Adhia

Adhia
Singkat



Di belakang sekolah


Aldo : "Adhia, ada yang mau aku katakan, bolehkan?”


Adhia : “Iya, ada apa?”


Aldo : “Adhia, sebenarnya aku..”


Teett...teett...tett... suara bel masuk berbunyi. Adhia langsung melepaskan genggamannya dan Aldo pun hanya menganga melihat itu. Adhia langsung berlari.


Adhia : “Aldo, ayo cepat! Setelah ini guru killer datang. Kalau kita tidak segera masuk kelas kita akan dihukum.”


Adhia terlihat sangat khawatir, melihat itu Aldo langsung berlari. Dengan berlari secepat mungkin, mereka akhirnya tiba di kelas sebelum guru pengajar datang. Adhia pun menghela napas lega.


Adhia : “Huuhh... akhirnya. Ayo cepat duduk.”


Guru pengajar pun datang tak lama kemudian dan pelajaran dimulai. Setelah pelajaran usai, para siswa berhamburan memenuhi halaman sekolah menuju gerbang sekolah, waktunya pulang sekolah. Dan Adhia pun segera mengambil tasnya beranjak pulang.


Aldo yang sebenarnya ingin berbicara dengan Adhia harus kehilangan kesempatannya. Karena Adhia sudah pergi terlebih dahulu. Aldo langsung saja mengambil tasnya dan segera pulang.


# # #


Hari-hari ujian.


Nomor ujian siswa sudah dibagikan pada hari Sabtu, minggu sebelum ujian. Adhia, Aldo, dan Agra, mereka satu ruang saat ujian.


Adhia terlihat sangat serius dan benar-benar berpikir keras untuk mengerjakan soal-soal ujian. Aldo, santai namun tetap serius dalam mengerjakan soal-soal ujiannya. Sedangkan Agra, setelah soal dibagikan bukannya ia mengerjakan namun ia malah tidur. Dan saat waktu pengumpulan kurang setengah jam baru ia bangun dan mengerjakan soal-soalnya.


Setelah ujian kenaikan kelas selesai, Aldo langsung mengurus surat-surat pindah sekolahnya. Ia berencana akan pindah rumah saat liburan semester. Jadi ia harus segera menyelesaikan surat-suratnya dan ia harus mendaftar pada sekolah tempat barunya sebelum masuk sekolah.


# # #


Hari pembagian rapor.


Hari ini hari pembagian rapor, rapor akan diambil oleh orang tua atau wali murid. Namun, Adhia dan Agra sepertinya mereka harus mengambil rapor mereka sendiri. Sebenarnya kakak Adhia, Reza dapat mengambil rapor adiknya, namun Reza harus kerja karena ada tambahan pekerjaan. Sedangkan Agra, kedua orang tuanya sedang pergi dan tidak ada yang mau mengambil rapornya dengan alasan sibuk.


Saat pengumuman peringkat, semua orang terkejut apalagi Adhia. Peringkat pertama kelas Adhia adalah Agra. Ada beberapa teman Adhia yang ikut orang tua mereka mengambil rapor pun juga terkejut. Karena mereka semua tidak menyangka jika Agra yang selalu tidur di kelas bahkan saat ujian pun, ia bisa menjadi peringkat satu dalam satu kelas. Ada beberapa temannya yang berpikir, Agra memiliki jurus apa hingga ia bisa peringkat pertama?


Memang benar semua orang terkejut dengan hal itu. Dan akhirnya semua kembali seperti normalnya. Adhia maju ke depan saat namanya dipanggil. Ia memberitahu gurunya bahwa kakaknya tidak dapat datang karena ada urusan mendadak. Dan saat Agra yang maju ke depan, terasa waktu berjalan sangat lama. Namun akhirnya semua selesai tanpa ada masalah apa pun. Dan libur semester pun tiba.


# # #


Libur semester


Saat Adhia membersihkan meja, ada seseorang yang datang. Orang tersebut adalah Agra. Adhia terkejut melihat Agra datang ke warung itu. Lalu ia menghampiri Agra.


Adhia : “Ada apa kau kemari?”


Agra : “Kau? Ngapain kau ada di sini?”


Adhia : “Aku di sini membantu bibi. Seharusnya aku yang bertanya padamu. Ngapain kau di sini?”


Agra : “Tentu saja aku mau makan masakan bi Surti. Bi Surti itu dulunya adalah ART di rumahku.”


Tak lama bi Surti mendekati Agra dan Adhia.


Bi Surti : “Aden? Aden mau makan apa?”


Agra : “Bibi... aku kangen masakan makanan bibi. Aku ingin semur ayam suwir dan oseng-oseng kacang panjang buatan bibi.”


Agra menggelayut pada tangan bi Surti dan bersikap sangat manja. Melihat itu Adhia terkejut bahkan ia sangat-sangat terkejut. Melihat sikap Agra yang berbeda 180 derajat saat di sekolah dan pada bi Surti. Hal itu membuat Adhia terkejut bukan main. Sampai ia membelalak dan menganga.


Sebenarnya, dulunya bi Surti memang bekerja di rumah Agra. Namun karena bi Surti sudah merasa sangat tua dan tidak sanggup untuk melakukan semua pekerjaan sebagai ART, maka bi Surti mengundurkan diri. Bi Surti bekerja di rumah Agra sejak Agra belum dilahirkan, lebih tepatnya setelah keluarga Agra pindah ke rumah serba putih itu.


Saat Agra masih balita dan orang tua Agra sering keluar kota atau bahkan keluar negeri, bi Surti yang merawat Agra hingga besar. Bi Surti bekerja sebagai ART di rumah Agra hingga Agra berumur 11 tahun. Dan Agra lebih dekat dengan bi Surti daripada kedua orang tuanya, karena itulah ia sangat manja pada bi Surti.


Bi Surti langsung membuatkan makanan yang diinginkan Agra. Dan Agra hanya menunggu di meja pelanggan sambil bermain ponsel. Adhia membantu bi Surti membuat makanan untuk Agra.


Setelah semua makanan yang diinginkan Agra matang, Adhia menyajikannya pada Agra. Seketika Agra langsung melahap semua makanan yang ada di hadapannya.


Adhia : “Kau itu kelaparan atau memang doyan?”


Agra : “Kedua-duanya. Bibi berapa semua ini?”


Bi Surti : "Aden, nggak usah bayar aja. Bibi masak khusus buat aden.”


Agra : “Oh... tidak bisa. Kalau tiap-tiap hari aku kesini dan minta makanan pada bibi, bisa-bisa warung bibi segera tutup.”


Bi Surti hanya menghela napas dan tersenyum pada Agra.


Agra : “Ini, bi. Anggap saja aku ini pelangganmu, jangan anggap aku tuan muda. Bibi sekarang tidak bekerja untuk keluargaku lagi. Jadi bibi nggak perlu manggil aku aden. Ok, bi. Aku pulang dulu ya.”


Agra meletakkan sejumlah uang di atas meja tempat ia makan tadi. Dan ia berpamitan sambil tersenyum dengan cerah dan manis. Melihat itu Adhia menjadi merasa merinding dan sedikit berdebar. Dan Adhia langsung membereskan meja yang digunakan Agra.