
^^^Wanita hampir tidak mau berhenti bicara saat sedang bahagia, dan memutuskan untuk diam seribu bahasa saat sedang kecewa.^^^
...•••...
"Kayaknya dia suka deh sama lo!" ucap mereka berempat kompak.
Sedangkan Angel tampak melongo.
"Suka.. maksud kata suka?" tanya Angel.
"Demi semut yang tinggal serumah sama nyamuk, lo itu beneran nggak ngerti apa cuma pura-pura?" tanya Liyaa.
"Astoge!" Rindu menepuk keningnya.
"Bolong tuh Angel!" ucap Ikaa.
"Bolong apa *****?" tanya Sella.
"Bohong ****!" ucap Liyaa membenarkan.
"Angel!" panggil Dira.
Kelima pasang mata pun menoleh, menatap sang pemanggil nama. Yang ditatap hanya menautkan alisnya.
"Gue cuma panggil Angel," Dira menaikkan turunkan alisnya.
"Angel? Kenapa?" tanya Ikaa pada Angel.
"Lo main secret-secretan sama kita," Sella melirik Angel.
"Nggak asyik deh!" ejek Sella.
"Angel, buruan!" ajak Dira.
"Siapa yang manggil aku? Dari tadi juga perlu banget sama aku,"
"Sok kepentingan!" ledek Liyaa.
"Nggak berperikepentingan banget sih lo!" ucap Rindu.
"Kok jadi nyalahin gue sih?" tanya Liyaa.
"Angel lo lam-"
"Kamu yang perlu aku, jadi tunggu dong!" Angel bangkit dari duduknya.
"Yaudah buruan," Angel berjalan mendahului Dira.
"Dikasih berapaan kamu sampe niat banget maksain aku?" ucap Angel.
"Ada yang nungguin lo dilapangan," ucap Dira.
"Jadi aku harus kesana? Sendiri?" tanya Angel, bingung.
"Iya,"
"Gue balik kelas yah!"
"Yaudah deh,"
Sesampainya dilapangan, Angel melongo melihat tak satupun orang yang ada disana. Angel menghembuskan napas panjang.
"Siapa yang nyari aku?" gumam Angel.
"Gue,"
"Zeline?" ucap Angel.
"Lo masih neketin Devan? Lo tau nggak! Dia cuma ditakdirin buat gue! Bukan buat lo!"
"Devan? Devan lagi Devan lagi! Nggak bosen yah kamu ngekang dia?"
"Gue diperintahin buat ngepantau Devan! Jadi dia itu kewajiban gue!"
"Tapi kamu seharusnya cuma mantau bukan ngekang!"
"Apa peduli lo!" teriak Zeline.
Ketika Devan keluar dari perpustakaan dan melintasi lapangan, Devan mendengar suara teriakan-teriakan yang entah berasal dari mana.
Tapi, saat teriakan itu semakin terdengar jika Devan mendekatinya. Devan jadi tahu siapa yang berteriak itu. Dan Devan juga memasang telinganya untuk mendengar percakapan itu.
"Kamu kenapa manggil aku kesini?" tanya Angel.
"Karena urusan lo sama gue belum selesai!"
"Nggak guna!" Angel melangkahkan kakinya dan pergi dari hadapan Zeline.
"Guys!" panggil Zeline.
"Siap, Lin!"
Sebuah tongkat kasti tengah berada ditangan Feo, Zeline memerintahkan kepada Alya dan Feo untuk membawa tongkat kasti dari ruang penyimpanan alat untuk olahraga.
Devan yang melihat kejadian itu tak hanya berdiam diri, dia langsung berlari dan berdiri membelakangi Angel yang sedang berjalan.
Bugh!
Tongkat kasti itu tepat mengenai kepala Devan, Angel yang mendengar suara tongkat jatuh dan suara beban berat terjatuh langsung berbalik badan.
"DEVAN!" teriak Angel panik.
Tubuh Devan kini terhempas ditanah. Zeline yang melihat kejadian itu pun marah kepada kedua pengikutnya.
"Nggak becus banget sih!" ucap Zeline kepada Feo.
