Adhia

Adhia
Aldo Pindah



Keesokan harinya, ada ulangan harian dadakan. Hal itu membuat Adhia khawatir, karena ia sama sekali tidak mempelajari pelajaran hari ini. Ada waktu sekitar 15 menit untuk mempelajarinya, namun Adhia tidak mengerti sama sekali. Ia memutuskan untuk bertanya pada Agra.


Adhia : “Agra, bisakah kau mengejariku tentang ini.”


Agra : “Kenapa kau tanya padaku?”


Adhia : “Bukankah saat dijelaskan tentang ini kau memperhatikannya dengan serius. Hal itu terukir jelas di wajahmu beberapa hari yang lalu.”


Agra : “Aku tidak memperhatikannya dengan serius. Kau kira aku orang yang seperti itu. Yang kau lihat saat aku serius dalam pelajaran, sebenarnya aku benar-benar tidak memperhatikan bahkan aku saja tidak tahu gurunya seperti apa.”


Adhia : “Tapi kau terlihat serius sekali.”


Agra : “Aku beritahu pada kau ya. Sebenarnya saat jam pelajaran aku tidur tapi tidak terlihat benar-benar sedang tidur. Jadi entah gurunya mau menjelaskan apa pun aku tidak akan tahu apa itu.”


Adhia : “Jadi kau itu tidur saat jam pelajaran?”


Agra hanya mengangguk saja. Dan waktu belajar yang seharusnya untuk mereka belajar mereka gunakan untuk mengobrol sampai akhirnya 15 menit telah usai. Guru membagikan soal ulangan dan meminta para siswanya untuk menyimpan buku ataupun catatan ke dalam tas masing-masing. Ulangan harian pun dimulai.


Setelah ulangan usai, guru langsung mengoreksi dan membagikannya pada siswanya. Saat Adhia melihat nilai ulangannya ia merasa sedih karena ia mendapat nilai 50. Dan saat Adhia melihat milik Agra, dalam kertas jawabannya tertulis angka 100. Hal itu membuat Adhia terkejut.


Adhia : “Kau dapat seratus? Bagaimana bisa? Kau bilang kau tidak memperhatikan penjelasan dari guru dan kau tidur saat pelajaran. Atau jangan-jangan kau semalam belajar?”


Agra : “Belajar? Semalam? Aku belajar semalam? Hahahahaha..... kau kira aku ini orang kayak gitu. Hahaha... semalam saja aku bermain game dengan sepupuku dan aku langsung tidur.”


Adhia : “Lalu bagaimana kau bisa dapat seratus saat ulangan dadakan?”


Agra : “Entah. Mungkin emang dari sananya kali aku pintar.”


Adhia : “Kenapa kau malah menyombongkan diri? Atau jangan-jangan kau membuat catatan kecil ya? Atau kau melihat buku?”


Agra : “Hei! Jangan berpikir aku orang seperti itu. Kau mencemarkan nama baikku. Dari dulu saat aku masih sd ada ulangan harian aku juga dapat nilai seratus, sembilan puluh. Saat aku di sekolah lamaku aku juga begitu. Itu artinya aku memang pintar dari sananya.”


Adhia : “Iya-iya. Kau memang sangat pandai seeekaaaliii.”


Adhia beranjak dan pergi ke kantin. Dan Agra pun langsung tidur di bangkunya sendiri. Hari itu berakhir seperti hari-hari biasanya.


# # #


Tak terasa waktu berjalan dengan cepat, Adhia menghabiskan kesehariannya seperti biasanya. Hingga ujian kenaikan kelas tidak terasa sudah dekat. Ujian dimulai pada hari Senin.


Namun, saat hari Jumat, minggu sebelum ujian, Aldo membawa beberapa kertas-kertas dalam map. Dan ayahnya pun datang ke sekolah. Adhia tidak mengetahui apa-apa, ia merasa heran, untuk apa ayah Aldo datang ke sekolah. Saat itu, Adhia bertanya ke teman lainnya.


Adhia : “Kenapa ayah Aldo datang ke sekolah, Raina?


Adhia : “Dia nggak pernah cerita denganku.”


Reva : “Entahlah. Mungkin dia tak mau memberitahumu.”


Reva salah satu teman sekelas Adhia langsung pergi begitu saja. Adhia bingung ingin bertanya pada siapa. Ia tidak mungkin akan bertanya pada Agra. Karena batin Adhia, Agra akan menjawab nggak tahu, dia kan tahunya hanya tidur.


Aldo masuk ke dalam kelas. Lalu Adhia langsung menghampirinya.


Adhia : “Aldo apa kau akan pindah sekolah?”


Aldo : "I..iya, Adhia. Ada apa?”


Adhia : “Kenapa kau tak memberitahuku kalau kau akan pindah?”


Aldo : “Ikutlah aku!”


Aldo langsung menggandeng tangan Adhia dan membawanya pergi dari kelas. Aldo membawa Adhia ke belakang sekolah.


Aldo : “Adhia, sebenarnya aku juga tidak ingin pindah sekolah. Karena aku masih ingin tetap di sini.”


Adhia : “Lalu kenapa kau harus pindah, jika kau tidak ingin pindah?”


Aldo : “Ayahku harus pindah, karena ada masalah pada perusahaan yang mengharuskan kami semua pindah, jadi aku harus ikut. Sebenarnya aku sudah meminta pada ayah untuk tidak memindahkanku, tapi ayah dan mamaku tidak ingin aku tinggal sendirian di sini.”


Adhia : “Memangnya kau pindah jauh ya?”


Aldo : “Iya. Padahal aku ingin tetap di sini melihatmu tersenyum, tertawa, rambut acak-acakanmu, kemanisanmu.”


Adhia : “Memangnya aku manis ya?”


Aldo hanya tersenyum.


Aldo : “Adhia, jika aku mengirimkanmu surat tidak apa-apa, kan?”


Adhia : “Memangnya kau tidak punya ponsel, ya? Harus kirim-kirim surat kayak jaman dulu. Kau kan bisa mengirimku pesan lewat ponsel.”


Aldo : “Hehehe... iya juga sih.”


Aldo tertawa cengengesan. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya lewat mulut. Ia menggenggam kedua tangan Adhia. Dan ia terlihat seperti sedang meyakinkan dirinya sendiri.