
Adhia diantar pulang oleh sopir, atas permintaan Mama Freya.
Adhia : “Pak, kita ke warung Bibi Surti aja ya.”
Sopir : “Tapi saya tadi diberitahu untuk ke rumah nona saja.”
Adhia : “Nggak usah, Pak. Antar saya saja ke warung Bibi. Soalnya saya masih ada perlu di warung.”
Sopir : “Baik, non.”
Percakapan Adhia dengan sopir pun berakhir. Hingga mereka tiba di warung Bi Surti. Adhia turun dari mobil dan mengucapkan terima kasih kepada sopir tersebut. Adhia segera masuk ke warung dan langsung ke dapur warung. Kebetulan saat itu warungnya tidak terlalu ramai, hanya tinggal 3 orang saja.
Adhia : “Bibi.”
Bi Surti : “Adhia? Dari mana saja kamu, nak?”
Adhia : “Dari rumah Agra, Bi. Tadi Agra ngajak Adhia ke rumahnya dan bertemu dengan mamanya juga.”
Bi Surti : “Ya ampun, nak. Kau bertemu dengan Nyonya Freya?”
Adhia : “Iya, Bi. Memangnya kenapa?”
Bi Surti : “Saya jadi rindu sama Nyonya Freya. Tiap pulang ke rumah, nyonya pasti masak untuk keluarganya. Lalu Beliau selalu baik pada Bibi. Nggak pernah marah kalau Bibi bikin masalah.”
Adhia : “Keliatan banget baiknya, bi.”
Bi Surti : “Nyonya itu, sangat menyayangi den Agra. Tiap pulang selalu yang dicari aden dulu. Suaminya aja pernah cemburu karena saking sayangnya nyonya pada aden.”
Adhia : “Sampai kayak gitu ya, bi. Tadi Mama Freya datang langsung peluk Agra, cium-cium pipinya Agra. Sampai-sampai Agra risih.”
Bi Surti : “Den Agra emang gitu, gak pernah mau dimanjain atau disayang-sayang sampek segitunya. Den Agra itu sebenarnya sangat sederhana, bahkan kesederhanaannya lebih dari kakaknya, ayahnya, bahkan ibunya.”
Adhia : “Bi, bibi kayaknya kenal banget ya sama Agra.”
Bi Surti : “Bibi itu yang ngasuh den Agra, jadi bibi tahu kayak apa den Agra.”
Adhia : “Tapi bi, Agra itu di sekolah diam sekali lho. Bahkan teman-teman sekelas aja gak pernah ngajak-ngajak Agra ke mana gitu.”
Bi Surti : “Sebenarnya aden dulunya nggak kayak gitu. Tapi karena adanya suatu masalah, jadinya gitu. Aden dulunya itu senang banget senyum, tertawa-tawa, bercanda, pokoknya dulu itu aden nggak pernah murung atau diam. Dulunya saat masih SD, aden punya banyak teman, terus teman-temannya senang juga sama aden. Kadang-kadang aden ngajak temannya ke rumah. Tapi entah kenapa saat ia mau naik ke kelas 6, ia berubah jadi murung, jarang keluar kamar, pulang sekolah langsung masuk ke kamar, makan nggak teratur, jadi kurus, dan jarang banget senyum apalagi teman-temannya nggak pernah ke rumah. Aden seperti itu terus selama beberapa bulan. Bibi udah bicara sama aden saat semua orang lagi pergi, lalu aden cerita...”
Tiba-tiba seorang pelanggan berdiri dan membuat kaget bi Surti dan Adhia.
Pelanggan : “Berapa, bi?”
Bi Surti : “Dua orang, ya? Tambahannya apa?”
Pelanggan : “Kerupuk 2.”
Pelanggan tersebut langsung memberikan sejumlah uang lebih, bi Surti memberikan uang kembaliannya. Adhia mendatangi meja dua pelanggan tersebut dan membersihkan mejanya serta membawa piring dan gelas ke belakang.
