
Pada hari Minggu saat liburan semester, Adhia tidak membantu bi Surti di warung makan. Sehingga ia hanya di rumah saja dengan kakaknya. Ia di rumah membantu kakaknya membersihkan rumah selama seharian saja.
Sekitar pukul 3 sore, ada yang mengetuk pintu rumah. Mendengar itu, Adhia langsung membukakan pintu. Dari balik pintu, berdiri seorang remaja dengan kemeja kota-kotak lengan pendek dan celana jeans panjang.
Adhia : "Aldo? Ada apa kau kemari? Eemm... masuklah.”
Aldo : “Emm... Adhia. Bisa kau ikut aku sebentar?”
Adhia : “Oh, baiklah. Tapi aku bilang kakakku dulu ya.”
Aldo dan Adhia berjalan menuju sebuah taman terdekat. Mereka berjalan beriringan tanpa ada percakapan apapun. Sesampainya di taman, mereka duduk di bangku dan sesekali melihat-lihat sekitar mereka.
Adhia : “Aldo, ada apa kau mengajakku ke sini. Dan melihat kau berpakaian seperti itu, sepertinya kau akan pergi ke suatu tempat.”
Aldo : “Adhia.”
Adhia : “Ya?”
Aldo : “Adhia.”
Adhia : “Iyya. Ada apa Aldo?”
Aldo : “Adhia.”
Adhia : “Aldo, kau itu sebenarnya kenapa sih. Kok Cuma manggil-manggil gitu. Kalau mau ngomong, ngomong dong.”
Aldo : “Adhia. Sebenarnya aku...”
Adhia : “Oh ya, Do. Saat hari Jumat, minggu sebelum ujian. Kau itu mau ngomong apa sama aku?”
Aldo : “Oh itu. Yah aku Cuma mau ngomong... eem... aku merasa kamu cantik hari itu.”
Aldo menjawab sambil cengengesan. Dan Adhia hanya diam dan memalingkan wajahnya.
Aldo : “Adhia.”
Adhia : “Iya?”
Aldo : “Aku mau pamitan sama kamu.”
Adhia : “Pamitan? Emang kau mau kemana?”
Adhia : “Ya ampun, Do. Kamu ini lucu ya. Padahal biasanya tiap minggu kau keluar kota. Dan saat kau keluar kota kau tidak pernah pamitan sama aku. Mungkin kadang kau bilang kemarin-kemarin gitu.”
Aldo : “Adhia, aku pamitan sama kamu soalnya aku akan pindah keluar kota.”
Adhia :“Oh... kau berangkat hari ini ya?”
Ada sedikit gambar kekeewaan di wajah Adhia saat mendengar hal itu. Bahkan matanya berkaca-kaca, namun ia mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh.
Aldo : “Iya.”
Adhia : “Kapan kau akan kembali. Maksudku kapan kau ke sini lagi?”
Aldo : “Entahlah. Aku tidak bisa janji padamu. Aku juga tidak yakin saat sma aku akan sekolah di sini.”
Adhia : “Oh..ok, baiklah. Aku mengerti. Aldo, sepertinya sudah mau malam. Ayo kita pulang, kau kan harus segara berangkat.”
Aldo : “Em...Ayo.”
Adhia berjalan dengan begitu tak bersemangat. Ia hanya khawatir satu hal, jika Aldo pergi, siapa yang menjadi temannya. Tak ada satu pun yang berteman dekat dengan Adhia.
Aldo : “Maaf ya, Adhia.”
Adhia : “Ya?”
Aldo : “Aku minta maaf sama kamu, karena aku tidak bisa menjadi teman yang selalu ada sama kamu.”
Adhia hanya tersenyum.
Adhia : “Kau tidak perlu minta maaf Aldo. Itu juga bukan salahmu kok. Aku tidak apa-apa. Kan sekarang ada Agra, teman sebangkuku.”
Aldo : “Jika Agra pindah dan tidak menjadi teman sebangkumu bagaimana?”
Adhia : “Eh.. iya juga ya. Ya tak apalah, aku juga udah biasa duduk sendiri. Aldo makasih ya udah mau jadi teman dekatku.”
Adhia menjawab sambil tersenyum. Dan hal itu membuat Aldo semakin merasa bersalah karena ia pergi meninggalkan Adhia tanpa menjelaskan tentang perasaanya kepada Adhia.
Sebenarnya Aldo ingin sekali mengungkapkan perasaannya kepada Adhia. Namun ia takut jika Adhia akan menjauhinya ataupun merasa canggung dengannya. Jadi ia memutuskan untuk tidak memberitahukan perasaannya kepada Adhia. Biarlah menjadi isi dihatinya saja.
Mereka berjalan beriringan, melewati jalan yang sama saat mereka berangkat. Aldo mampir ke rumah Adhia dengan alasan ia ingin mengantar Adhia. Saat Adhia masuk ke dalam rumah, Aldo berjalan meninggalkan rumah Adhia dengan sesekali menengok ke belakang.