Adhia

Adhia
Keseharian Adhia



Di pagi hari yang cerah dengan suara kicauan burung terbang di langit. Samar-samar terdengar suara seorang lelaki.


Lelaki : “Adhia... bangun... ini sudah pagi. Kenapa kau selalu sulit sekali dibangunkan ha...”


Lelaki itu tidak lain adalah kakak Adhia, Reza. Setiap pagi Reza merasa kesal dan lelah harus membangunkan adiknya yang susahnya minta ampun untuk bangun.


Adhia : “Hhhoooaaammmm.....”


Adhia merubah posisi tidurnya dan kembali terlelap. Melihat itu, Reza langsung mengambil gayung berisi air dari kamar mandi. ‘Bbyuuuurrr’ suara air disiramkan tepat di wajah Adhia.


Adhia : “Aaakkhhhh... kakak... kenapa kau menyiramku dengan air?”


Reza : “Siapa peduli? Kau jika sudah tidur susah dibangunkan. Lihat itu sudah jam setengah tujuh dan kau belum bangun. Apa kau tidak sekolah?”


Adhia : “Iya...iya aku bangun nih. Sudah jangan siram aku dengan air, dingin tahu.”


Adhia bangun dan bangkit dari tempat tidurnya. Ia berjalan ke kamar mandi sambil sempoyongan karena pusing dibangunkan. Ia segera mandi dan berpakaian seragam sekolahnya. Ia sudah duduk di depan meja makan kecil dan pendek untuk sarapan. Namun yang ia dapati hanya sepiring nasi, kecap, dan kerupuk saja.


Adhia : “Kak hari ini sarapannya sama?”


Reza : “Iya. Hari ini kakak bangun kesiangan. Dan ya, lain kali jangan tunggu kakak sampai pulang bekerja. Mulai kemarin kakak akan pulang sedikit lebih malam lagi. Kau mengerti dan dengar aku kan?”


Adhia : “Iya, kak.”


Adhia dan Reza segera menghabiskan sarapan mereka. Setelah itu mereka segera berangkat ke sekolah dengan Adhia dibonceng kakaknya naik sepeda.


# # #


Setibanya di sekolah, Adhia langsung masuk ke kelasnya dan duduk dibangkunya sendiri. Ia duduk di pojok kelas tanpa teman sebangku. Dan depan bangkunya adalah Aldo.


Aldo : “Pagi...Adhia!”


Aldo menyapa sambil mengusap kepala Adhia dan membuat rambut Adhia berantakan.


Adhia : “Iisshh... Aldo jangan gitu dong. Rambutku berantakan nih jadinya.”


Aldo : “Emang tiap hari rambutmu selalu rapi?”


Adhia : “Emang kamu lihat nggak rapi ya."


Adhia : “Ih...kamu tuh ngomong apa sih.”


Adhia langsung mengambil topi dan pergi ke luar kelas untuk mengikuti upacara. Melihat itu, Aldo juga langsung mengambil topi dan menyusul Adhia ke lapangan upacara dan diikuti teman-teman lainnya.


Setelah upacara selesai, dilanjutkan dengan pelajaran seperti biasanya. Adhia mengikuti pelajaran dengan tertib dan tenang.


# # #


Saat jam pelajaran berakhir, Adhia pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Ia berjalan kaki menyusuri jalanan menuju rumah. Saat di tengah jalan, ia melihat sebuah warung makan sederhana yang sangat ramai. Sebenarnya ia sudah tahu, jika warung makan itu selalu ramai saat Adhia pulang sekolah. Ia berpikir apakah warung itu membutuhkan karyawan. Dan karena penasarannya, ia masuk ke warung makan itu.


Adhia : “Bibi, apakah ada yang bisa saya bantu?”


Pemilik warung : “Ada, nak. Kamu bisa mencuci piring-piring itu kan?


Pemilik warung itu menjawab Adhia tanpa melihat Adhia bahkan melirik pun tidak. Pemilik warung itu terlihat seperti seorang wanita berumur 50 tahunan. Pemilik warung itu terlihat sangat sibuk dan terlihat masih ada banyak pekerjaan yang belum selesai. Sepertinya pemilik warung itu tidak mempunyai satu pun karyawan atau orang yang membantunya.


Adhia segera meletakkan tasnya dan langsung mencuci piring-piring kotor dari orang-orang yang makan. Selesai mencuci piring, Adhia mengambil lap dan mengelap meja-meja yang baru saja ditinggalkan, serta ia mengambil piring-piring di atasnya.


Setelah semua makanan habis dan pelanggan pulang, pemilik warung baru menyadari jika orang yang membantunya dari tadi adalah seorang siswi smp.


Pemilik warung : “Astaga, nak! Daritadi kamu yang membantu bibi?”


Adhia : “Iya, bi. Apa ada yang salah? Saya lihat daritadi bibi sangat kesulitan dan sibuk”


Pemilik warung : “Aku tidak menyadarinya jika kau adalah seorang pelajar. Apa kau tidak apa-apa? Apa orang tuamu tidak mencarimu atau memarahimu?”


Adhia : “Bibi, tidak perlu bingung atau panik. Orang tuaku tidak akan mencariku. Bibi, bolehkah Adhia membantu bibi sepulang sekolah?”


Pemilik warung : “Iya boleh saja. Kalau kamu tidak keberatan, nanti bibi kasih kamu tambahan uang saku. Dan ya, nama bibi itu Surti, jadi panggil saja biksur atau bibi saja tidak apa-apa.”


Adhia : “Terima kasih, bibi. Sekarang Adhia pamit pulang dulu ya.”


Bibi : “Eehh...nak. Tunggu dulu. Ini untuk tambah sakumu. Dan ya besok kalau mau bantu bibi, kalau bisa bawa baju ganti ya. Biar seragammu tidak kotor dan pakai celemek ini.”


Adhia : “Baik, bi. Adhia pulang dulu ya.”


Adhia berjalan pulang ke rumah. Sesampainya di rumah Adhia menunggu kakaknya pulang dari bekerja. Ia menunggu kakaknya sampai lelah dan terlelap tidur.