
^^^Mimpi buruk tercipta dari mimpi baik yang terpengaruh.^^^
...•••...
Setelah bel istirahat kedua berbunyi, Angel dipersilahkan ke kelas oleh Bu Indy. Dan saat baru sampai dikelas Angel langsung di interogasi oleh sahabat-sahabatnya.
"Lo dari mana?" tanya Liyaa.
"Kata kamu aku dari mana?" tanya Angel malas.
"Ruangan Bu Indy? Disuruh ngapain?" tanya Ikaa.
"Dikasih hukuman, karena nggak ngumpul kertas ulangan." ucap Angel.
"Emang kita tadi ulangan, nggak kan?" tanya Angel.
"Em.. Tadi.. kita ulangan," jawab Ikaa.
"Mana tadi ngeliat mimpi buruk lagi," sambung Angel.
"Mimpi buruk?" tanya Sella.
"Iya," jawab Angel.
"Beneran ulangan?" Angel mengulang pertanyaan.
Angel mencoba mengingat apa yang yang dia lakukan saat ulangan berlangsung, kemudian dia menemukan jawabannya. Dia melamun. Yah, Angel tadi memikirkan mimpi baiknya yang berubah menjadi mimpi buruk. Untung saja tidak ketahuan Bu Indy, kalau tidak dia akan membuat Angel tidak bisa mengikuti pelajarannya lagi.
"Iya," jawab Sella.
"Mimpi buruk lo, apasih?" tanya Ikaa.
"Ngeliat diri sendiri dikhianati."
Jawaban Angel membuat mereka berempat menganga. Mereka langsung tahu apa yang dimaksud Angel.
"Lo udah ngeliat sendiri kan, Ngel?" tanya Rindu spontan.
"Iya, dua kali." aku Angel.
"Aku udah tahu dari kemarin, pas aku pulang bareng Devan. Aku liat dia bareng cewek ke cafe, berduaan. Dari situ aku mulai percaya kalo kata-kata kalian bener, aku udah dibodohi oleh cowok. Aku percaya sama dia, tapi dia? Ngekhianati aku." jelas Angel.
Liyaa menghembuskan nafas panjang. "Yaudah, Ngel. Ambil hikmahnya aja."
Mereka mengelus pundak Angel. Berusaha menenangkannya.
"Ohiya, kata lo tadi kemarin pulang sama Devan? Kok bisa?" tanya Rindu.
"Iya, itu karena aku nggak tahu pulang sama siapa. Kan biasanya bareng Al-" Angel menghentikan kalimatnya.
"Ululuu sabar yaa," timpal Ikaa.
"Kan ada babang Devan!" ejek Sella.
"Apasih, nggak mudah tahu ngelupain segala hal yang udah jadi kebiasaan."
"Berusaha tegar dalam menghadapi pengkhianatan, nanti gue ajuin ke temen kakak gue buat jadi sinetron terbaru!" celetuk Liyaa.
"Liyaa!" teriak Angel.
"Ohiya, kok kalian malah nggak istirahat ya?" tanya Ikaa.
"Nggak apa, ngerasa jadi lo sehari!" ledek Rindu.
"Eh, gue merasa banyak plagiat!" seru Ikaa.p
...•••...
"Pulang sama siapa?" tanya Devan.
"Nanti dijemput abang," jawab Angel.
"Ooh, gue tungguin ya, sampe abang lo jemput."
"Nggak usah, ngerepotin aja."
"Nggak apa,"
"Gue yang repot!" celetuk Angel.
"Eh, lo tuh ngegas mulu kerjaannya kalo sama gue,"
"Biarin."
Angel meminta Zain menjemputnya di halte. Tapi, bukannya Zain yang datang malahan Devan.
"Kamu kenapa sih, ngikutin aku mulu?" tanya Angel.
"Nggak kok, lo GR banget. Gue tadi nggak sengaja ngeliat lo disini, sendirian lagi." ucap Devan.
Angel terdiam. Dan Devan terdiam. Kemudian ada suara mesin mobil yang memecahkan suasana hening disekitarnya.
"Itu abang aku, aku udah dijemput. Makasih udah nemenin." Angel tersenyum lalu pergi.
Devan ikut tersenyum. Kemudian dia juga meninggalkan halte tersebut.
"Dek, cowok tadi siapa?" tanya Zain saat Angel telah memasuki mobil.
"Namanya?"
"Devan,"
"Yang jemput pagi tadi?"
"Iya,"
"Ganteng, keliatannya baik."
"Iya,baik."
"Kok lo sekarang sukanya ngomong singkat-singkat dan to the point langsung? biasanya juga pake embel-embel lain,"
"Aku cerewet dikatain mulut ember, aku diem dikatain nggak ngegunain mulut. Gimana yang bener?" tanya Angel, malas.
"Iyaa, gitu. Aneh," Zain menggaruk tengkuk tapi tidak gatal.
"..."
"Dek?"
"Hmm,"
"Lo kenapa nggak bareng Alvian? Lagi ada masalah?"
"Nggak kok, kasian aja sama dia. Aku malu, ngerepotin."
"Biasanya juga malu-maluin," cibir Zain.
"Ish, abang!" Angel mencubit lengan Zain.
"Sakit gila!" Zain meringis sambil meniup lengannya yang dicubit Angel. "Nanti gue nggak konsen, bisa mati kita." Zain kembali mengambil alih setir dengan kedua tangannya.
"Abang aja, ajal Angel belum mau kesini. Takut di omelin." ucap Angel.
"Eh, kalo takdirnya lo mati sekarang gimana? Nggak bisa ngehindar kan?"
"Bisa aja kalo belum takdir,"
"Ah, nggak tau deh. Ribet," ucap Zain.
"Yeeee,kan abang duluan."
"Kok udah sampe sih?" sambung Angel saat melihat sekitarnya adalah pekarangan rumah mereka.
"Yaudah, kalo nggak mau cepet nyampe, jalan kaki aja pulangnya!"
"Ihh!" Angel menghentak-hentakkan kakinya.
Zain yang melihat Angel mencak-mencak hanya tersenyum. Kebahagiaan tersendiri baginya jika melihat adiknya kesal.
...•••...
Angel sedang berada di kamarnya, ia berkutat dengan laptopnya, mencari sesuatu dengan raut wajah yang benar-benar ingin tahu.
"Ini akunnya yang mana sih, banyak banget." gerutu Angel.
"Nah ini dia!" Angel menemukan sesuatu yang ia cari.
Saat Angel ingin mengenal lebih dalam sosok yang ada di layar laptopnya, ponselnya berdentang memberi tanda pesan masuk.
Angel membuka aplikasi chat berwarna hijau itu.
Devan :
Weekend free nggak?
^^^: Angel^^^
^^^Nggak tau^^^
^^^Kenapa emang?^^^
^^^Nanya weekend? Ini aja baru hari kamis^^^
Devan :
Nggak
Besok gue jemput ya?
Mau bilang sesuatu :)
^^^: Angel^^^
^^^Iya^^^
..._____________________________________________________...
Vote terus guys!
Salam hangat
Sskawlndr_