Adhia

Adhia
Lebih baik



Reza berjalan mendekati Adhia. Adhia tengah tidur dengan nyenyak, Reza mengelus kepala Adhia dan menyentuh kening adiknya. Terasa panas di kening adiknya, membuat matanya berkaca-kaca. Dan tanpa sadar mengalir membasahi pipinya.


Adhia merasa pipinya basah, seperti ada tetesan air yang mengenai pipinya. Ia membuka matanya dan melihat ada bayangan kakaknya di depannya. Ia melihat dengan seksama dan benar kakaknya ada di sampingnya.


Adhia : “Kakak? kenapa nangis?”


Reza hanya diam dan memeluk adik tersayangnya. Ia meneteskan air matanya karena tak kuasa ia tahan. Dalam hatinya ia berkata, aku belum bisa menjadi kakak yang baik. Aku belum bisa menjadi kakak yang melindungi adiknya ataupun memenuhi kebutuhannya. Aku tidak bisa dianggap kakak yang baik untuknya.


Setelah pelukan hangat dari kakaknya, Adhia melepaskan pelukan itu. Ia mengusap air mata yang membasahi pipi kakaknya itu.


Adhia : “Kakak kok peluk-peluk Adhia sih. Nanti ketularan gimana?”


Reza : “Nggak pa-pa, dek. Yang penting kamu sehat.”


Adhia : “Mama Freya kemana? Oh ya, kakak kok bisa ada di sini? Tahu rumah Agra dari mana?”


Reza : “Tadi kakak diberitahu bi Surti dan bi Surti juga yang antar kakak kemari.”


Adhia : “Terus bi Surtinya mana?”


Reza : “Udah pulang. Kamu tidur dulu gih, biar cepet sembuh. Dan besok kamu nggak usah ke sekolah dulu.”


Adhia : “Baik, kak.”


Adhia kembali berbaring dan memejamkan matanya. Reza menarik selimut menutupi tubuh Adhia hingga lehernya. Reza berjalan keluar kamar dan bertemu dengan mama Freya.


Mama Freya : “Cepat gih kamu tidur. Besok kamu harus sekolah juga.”


Reza : “Baik, ma.”


Reza kembali kekamarnya dan ia berangkat menuju alam mimpi.


# # #


Di pagi hari yang cerah, mama Freya sudah menyiapkan sarapan untuk semua orang. Beliau juga sudah berpakaian rapi seperti akan pergi keluar kota lagi. Reza sudah bangun dan membantu mama Freya menyiapkan sarapan. Sedangkan Agra masih ada dikamarnya, entah dia masih tidur atau sudah terbangun.


Mama Freya : “Agra, sayang. Bangun dong, masak kalah sama Reza. Udah bangun pagi, bantuin mama buat sarapan. Agra, bangun sayang.”


Agra : “Iya, ma.”


Agra pun terbangun, ia berjalan ke kamar mandi. Mama Freya turun menuju ruang makan. Beberapa menit kemudian Agra turun dengan penampilan yang rapi dan tampan serta membawa tas sekolahnya. Ia duduk di salah satu kursi, lalu menyantap sarapannya.


Setelah sarapan, Agra dan Reza berangkat sekolah. Mereka berangkat diantar dengan sopir Agra, pak Rudi. Sementara mama Freya dan Rita ke kamar Adhia. Rita juga membawa nampan berisikan seperti biasanya.


Saat mama Freya membuka pintu, mereka berdua terkejut. Mereka masuk dan melihat sekitar. Saat mendengar suara air, mereka merasa lega. Mama Freya duduk diranjang, menunggu Adhia keluar dari kamar mandi. Adhia keluar dengan baju yang sama dengan kemarin.


Adhia : “Mama?”


Mama Freya : “Kamu udah baikan, sayang?”


Adhia : “Sudah lebih baik, ma. Badanku juga udah nggak demam, ma.”


Mama Freya : “Baguslah, kalo gitu sini sarapan dulu sayang.”


Adhia : “Baik, ma. Oh ya ma, kak Reza kemana?”


Mama Freya : “Udah berangkat sekolah sama Agra.”


Adhia : “Loh kok udah berangkat. Kok nggak tungguin Adhia.”


Mama Freya : “Hari ini kamu nggak usah masuk sekolah dulu. Hari ini kamu di rumah aja sama Rita. Mama ada perlu sebentar.”


Adhia hanya mengangguk dan menuruti kata mama Freya. Ia segera menghabiskan makanannya dan meminum obatnya. Setelah itu, Adhia kembali berbaring untuk istirahat. Mama Freya dan Rita keluar kamar Adhia.


Mama Freya : “Rita, nanti kalau Adhia butuh sesuatu berikan. Aku akan segera kembali.”


Rita : “Baik, nyonya.”


Mama Freya keluar rumah mengendarai mobilnya bersama dengan sopir pribadinya. Sedangkan Rita kembali ke dapur.