A Girl'S Struggle

A Girl'S Struggle
[29] Apa alasannya?



^^^Bahkan saat aku kecewa, aku masih tetap menjaga hati untukmu.^^^


...•••...


"Kamu darimana sih? Nggak mungkin luka sebesar ini gara-gara masuk selokan," ucap Angel tak percaya.


"Kok kamu ngeyel sih?" ucap Devan kemudian mencebikkan bibirnya.


"Yah.. aku nggak percaya," ucap Angel.


"Ih nggak percayaan, gimana nanti kalo udah pacaran?" ucap Devan sambil menatap Angel.


Angel menatap Devan, lalu mengabaikan perkataan Devan.


"Emm.. udah belom?" tanya Devan.


"Bentar,"


"Yaudah nih ambil tangannya," ucap Angel


"Emang bongkar pasang?"


"Ih, maksud aku udah diobatin. Pindahin tangannya,"


"Oh, iya hehe," ucap Devan cengengesan.


"Eh, ini kan udah malem. Aku mau pulang," pinta Devan.


"Pulang ya pulang, ribet amat!" ketus Angel.


"Ehiya kamu udah makan?" tanya Angel.


Devan menggeleng.


"Aku tadi beli pizza dua kotak, aku ambilin ya," ucap Angel sambil berjalan keluar kamar.


Devan menatap punggung yang telah hilang dari pandangan itu. Kemudian melihat sekeliling ruangan, melihat dinding yang penuh dengan gambar seorang gadis mungil nan manis.


Devan duduk dikursi meja belajar Angel, melihat sebuah diary berwarna pink. Dan saat Devan ingin membuka lembaran pertama, Angel memasuki kamarnya.


Devan menoleh mendengar suara pintu terbuka.


"Dev.. "


"Hm?"


"Hehe.. Angel lupa kalo udah Angel habisin semua tadi," ucap Angel sambil menggaruk tengkuk tak gatal.


"Apa? Dua kotak pizza kamu makan sendiri?" tanya Devan terkejut.


Angel mengangguk.


"Setahu aku ya, cewek itu hobinya makan, tapi cita-citanya kurus. Terus sebentar lagi pasti kamu nyuruh aku liat badan kamu gemukan atau nggak? Terus ngerengek kalo aku jawab iya,"


"Ih, kapan? Filosofi darimana? Nggak pernah tuh aku kayak gitu," tolak Angel.


"Gini yah, kita kan hidup cuma satu kali. Untuk apa nunda-nunda makan?" tanya Angel.


Ada benarnya juga apa yang dikatakan Angel. Devan manggut-manggut.


"Oh, jadi aku salah ya?" tanya Devan.


"Iyalah," Angel menoyor kening Devan dengan telunjuknya.


"Em, Angel? Devan pulang yah, makasih lho udah ngobatin," ucap Devan.


"Eh, pulang? Iya,hati-hati. Maaf ya, nggak ada makanan," ucap Angel.


"Nggak apa kok, nggak pingsan juga," ucap Devan cengengesan.


"Daah.. " Devan melambaikan tangan lalu keluar dari jendela.


"Capek kali manjat lantai dua," gumam Angel.


Devan turun dari jendela menggunakan tali, arah kamar Angel bersampingan dengan taman sekitar rumahnya. Jadi, kecil kemungkinan apabila ada orang yang melihat tingkah Devan.


Angel membereskan bekas-bekas peralatan obatnya. Zain dan kedua orangtua-nya belum juga pulang. Membosankan.


"Aaa.. Aku tidur aja deh," ucap Angel.


Angel menaikki ranjangnya lalu menarik selimut. Menyelimuti tubuh mungilnya dan mencegah masuknya angin ke dalam tubuhnya.


...•••...


Cahaya matahari sudah muncul, cahayanya masuk diantara sela-sela jendela. Menyilaukan wajah sang pemilik kamar.


"Belum dibuka aja udah silau," ucap Angel sambil meregangkan otot tangannya.


"Oh iya, kenapa Devan kesini malem tadi?" gumam Angel.


"Emm.. Nanti aku tanyain deh disekolah," ucap Angel, lalu beranjak dari tempat tidur.


"Angel.. Bangun sayang.." panggil Cindy dari luar kamar.


