
^^^Orang yang benar-benar mencintaimu adalah orang yang rela bertahan menghadapi sikapmu.^^^
...•••...
Sesampainya Angel di taman, ia duduk dikursi dekat tanaman bunga, sebenarnya batu yang di design menyerupai kursi.
Angel menunggu Devan datang, sampai tak lama kemudian, Devan datang menghampiri Angel. Duduk bersebelahan disamping Angel.
"Kenapa?" tanya Devan.
"Em.. apa yang kenapa?" tanya Angel balik.
"Kan Angel yang mau ketemu sama Devan? Kenapa? Kangen?" goda Devan.
"Apasih!" Angel memukul lengan Devan.
"Angel kesini mau nanya sama Devan," ucap Angel.
"Nanya apa? Tentang perasaan aku? Ini hanya untuk diri-"
"Devan sekarang cerewet yah?" potong Angel.
Devan menghembuskan nafas. "Itu karena Angel,"
Angel menatap Devan bingung.
Seolah tau maksud tatapan Angel, Devan berkata.
"Yah, karena Angel ngomel terus jadi Devan ketularan." ucap Devan.
Angel memukul lengan Devan, Devan meringis namun juga tertawa melihat wajah Angel saat sedang diejek.
"Lucunya," puji Devan.
"Devan ngejek terus, ihh!" ucap Angel kesal.
"Aku nggak ngejek kok ngel," ucap Devan membela diri.
"Ah iya, mau bilang apa?" tanya Devan.
"Nggak jadi," jawab Angel.
"Kan Devan udah bilang, Angel nggak pinter bohongin orang." ucap Devan.
"Jadi apa yang Devan simpulin dari ajakan Angel kesini?" tanya Angel.
"Karena semalam?" tanya Devan.
"Mungkin," ucap Angel.
"Angel.. kan Devan udah bilang, itu nggak ada apa-apa," ucap Devan menggenggam tangan Angel.
"Alasannya nggak logis," keluh Angel.
"Gimana kalo itu kenyataannya?" tanya Devan.
"Aku nggak suka dibohongi." Angel menatap Devan.
"Aku nggak bohong," ucap Devan mengalihkan pandangan dari tatapan Angel.
"Oke, aku percaya." ucap Angel lalu menghembuskan nafas. "Tapi sebaiknya nggak ada kebohongan diantara kita," ucap Angel.
"Emang aku keliatan bohong ya?" tanya Devan.
"Iya,"
"Gimana?" tanya Devan.
"Karena orang yang biasanya bohong nggak berani tatap mata lawan bicaranya," Angel menerawang, mengingat Devan yang tak balas menatapnya dan mengingat kata-kata Rere.
"Lihat Devan sekarang tatap mata Angel," Devan menatap Angel. "Benerkan aku nggak bohong?" ucap Devan.
"Itu beda!" Angel memukul pinggang Devan.
"Hobi Angel apa?" tanya Devan di sela ringisannya.
"Apa peduli Devan," jawab Angel.
"Terserah yang penting sekarang, hobi Angel adalah mukulin Devan." ucap Devan.
Lalu Angel memukul lengan Devan.
"Benerkan!"
"Terserah, sekarang Angel mau bahas kenapa Angel nyuruh Devan ketemu disini," ucap Angel.
"Karena kita jodoh."
Angel mencubit lengan Devan.
"Devan bakal beneran mati kalo didekat Angel, Tuhan." ucap Devan.
"Kalo nggak mau mati, nggak usah ganggu terus,"
"Iya baiklah, lanjutkan ceritanya,"
"Pertama, Angel mau nanya kenapa Devan malam-malam datang ke rumah Angel?" tanya Angel. "Lebih tepatnya ke kamar Angel," lanjutnya.
"Apa nggak ada tempat lain? Kalo emang terdesak ke rumah Angel kenapa nggak ngetuk pintu atau nekan bel? Kenapa harus ngetuk jendela kamar? Apa nggak capek manjat dinding rumah? Gimana kalo tetangga ngelihat? Apa kata Mama? Papa? Zain? Gimana kalo Angel diusir? Angel harus kemana? Angel nggak mau ngerepotin temen Angel," tanya Angel.
"Sejak kapan kamu jadi manusia yang cerewet?"
"Sejak ada gadget didalam perut mama," jawab Angel asal.
Devan terbelalak, antara terkejut dan ingin tertawa.
"Beneran?" Devan menahan tawanya.
Angel menatap Devan tajam.
"Jadi, apa pertanyaan untuk Devan?"
"Aku nggak mau ngulang," ucap Angel lalu berdiri.
"Eh, tunggu. Mau kemana?" tanya Devan.
"Udahlah, Devan buat Angel badmood." Angel menatap Devan.
"Maaf Ngel, yaudah kali ini Devan serius bakal menjawab," ucap Devan. "Duduk lagi." Devan menarik tangan Angel, mengajaknya duduk.
"Harus Devan jawab semua pertanyaan Angel?"
