
^^^Bencilah aku karena diriku sendiri, tapi jangan sukai aku karena cerita orang lain.^^^
...•••...
Libur adalah hal yang paling menyenangkan bagi semua orang, tapi libur kali ini membuat Angel bosan. Dua hari setelah berkemah, sekolahnya libur karena akan direnovasi beberapa hari. Sedikit memang, tapi takutnya akan mengganggu kegiatan belajar dan juga takut akan terjadinya kecelakaan. Dan kalian tau? Angel mendapat kabar dari Ikaa kalau Martin digigit ular. Angel terkadang bangga kepada Ikaa.
Angel berbaring diatas ranjangnya dengan ponsel yang berada didepan matanya. Melihat hal-hal yang tak penting, misalnya mengscroll beranda facebook, instagram dan lain sebagainya seperti yang biasanya dilakukan seorang jomblo pada umumnya.
Bukk..
"Aduh.. "
Ponsel Angel jatuh di dahinya, mengenai hidung dan juga bibir atasnya. Rasanya nyeri.
"Ponsel aja dendam yah sama aku" Angel mengerucutkan bibirnya.
Mama,papa dan juga Zain pergi menghadiri acara keluarga, Angel sedikit risih apabila berada dalam keramaian dalam waktu yang cukup lama. Jadi sekarang, Angel harus menyendiri dirumah atau meminta teman-temannya untuk menemaninya dirumah.
Hari sudah hampir sore, matahari juga sudah berwarna orange. Hanya ada notifikasi dari grup whatsappnya, termasuk grup squad-nya.
Angel ingin memberi pesan kepada Devan. Tapi keinginannya tertunda, karena mengingat pesan sebelumnya belum dibalas oleh Devan.
Angel menghela nafas.
Lalu segera bangkit dari tempat tidurnya dan mengambil handuk. Kemudian pergi ke kamar mandi.
Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Angel memakai piyama bergambar Hello Kitty. Kemudian mengambil ponsel dan berjalan menuju ruang makan.
Mengisi perut yang sudah bernyanyi merdu.
"Hmm.. delivery aja apa yah?" ucap Angel lalu duduk sambil berfikir.
"Mama sih nggak bilang kalo nggak masak," gerutu Angel.
"Yaudah deh delivery aja."
"Tapi mesen apa yah?"
"Oh iya, ini aja," ucap Angel sambil mengscroll layar ponselnya.
Angel beranjak dari tempat duduknya kemudian menunggu diruang tamu. Sambil memutar film drakor kesukaannya.
Tidak terlalu lama menunggu akhirnya pesanannya datang, satu kotak pizza beef mayo dan satu lagi pizza cheesy corn.
"Terima kasih." ucap Angel kepada kurir pengantar pizza-nya.
Kurir itu mengangguk lalu pergi. Angel menutup pintu lalu duduk lagi di ruang tamu. Melanjutkan filmnya sambil memakan pizza-nya.
Setelah filmnya habis bersamaan dengan dua kotak pizza yang sudah lenyap, Angel merasa mengantuk.
Angel membuang bekas-bekas makannya, membersihkannya lalu berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya yang berada dilantai dua.
"Hmm.. lama banget sih pulangnya.." rengek Angel.
"Katanya sebentar," sambung Angel.
"Apa aku telpon aja kali yah?" gumam Angel.
Angel mengambil ponselnya kemudian mencari-cari sesuatu dilayar ponselnya. Mencari nomor mamanya.
Kemudian ponsel itu diletakkan di telinganya, dengan tangan yang menopang ponselnya itu.
"Biasanya juga cepet diangkat, kok ini lama. Sesibuk itu yah? Nanyain aku udah makan apa belum aja nggak," gerutu Angel.
Kemudian menarik ponselnya dari telinga. Dan terkejut saat yang ditelponnya bukan nomor mamanya namun nomor Devan.
Aduh.. Kenapa sih? batin Angel.
Lalu dengan cepat Angel memutuskan panggilan tersebut. Dan mencari nomor mamanya dengan benar.
"Mama,"
"Mama,"
"Mama."
Angel terus mencari kontak mamanya.
"Kehapus apa yah?"
"Nah ini dia," ucap Angel tersenyum senang.
Angel menekan nomor itu lalu menunggu panggilan terhubung.
"Halo"
"Mama?"
"Iya? Kenapa? Kamu udah makan? Nanti mama bawain kamu makanan yah,"
"Angel udah makan, mama jangan lama-lama."
"Iya, tapi takutnya macet dijalan,"
"Huftt.. "
"Kamu sendiri?"