"Iya ma," ucap Angel, sambil mengambil handuk.


"Mandi ya, jangan tidur lagi," ejek Zain dari luar kamar.


"Eh, udah mau mandi ya!" teriak Angel dari dalam.


Setelah selesai mandi dan berseragam, Angel menyusul mamanya kebawah. Duduk dimeja makan untuk bersarapan.


"Angel?" panggil Zain.


"Hm,"


"Lo nanti pergi sama siapa?"


"Tau,"


"Serius!"


"Hm,"


"Ih! Ganggu orang makan aja,"


"Yahh.. Gue kan nanya, sekali-kali gue perhatian."


"Bullshit, paling kak Kayla ngambek lagi kan?"


"Nggak ya, kami tuh udah kayak-"


"Aduhh, bilang aja mau minta saran kan?"


"Nggak ya,enak aja bilang. Sok tau,"


"Terserah,"


"Abang anterin ya?"


"Kena setan baik ya?" tanya Angel.


"Setan mana ada yang baik," ucap Zain.


"Ih, kok jadi bahas setan sih?" tanya Robert.


"Angel duluan pa," ucap Zain.


"Kalian ini kalau ketemu bertengkar terus, kalau nggak ketemu nanti saling cari," ucap Cindy.


"Nggak seru dong ma, kalau nggak bertengkar," ucap Zain.


"Lebay!" ejek Angel.


"Eh, bener tapi kan?" tanya Zain.


"Mungkin,"


"Ih!" Zain menoyor kening Angel.


"Abang!"


"Ma, Pa, Angel malem tadi beli pizza terus nggak ngasih," ucap Zain.


"Yah, kan laper," ucap Angel.


"Terus kenyang nggak?"


"Ouhh.. "


"Kenyang?"


"Nggak,"


Zain menoyor kening Angel lagi.


"Yaudah cepet makannya, ngel." Zain beranjak dari kursi yang ia duduki.


"Ngapain? Makan tuh harus khidmat biar terasa nikmat, nggak usah buru-buru nanti nggak kenyang,"


"Buru-buru juga lo lambat banget, apalagi nggak buru-buru. Keburu masuk nanti lo,"


"Oh iya, lupa. Hari ini sekolah ya?" ucap Angel.


"Terus dari tadi, lo pikir lo nggak pake seragam?"


"Udah deh Zain, ngomel mulu nanti cepet tua," ejek Angel.


"Yaudah nih udah," ucap Angel cemberut.


"Ganggu aku makan aja," gerutu Angel.


"Eh, nyalahin orang!" ucap Zain.


"Cepet, tadi bilang cepet, sekarang dia yang lambat!"


"Eh, ngambekan!" ejek Zain.


...•••...


Angel berjalan sendirian dikooridor sekolah, berjalan menuju taman. Teman-temannya ingin ikut, tapi Angel meminta kepada teman-temannya kalau ia ingin pergi sendirian.


"Kak Angel!" panggil seorang gadis dari belakang.


Angel menoleh, "Eh, kamu. Kenapa?"


"Kak, orderan tas syasya udah ready belum?" tanya gadis itu.


"Oh iya, kakak lupa. Udah ready kok, tapi lupa dibawa. Nanti kakak anter yah," ucap Angel.


"Terima kasih kak,"


"Sama-sama Ansya."


Gadis itu bernama Ansya. Ansya tersenyum lalu pergi. Angel melihat saat Ansya bertemu Brian di tengah langkah kaki gadis mungil itu. Angel tersenyum melihat kedekatan mereka berdua, Angel harap ia akan bertemu juga dengan kebahagiaan itu. Setelah perjuangan ini.


Angel berencana untuk bertemu Devan. Malam tadi, Angel mengajak Devan bertemu ditaman lewat media chat.


Saat hendak menuju taman, Angel melihat Martin bersama wanita lain. Entah siapa, tapi dandanannya sangat-sangat menor.


Norak, batin Angel.


"Itu yah yang namanya Flower?" gumam Angel.


"Untung Ikaa udah putus sama Martin,"


"Kalo nggak, gimana nasib tuh anak."


Angel mengangkat bahunya lalu berjalan menuju taman.


...________________________________________________...


A/N :


Gaada manis gaada pait, sedang-sedang aja😂