Adhia

Adhia
Tak Berdaya



Sejak jam istirahat Agra sudah tidur, ia juga tidak dibangunkan Adhia saat guru masuk. Ia terbangun saat jam pelajaran terakhir. Dan saat itu pun guru yang mengajar juga tidak masuk kelas.


Saat bel pulang berbunyi, semua seisi kelas berebut ingin segera pulang. Agra ingin bicara dengan Adhia, namun Adhia terlihat terburu-buru ingin segera pulang. Adhia tidak seperti biasanya yang biasa pulang terakhir. Agra pun heran dengan sikap Adhia kepadanya.


# # #


Adhia berjalan melewati jalan yang biasa ia lewati saat pulang sekolah menuju warung bi Surti. Saat ia melewati jalan yang sama saat ia bertemu dengan geng manca, ia dihadang dengan Raina. Dan tasnya ditarik dengan Zura.


Adhia ditarik ke dalam gang kecil di antara rumah. Di dalam gang hanya ada Malca, sedangkan Eli tidak terlihat sama sekali. Kejadian kemarin terulang kembali, namun terasa lebih kejam lagi dan tanpa alasan yang masuk akal.


Zura : “Heh Adhia. Dengerin baik-baik ya. Tadi maksud lu apa hah?”


Raina : “Disuruh buat ambilin makan sama minum malah pergi, kita kan dah kasih uang ke lu kurang apalagi?”


Adhia : “Buat apa aku turutin perintah kalian. Aku kan udah nurutin kalian untuk jauhin Agra. Sekarang apalagi.”


Zura : “Denger ya, Adhia. Mau soal Agra, mau soal makanan, ato apapun itu kamu itu harus nurutin perintah kami!!”


Zura mengatakannya sambil dorong-dorong tubuh Adhia.


Raina : “Kami kan udah katakan dengan JELAS!!! Jadi nggak usah NGEBANTAH LAGI!!! NGERTI GAK!!!”


Adhia : “Apa sih mau kalian itu. Kan kemarin cuma ngomong untuk jauhin Agra. Tapi sekarang minta aku untuk nurutin semua perintah kalian.”


Zura : “Heh...lu tu budek apa congek? Apa perlu ngulangin kata-kata gue tadi he? Kurang jelas ato lu *****?”


Malca : “Kurang apa sih kita ngejelasin ke lu itu? Kurang keras ato kurang kasar?”


Raina merebut jus yang dibawa Malca dari tadi. Ia menyiramkan jus itu kepada Adhia. Ia juga menarik tas Adhia dan mengeluarkan semua isi yang ada di dalam tas Adhia, setelah itu ia menginjak-injaknya dan menyiramkan sisa jus ke isi tas itu. Malca yang tahu ada beberapa lembar uang di saku tas Adhia, ia mengambil uang itu.


Adhia : “Malca, jangan ambil uangku.”


Raina : “Uang ini jadi balesan karna lu nggak mau ambilin makanan kita tadi.”


Eli yang sejak tadi tidak terlihat batang hidungnya, akhirnya muncul. Ia datang dengan membawa jus yang sama dengan milik Malca. Adhia yang sedang memunguti isi tasnya, didorong dengan Eli. Eli juga menyiramkan jus miliknya ke tubuh Adhia. Zura pun juga terus mendorong Adhia hingga salah satu kaki Adhia masuk ke selokan.


Eli : “Adhia kasih tahu juga ya pada Agra ganteng, kalo aku itu lebih baik dari kamu. Dan ya jika temen-temenku ingin kau melakukan sesuatu lebih baik lu turutin aja deh. Itung-itung buat nyelametin diri lo. Jadi nggak usah pura-pura budek ato nggak ngerti, ya.”


Setelah Eli mengatakan hal itu, ia langsung pergi tanpa mengatakan sepatah kata apapun lagi. Raina menendang gelas bekas jus dan mengenai Adhia.


Malca : “Yuk guys. Kita tinggalin dia di sini biar tau rasa dia kalo ngebantah kita.”


Mereka langsung meninggalkan Adhia begitu saja. Adhia yang terduduk di selokan tetap diam, ia menahan air matanya agar tidak jatuh. Kakinya yang terkilir kemarin pun juga terkilir kembali. Buku-buku, baju gantinya, dan semua isi tasnya bahkan tasnya juga kotor. Uang hasil membantu bi Surti pun kandas sudah.


Suara mobil mereka yang menjauh meninggalkan Adhia digantikan dengan suara gemuruh. Langit berubah menjadi gelap dengan cepat gemuruh yang tadinya terdengar agak jauh mulai terdengar dekat. Semilir angin dingin yang menandakan akan hujan pun bertiup membuat tubuh Adhia menggigil lagi. Setelah itu rintik-rintik air hujan turun dari langit, dengan cepat berubah menjadi hujan yang cukup deras.


Adhia yang tetap terduduk dengan satu kaki tercebur ke selokan pun mulai meneteskan air matanya. Air matanya jatuh bersamaan dengan jatuhnya air hujan yang deras. Tubuhnya yang baru saja sembuh mulai terasa sakit lagi. Ia merasa sangat tak punya tenaga untuk berdiri, ia hanya bisa menangis. Ia sudah tak punya kuasa untuk berteriak ataupun berbicara.


Tiba-tiba ada bayangan seseorang yang mendekati Adhia. Tidak hanya satu orang tapi dua orang. Dua orang tersebut membawa payung bersama mereka. Satu orang mendekati Adhia dan memayungkan payung yang ia bawa pada Adhia. Dan satu orang lagi memunguti barang-barang milik Adhia.