"Iya,"
"Kenapa nggak ajak temen kamu?"
"Nggak apa,"
"Yaudah kunci semua jendela dan pintu yah,"
"Siap ma!"
"Oke, tidur aja yah. Mama bawa kunci lainnya."
Tok.. Tok.. Tok..
Siapa? batin Angel.
"Angel?"
"Ehiya ma?"
"Mama matiin ya?"
Tok.. Tok.. Tok..
"Angel?"
"Kenapa?"
Siapa sih? batin Angel.
"Em.. Ehiya, nggak ada ma,"
"Good night malove,"
"Good night to mamom."
Tok.. Tok.. Tok..
"Siapa sih yang ngetok jendela?" gumam Angel.
Kemudian berjalan mendekati jendela kamarnya. Angel sedikit mengintip untuk melihatnya. Tak ada siapa-siapa.
"Masih ada yah orang iseng malem-malem gini?" gumam Angel.
Plakk..
Angel menoleh kearah jendelanya. Sepertinya ada yang melempar batu.
"Dasar ya gila,"
Kemudian Angel berjalan menuju jendela, ingin mengetahui siapa yang melakukannya. Kalau saja orang itu seseorang yang Angel kenal, habislah dia.
Tok..
Angel menarik gorden jendelanya. Dan membuka perlahan pengait jendelanya.
Kemudian..
"Aaaaa! SETANNN!" teriak Angel.
"Woi diem!" ucap seseorang dengan hoodie berwarna hitam.
Serba hitam.
Apa dia *******? batin Angel.
Tapi suaranya? kayaknya kenal? batin Angel.
Suara lompatan dan hentakkan sepatu membuyarkan lamunan Angel.
"Eh, kok main masuk-masuk a-mphh!" suara Angel tertahan karena sebuah bekapan dimulutnya.
"Diem, bawel banget."
"Ihhdjsjsjb Devababwjkw!" ucap Angel tak jelas.
"Udah dibekep juga mulutnya, masih aja cere-aww!"
Angel menggigit tangan Devan.
"Aduh, gila jadi domba nih gue!"
"Apaan gue-gue?"
"Eh, aku maksudnya."
"Kenapa kamu kesini?" tanya Angel lalu duduk dikursi belajarnya.
"Mau mastiin aja," ucap Devan kemudian duduk diranjang Angel.
"Mastiin apa?" tanya Angel.
"Kamu udah tidur apa belum,"
"Telfon aja kali," sindir Angel.
"Em.. eng.. iyaya, lupa." ucap Devan kemudian menggaruk tengkuk tak gatal.
Angel melirik lengan Devan sebelah kanan yang digunakannya untuk menggaruk tengkuknya. Melihat hoodie hitam itu sudah sobek entah karena apa.
"Devan?" panggil Angel.
"Hm,"
"Tangan kamu kenapa?" tanya Angel.
"Lagi garuk," jawab Devan.
"Bukan, maksud aku itu.. hoodie kamu sobek,"
"Oh.. ini.. karena.. em.. eng.. emm.. "
"Apa?"
"Jatoh tadi, nggak liat kalo ada selokan," ucap Devan.
"Bener?"
"Nggak." jawab Devan spontan.
"Maksudnya?" tanya Angel bingung.
"Eh, Angel.. Devan pulang ya?"
"Udah malem," sambung Devan.
"Jawab dulu, ihh!" ucap Angel lalu mencubit lengan Devan.
Devan yang baru saja menaiki jendela, turun seketika.
"Apasih? Nggak mau jauh dari aku?" tanya Devan.
"Eh, nggak capek manjat?" tanya Angel.
"Pendek!"
"Gila!"
"Yaudah ,itu apa?"
"Apanya?"
"Itu luka kan?" tanya Angel lalu mengambil alih tangan sebelah kanan Devan.
Angel membuka lengan hoodie itu dengan perlahan, agar tidak terasa perih.
"Aa.. Pelan-pelan!"
Plakk💥
"Aduuhhh.. Kok lukanya ditampar sih, ngel?"
"Makanya nggak usah sewot,"
"Ini juga karena apa?" tanya Angel berulang kali.
"Udah dijawabkan tadi? Nggak tuli kan?"
"Nggak percaya!"
"Yaudah," ucap Devan.
Angel mengambil kotak P3K lalu berjalan menuju ranjangnya. Kemudian membersihkan dan mengobati luka itu.
Devan menatap Angel yang sedang mengobati luka Devan.
...____________________________________________________...