Adhia

Adhia
Penolong



Adhia merasa air hujan tidak membasahinya lagi, ia membuka matanya dan melihat ada seseorang di depannya. Ia pun mendongak ke atas melihat siapa yang datang untuk menolongnya. Ia tidak dapat melihat dengan jelas wajah orang itu karena gelapnya suasana saat itu.


Adhia melihat ada orang di belakang orang tersebut, dan orang yang ada di belakang membawa barang-barang milik Adhia. Orang itu juga membawa payung dengannya.


Orang itu : “Tuan muda, saya sudah mengambil semua barang-barangnya.”


Orang yang ada di depan Adhia menarik lengan Adhia dengan hati-hati. Orang itu membantu Adhia mengeluarkan kakinya dan berdiri. Namun saat Adhia sudah mengeluarkan kakinya dari selokan dan dapat berdiri sendiri, tiba-tiba ia akan terjatuh. Namun tepat sebelum Adhia jatuh orang yang membantunya berdiri menangkap tubuhnya. Mereka saling menatap ditambah dengan derasnya air hujan yang turun.


Adhia yang tersadar pun langsung mencoba untuk berdiri sendiri namun ia selalu jatuh, dan lagi-lagi orang itu menangkapnya. Alhasil Adhia sedikit mencium bau parfum dari baju orang itu. Sepertinya aku pernah mencium bau parfum ini, ya. Tapi siapa, batinnya. Orang itu pun membantu Adhia berjalan, ia membopong Adhia.


Saat tiba di sebuah mobil, orang yang membawa barang-barang Adhia membukakan pintu mobil. Adhia masuk ke dalam mobil dan orang yang membantunya juga. Adhia menoleh dan melihat siapa yang menolongnya. Orang yang menolongnya adalah Agra.


Agra duduk di sampingnya dengan baju basah terkena air hujan. Dan orang yang memunguti serta membawa barang-barang Adhia adalah sopir yang biasa menjemput Agra di sekolah. Sopir Agra yang baru saja meletakkan barang Adhia di bagasi, sudah duduk di belakang kemudi.


Agra : “Kita pulang ke rumah, pak.”


Sopir : “Baik, tuan muda.”


Selama perjalanan menuju rumah Agra, tidak ada percakapan. Hanya ada keheningan dan suara hujan serta gemuruh.


# # #


Setibanya di rumah Agra hujan masih turun dengan deras. Saat mobil tiba, Rita, ART di rumah Agra sudah berada di depan pintu rumah. Di belakangnya ada seorang pelayan yang membawa handuk dan Rita membukakan pintu mobil. Adhia turun dari mobil, ia dibopong Agra berjalan masuk ke rumah.


Rita : “Selamat datang, tuan muda. Selamat datang kembali, nona Adhia.”


Ia menyambut sembari memberikan handuk kepada Agra dan Adhia. Rita membantu Agra membopong Adhia masuk ke rumah.


Rita : “Panggilkan dokter cepat!”


Pelayan : “Baik.”


Adhia dibawa ke sebuah kamar di lantai bawah. Agra langsung pergi naik ke kamarnya untuk mengganti bajunya. Rita mengambilkan baju untuk Adhia.


Rita : “Nona, ini saya bawakan baju ganti. Saya bantu ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti.”


Adhia : “Terima kasih.”


Rita membopong Adhia ke kamar mandi. Ia juga membantu Adhia membersihkan badannya serta mengganti bajunya. Setelah keluar dari kamar mandi, Agra sudah kembali. Agra terlihat lebih bersih dan fresh. Tak lama setelah Adhia berbaring di kasur, ada seorang pelayan dan seorang dokter yang datang.


Dokter : “Baik, tuan muda.”


Dokter memeriksa tubuh Adhia dan memerban kaki Adhia, serta memberikan resep untuk ditebus. Agra mengantarkan dokter keluar.


Dokter : “Tuan muda, berikan kompres pada kaki yang keseleo dan tolong minta kepadanya untuk meminum rutin obatnya sesuai resep.”


Agra : “Baiklah. Trims.”


Dokter : “Saya pergi dahulu. Permisi.”


Dokter pergi meninggalkan rumah Agra.


Agra : “Pak Robi!!”


( Pak Robi adalah nama sopir yang selalu menjemput Agra di sekolah.)


Pak Robi : “Iya, tuan muda. Apakah ada yang perlu saya bantu.”


Agra : “Tolong, tebus resep ini dan segera kembali setelah itu.”


Pak Robi : “Baik, tuan muda.”


Pak Robi segera melajukan mobil untuk menebus resep. Agra kembali ke kamar tempat Adhia istirahat. Rita masih ada di dalam kamar menemani Adhia.


Agra : “Mbak Rita, sudah buatkan bubur?”


Rita : “Sudah, tuan muda. Sepertinya sudah matang, saya ambilkan bubur dahulu.”


Agra : “Tolong, ambilkan kompres es juga.”


Rita : “Baik, tuan muda. Apakah ada yang perlu saya bantu lagi?”


Agra : “Sudah itu saja.”


Rita membungkukkan sedikit badannya dan pergi ke dapur untuk mengambil bubur. Adhia sedikit merasa menggigil, badannya panas, ia menarik selimutnya hingga menutupi seluruh badannya. Agra merasa kasihan melihat Adhia yang seperti itu.