
Sepulang Agra dari rumah Adhia, bi Surti langsung kembali ke rumah Adhia dan berpamitan pada Reza.
Bi Surti : “Nak Reza, ini panasnya Adhia sudah mulai turun. Besok dia gak usah sekolah dulu aja. Minta dia istirahat saja.”
Reza : “Iya, bi. Besok saya usahakan segera pulang, biar dia nggak sendirian terlalu lama. Besok bibi buka warung bibi saja.”
Bi Surti : “Nggak apa-apa Adhia ditinggal sendirian di rumah?”
Reza : “Sudah biasa, bi. Kalau Adhia sakit biasanya emang gitu. Jadi bibi besok bisa buka warung.”
Bi Surti : “Bibi beneran nggak apa-apa kalau tutup dua hari. Nanti kalau ditinggal sendiri Adhia malah sakit lagi.”
Reza : “Nggak kok, bi. Dulu-dulu sudah sering seperti ini. Pokoknya dia rajin minum obatnya pasti cepat sembuh.”
Bi Surti : “Beneran ini? Nggak apa-apa?”
Reza : “Iya, bi. Nanti takutnya kalau bibi kelamaan tutup, nanti pelanggan bibi malah kabur.”
Reza menjawab sambil sedikit tertawa.
Bi Surti : “Baiklah, besok bibi akan buka warung saja. Bibi pamit pulang dulu ya.”
Reza : “Iya, bi. Terima kasih sudah menjaga Adhia dan saya minta maaf sudah merepotkan bibi.”
Reza mengantar bi Surti hingga bi Surti pergi cukup jauh. Reza kembali ke dalam rumah. Ia mengganti kompres Adhia. Setelah itu ia merebahkan tubuhnya di kasurnya. Dan dalam hitungan detik ia sudah berada di alam mimpi.
Saat tengah malam, Adhia terbangun, ia merasakan sekujur tubuhnya berkeringat dan beberapa rasa sakit ditubuhnya. Ia meletakkan kompresnya di baskom. Ia berdiri dan berjalan menuju dapur.
Ia melihat ada beberapa makanan dan semangkuk nasi. Ia mengambil nasi dan lauk yang ada. Ia memakan makanannya dan sesekali membuat suara dentingan sendok dan piring.
Reza yang merasa baru saja terlelap tidur, ia mendengar suara dentingan sendok dengan piring dari dapur. Ia beranjak dari kasurnya, berjalan menuju dapur. Ia terkejut melihat adiknya makan dengan lahap dengan makanan yang ada. Ia mendekati adiknya dan duduk di sampingnya.
Adhia : “Kakak?”
Reza : “Kau kelaparan, ya?”
Adhia : “Bukan kelaparan, kak. Ada rasa lapar di perutku.”
Reza : “Mau kakak bikinin sesuatu?”
Adhia : “Nggak usah, kak. Ini sudah mau habis.”
Reza : “Adhia, kakak boleh tanya?”
Adhia : “Tanya aja.”
Reza : “Gimana kepalamu bisa benjol kayak gitu, sih? Dan di mana seragammu kemarin? Terus kok bisa kamu bisa sakit sampai seperti ini?”
Adhia : “Kak, bisa nggak tanyanya satu-satu?”
Reza : “Iya-iya. Tapi jawab dulu gimana kepalamu bisa benjol kayak gitu?”
Adhia : “Jatuh, kesandung.”
Reza : “Kok bisa?”
Adhia : “Yah... nggak jalan hati-hati.”
Reza : “Lain kali hati-hati dong. Terus di mana seragammu kemarin?”
Adhia : “Ketinggalan di warung bibi.”
Reza : “Kok bisa?”
Adhia : “Ya gitu deh. Udah dong, kak. Adhia lagi makan nih.”
Reza : “Iya-iya. Udah cepet habisin makanannya biar cepet sembuh kamunya. Dan jangan lupa minum obatmu.”