"Kan gue nggak tau kalo Devan ngeliat," Feo membela diri.
"Bisa-bisa gue dijauhin oleh orang tuanya Devan,"
Lalu Zeline dan gengnya pergi meninggalkan lapangan.
"Devan, bangun!" Angel menepuk pelan pipi Devan.
Dahi Devan mengeluarkan cairan kental berwarna merah. Angel yang melihatnya merasa panik. Darah itu keluar sedikit demi sedikit.
"Tolong!"
Anggota Squad Lea yang lainnya melihat Angel yang telah bersimbah darah. Tangannya penuh dengan darah. Dan kepala Devan berada dipangkuan Angel.
"Angel? Lo kenapa!" teriak Ikaa.
"Bantuin Devan," lirih Angel.
"Tolongin dia," Angel meneteskan air matanya.
Air mata Angel jatuh ke pipi Devan. Mata Devan perlahan terbuka, namun terlihat sayu.
"A.. A.. Nge.. l.. " ucap Devan tertatih.
"Apa? Aku disini,"
Devan tersenyum kemudian matanya perlahan tertutup.
"DEVANNNN!!!"
Teriakan Angel cukup menggelegar, membuat semua awak sekolah berlarian menuju ke sumber suara.
"Angel, Devan kenapa?" tanya Zeline dengan suara diperlembutkan, kemudian menghampiri mereka.
"Lo kenapain Devan?" tanya Zeline sok polos.
"Lo nggak bisa jaga Devan baik-baik yah!" tuduh Zeline.
"Pak Ardi? tolong saya," Angel melihat pak Ardi, guru Agama sedang berjalan menuju perpustakaan.
"Pak tolong bantuin Devan!" pekik Liyaa.
"Kalian bisa nggak tolong Devan!" pinta Rindu pada murid-murid yang mengerumuni mereka.
"Tolongin Devan," lirih Angel.
Tak lama kemudian Kevin datang bersama Fredi.
"Kevin! Fredi! Tolong!"
"Cepetan! Nanti darahnya nambah keluar banyak!" teriak Ikaa.
Kemudian guru dan teman-teman mereka yang lain langsung bergegas membawa Devan menuju mobilnya dan segera membawanya ke rumah sakit terdekat.
Angel masih memandangi kepergian Devan. Entah mengapa hatinya begitu pilu melihat Devan yang telah dipenuhi darah. Angel juga merasa bersalah, karena dirinya Devan menjadi terkena imbasnya.
Angel berdiri, dibantu oleh Sella dan Rindu. Kemudian dari arah lain, Zeline mencoba memberi pikiran buruk kepada Angel.
"Semua gara-gara lo! Kalo sampe Devan kenapa-napa! Itu semua karena lo! Kalo Devan nggak bisa selamat itu gara-gara lo! Semua hal buruk terjadi karena lo!" tuduh Zeline.
"Eh, lo! Seenaknya nuduh orang sembarangan! Kita nggak tau kenapa kejadian ini bisa terjadi! Ini musibah! Lo nggak bisa dong seenaknyo nuduh orang! Lo juga nyakitin hati orang! Lo bikin orang nggak tenang! Lo mikir dong! Kita semua juga nggak tega liat Devan gitu!" pekik Liyaa.
"Zeline si Alien nge-zeline! Dengerin kata gue baik-baik! Lo nggak tau kan seberapa baik dan seberapa buruk gue!? Lo dengerin baik-baik! Kita disini nggak pernah nyari masalah! Tapi kalo masalah yang ngedatengin kita! Kita layanin! Oke kita ikut alur permainan! Kita ikut peraturan!"
Eh, gue ngomong apasih, batin Ikaa. Bodo amatlah.
"Inget! satu dari kita yang tersakiti, seribu orang dari kalian dalam masalah!"
Zeline terdiam lalu pergi dari hadapan lima sekawan itu.
Angel dibawa sahabatnya menuju toilet untuk membersihkan diri dan ke ruang ganti untuk mengganti seragam.
..._________________________________________________...
A/N :
Emang yang namanya Zeline tuh nge-Zeline deh, Angelnya kasihan banget, susah hati, gemeshh deh liatnya😂