
^^^Selagi aku bisa sabar, aku sabar. Selagi aku bisa pendem, aku pendem. Tapi kalo aku udah nggak peduli, tolong jangan tanya kenapa. ^^^
...•••...
Devan senang. Karena weekend-nya kali ini ditemani oleh Angel. Walaupun ia yang meminta tapi Angel tetap menurutinya.
"Sebenarnya gue mau banget bilang sesuatu ke lo," Devan mengelus foto Angel dilayar ponselnya, seakan yang dielus pipinya benar-benar ada didepannya.
"Devan sarapan dulu!" tukas Clara.
"Iya ma,"
Devan adalah anak pertama dan anak lelaki satu-satunya dirumahnya. Devan mempunyai adik perempuan, namanya Sherin.
"Udah mandi belum? katanya mau kerumah temen," teriak Clara dari luar.
"Udah ma," Devan keluar dari kamarnya lalu berjalan menuju meja makan.
"Kamu mau kemana?" tanya Aksa,papanya Devan.
"Mau main," jawab Devan.
"Kamu jangan ikut-ikutan geng yang nggak jelas itu." Aksa bicara disela makannya.
"Nggak pa," Devan mengunyah makanan yang telah disuapnya kedalam mulut.
Selang beberapa menit. Devan akhirnya selesai makan. Lalu dia bangkit dari duduknya, mengambil ponsel dan kunci mobilnya.
"Paa.. Maa.. Devan pergi dulu," pamit Devan lalu tersenyum.
"Daaa sye!"
"Dahh Kakk!" Sherin melambaikan tangannya pada Devan.
"Assalamualaikum,"
"Wa'alaikumussalam."
...•••...
"Eh, Devan mau kemana sama Angel?" tanya Cindy.
"Mau jalan-jalan ma," jawab Angel.
"Oh begitu, hati-hati ya nak." ucap Cindy, perhatian.
"Iya ma,"
"Devan sama Angel pergi dulu tan," pamit Devan pada Cindy.
"Iya, jaga Angel ya Devan."
"Siap tan!"
Setelah masuk kedalam mobil,D evan bertanya kepada Angel. "Angel, maunya kemana?"
"Hm, Angel mau ke mall, soalnya ada yang mau Angel beli."
"Siap, melaju tak terbatas dan melampauinya!" Devan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Ada-ada aja," Angel menggelengkan kepala.
Drrtt.. Drrtt..
Incoming call Rindu..
"Rindu nelpon,"
"Angkatlah!" ucap Devan.
"Em, Halo?"
"Gue sama yang lain otw rumah lo,"
"Gue lagi nggak dirumah,"
"Kemana? Beli sayur?"
"Jalan-jalan ****!"
"Lisannya," Devan mengingatkan.
"Ahiya, maaf."
"Kayak suara cowok, eh lo jalan sama siapa? Ngapain hayoo?"
"Ish, mulut lo nggak pernah becus yah kalo ngomong."
"Yaudah deh, jadi lo nggak ikut nih ya,"
"Emang kalian mau kemana?"
"Kepasar beli layangan,"
"Cakep!"
"Eh, orang mau ngelucu dikira ngepantun,"
"Oh lo ngelucu, sorry nggak lucu. Hehehe.."
Tutt.. Tutt.. Tutt..
"Aelah, dimatiin."
"Siapa?" tanya Devan.
"Rindu," jawab Angel.
"Rindu?"
"Iya yang nelpon itu Rindu,"
"Kirain lo rindu gue,"
"Itu pantun?"
...•••...
Zain sekarang berada dikamar Angel. Iseng-iseng masuk. Namun, Zain tak sengaja melihat buku diary berwarna pink. Lalu dibukanya.
Jakarta, di pagi hari.
Aku tak punya tembok. Aku ingin membangunnya tapi tidak tahu bagaimana.
- Angel
Selembar demi selembar, Zain buka dengan perlahan.
