Adhia

Adhia
Mama Pulang



Agra sedikit terkejut melihat ada seseorang yang duduk di samping Adhia. Ia berjalan mendekati orang tersebut. Dan orang tersebut menengok ke belakang karena merasa ada yang datang.


Agra : “Mama?”


Mama Freya : “Agra. Sayaaangg...”


Mama Freya langsung memeluk Agra, beliau sedikit menitikkan air matanya.


Agra : “Bukankah mama ada di luar kota?”


Mama Freya : “Iya, sayang. Mama mendengar kalo Adhia sakit dan ada di rumah, jadi mama langsung pulang. Huhuhu....”


Agra : “Gimana mama bisa tahu kalo Adhia sakit?”


Mama Freya : “Hiks..hiks..tadi Rita telpon mama.”


Agra : “Oh.”


Mama Freya : “Agra, sayang kok gitu sih.”


Sambil mengerucutkan bibirnya.


Agra : “Mama itu pilih kasih, ya.”


Mama Freya : “Kok Agra, sayang ngomong gitu. Kan mama juga sayang sama Agra.”


Agra : “Mama dengar kalo Adhia sakit, langsung pulang. Kalo Agra ingin mama pulang, mama pasti bilangnya besok, besok mama pulang, gitu.”


Mama Freya : “Ya kan, mama masih ada pekerjaan, sayang.”


Sambil mengelus kepala Agra dan menciumnya.


Agra : “Hm.”


Mama Freya : “Uluh-uluh sayangnya mama. Manja banget.”


Agra : “Iiihh...udahlah, ma.”


Agra langsung pergi begitu saja meninggalkan kamar. Namun sedetik kemudian, ia kembali lagi.


Agra : “Ma.. rawat dia.”


Kemudian Agra kembali ke kamarnya lagi. Mama Freya keluar kamar mengambil baskom berisi air dan handuk kecil. Beliau meletakkan handuk di dahi Adhia untuk mengompres.


Adhia terbaring di kasur hingga waktu berganti malam. Mama Freya masih setia menunggu Adhia. Rita masuk ke kamar Adhia, ia memanggil Mama Freya untuk makan malam. Namun, Mam Freya hanya mengatakan akan segera ke ruang makan. Akhirnya Rita pergi meninggalkan Mama Freya.


Agra turun karena ia dipanggil Rita untuk makan malam. Sesampainya di meja makan, ia celingukan seperti mencari seseorang. Ia pun bertanya pada Rita yang sedang menyiapkan makanan untuk Agra.


Agra : “Mama kemana?”


Rita : “Nyonya masih ada di kamar nona Adhia, tuan muda.”


Agra : “Kau tidak memanggilnya?”


Rita : “Saya sudah memberitahu nyonya besar. Namun, nyonya hanya mengatakan akan segera ke ruang makan.”


Agra : “Aku mau panggil mama dulu.”


Rita : “Baik, tuan muda.”


Agra meninggalkan meja makan. Ia masuk ke dalam kamar Adhia.


Agra : “Ma?”


Mama Freya : “Iya, sayang. Ada apa? Kamu udah makan?”


Agra : “Belum, ma. Ayo makan, ma.”


Mama Freya : “Nanti mama nyusul, kamu makan duluan aja.”


Agra : “Mama nggak usah khawatir tentang Adhia. Tadi aku udah suruh dokter periksa dia. Kalo sampai besok panasnya nggak turun juga, telpon dokternya lagi. Ayo makan dulu, ma.”


Mama Freya menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya.


Mama Freya : “Baiklah, sayang. Ayo.”


Mama Freya dan Agra keluar dari kamar menuju ruang makan. Rita masih menyiapkan makan, setelah mama Freya dan Agra duduk ia kembali ke dapur. Mama Freya dan Agra menikmati makan malam dengan tenang dan hening. Setelah itu Agra kembali ke kamarnya, sedangkan mama Freya masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri.


Setelah selesai, Mama Freya kembali ke kamar Adhia. Beberapa menit setelah mama Freya masuk, Rita masuk bersama dengan seorang pelayan yang membawa sebuah nampan berisi semangkuk bubur, segelas air, dan obat milik Adhia. Mama Freya meminta mereka untuk meninggalkan baki di meja nakas dan kembali ke dapur. Mereka menuruti perintah Mama Freya dan kembali ke dapur. Setelah mereka pergi, Mama Freya masih betah melihat Adhia yang tertidur dan larut dalam lamunannya.