
^^^Kenapa harus engkau?^^^
...•••...
Siang tadi dokter bicara pada Angel, menjelaskan padanya bahwa Devan kritis, Devan kekurangan banyak darah. Sungguh Angel merasa sesak.
Ditatapnya wajah Devan yang terbaring lemah itu. Devan koma. Tak ada lagi yang akan melindungi Angel. Angel rasanya tak ingin bersekolah sebelum Devan sembuh. Dia merasa sangat berhutang nyawa kepada Devan.
"Bagaimana dok keadaan Devan? Apakah dia bisa pulih dengan cepat?" tanya Angel.
"Kondisi Devan sekarang dalam masa kritis nak Angel, dia koma. Tidak tahu sampai kapan pulihnya, jika jiwanya kuat maka dia akan cepat pulih. Jika sebaliknya mungkin akan sedikit lambat pulihnya,"
"Terima kasih dok,"
"Apakah keluarganya sudah datang?" tanya Dokter Rhaka.
"Menuju kesini dok,"
"Baiklah."
Angel pergi dari ruang milik Dokter Rhaka. Kemudian, berlabuh pada ruang yang berisikan Devan yang tengah terbaring tak sadarkan diri.
Devan bangunlah, batin Angel.
Jika melihat ranjang rumah sakit ini, Angel menjadi teringat akan Devan yang membawanya ke UKS.
"Angel, lo kenapa sih masih aja nyempetin diri buat ketemu sama cowok itu?"
"Gue maunya lo sehat, jadi gue selalu bisa liat lo di samping gue,"
"Manis,"
Semua kata-kata itu muncul dengan jelas dipikiran Angel. Angel perlahan menitikkan air matanya. Bulir berwarna bening itu tepat terjatuh dipunggung tangan Devan yang terbalut kapas dan selang infus.
Kini Angel, tengah berada di jendela kamarnya. Menatap gelapnya langit malam, banyaknya bintang yang mengisi dan terangnya sinar bulan yang menerangi.
Angel mengingat Devan yang menelponnya pada malam itu.
"Angel kalo ada apa-apa sebut nama gue berkali-kali terus liat ke jendela, tatapi langit malam,"
"Kenapa?"
"Karena langit malam indah kalo dipenuhi bintang,"
"Kalo ada apa-apa terus liat ke jendela kenapa?"
"Kali aja gue datang," Devan terkekeh di seberang sana.
Angel tersenyum mengingatnya. Malam ini sepi, sunyi, tak ada yang menemani. Angel rindu akan suara Devan, biasanya Devan selalu menelponnya setiap malam.
"Devan?"
"Devan,"
"Devan,"
"Devan? Kenapa kamu nggak dateng? Aku udah panggil nama kamu, tapi kenapa kamu nggak denger? Kamu sekarang dimana sih? Nggak bosen apa ninggalin tubuh kamu di rumah sakit? Devan, udah, cepetan bangun. Nggak perlu drama!" Angel berteriak pada ribuan bintang yang mengisi kosongnya malam.
...•••...
"Angel gimana keadaan Devan?" tanya Liyaa.
"Em.. Devan.. koma,"
"Belum sadar sampai sekarang, dia kritis. Aku ngerasa hutang budi sama dia,"
"Eh, gue masih bingung deh," ucap Ikaa.
"Bingung apaan?" tanya Rindu pada Ikaa.
"Yah.. Bingung.. Kalian tau nggak sih gimana bisa tongkat kasti kena kepala Devan? Terus nggak mungkin kan Angel yang ngelakuin. Lagi pula gue curiga deh sama Zeline the geng," selidik Ikaa.
"Iya gue juga curiga,"
"Tapi kenapa? Zeline nggak mungkin ngelakuin itu ke Devan, Zeline bilang sendiri kalo dia sayang sama Devan," ucap Angel.
"Kita nggak tau dia sayang apa cuma obsesi," ucap Rindu.
"Mungkin gegara dia ditinggal pas lagi sayang-sayangnya, eh gue lupa, gue mau nanya nih. Zeline itu siapa Devan yah?" tanya Sella.
"Zeline itu temen akrab Devan," jawab Angel.
"Makanya tau berita dong, tidur mulu!" ejek Liyaa.
"Iya muka bantal," ledek Ikaa.
"Udah-udah!" ucap Rindu.
"Oh iya, gimana kata orang tuanya?" tanya Rindu pada Angel.
"Orang tuanya bilang, Devan kenapa? Dia kenapa bisa kayak gini? Itulah inilah.. "
"Terus mamanya narik Zeline, entah bicara soal apa. Gue rasa mereka udah saling kenal,"
"Apasih, aku cuma temenan sama Devan!"
"Temen apa demen?"
"Temen,"
"Demen,"
"Temen!"
"Demen!"
"Temen!!"
"Demen!!!"
"Pemenangnyaaaa.. "
"Semen!"
*prok prok prok prok*
"Apasih kaa?"
"Diem gue mau khusyuk dengerin lagu rock,"
"Gila!"
...•••...
Pulang sekolah kali ini, Angel dijemput oleh Bang Zain. Bang Zain tak lagi lembur. Angel suka, karena dia tak merasa kesepian. Dia malahan lebih suka bertengkar dengan Zain daripada harus berdiam-diam seperti orang musuhan.
"Angel, nanti mama mau ngajak jenguk Devan. Lo mau ikut nggak?" tanya Zain disela kegiatan menyetirnya.
"Mau,"
"Lo suka yah sama Devan?"
"Devan baik, jadi aku suka,"
"Ciee!"
"Sebagai teman," sambung Angel.
Zain berdecak.
"Lo sukanya Devan apa Alvian?"
"Abang apa-apaan sih, milih-milih caleg yah?"
"Gue nanya serius!"
"Buat apa?"
"Mau gue calonin jadi adik ipar," kekeh Zain.
"Abang mau nikahin sama siapa?"
"Lo lah!"
"Dih, yang punya badan aku. Jadi suka-suka aku dong mau pilih antara mereka berdua atau yang lain," jawab Angel sewot.
"Lah, sensi amat," cibir Zain.
"Zain, beliin es krim ya?" rayu Angel.
"Tapi lo jawab pertanyaan gue," ucap Zain.
"Iyaaaaaa.."
"Oke,"
"Terima kasih Zain!" Angel memeluk abang satu-satunya yang ia miliki.
"Udah nanti kita nabrak!" pekik Zain.
"Aku cuma punya abang, aku nggak mau ditinggal lagi,"
"Devan lo kata ninggalin lo?"
"Maksud aku, abang itu abang aku satu-satunya jadi aku nggak mau kehilangan abang, dasar ****!"
"Begoan juga lo, selalu nungguin yang nggak pasti," Zain terkekeh lagi.
"Simi-simi juga tau lo gitu," sambung Zain.
"Nyebelin!"
..._________________________________________________...