Adhia : “Iya, kak.”
Adhia segera menghabiskan makanannya. Reza menunggu Adhia menghabiskan makanannya. Setelah habis, Reza mengambil piring Adhia dan mencuci piring itu. Lalu Adhia kembali ke tempat tidur untuk melanjutkan istirahatnya. Setelah mencuci piring, Reza kembali ke tempat tidur. Dan mereka berdua segera ke alam mimpi mereka masing-masing.
Keesokan harinya, Reza bangun lebih pagi, ia memeriksa suhu badan Adhia. Ia merasa jika Adhia sudah lebih baik dari kemarin. Suhu tubuh Adhia sudah kembali normal. Setelah itu, ia pergi ke dapur dan melakukan hal yang biasa ia lakukan di pagi hari.
Semua pekerjaan pagi sudah selesai, Reza segera membangunkan Adhia. Adhia bangun, ia ke kamar mandi dan keluar lagi. Ia duduk di depan meja makan dengan kakaknya. Kakaknya sudah rapi dengan seragam sekolahnya dan juga tas di sampingnya.
Adhia : “Kakak sudah mau berangkat?”
Reza : “Iya. Kenapa?”
Adhia : “Tunggu aku bentar ya. Aku akan cepat kok.”
Reza : “Hari ini kamu nggak usah ke sekolah. Nanti kakak akan mampir ke sekolahmu untuk minta izin.”
Adhia : “Yah... kenapa? Aku kan udah lebih baik dari kemarin.”
Reza : “Udah nggak usah debat sama kakak. Hari kamu di rumah aja. Nggak usah kemana-mana. Istirahat, makan yang banyak, dan jangan lupa minum obatmu.”
Adhia : “Tapi kan, kak....”
Reza : “Nggak ada tapi-tapian. Pokoknya hari ini kamu di rumah aja. Istirahat total, hari ini masa pemulihanmu. Kakak nanti akan cepat pulang.”
Adhia : “Kak....”
Adhia memasang wajah melasnya, seperti seekor anak anjing/kucing yang merengek pada tuannya.
Reza : “Nggak Adhia. Kakak udah masak banyak untukmu, dimakan. Kakak berangkat dulu, ya.”
Reza yang sudah menyelesaikan makannya segera berangkat sekolah. Adhia yang melihat kakaknya pergi sekolah hanya diam saja. Ia hanya dapat menuruti kata-kata kakaknya. Ia sudah tidak bisa membantah perintah kakaknya lagi.
Adhia segera menghabiskan makanannya. Ia mencuci piringnya dan juga kakaknya. Selama di rumah ia hanya diam saja dan menonton televisi. Ia mengambil ponselnya, ia mencoba menyalakan ponselnya. Namun tidak bisa, ia sambungkan ponselnya ke charger.
Setelah baterai ponselnya penuh, ia membuka ponselnya dan melihat ada beberapa pesan yang masuk. Ia melihat pesan itu, tertulis nama Aldo.
Aldo:
Hai Adhia.....
Adhia
Ping! Ping!
Adhia, gimana kabarmu?
Adhia
Ping!
Ping!
Adhia, apakah kau sakit?
Aku tadi bertanya pada Reva, dia bilang kamu sakit.
Apa kau benar-benar sakit?
Semoga cepat sembuh ya...
Maaf mengganggumu.
Adhia:
Iya Aldo, kemarin aku sakit
Maaf baru membalas chatmu hari ini
Dan terima kasih😊
Setelah membalas pesan Aldo, ia menonton televisi sambil bergumam sendiri. Jika aku sekolah pasti nggak akan segabut ini, pasti aku dapat mengikuti pelajaran, makan di kantin, menulis. Lalu pulang sekolah bantu bibi. Pasti lebih asyik daripada di rumah. Tapi kakak nggak kasih ijin. Huufftt... nanti tungguin kakak pulang ajalah, batin Adhia.