A Girl'S Struggle

A Girl'S Struggle
[4] Sunset



^^^Kamu tau? Seseorang yang selalu ada dipikiranku? Dia ada diawal kalimat.^^^


...•••...


"Vian sebenernya mau ngajak Angel kemana sih?"


"Suatu tempat," Alvian menjawab pertanyaan Angel sambil menyetir mobilnya.


"Alvian mau ngajak Angel ketempat yang indah," sambung Alvian.


"Emm.. Jauh nggak?"


"Nggak bentar lagi nyampe kok,"


Mereka pun sampai pada tujuan, Angel bingung mengapa Alvian membawanya ke pantai. Namun, pantai ini memang indah apalagi sebentar lagi matahari akan terbenam.


"Gimana?" Alvian menatap matahari yang berwarna orange.


"Gimana apanya?" Angel mengikuti arah tatap Alvian.


"Pemandangan langit sore ini," Alvian menatap Angel.


"Indah bukan?" sambung Alvian.


"Iya, indah." jawab Angel.


Mereka pun diam sejenak, menatap matahari yang kian lama semakin menghilang.


"Kaya lo," Alvian tersenyum.


"Maksudnya?" tanya Angel bingung.


"Indah, kaya lo indah untuk dilihat," puji Alvian.


"Apasih?"


"Ngel," panggil Alvian.


"Iya?"


"Gue mau bilang,"


"Bilang aja,"


"Kan pas itu gue mau bilang sesuatu ke lo tapi nggak jadi," ucap Alvian.


"Gue sayang sama lo," sambung Alvian.


"Emm..aku..."


"Gimana?"


Sebenernya aku juga sayang sama kamu, batin Angel.


Angel terdiam sejenak, ia merasa sedikit canggung jika dalam keadaan seperti ini. Ia merasa ragu.


"Ngel!" Panggil Alvian yang membuyarkan lamunan Angel.


"I..iya?" Mata Angel tak hentinya melihat ke sana ke sini.


"Gimana? Apa lo butuh waktu?" tanya Alvian.


"Nggak..nggak usah.." Angel memainkan kakinya dengan mengetuk-ngetuk sepatunya ditanah.


"So, what is the answer to my question?"


(Jadi, apa jawaban dari pertanyaanku?)


"I..iya,"


"Jadi kita pacaran nih?"


"Kan kamu belum nembak," jawab Angel polos.


"Ohiya lupa. Ngel, lo mau nggak jadi temen hidup gue?"


"Ada dua pilihan, Iya atau iya?" sambung Alvian dengan antusias.


"Bukan milih tapi maksa!"


Lalu mereka berdua tertawa bersama. "Eh..gimana? gimana?" tanya Alvian lagi.


"Apanya?" Angel bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan Alvian.


"Lo tuli ya?"


"Eh..iya" Angel menjawab pertanyaan Alvian. Eh aku tadi bilang apasih? tanya Angel dalam hati.


"Iya? maksudnya? lo tuli beneran?"


"Ihh..bukan,"


"Jadi?"


"Iya aku mau," jawab Angel pelan.


"Hah? Serius lo?" tanya Alvian tak percaya.


"Kamu nggak tuli kan?"


"YUHUUUUUUU!!!!!!!!!! Woi duniaa!!!! Gue jadian!!!!!!!!!" Teriak Alvian dengan semangat.


"Lebay," cibir Angel.


"Yaudah kita mau kemana?"


"Pulang lah,"


...... ...


Sekarang mereka berdua berada di sebuah restoran. Angel masih mengingat apa yang dikatakan Alvian sebelum ke restoran ini.


Kalau Angel pulang dengan wajah pucat karena nggak Alvian ajak makan, nanti Alvian bakal dipecat jadi calon menantu.


Angel hanya tersenyum ketika kata demi kata itu terngiang di kepalanya.


"Eh.. kok senyum senyum sendiri sih?" Alvian baru kembali dari toilet katanya mau cuci tangan biar higienis.


"Emm.. enggak kok," jawab Angel.


Lalu beberapa waiters datang membawakan pesanan yang telah Angel dan Alvian pesan.


"Selamat menikmati," Penutup kata dari seorang pelayan tersebut.


"Terima kasih," ucap Angel lalu tersenyum.


"Sudah ini mau kemana?" tanya Alvian.


"Mau pulang,udah malem Vian." jawab Angel disela-sela makan-nya.


"Iyadeh,"


Lima belas menit kemudian mereka keluar dari restoran itu, dan sebenarnya Alvian masih ingin pergi bersama Angel namun ia mengingat hari sudah malam dan Angel sudah merengek ingin pulang.


"Ayo Alvian! Cepet! Aku udah ngantuk!" sentak Angel yang menampilkan bibir manyun seperti Donal duck.


"Iya Ngel,ihh.."


"Bawel banget sih," sambung Alvian


"Kamu sih lambat!"


...•••...


"Makasih," ucap Angel


"Iya,"


"Be careful,"


(Hati-hati)


"Ok,"


"Ngapain lagi?" Angel masih bingung dengan Alvian yang tak kunjung pergi dari perkarangan rumahnya.


"Mau mastiin kalo Angel beneran masuk kerumah," kata Alvian.


Dengan refleks Angel bergegas berlari kecil menuju depan pintu. Mungkin tak ingin Alvian terlalu lama menunggu. Angel memutar badannya lalu tersenyum melihat Alvian yang masih bersandar dimobilnya. Alvian hanya menaikkan alisnya. Kemudian Angel masuk kedalam rumah.


"Dia beneran nungguin aku masuk," Angel mengintip Alvian -yang tengah memasuki mobil- lewat jendela.


"Eh aku kenapa?" sadar Angel ketika mobil Alvian telah melaju dari perkarangan rumahnya.


"Angel?" Panggil Robert dengan tatapan mengintimidasi.


"Eh..iya pa?"


"Ngapain kamu disana?"


"Nggak ada pa,"


Angel lalu pergi menaiki anak tangga dan menuju kamarnya.


"Aku gila kali ya?" tanya Angel tak percaya diri dengan perilakunya tadi.


"Bodo ah aku mau mandi,"


Angel bergegas mengambil handuk lalu pergi kekamar mandi. Dua puluh menit kemudian Angel keluar dari kamar mandi lalu ia menuju kasurnya dan berbaring disana.


Tak ada yang dilakukannya. Ia hanya memeluk boneka HelloKitty-nya yang besar itu lalu perlahan menutup matanya.


Jam menunjukkan pukul 02.26. Angel meraba-raba ponselnya yang sedang berbunyi. "Siapa sih malem malem masih nelpon?" Angel menutup mulutnya yang baru saja menguap.


"Maaf ya,ganggu tengah malam." Suara orang dari seberang sana.


Angel membuka matanya lebar-lebar karena ia baru sadar bahwa yang ia dengar adalah suara cowok.


"Halo?"


"Halo?"


"Iya, Kenapa Alvian?"


"Nggak boleh ya nelpon tengah malem?"


"Nggak bolehlah, ganggu orang tidur,"


"Aku kira kamu belum tidur,"


"Maaf ya.."


"Emm..Vian, besok lagi aja ya aku masih ngantuk," Angel menutup mulutnya.


"Eh..nggak usah dimatiin,"


"Biarin aja,"


Angel yang sedari tadi mengantuk tak peduli dengan apa yang Alvian katakan, ia hanya meletakkan ponselnya di dekat telinganya lalu tertidur pulas.


"Ngel, mimpi indah ya."


...______________________________________________...