"Hm, ternyata Angel orang yang mudah kesal yah," ucap Devan.
"Untuk pertanyaan pertama, Devan datang ke rumah Angel kare-"
"Jawab dengan jujur, atau aku bakal pergi dari hidupmu, Devan Alexi!" ancam Angel.
Devan diam.
Lalu menghembuskan nafas. "Oke. Devan lari dari satu tawuran antar geng di daerah X. Devan pergi karena selalu ingat dengan sebuah janji." ucap Devan.
"Nggak ada tempat lain, Devan cuma tertuju ke rumah Angel. Devan juga yakin kalo mereka nggak tau kalo Devan di rumah Angel,"
"Masalah tetangga, Devan udah ngeliat sekitar."
"Lalu, kalo Devan lari. Sayatan itu asalnya darimana?" tanya Angel.
"Salah satu anggota tawuran ngeliat, terus nekan pedangnya pada lengan Devan. Dia nggak tau kalo luka itu nggak seberapa. Mungkin pikirnya Devan akan meringis dan goyah hanya karena sebuah sayatan," ucap Devan dengan bangga.
"Itu nggak sakit?" tanya Angel.
"Jangan nyoba,"
"Emangnya aku bodoh?" tanya Angel.
"Mana mungkin aku mau melukai diri," lanjutnya.
"Kalo kamu nggak mau mereka tau, kenapa berani keluar dari kamar?" tanya Angel.
"Karena Devan tau, kalo Devan lama-lama di sana. Sama aja jemput ajal Devan sendiri, Devan tau kalau Angel akan membantu dengan cara mukulin Devan."
"Tapi, sebenarnya. Devan juga nggak yakin mereka akan nyari Devan sampai masuk ke daerah komplek,"
"Apa Angel udah puas?" tanya Devan.
Angel menghela nafas. "Iya, tapi Angel ngambek," lirih Angel.
"Kenapa?" tanya Devan khawatir melihat mata Angel yang sudah berkaca-kaca.
"Devan nggak ngasih tau,"
"Devan kira Angel bakal benci sama Devan setelah Devan ngasih tau," ucap Devan lalu menarik Angel dalam dekapannya.
"Bukannya Angel udah bilang? Lebih baik jujur pada Angel, sebelum Angel tau dari orang lain." ucap Angel didalam dekapan Devan.
"Syukurlah," ucap Devan lega.
"Bukannya lebih baik kalo Devan jujur?" tanya Angel.
"Iya, lebih baik." Devan mengelus pelan kepala Angel.
Angel tersenyum didalam dekapan Devan.
"Terus, Angel bakal meluk Devan kayak gini ini terus?" tanya Devan.
"Nggak," ucap Angel lalu mendorong Devan agar menjauh.
"Kenapa? Bukannya nyaman?" tanya Devan.
"Nyaman? Bau kayak gini,"
"Udah berani yah ngejek orang?" ucap Devan kemudian mengelitiki Angel.
"Udah Devan, geli!" ucap Angel. "Eh, janji yah ini yang terakhir?" ucap Angel disela tawanya.
Devan berhenti mengelitiki Angel. Lalu menatapnya.
"Apa?"
"Janji kalo nggak bakal tawuran lagi," ucap Angel.
"Iya, Devan janji." ucap Devan.
"Kali ini beneran," sambung Devan.
"Jadi selama ini janjinya nggak beneran?" tanya Angel kesal.
"Nggak, maksudnya Devan bakal benar-benar tepatin." ucap Devan.
"Oke, kalo Devan ngelanggar. Angel bakal benar-benar pergi."
"Iya baik-"
"Devan?" panggil seseorang.
Angel dan Devan menoleh ke sumber suara. Devan menatap sang pemanggil namanya.
"Hai Dira!" sapa Angel.
"Oh, Hai!"
"Kenapa?" tanya Devan.
"Ikut gue," ucap Dira lalu menarik tangan Devan.
"Em, Angel? Devan duluan yah," ucap Devan kemudian hampir terjatuh karena ditarik paksa Dira.
"Hey! jalannya pelan-pelan,"
Angel menatap kepergian Devan. Kemudian tampak berfikir.
Devan sama Dira keliatannya deket, sampai Dira berani narik Devan kayak gitu, batin Angel.
Tapi, bukannya mereka memang deket? Waktu itu Devan nyuruh dia untuk manggil aku kan? batin Angel.
Bukan, Dira itu bukannya yang nyuruh aku kelapangan? Buat nemuin Zeline, Kenapa Dira manggil Devan? batin Angel, bergelut dengan pikirannya.
"Hai!" sapa seseorang, membuat lamunan Angel buyar.
"Eh, Hai," balas Angel.
"Lo kenapa disini?"
"Em, nggak apa." jawab Angel.
"Mau ke kantin bareng?" ajak lelaki itu.
"Ayo!" ucap Angel berjalan beriringan dengan Alvian.
..._________________________________________________...