Adhia

Adhia
Rumah Agra



Pada hari Minggu


Adhia berangkat ke rumah Agra, ia juga tidak melupakan sarapan dan berpamitan dengan kakaknya. Adhia berangkat dengan menaiki sepeda kakaknya, sepeda itu tidak dipakai karena kakaknya tidak bekerja. Reza akan di rumah dan membersihkan rumah seperti biasanya.


Adhia mengendarai sepeda dengan santai. Sebenarnya, kemarin ia sudah tahu jalan-jalan yang harus ia lewati, namun ia belum tahu persis seperti apa rumah Agra. Ia mengendarai jalanan yang sudah ia lewati kemarin, hingga ia tiba di salah satu rumah luas dan besar bercat putih berpagar putih.


Adhia melihat kembali kertas yang diberikan Agra. Ia membaca dengan seksama dan mencocokkan dengan rumah besar serba putih tersebut. Dari tulisan alamat sama dengan rumah putih itu. Ia berpikir, ini rumah apa istana sih. Warnanya serba putih pula, batinnya.


Adhia turun dari sepedanya dan menekan bel yang ada di dekat pintu pagar. Muncul seorang lelaki terlihat berumur 50 tahunan. Orang itu sepertinya seorang satpam di rumah itu.


Satpam : “Ada apa ya? Anda siapa?”


Adhia : “Selamat pagi, pak. Saya Adhia, apakah benar ini rumah dari Agra Roberto?”


Satpam : “Iya, benar. Ada keperluan apa Anda kemari?”


Adhia : “Saya teman sekelasnya Agra sekaligus teman sebangkunya. Saya kemari ingin bertemu Agra dan kami sudah membuat janji untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru kemarin.”


Tiba-tiba ada suara yang terdengar tidak asing bagi Adhia.


Agra : “Biarkan saja dia masuk, pak. Dia temanku, aku sudah ada janji dengannya.”


Satpam : “Baik, tuan muda. Apa saya perlu memberitahu tuan atau nyonya jika ada tamu?”


Agra : “Terserah kau saja. Adhia masuklah dan bawa juga sepedamu itu.”


Satpam membukakan pintu lebih lebar. Adhia menuntun sepedanya masuk. Dan saat pertama kali masuk ke dalam halaman rumah Agra, ia sangat terkejut.


Rumah itu tidak hanya terlihat besar dan luas, namun halamannya pun luas, rindang, dan indah. Halaman rumah tidak hanya terlihat di depan saja, namun sepertinya ada halaman yang luas juga di belakang rumah tersebut. Melihat rumah sebesar dan seluas itu Adhia hanya biasa menganga.


Agra : “Hei...ngapain kau tetap seperti itu. Cepat kau parkir sepedamu di sana dan cepat masuk.”


Adhia terkejut saat itu juga dan ia segera memarkirkan sepedanya di tempat yang ditunjuk Agra. Dengan segera Adhia masuk ke rumah Agra. Dan lagi-lagi ia menganga karena terpana.


Adhia : “Apa kau tinggal sendirian di rumah sebesar ini? Dan dimana orang tuamu?”


Agra : “Ayahku keluar negeri dan ibuku keluar kota untuk mengurus hotel-hotel mereka. Jangan khawatir di rumah ini ada orang selain aku.”


Agra : “Kita kerjakan di taman belakang.”


Dari sebuah ruangan, tiba-tiba saja ada seorang wanita yang keluar. Ia menghampiri Agra dan Adhia. Sepertinya wanita itu pembantu rumah ini, tapi jika memang benar, wanita itu terlihat sangat muda jika dikatakan pembantu rumah ini.


Pembantu : “Selamat pagi, tuan muda. Dan selamat datang Nona Adhia. Saya ART rumah ini. Anda dapat memanggil saya Rita. Tuan muda, apakah ada yang perlu saya siapkan lagi?”


Agra : “Tidak perlu.”


Rita : “Baiklah, tuan muda. Saya undur diri lebih dulu.”


Setelah pembantu itu memperkenalkan diri, ia pergi dan kembali ke ruangan tempat ia keluar tadi. Agra langsung berjalan menuju taman belakang yang ia katakan tadi. Terlihat ada gazebo, kolam renang, dan taman yang rindang. Agra berjalan mendekati gazebo dan duduk.


Dalam gazebo sudah terdapat beberapa makanan ringan dan minuman serta ada beberapa buku-buku.


Agra : “Duduklah. Kita harus segera menyelesaikan tugas itu. Dan makan dan minumlah itu. Jika kau butuh apapun katakanlah.”


Adhia : “Eeemm... ok. Makasih.


Mereka segera mengerjakan tugas yang diberikan. Adhia tidak menyangka jika Agra sudah mempersiapkan bahan materi untuk mengerjakan tugas mereka. Sehingga tugas mereka lebih cepat selesai.


Adhia : “Waaahh...tugasnya sudah selesai, akhirnya.”


Adhia menghela napas dan Agra pun melihat Adhia.


Agra : “Kenapa kau terlihat senang sekali?”


Adhia : “Yah...biasanya aku menyelesaikannya sendiri. Tapi karena kau menjadi teman sebangkuku, aku jadi tidak menyelesaikannya sendirian lagi. Makasih.”


Adhia menjawab sambil tersenyum kepada Agra. Dan tiba-tiba terdengar suara gemuruh serta langit terlihat mendung.


Adhia : “Agra, aku pulang dulu ya. Karena mau hujan.”


Adhia langsung membereskan barang-barangnya dan segera memasukkan ke dalam tasnya. Ia langsung berpamitan pada Agra dan ia langsung mengayuh sepedanya untuk pulang ke rumah.