
Seorang pria paruh baya itu adalah satpam di rumah Agra.
Satpam : “Bibi?”
Bi Surti : “Pak satpam masih di sini?”
Satpam : “Iya, bi. Ada keperluan apa bibi kemari?”
Bi Surti : “Tadi aku telpon sama aden, katanya Adhia di sini.”
Satpam : “Oh gadis kecil berambut panjang warna coklat itu?”
Bi Surti : “Iya, betul.”
Satpam : “Iya tadi dia naik mobil sama aden. Tapi keliatannya dia kedinginan gitu.”
Bi Surti : “Ini kakaknya Adhia, dia ingin bertemu dengannya.”
Satpam : “Ya udah. Ayo masuk.”
Satpam itu membukakan pintu lebih lebar. Bi Surti dan Reza masuk, bi Surti langsung menuntun sepedanya di parkiran biasanya ia parkir dulu. Reza hanya mengikuti bi Surti di belakang bibi. Bi Surti menekan bel saat di depan pintu rumah Agra. Rita yang mendengar suara bel segera berjalan menuju pintu. Ia membuka pintu, terlihat bi Surti dan Reza.
Rita : “Bibi?”
Dengan wajah terkejut.
Bi Surti : “Rita, Adhia apa di sini?”
Rita : “Ada. Dia sedang istirahat dengan nyonya.”
Bi Surti : “Nyonya sudah pulang?”
Rita : “Iya, beliau pulang tadi sore. Mari masuk, bi. Tapi siapa yang ada di belakang bibi?”
Bi Surti : “Dia kakaknya Adhia, Reza. Dia mencari-cari adiknya.”
Rita hanya mengangguk saja. Ia mempersilahkan Reza dan bi Surti masuk. Saat mereka berjalan menuju kamar Adhia, Agra turun dari tangga. Agra melihat bi Surti langsung turun dengan cepat dan menyapa bi Surti.”
Agra : “Bibi.”
Bi Surti : “Aden? Aden kok belum tidur?”
Agra : “Ada apa bibi kemari? Kangen sama Agra ya?”
Agra mencoba bercanda dengan bibinya, seperti ia dulu. Bi Surti hanya tersenyum.
Bi Surti : “Gini, den. Bibi kemari mengantarkan nak Reza untuk bertemu dengan Adhia.”
Agra : “Adhia? Oh dia ada di kamar. Aku antar ya, bi. Mbak ambilkan minum sama camilan untuk mereka, biar aku yang mengantar.”
Rita : “Baik, tuan muda.”
Agra : “Ayo, bi.”
Agra : “Ma...mama.”
Mama Freya menggeliat dan membuka matanya. Mama Freya melepas pelukannya pada Adhia serta membalikkan badannya melihat pada Agra.
Mama Freya : “Ada apa, sayang?”
Sembari duduk.
Agra : “Itu, ada bibi dan kakaknya Adhia.”
Agra menunjuk pada bi Surti dan Reza, Mama Freya membalikkan badannya. Bi Surti dan Reza tersenyum saat mama Freya melihat mereka. Mama Freya sedikit terkejut melihat kedatangan mereka. Beliau langsung bangun dan berjalan mendekati mereka.
Mama Freya : “Bibi, apa kabar?”
Bi Surti : “Baik, nyonya.”
Mama Freya : “Tidak perlu panggil saya nyonya lagi. Saya bukan majikan bibi lagi.”
Bi Surti hanya tersenyum saja. Mama Freya mendekati Reza.
Mama Freya : “Kamu pasti kakaknya Adhia, ya?”
Reza : “Benar.”
Mama Freya : “Ayo kita berbincang-bincang di ruang tengah saja. Adhia baru saja tidur.”
Mama Freya berjalan di lebih dahulu. Sesampainya di ruang tengah sudah ada tiga gelas air minum dan juga camilan. Bi Surti dan Reza langsung duduk setelah dipersilahkan dengan mam Freya. Sedangkan Agra duduk di sebelah mamanya.
Mama Freya : “Apa Adhia kemarin baru saja sakit?”
Reza : “Benar, tante.”
Mama Freya : “Jangan panggil aku dengan sebutan tante. Panggil mama saja.”
Sambil tersenyum pada Reza.
Mama Freya : “Tapi kenapa dia sudah masuk sekolah?”
Reza : “Kemarin lusa, ia sakit. Tapi kemarin dia sudah sembuh dan kemarin juga dia ingin masuk sekolah, namun saya larang. Jadi dia masuk sekolah baru hari ini.”
Mama Freya : “Jadi begitu.”
Agra : “Tapi, ma. Sebenarnya dia sakit bukan karena dia belum sembuh total. Tapi ada yang membuatnya kesakitan lalu kehujanan, akhirnya dia sakit lagi deh.”
Mama Freya : “Ada yang membuat sakit? Maksudnya?”
Semua orang yang ada di ruang tengah bingung dengan kalimat Agra.
Agra : “Jadi gini, ada anak-anak cewek yang nyakitin Adhia lalu dia ditinggalin sama mereka.”