Adhia

Adhia
Sembuh tapi Ngajak Ribut



Semalam Adhia menunggu kakaknya hingga pulang, setelah itu ia langsung pergi tidur. Keesokan paginya, Adhia bangun lebih awal, namun tidak lebih awal dari kakaknya. Ia segera mandi dan bersiap sekolah. Semalam Reza sudah mengizinkan Adhia untuk kembali sekolah. Mereka berangkat bersama seperti biasanya setelah melakukan aktivitas pagi.


Setibanya di sekolah, Adhia melihat ada tiga orang yang berdiri di depan gerbang sekolah seperti patung yang bisa berbincang-bincang. Mereka adalah geng manca, sepertinya mereka sedang menunggu pemimpin mereka. Saat Adhia melewati mereka, ia hanya menundukkan kepalanya. Ia berharap agar mereka tidak melihat dia.


Namun buruk nasibnya, salah satu di antara mereka tahu dia melewati mereka. Zura yang mengetahui Adhia melewati mereka, ia menarik tas Adhia. Raina mengetahui hal itu, ia berdiri di depan Adhia, menghalangi jalan Adhia.


Zura : “Eheheh....mau kemana? Buru-buru banget.”


Raina : “Lo masih ingetkan apa yang kita omongin ke lo kemarin?”


Adhia : “Iya.”


Zura : “Awas aja kalo lupa.”


Malca : “Dah..biarin dia pergi. Kita garap aja kalo dia lupa sama omongan kita kemarin.”


Zura melepaskan tas Adhia dan Adhia segera pergi dari sana. Ia segera masuk ke kelas dan duduk di bangkunya. Ia melihat ke samping bangkunya yang masih kosong, itu artinya Agra belum datang. Adhia mengambil ponselnya, ia melihat ada pesan dari Aldo.


Aldo:


Adhia


Gimana kabarmu? Apa kau masih sakit?


Adhia:


Baik, Aldo. Gimana denganmu?


Aku sudah sembuh, hari ini aku udah masuk sekolah kok.


Aldo:


Aku juga.


Benarkah? Waahh...


Selamat kembali ke sekolah😂😂


Adhia:


Makasih.....😊😊


Aldo:


Minggu depan aku ingin bertemu denganmu.


Apa kau ada waktu?


Adhia:


Benarkah? Kau akan kemari?


Aldo:


Iya....😁😁


Adhia:


Waahhh......Asyik....


Kita akan bertemu di mana??


Aldo:


Lalu nanti kita pergi ke taman.


Atau kita pergi ke tempat lain🤔🤔


Adhia:


Oh baiklah.


Aku dimanapun mau saja.


Tak masalah jika kita di taman saja🙂🙂


Aldo:


Oh ok.


Untuk tempatnya kita pikirkan lagi aja😅


Udah dulu ya... guruku udah masuk...


Adhia:


Ok.


Adhia yang sejak tadi membalas pesan dari Aldo, tidak sadar jika Agra sudah datang dan duduk di sampingnya. Adhia yang sudah selesai membalas pesan Aldo melihat ke sampingnya dan terkejut melihat Agra sudah duduk serta tertidur.


Cepat sekali dia tertidur, batin Adhia. Adhia lalu menyimpan ponselnya di tas, ia mengeluarkan buku jam pertama miliknya. Dan saat itu Agra berbalik badan menghadap Adhia.


Agra : “Apa sudah selesai chatnya?”


Adhia : “Apa sudah selesai tidurnya, tuan muda?”


Agra : “Aku tidak tidur.”


Adhia : “Lalu kau ngapain? Menutup mata?”


Agra : “Hm..”


Adhia : “Lucu sekali tuan muda. Hahahaha......”


Agra : “Harusnya ada teman yang datang itu diucapin selamat pagi, kek ato apa gitu. Bukannya sibuk balesin chat doang.”


Adhia : “Selamat pagi, tuan muda. Puas?”


Agra : “Kalo ngucapin yang iklas dong. Bukannya kayak kepaksa.”


Adhia : “Kamu tuh, ya. Pagi-pagi udah ngajak ribut aja. Harusnya kalo temennya kemarin nggak masuk tuh ditanyain, kenapa kemarin nggak masuk? Gitu kek ato gimana gitu.”


Agra : “Kamu tuh yang ngajak ribut. Emang lo tahu apa? Ha..?”


Adhia : “Bodo amat. Dan ya kau lebih baik jauhin aku aja deh.”


Agra : “Hih... dasar kagak tahu terima kasih. Ngusir-ngusir orang pula.”


Adhia : “Bodo amat.”


Adhia pergi begitu saja setelah menanggapi Agra.


Agra : “Sembuh-sembuh tapi malah ngajak ribut.”


Agra yang ditinggal langsung kembali ke posisinya semula. Ia sedikit heran dengan kata-kata Adhia, yang mengatakan agar ia menjauhi Adhia. Sementara Adhia tidak pernah mengatakan hal seperti itu kepada siapa pun, bahkan kepada temannya yang membencinya sekali pun. Kenapa dia nyuruh aku jauhin dia? Apa aku buat salah sama dia? Hah.. sudahlah, batin Agra.