan Adhia dengan segera mengantarkan makanan tersebut pada Agra. Adhia meletakkan piring di atas meja tempat duduk Agra.


Agra mendapatkan makanan yang ia inginkan. Dan setelah Adhia pergi, Agra memanggil Adhia.


Agra : “Adhia.. Adhia...”


Adhia langsung mendatangi Agra dengan wajah kesal.


Adhia : “Ada apa, sih. Panggil orang pakek teriak-teriak. Emang aku ini budek apa?”


Adhia menarik napas panjang dan mengeluarkannya dari mulut. Ia menahan amarah dan rasa kesalnya pada Agra. Karena sifat Agra yang berbeda saat di sekolah dan saat di warung.


Adhia : “Apa kau sudah tua atau kau itu pikun muda? Kau tidak mengatakan apa yang ingin kau minum.”


Agra : “Jika aku tidak bilang seharusnya kau tanyalah. Apakah kau ingin bibi menutup warung hanya karena sifat tidak sopanmu itu.”


Tiba-tiba bi Surti datang dari dapur dengan membawa segelas air jeruk. Bi Surti langsung meletakkan es jeruk di depan Agra sambil tersenyum pada Agra.


Agra : “Bibi?”


Bi Surti : “Kesukaan aden tetap, kan?”


Agra: “Hehehe... iya lah bi. Bibi emang the best.”


Agra cengengesan sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Bi Surti hanya tersenyum dan mengajak Adhia kembali ke dapur warung.


Agra langsung menghabiskan makanan dan minumannya. Dan ia tidak langsung pergi. Ia hanya duduk sambil bermain ponselnya.


Adhia kesal dengan sikap Agra yang seperti itu. Ia melihat masih ada beberapa orang yang berdiri untuk menunggu tempat duduk. Adhia langsung menghampiri meja Agra dan membawa lap. Ia langsung mengelap meja dan membersihkan piring dan gelas milik Agra.


Agra : “Kenapa sudah kau bereskan?”


Adhia : “Mohon maaf atas ke tidak nyamannya. Masih ada beberapa pelanggan yang ingin duduk."


Agra : “Baiklah. Setelah kau letakkan itu, kau ikut aku.”


Adhia : “Aku?”


Agra : “Iyalah, kau pikir aku bicara dengan tembok?”


Adhia : “Tapi kan masih ada banyak yang harus aku bantu.”


Agra : “Haiz.. Bibi, aku pinjam Adhia sebentar ya.”


Bi Surti : “Iya, den.”


Agra : “Dan ini untuk makanan dan minuman tadi, bi.”


Bi Surti : “Iya, den. Makasih udah mau mampir ke warung bibi.”


Agra : “Kami pergi dulu, bi.”


Agra langsung menggandeng tangan Adhia. Ia juga tidak lupa melambaikan tangan pada bibinya itu, melihat itu Adhia terkejut. Dan Agra langsung berlari menuju mobil yang menunggunya dengan Adhia. Mereka langsung masuk ke dalam mobil.


Agra : “Kita pulang ke rumah, pak.”


Adhia : “Kenapa kau ajak aku ke rumahmu? Dan ya kenapa aku harus meninggalkan bibi sendirian? Kau itu mau ngapain sih.”


Agra : “Sssstttt... kau bisa diam tidak sih. Dari tadi berisik. Diam! Jangan bersuara!”


Adhia langsung diam dan duduk dengan tenang. Sebenarnya dalam pikirannya banyak sekali pertanyaan, tapi ia memendamnya saja. Jika ia keluarkan semua pertanyaannya pada Agra, Agra akan mengomel tanpa henti nantinya. Jadi Adhia hanya diam saja sampai mereka tiba di rumah Agra.