
^^^Terima kasih telah datang pada mimpiku, meski hanya sebuah mimpi tapi yakinlah bahwa kau telah memberikan kebahagiaan yang nyata untukku.^^^
...•••...
"Devan! Angel! Perhatikan saya!" ucap Pak Rendra.
Sontak kedua pasang mata itu menoleh ke arah sumber suara.
"Saya hukum kalian!" ucap Pak Rendra.
Dihukum? Buat salah aja nggak.
"Kenapa?" tanya Devan saat melihat Angel tampak kebingungan.
"Gausah tanya, ini pasti gara-gara kamu!" ucap Angel.
"Kok aku?" tanya Devan.
"Kalian ini masih saja ribut!" sentak Pak Rendra.
"Iya pak maaf," ucap Angel.
"Kok maaf sih?" tanya Devan.
"Diem!" Angel melototkan matanya kepada Devan.
Devan mencebikkan bibirnya.
"Nanti saya kasih kalian tugas masing-masing." ucap Pak Rendra.
"Iya pak!" ucap seluruh anak.
Kemudian Pak Rendra berpidato, sesekali Devan menguap mendengar wejangan yang diberikan kepala sekolahnya itu.
Angel menahan senyumnya ketika melihat Devan yang tak henti-hentinya menguap dan tersantuk lututnya sendiri.
"Baiklah, saya beri tugas... "
Pak Rendra mulai membagikan tugas kepada semua anak. Setelah selesai, Pak Rendra memanggil nama Angel dan Devan untuk tugas yang terakhir.
"Devan!" panggil Angel.
"Angel! Devan! Kemari!" panggil Pak Rendra.
"Apaa Angel?" ucap Devan.
"Bentar pak, Devannya pingsan!" ucap Angel.
"Pingsan? Co-"
"Nggak pak! Dia bohong!" ucap Devan antusias.
Angel terkekeh, kemudian mereka berdua berjalan menuju tempat berdirinya Pak Rendra.
"Iya pak?" ucap mereka berdua.
"Kalian berdua saya kasih tugas untuk mencari kayu bakar." ucap Pak Rendra.
"Nggak ada yang lain pak?" tanya Angel.
"Anak-anak sebelumnya nggak ada yang nyari kayu bakar pak?" tanya Devan.
"NGGAK ADA!" tukas Pak Rendra.
"Yaudah ayo, ngel." Devan menarik tangan Angel.
"Ke.. kemana?" tanya Angel.
"Nyari jodoh." jawab Devan.
"Oh."
"Aelah nih anak, kan kita disuruh cari kayu bakar." ucap Devan.
"Buat?" tanya Angel.
"Bakar tenda orang."
"Ih, jahat dong!"
Devan menepuk keningnya. Kemudian menggaruk tengkuk belakangnya walaupun tak gatal.
"Buat api unggun, Angeeeeeel!" ucap Devan geram.
"Yaudah cepet." ajak Angel namun berjalan meninggalkan Devan.
Angel dan Devan terus mencari ranting-ranting kering. Sampai cahaya matahari perlahan menguning.
"Devan? Seberapa banyak?" tanya Angel sambil mengambil ranting-ranting ditanah.
"Se-truk." jawab Devan.
"Devan.. mulai deh,"
"Yah, sebanyaknya." ucap Devan.
"Huftt.. masih lama dong," Angel melihat beberapa ranting yang dipegangnya.
"Iya, enapa? Kamu capek?" tanya Devan.
Angel menggelengkan kepala.
"Nggak apa, istirahat aja." ucap Devan.
"Nggak mau, Angel nggak tau jalan pulang." ucap Angel.
"Nggak ditinggalin juga." ucap Devan.
"Nanti Devan tinggalin?"
"Nggak,"
"Apa jaminannya?" tanya Angel.
"Devan janji nggak ninggalin, jaminannya.. kepercayaan Angel ke Devan."
Devan mengangguk.
"Tunggu disana, dan jangan kemana-mana." pinta Devan.
Angel mengangguk.
"Jangan lama!" pinta Angel.
...•••...
"Aduh.. " lirih Devan kemudian duduk disamping Angel.
"Banyak nggak dapetnya?" tanya Angel.
"Banyak, tapi pusing gimana cara bawa kesana ." ucap Devan.
"Hmm, bener juga," ucap Angel.
"Jadi gimana? Apa kita nanti dateng kesini lagi?" tanya Angel.
"Buat apa?"
"Ambil sisanya."
"Kita bawa sekaligus aja, ngel," ucap Devan.
"Kan kita berdua, pasti bisa." sambung Devan.
"Oh iya." ucap Angel.
"Devan duduk bentar ya? Capek," ucap Devan.
"Iya "
Kemudian hening. Arah pandang mereka sama, melihat matahari yang semakin tenggelam. Pantulan cahayanya terlihat jelas di air.
"Angel?"
"Hmm,"
"Kamu tau nggak kenapa senja menyenangkan?" tanya Devan.
"Em.. emangnya kenapa?" Angel menoleh kemudian menatap Devan.
"Kadang, ia merah merekah," ucap Devan.
"Kadang, ia gelap hitam berduka." sambung Devan.
"Terus?"
"Tapi, langit selalu menerima senja apa adanya "
Angel tersenyum kemudian melihat lagi matahari yang akan bersembunyi itu.
"Angel? Ayo kita ke tempat kemah, nanti orang pada nyariin." ucap Devan.
"Keburu gelap juga," ucap Angel.
"Iya."
...•••...
"Ini kak, diletakkin dimana?" tanya Angel pada Raon.
"Disitu," tunjuk Raon.
"Sini, Devan aja." Devan mengambil alih ranting yang ada ditangan Angel.
"Terimakasih." Angel tersenyum.
Kemudian dibalas senyuman oleh Devan.
"Eh, Angel!" senggol Liyaa.
"Lo kemana sih?" tanya Rindu.
"Berduaan di hutan, ngapain aja?" tanya Sella.
"Eh, mulut kamu songong banget ya." ucap Angel.
"Astagfirullah." ucap Sella.
"Maksudnya disuruh ngapain?" ucap Sella lagi.
"Cari ranting buat dibakar." jawab Angel.
"Kita bakar apa?" tanya Ikaa.
"Nggak mungkinkan nyari ikan di sungai dulu?" tanya Liyaa.
"Ih, nggak mau ikut. Takut nanti ada buaya!" ucap Ikaa ngeri.
"Di sungai ada buaya?" tanya Rindu.
"Ikaa ngigo!" ucap Angel.
"Eh udah lupain, jadi lo tadi ngomong apa aja sama Devan?" tanya Rindu.
"Ets, kok kalian jadi kepo sih?" tanya Angel.
"Yah, sekali-kali," ucap Liyaa.
"Nggak ada sih." ucap Angel.
"Bohong!"
Tapi langit selalu menerima senja apa adanya
Angel tersenyum mengingat kata-kata itu.
...______________________________________________________...