
Selama liburan semester, Adhia melakukan kesehariannya seperti hari-hari libur seperti biasanya. Mulai dari bangun pagi, membantu kakaknya, pergi ke warung, dan pulang ke rumah bersama dengan kakaknya.
Kadang saat Adhia berada di warung, ia bertemu dengan Agra yang makan ke warung. Adhia pun melayani Agra seperti pelanggan lainnya. Dan kadang Agra pun juga mengajak bicara Adhia saat pelanggan sepi.
Agra : “Kau udah berapa lama kerja di sini?”
Adhia : “Baru beberapa minggu yang lalu. Tapi aku mau tanya, kenapa kau selalu makan di sini? Apa tidak ada orang yang memasak untukmu?”
Agra : “Suka hatikulah. Aku ke sini juga bayar, kenapa kau yang kayak mau ngajak ribut?”
Adhia : “Hei...Dengar! Itu tidak masalah jika kau makan di sini dan bayar. Tapi yang aku tanyakan itu... apa mamamu nggak masak? Padahal masakan mamamu enak.”
Agra : “Mamaku keluar kota.”
Adhia : “Hheee?? Sejak kapan mamamu keluar kota?”
Agra : “Setelah kau pulang, mamaku langsung mengemasi bajunya. Padahal baju yang ada di koper sebelumnya saja belum dikeluarkan. Tapi mamaku langsung ambil koper lain dan pergi setelah sopir yang mengantarmu kembali.”
Adhia : “Ohhh... aku pikir mamamu nggak masak untukmu. Apa mamamu sesibuk itu sampai nggak bisa tinggal sehari saja denganmu?”
Agra : “Aku sudah biasa ditinggal kedua orang tuaku keluar negeri atau kota. Sejak kecil aku sudah ditinggal dan waktu berumur dua tahun aku diasuh oleh bibi, itu memang seperti sudah jadi nasibku.”
Adhia : “Memang kau tak ingin berkumpul dengan keluargamu bercanda atau sekedar berbincang-bincang atau paling tidak makan bersamalah. Sejak kecil aku sudah ditinggal kedua orang tuaku dan aku hanya tinggal dengan kakakku. Sebenarnya aku berharap memiliki keluarga yang lengkap agar aku bisa bersama dengan mereka setiap waktu. Namun, aku tahu jika keinginan itu tidak mungkin bisa tercapai, tapi paling tidak kau harus bisa merasakan.”
Adhia : “Memang kejadian apa hingga kau tak ingin berharap walau sekali saja?”
Agra : “Saat aku berumur sepuluh tahun, semua orang kebetulan ada di rumah semuanya. Papa yang baru pulang dari luar negeri saat mama menyiapkaan makan malam. Dan kakak datang di sore harinya dari kesibukkan sekolah atau belajarnya. Mama yang pulang dari siang dari luar negeri juga. Semua orang berkumpul lengkap, ada papa, mama, dan kakak. Kami akan makan malam bersama, namun saat semua orang sudah menghadap makanan masing-masing. Ada suara ponsel berbunyi, ponsel itu milik mama, mama pun mengangkat telepon dan pergi ke taman belakang. Saat makan pada suapan pertama, ada suara ponsel berbunyi lagi, itu milik papa. Papa mengangkat telepon dan langsung naik ke lantai dua masuk ke ruang kerjanya. Tinggal aku dan kakak, kami melanjutkan makan kami berdua.”
Agra menghembuskan nafas berat. Ia meminum minumannya dan melanjutkan ceritanya.
Agra : “Saat kami makan, setengah piring sudah kami habiskan. Tiba-tiba suara bel rumah berbunyi. Kakak melihat jam dan ia langsung membukakan pintu. Yang datang adalah guru les private kakak. Kakak pun langsung mengajak gurunya masuk ke ruang belajar kakak di lantai bawah. Di meja makan tinggal aku yang hanya dapat menatap piring-piring yang masih penuh dengan makanan. Aku pun menghabiskan makananku. Mama yang sudah selesai menelepon seseorang, langsung naik ke lantai atas dan mengambil kopernya, menciumku lalu pergi begitu saja. Papa pun melakukan hal yang sama, ia membawa koper besar dan memanggil sopir untuk menyiapkan mobil. Papa menghampiriku menciumku dan mengusap kepalaku serta mengambil satu buah apel. Dan papa langsung pergi begitu saja. Masih ada kakakku, tapi kakakku saja sibuk dengan sekolahnya atau belajarnya. Setelah selesai makan, aku minta pada bibi agar tidak membereskam makanan yang ada di atas meja dan bilang ‘jika mereka kembali dan ingin makan, jadi biarkan saja tetap sepeti itu sampai besok, bi.’ Aku mengatakan seperti itu dengan sedikit harapan mereka kembali dan memanggilku untuk makan bersama. Tapi sia-sia saja, aku menunggu di ruang keluarga duduk di sofa. Namun tidak ada yang kembali. Kakak keluar dari ruangannya bersama dengan gurunya. Kakak menyapaku dan langsung naik ke kamarnya, ia bilang ‘hai, dik! Kau tidak tidur? Aku mengantuk sekali, kakak tidur dulu ya.’ Aku hanya diam dan berjalan ke kamarku. Aku pun terlelap tertidur.”
Agra meminum kembali minumannya.
Adhia : “Jadi sejak itu kau tidak pernah berharap jika kau dan keluargamu makan bersama?”
Agra : “Yaps...Jadi namanya berkumpul bersama akan sangat langka.”
Adhia : “Ternyata kehidupanmu lebih menyedihkan dari pada aku. Aku hanya bisa berharap agar kau dan keluargamu bisa berkumpul walau sekali saja.”
Agra : “Jangan memberiku harapan yang tak akan terjadi. Oh ya ampun, sudah jam segini. Bibi, di sini ya. Aku pulang dulu, bi, Adhia.”
Agra pun langsung berpamitan dan masuk ke dalam mobil. Dan Adhia berpikir bahwa masih ada cerita yang lebih menyedihkan dari pada cerita tentang milik kita sendiri. Adhia segera membereskan meja tempat Agra tadi. Dan ia segera kembali membantu bi Surti hingga warung tutup.