Tersisa satu orang saja, setelah itu bi Surti akan tutup. Akhirnya orang tersebut menuju ke tempat pembayaran dan membayar tagihannya. Adhia segera melakukan pekerjaannya. Dan bi Surti memberikan wadah yang kotor. Adhia mencucinya dan bi Surti membantunya setelah menutup jendela warung.
Adhia : “Bibi, lanjutin ceritanya tadi dong. Kok bisa sih Agra bisa berubah dalam sekejap saja.”
Bi Surti : “Ceritanya den Agra jadi berubah ya?”
Adhia : “Iya, bi.”
Bi Surti : “Den Agra jadi berubah seperti itu karena diolok-olok, direndahin sama teman-temannya. Jadi den Agra itu selalu mendapat juara pertama dan nilai yang bagus. Terus ada teman den Agra yang ngomong kalau den Agra itu bayar gurunya biar den Agra dapat nilai bagus dan juara pertama. Soalnya saat itu di beberapa SD bahkan di SD den Agra juga ada masalah yang seperti itu, makanya den Agra dikatain kalau bayar guru biar dapat nilai bagus dan juara pertama. Katanya tiap hari den Agra diejek-ejek kayak gitu. Terus ditambah kalau den Agra itu pelit, nggak murah hatilah, sombonglah. Sampai teman yang paling sering dengan den Agra saja ngolok-olok aden. Intinya hampir tiap hari den Agra itu dibully atau dikata-katain.”
Adhia : “Terus Agranya diam aja gitu, bi?”
Bi Surti : “Iya. Den Agra nggak pernah balas mereka, tapi lama-kelamaan cara mereka lebih kejam. Pernah katanya den Agra dimintain uang dan teman yang sering dengan den Agra pun juga ikut minta uang. Dia sebenarnya nggak apa-apa jika dimintain uang tapi cara mereka mintanya itu yang keterlaluan dan apalagi teman akrabnya juga ikut. Hal itu membuat den Agra lebih kecewa, dan den Agra lebih sering sendiri dan murung. Sepertinya den Agra itu sudah kecewa sama yang namanya teman.”
Adhia : “Dulunya itu Agra memang sudah tinggal di rumah putih besar itu ya, bi?”
Bi Surti : “Sejak dulu rumah aden emang di situ. Tapi setelah saya cerita tentang keadaan aden yang tiba-tiba berubah pada Nyonya Freya. Akhirnya saat naik kelas 6 aden dipindah keluar kota.”
Adhia : “Lalu kalau ada masa lalu seperti itu kenapa Agra kembali ke kota ini?”
Bi Surti : “Bibi juga nggak tahu apa alasannya kembali. Karena bibi sudah tidak bekerja sejak aden masuk SMP. Karena bibi merasa sudah tidak sanggup. Makanya bibi buka warung untuk makan sehari-hari.”
Adhia : “Bibi juga gak pernah tanya sama Agra gitu alasan ia kembali?”
Bi Surti : “Yah...bibi sih pernah tanya tapi aden nggak pernah jawab. Hanya diam saja atau tanya hal lain sama bibi.”
Adhia : “Tapi dia di sekolah juga tetap diam saja. Nggak pernah bicara sama teman-teman lainnya. Kadang sih diajak bicara, tapi Agra selalu menjawab seadanya dan singkat pula.”
Bi Surti : “Masih saja belum punya teman ya?”
Adhia : “Dia sering kok bicara sama aku.”
Bi Surti : “Bagus kalau begitu. Coba bujuk aden untuk berteman dengan teman lain juga, biar nggak sendirian terus.”
Adhia : “Baik, bi. Akan Adhia coba.”
Bi Surti : “Ayo cepat kita selesaikan. Nanti kakakmu jemput.”
Adhia : “Iya, bi.”
Bi Surti dan Adhia segera menyelesaikan pekerjaan mereka. Dan saat semua pekerjaan selesai, kakak Adhia datang menjemput Adhia. Adhia dan kakaknya berpamitan pulang pada bi Surti. Dan akhirnya mereka pulang sampai ke rumah.