Terima kasih, kamu telah datang untuk membantuku membangun tembok itu.
- Angel
Jakarta,
setelah kamu pergi dengannya.
Kamu pergi dengan dia, kamu membantunya membangun tembok untuknya. Bagaimana dengan tembokku?
- Angel
"Jadi sekarang, Angel bangun rumah?" gumam Zain.
Jakarta,
setelah kamu benar-benar pergi.
Namun, sekarang kau juga yang hancurkan tembok yang hampir kokoh itu hanya dengan sebuah kalimat. Kau benar-benar menghancurkannya untuk kedua kalinya.
- Angel
"Ini maksudnya apa? Rumahnya hancur? Gara-gara? Tsunami?"
Jakarta, di saat sedang sendiri.
Aku tak punya lagi tembok untuk melindungiku dan aku juga tak punya seseorang lagi untuk membantuku.
- Angel
Ohiya, Selamat tanggal 30 untuk ke-tujuh kalinya. Aku hampir lupa :)
- Angel
Kemudian, dibalik lagi lembar demi lembar buku diary itu.
Jakarta, di malam hari.
Kenapa malam ini kau datang?
- Angel
"Datang?" tanya Zain pada dirinya.
"Alvian?"
Sampai dengan tulisannya pada hari ini.
Jakarta, teka-teki.
Aku tak tahu, apa perannya dalam hidupku ini.
- Angel.
"Sebenarnya, Angel itu kenapa? Tembok? Hancur? Alvian? Jadi.. "
Zain melihat dari kamar Angel, melihat keluar, Alvian menemui mamanya. Zain langsung keluar dari kamarnya mengambil kunci mobil diatas meja ruang tamu. Lalu menaiki mobilnya mengejar mobil Alvian.
...•••...
"Lo apain adek gue!" Zain membogem Alvian tanpa ampun.
Sedangakan Alvian yang tersungkur berusaha berdiri dari duduknya. "Lo salah paham! Gue nggak ngekhianatin adik lo! Gue sayang sama dia!"
"BACOT!"
BUGH!
BUGH!
BUGH!
"Brengsek!" umpat Alvian.
"Gue udah bilang lo sama adik lo cuma salah paham! Kalian nggak ngasih gue kesempatan untuk ngejelasin!"
Disisi lain, Angel dan Devan sedang menunggu di stand minuman.
"Apa lagi yah, yang kurang?" tanya Angel pada Devan.
"Nggak tau tuh, kan lo yang belanja."
"Em, yaudah nanti temenin ke sana," Angel menunjuk suatu tempat yang isinya hanya tentang Hello Kitty.
"Semau lo,"
Setelah Angel dan Devan menghampiri 'All about of Hello Kitty' mereka berjalan menuju pintu keluar. Namun, Angel melihat ada sekerumunan orang.
"Devan? Itu kayaknya ada yang berantem?"
"Kayaknya sih iya,"
Lalu mereka mendekat dan..
"ABANG!"
Zain dan Alvian menoleh bersamaan. Sedangkan Devan, ia sedang melerai pertikaian antara mereka berdua.
"Pergi semua! Apa yang kalian liat!" sentak Zain.
"Angel?" panggil Alvian.
"Udah gue bilang, nggak usah panggil gue, nggak usah hubungi gue, anggap aja kita udah nggak kenal." ucap Angel
"Angel, kamu pasti nggak baca pesan dari aku."
"Pesan apa!"
"Aku ngirim penjelasan ke kamu,"
"Nih liat! Nggak ada!" Angel menunjukkan personal chat antara dia dan Alvian.
"Kenapa diblokir?"
"Nggak perlu tau!" sentak Angel.
"Ayo Devan!" Angel memeluk lengan Devan. Lalu berjalan pergi dari tempat tragedi terjadi.
"Dan lo jangan ganggu adek gue lagi!" gertak Zain.
..._______________________________________________...
A/N :
Kasian apa kesel?🤣