Adhia

Adhia
Lho kok?



Agra : “Em...maaf, pak. Saya kan tidak tahu siapa mereka, apa kita akan mencari berkeliling satu sekolah untuk mencari mereka?”


Kepsek : “Hm...benar juga ya, lalu gimana caranya?”


Agra : “Begini saja, pak. Nanti waktu istirahat saja, karena biasanya mereka ngikutin saya.”


Kepsek : “Baiklah kalau begitu, nanti saat istirahat kamu ajak dia ke ruangan saya.”


Agra : “Baik, pak.”


Agra kembali ke kelasnya, sedangkan mama Freya pamit pulang. Dan mama Freya akan kembali saat jam istirahat.


# # #


Saat jam istirahat, Eli dan Malca sudah ada di depan pintu kelas Agra. Agra melihat Eli berdiri di depan pintu kelasnya. Ia berdiri dan berjalan mendekati Eli, Eli yang melihat Agra mendekatinya, ia tersenyum pada Agra dan melambaikan tangannya.


Agra : “Ayo ikut aku.”


Agra menarik tangan Eli menuju ruang kepsek. Eli yang tangannya ditarik senyum-senyum bahagia dan Malca mengikuti Eli. Saat tiba di ruang kepsek, Eli dan Malca kebingungan dan sedikit terkejut. Agra mengetuk pintu dan kepsek mempersilahkan masuk.


Agra : “Ini pak orangnya.”


Kepsek terkejut melihat Eli yang digandeng Agra. Mama Freya juga sudah ada di ruangan.


Kepsek : “Elizabeth?”


Eli : “Selamat siang, pak.”


Sambil tersenyum dan sedikit membungkukkan badan.


Ekspresi terkejutnya sudah berganti dengan ekspresi biasanya.


Kepsek : “Kalian semua duduklah.”


Agra, Eli, dan Malca duduk di sofa. Malca terlihat pucat dan khawatir sedangkan Eli terlihat sangat santai.


Kepsek : “Agra, apa benar mereka?”


Agra : “Iya, pak. Saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri. Dan masih ada dua anak lagi.”


Malca : “Ini ada masalah apa ya, pak?”


Kepsek : “Tidak ada apa-apa. Nanti saya jelaskan. Nyonya Roberto, saya akan mencoba untuk menyelidiki hal ini terlebih dahulu.”


Mama Freya : “Tidak perlu diselidiki, pak. Lebih baik langsung ditanyakan langsung pada mereka.”


Kepsek : “Saya akan meminta guru BK untuk menanyakan hal ini pada mereka.”


Mama Freya : “Tidak perlu ke BK, pak. Langsung saja tanya mereka di sini saja.”


Kepsek : “Begini nyonya, bukankah lebih baik jika diselesaikan bersama dengan guru BK?”


Kepsek : “Jangan seperti itu, nyonya. Baiklah saya akan menyelesaikannya sekarang juga.”


Kepsek berpindah tempat duduk menjadi berhadapan dengan Agra, Eli, dan Malca.


Kepsek : “Eli dan Malca, kemarin sepulang sekolah kemana saja kalian.”


Eli : “Pulang sekolah pastinya pulang ke rumah, pak. Kemarin saya ada jadwal les private.”


Kepsek : “Malca, kemana saja kamu?”


Malca : “Sebelum pulang saya beli jus pak, setelah itu saya...em....”


Sambil melirik ke arah Eli. Eli menginjak kaki Malca. Malca hanya meringis saja dan menahan rasa sakitnya.


Malca : “Pulang, pulang pak.”


Kepsek : “Beneran? Nggak bohong?”


Malca : “I..i..iya, pak.”


Kepsek : “Jawab yang tegas! Jangan terbata-bata.”


Malca : “Iya, pak. Saya langsung pulang ke rumah, nggak kemana-mana lagi.”


Kepsek : “Agra, mereka yang bohong atau kamu yang bohong?”


Agra : “Saya yang bohong, pak.”


Kepsek & Mama Freya : “He?”


Agra : “Iya, pak. Saya yang bohong.”


Mama Freya : “Tunggu, kamu kemarin cerita kalau...”


Agra langsung memotong kalimat Mama Freya.


Agra : “Agra yang bohong, ma. Agra yang ngarang cerita.”


Kepsek dan Mama Freya bingung sendiri dan mereka saling pandang.


Kepsek : “Nyonya Roberto, bagaimana ini?”


Mama Freya : “Saya juga bingung, pak. Agra gimana maksud kamu? Jangan bikin mama bingung dan malu dong.”


Agra : “Ma, Agra bohong dan mama nggak usah malu. Agra nggak malu-maluin mama kok.”


Agra langsung berdiri dan membungkuk 90° kepada kepsek dan mamanya, sambil mengucapkan permintaan maaf. Semua yang di dalam ruangan bingung dan tidak mengerti. Mereka semua hanya melihat Agra, tanpa mengatakan sepatah kata pun.