Adhia

Adhia
Mencari



Mama Freya tersadar dari lamunannya saat Adhia menggeliat ingin bangun. Adhia mengerjapkan matanya, ia sedikit terkejut melihat mama Freya duduk di sampingnya dengan mata berkaca-kaca.


Mama Freya : “Adhia. Ayo duduk lalu makan, sayang.”


Adhia duduk, mama Freya juga membantu Adhia duduk. Adhia duduk dan bersandar, ia melepas handuk yang ada di dahinya. Mama Freya mengambil handuk itu dan meletakkannya di baskom. Mama Freya mengambil mangkuk bubur.


Mama Freya : “Ayo makan, sayang.”


Mama Freya mengambil sesendok bubur dan menyuapkan pada Adhia. Adhia membuka mulutnya, melahap bubur itu. Mama Freya menyuapkan lagi sampai isi bubur tinggal setengah.


Adhia : “Sudah, ma.”


Mama Freya : “Kenapa sudah? Ini masih setengah, sayang. Kamu harus makan yang banyak, biar cepat sembuh.”


Adhia : “Udah, ma. Rasanya nggak enak, ma.”


Mama Freya : “Nggak apa-apa, sayang. Nanti lama-lama enak kok. Nanti kalo Adhia sudah sembuh, mama ajak ke restoran yang makanannya enak. Jadi Adhia harus makan yang banyak lalu minum obat dan istirahat.”


Adhia pun menurut kata-kata mama Freya. Mama Freya kembali menyuapi Adhia hingga bubur habis. Setelah itu, mama Freya mengambilkan obat dan segelas air. Adhia langsung meminum obatnya, ia kembali beristirahat.


Adhia : “Ma.”


Mama Freya : “Iya, sayang.”


Adhia : “Boleh nggak mama Freya tidur sama Adhia di sini?”


Mama Freya : “Boleh, sayang. Tapi mama kembalikan mangkuk dan gelas ini dulu ya. Setelah itu mama akan tidur sama Adhia.”


Adhia : “Iya, ma. Makasih.”


Adhia tersenyum pada mama Freya. Mama Freya membawa nampan yang berisi mangkuk dan gelas kosong ke dapur. Setelah dari dapur, mama Freya kembali ke kamar Adhia dan berbaring di samping Adhia sambil memeluknya.


# # #


Saat matahari sudah berganti dengan bulan, Reza mengayuh sepedanya menuju ke rumah. Hari ini, ia meminta ijin pada atasannya untuk pulang lebih awal. Hatinya merasa tidak nyaman seperti ada perasaan yang mengatakan padanya untuk segera pulang.


Saat Reza melewati warung bi Surti, tiba-tiba bi Surti menghentikannya. Ia mengerem sepedanya dengan mendadak hingga ada suara decitan rem dengan pelek. Bi Surti menghampiri Reza.


Bi Surti : “Reza? Tumben pulang awal?”


Reza : “Iya, bi. Perasaan saya nggak enak, jadi mau pulang awal.”


Reza : “Adhia apa tadi bantu bibi?”


Bi Surti : “Nggak, Reza....”


Reza : “Adhia nggak ke warung, bi? Apa dia langsung pulang?”


Bi Surti : “Nggak, Reza. Adhia itu...”


Reza : “Adhia nggak pulang? Lalu kemana dia?”


Reza langsung panik sendirian, sedangkan bi Surti hanya heran-heran sendirian.


Reza : “Bibi tahu dimana Adhia?”


Bi Surti : “Tenang dulu, nak Reza. Iya, bibi tahu dimana Adhia.”


Reza : “Benarkah, bi? Dimana Adhia? Apa dia baik-baik saja? Apa dia...”


Bi Surti : “Tenang, nak Reza. Tenang.”


Bi Surti langsung memotong kata-kata Reza sambil mengelus punggung Reza, agar lebih tenang. Setelah Reza lebih tenang bi Surti mulai memberitahu keberadaan Adhia.


Bi Surti : “Adhia ada di rumah Agra, dia tadi kehujanan jadinya sakit.”


Reza : “APA?? Adhia sakit lagi?”


Reza panik lagi dan wajahnya terlihat sedikit pucat. Bi Surti meminta Reza untuk duduk lebih dulu agar ia lebih tenang.


Reza : “Bibi. Bibi tahu rumahnya Agra dimana?”


Bi Surti : “Iya, tahu nak. Kita ke sana sama-sama aja. Tapi setelah kamu tenang dulu.”


Reza : “Baiklah, bi.”


Setelah Reza tenang, bi Surti mengambil sepedanya. Mereka mengayuh sepeda masing-masing menuju rumah Agra. Bi Surti berada di depan Reza sebagai penunjuk jalan. Sepanjang perjalanan, mereka ditemani dengan lampu-lampu jalan dan juga bulan yang bersinar tidak terlalu terang. Karena bulan masih berbentuk sabit.


Setelah mereka mengayuh sepeda selama hampir setengah jam, akhirnya mereka tiba di depan rumah Agra. Rumah dengan pagar tinggi yang mengelilinginya dan bercat putih. Bi Surti turun dari sepeda, mendekat ke pagar serta mengetuk pagar itu. Beberapa saat kemudian, keluarlah seorang pria paruh baya.