A Girl'S Struggle

A Girl'S Struggle
[22] Peringatan (2)



^^^Jika lelah, menangislah. Jangan takut untuk dibilang cengeng. Sebab mereka yang bilang begitu, tidak bisa merasakan gimana menjadi kamu.^^^


...•••...


Angel bingung dan hanya bisa sesekali meringis saat tangannya ditarik paksa oleh Zeline dan Shintia.


Semakin Angel meronta dan membentak semakin mereka mencegahnya. Angel bingung ada apa dengan mereka.


"Lepasin!" ketus Angel.


"Lo diem! Kebanyakan makan yah lo badan berat banget!" ucap Shintia.


"Apa lo sengaja ngeberat-beratin? Supaya kita nyerah? Nggak bakal!" lanjut Zeline.


"Gue berat karena makan bergizi! Bukan kayak kalian! Kurang gizi! Paling nanti kalo ada angin tornado kalian udah didalemnya!" ucap Angel.


Semua mata tertuju kepada mereka bertiga. Mereka merasa Angel sangat malang, hingga dibuat setega itu. Menyeret, menarik dan membentak.


Pandangan mereka seolah menunjukkan bahwa Angel benar-benar menjadi korban. Gadis baik seperti Angel, dibuat seperti itu? pikir orang-orang yang memandang Angel dengan kebaikannya. Namun beda dengan orang-orang yang hanya mendengar bahwa Angel adalah gadis yang suka selingkuh.


Angel tetap meronta. Namun, masih saja tak bisa melawan mereka berdua. Angel tahu badannya mungil dan tak punya cukup tenaga, apalagi dia sudah capek harus terus mengikuti langkah kaki mereka.


Entah dimana sahabat-sahabatnya sekarang. Namun, Angel berfikir biarlah dia yang menanggung ini semua. Mungkin benar kata mereka, Angel seorang gadis tukang selingkuh dan genit kepada semua lelaki.


Hingga sekarang Angel terseret sampai ke kolam berenang, tak perlu waktu lama, Zeline dan Shintia mendorongnya hingga masuk ke pertengahan kolam itu, kolam disekolahnya cukup dalam. Badan Angel kecil untuk bisa berjalan didalam air, rasanya masih sangat jauh untuk menginjakkan kaki dan lagi pula Angel tidak tahu caranya berenang.


Shintia dan Zeline pergi sambil melambaikan tangannya kepada Angel. Lalu tersenyum menyeringai. Angel merasa dirinya semakin lemas.


Bagaimana cara berenang?


Angel bingung harus bagaimana, semakin lama, Angel semakin lemas. Hingga saat ia ingin memejamkan matanya, ada suara air seperti ia didorong Shintia dan Zeline tadi.


"Lo nggak apa?" tanya Devan.


"Aku sepertinya mau ma-"


"Diem, gue bantuin lo," ucap Devan lalu memegang tangan Angel dan membantunya untuk mengambang di air.


"Aku nggak bisa berenang," ucap Angel.


"Naik ke pundak gue!" ucap Devan lalu menepuk pundaknya.


"Tapi.. "


"Nggak pake tapi-tapi-an!"


Devan membawa Angel ke pinggir kolam, rasanya sesak. Angel merasa dirinya akan segera tiada kalau tidak ada yang menolongnya. Bagaimana bisa seseorang yang sedang kebingungan diceburkan ke dalam kolam, dan yang lebih gilanya lagi, orang itu tidak bisa berenang? Bagaimana orang yang kebingungan berenang? Cemas? Pasti.


"Siapa yang ngebuat lo gini?" tanya Devan sinis.


"A.. Aku cuma mau berenang," ucap Angel kedinginan.


Jawaban Angel tidak masuk akal. Bagaimana bisa seseorang yang tidak bisa berenang malah ingin menceburkan dirinya ke dalam kolam. Ingin cari mati?


Air mata sudah disudut mata. Devan bingung mengapa Angel seperti ini. Apa mungkin, masih syok karena kejadian tadi.


Devan memeluk Angel, mengusap punggungnya bermaksud menenangkan.


"Kalo capek, nangis ajalah. Jangan takut dibilang cengeng. Karena, mereka yang bilang gitu, nggak bisa ngerasain gimana jadi lo," ucap Devan lembut.


Angel yang berada dibalik pelukan itu, merasa tenang.


"A.. Aku udah bilang kalo aku yang mau berenang," ucap Angel sekali lagi.


"Lo nggak pandai bohong," ucap Devan.


"Aku tau, aku nggak pernah bisa bohongin kamu," ucap Angel, kembali terisak.


"Kok nangis?" tanya Devan.


"Aku.. Aku.. "


"Gue ambilin handuk yah?" ucap Devan melepas pelukan itu dengan pelan.


"Lo tunggu disini," sambungnya.


"Ta.. tapi.. Aku nggak nyimpen seragam di loker," ucap Angel.


"Lo mau pakai punya Regina?" tanya Devan.


"Re.. Re.. Rere?" ulang Angel gugup.


"Kamu.. Kamu ambil di loker Ikaa aja, biasanya dia bawa untuk ganti. Nanti aku yang bilang ke dia," pinta Angel.


"Yaudah, lo tunggu disini. Gue cuma sebentar," ucap Devan.


Selang satu menit Devan pergi, Shintia datang mendekati Angel. Dia menatap Angel sinis.


"Gue kira lo bakal mati sekalian! Inget yah, ngel! Selagi gue masih hidup, lo nggak akan pernah bisa deket sama Alvian!" ucap Shintia.


Untuk apa Angel menjalin hubungan dengan Alvian lagi? Angel masih punya otak untuk memilih masuk jurang atau tidak. Angel juga tidak pernah mendekati Alvian. Terakhir melihatnya saja tadi, dan mungkin setelah ini tak akan pernah.


"Aku nggak pernah ngedeketin Alvian! Kamu jangan sembarang bicara! Aku nggak suka kamu tuduh! Aku punya hidup sendiri! Aku juga berhak ngelakuin apa mauku! Kalo aku nggak ngedeketin Alvian, buat apa kamu ngasih aku peringatan terus! Aku capek kalian teror terus! Aku juga bisa marah! Aku nggak mood aja ngebalas kalian!" ucap Angel, meluapkan segala kekesalannya.


"Bener emang, kalo kalian nggak pernah tau gimana jadi aku!" ucap Angel lalu membuat Shintia pergi.


"Dasar pengecut!" teriak Angel.


"Angel!" panggil Ikaa.


Angel menoleh ke belakang, melihat ada sahabat-sahabatnya dan juga Devan. Keempat sahabatnya berlari menghampirinya kemudian memeluk Angel bersama.


"Kita bantuin lo ke toilet ya?" tawar Liyaa.


Yang lainnya hanya tersenyum.


Kemudian Sella bersuara. "Emang nggak ada telinga yah mereka! Udah dibilang jangan ganggu salah satu dari kita! Nggak pernah tau apa jurus kucing garong gue!" ucap Sella sombong.


"Kucing garong!" ulang Rindu, lalu mereka tertawa bersama.


"Bajunya," ucap Devan menyodorkan satu stel seragam.


...________________________________________________...


A/N :


Angel itu sebenarnya lebih menakutkan dari keempat sahabatnya, mungkin karena hatinya yang masih rapuh melihat kedekatan Rere dan Devan😙


Jadinya nggak kuat ngelawan :)